LOGINDi sebuah ruang kantor di Hotel La Grande, Satya berdiri di depan jendela tinggi, menatap lalu lalang mobil yang terasa lebih padat dari biasanya. Pantulan sosoknya terlihat samar di kaca.
Di belakangnya, seorang pria berjas lengkap berdiri tegak, lalu menunduk hormat. Namun Satya bahkan tidak menoleh.
“Kamu sudah mengirim sampel rambutku dengan Arjuna?” tanya Satya dingin.
“Sudah, Tuan. Sampelnya sudah tiba di laboratorium. Perkiraan besok pagi hasilnya keluar,” jawab pria itu hati-hati.
Hening sesaat.
Lalu suara Satya berubah, lebih berat dan lebih tajam.
“Sekarang jelaskan padaku…” ucapnya perlahan, namun penuh tekanan. “Bagaimana bisa kalian tidak melacak keadaan putriku selama puluhan tahun, hingga dia di liang kubur pun aku tidak tahu?!”
Satya akhirnya menoleh. Tatapannya dingin menusuk.
“Katakan… kenapa kalian begitu tidak becus.”
Pria itu menelan ludah, lalu menundukkan kepala lebih dalam.
“Maaf, Tuan… Nona Karina memang sempat menghilangkan jejaknya,” lanjut pria itu dengan hati-hati. “Namun… itu bukan satu-satunya alasan kami gagal menemukannya.”
Satya perlahan menoleh. Tatapannya menajam.
“Maksudmu?”
Pria itu menarik napas dalam. “Ada seseorang… yang dengan sengaja menutupi keberadaan Nona Karina.”
Hening.
“Selama ini, setiap jejak yang kami temukan selalu diarahkan ke tempat yang salah. Data dipalsukan, alamat dipindahkan, bahkan beberapa catatan penting dihapus dari sistem.” Ia menunduk. “Sepertinya ada pihak yang selalu selangkah lebih dulu dari kami.”
Rahang Satya mengeras.
“Yang lebih menyedihkan, Tuan…” suara pria itu mengecil, “Nona Karina sebenarnya tidak jauh dari jangkauan kita.”
Satya membeku.
“Ia tinggal di pinggiran kota ini selama bertahun-tahun. Hidup sederhana… tanpa perlindunga dan tanpa pengawasan.”
Kata-kata itu seperti tamparan.
Satya mengepalkan tangannya.
“Dan kalian… tidak menemukannya?” suaranya bergetar, bukan lagi sekadar marah, melainkan menahan sesuatu yang lebih kacau di dalam dadanya.
Pria itu menunduk semakin dalam. “Kami gagal, Tuan.”
Hening sejenak.
Lalu ia melanjutkan, dengan ragu.
“Ada hal lain yang perlu Anda ketahui…”
Tatapan Satya langsung terangkat.
“Kami menemukan indikasi bahwa ayah Arjuna… Tuan Cakra… tidak benar-benar pergi.”
Deg.
“Apa maksudmu?” suara Satya berubah dingin.
Pria itu menelan ludah. “Kemungkinan besar… ia dibunuh, Tuan.”
Ruangan terasa seolah kehilangan udara.
“Namun… baik Nona Karina maupun Tuan Arjuna tidak mengetahui hal itu. Mereka mengira Tuan Cakra meninggalkan mereka begitu saja.”
Satya menutup matanya sesaat.
Amarahnya kini berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
“Cakra…” gumamnya lirih, lalu tiba-tiba suaranya meninggi, penuh penyesalan dan kemarahan. “Seharusnya aku tidak pernah menyerahkan putriku padanya!”
Ia berbalik sepenuhnya.
“Mengurus dirinya sendiri saja tidak mampu! Apalagi menjaga anak dan cucuku!”
Pria itu tetap menunduk, tidak berani menatap.
“Dan ada satu kemungkinan lagi, Tuan,” lanjutnya pelan. “Kematian Cakra… bisa saja berkaitan dengan upaya seseorang menutupi data Nona Karina.”
Tatapan Satya berubah tajam.
“Artinya…” bisiknya.
“Ada seseorang yang selama ini bukan hanya menyembunyikan putri Anda…”
Pria itu mengangkat kepala perlahan.
“…tapi juga menyingkirkan siapa pun yang berpotensi membuka kebenaran.”
***
Di tempat lain, Vicky duduk di sofa ruang tamu rumah Juna. Matanya tak berhenti mengamati setiap sudut, dinding yang mulai kusam, perabot sederhana, hingga jejak kehidupan yang terasa begitu berbeda dari dunia yang biasa ia tempati.
Juna datang membawa dua kaleng kopi dingin. Ia menyodorkan satu pada Vicky, lalu duduk santai di seberangnya.
“Di sini panas, ya? Salah sendiri pakai baju seperti itu ke sini,” ucap Juna ringan, seolah mereka sudah lama saling kenal.
Vicky hanya tersenyum canggung, membuka jasnya perlahan.
“Apa ada barang yang perlu Anda bawa?” tanyanya kemudian, kembali profesional. “Tuan Satya meminta saya menjemput Anda. Beliau ingin Anda tinggal di tempat yang sama.”
Juna terdiam sejenak. Kaleng di tangannya belum sempat dibuka.
“Dan… apa jaminannya kalau aku benar cucunya?” tanyanya datar.
Vicky tidak langsung menjawab.
Ia menatap Juna beberapa detik, lalu menghela napas pelan.
“Hasil tes DNA akan keluar besok pagi,” jawabnya tenang. “Itu akan menjadi bukti paling akurat.”
Juna tersenyum tipis, namun bukan karena senang.
“Jadi sekarang aku cuma… kemungkinan?” gumamnya.
“Jika hasil tes DNA keluar, Anda akan menjadi pewaris sah yang tidak bisa dibantah. Baik oleh lawan bisnisnya, maupun oleh keluarga besarnya sendiri,” ujar Vicky tenang.
Ia menatap Juna lurus.
“Lagipula, apa pun hasilnya, Tuan Satya tetap berutang nyawa pada Anda. Terimalah kebaikannya. Ini bisa menjadi kesempatan Anda… untuk membalikkan keadaan.”
Juna terdiam.
“Termasuk,” lanjut Vicky, nada suaranya sedikit lebih tajam, “menunjukkan pada wanita tadi, bahwa Anda bukan pria yang bisa diremehkan.”
Hening sejenak.
“Sejak kapan kamu menguping?” tanya Juna tiba-tiba, alisnya terangkat.
Vicky hanya mengedikkan bahu santai. “Suaranya cukup keras tadi. Sebenarnya… bukan hanya saya yang mendengar.”
Juna langsung memalingkan wajah.
Malu.
Itu satu-satunya yang memenuhi kepalanya sekarang.
Tanpa berkata apa pun, ia meneguk habis kopi dingin di tangannya, seolah berharap rasa pahit itu bisa menenangkan kekacauan di dalam dadanya. Namun, yang tersisa justru dadanya semakin sesak.
Semenjak malam gala perayaan di hotel itu, kehidupan emosional Shayra Wiwaha berubah total. Di dalam kamarnya yang mewah, setiap kali ia memejamkan mata, memori di sudut tangga mezanin itu selalu berputar tanpa izin. Sentuhan tegas telapak tangan Finn di dadanya, pagutan bibir pria itu yang awalnya dingin namun kemudian membakar, hingga sensasi ketika sesuatu yang keras di balik celana Finn menggeliat menegang di pangkal pahanya—semuanya telah menjadi candu yang aneh bagi Shayra.Ia menginginkan sentuhan itu lagi. Rasa penasaran seorang gadis muda yang baru pertama kali merasakan letupan gairah terus bergejolak di dadanya. Namun, setiap kali fantasi liar itu menguasai pikirannya, sebuah nama yang diucapkan mamanya malam itu mendadak bergema di kepalanya bak alarm bahaya: Raga.Keesokan paginya, suasana ruang makan kediaman Wiwaha terasa sejuk. Juna sedang menyesap kopi hitamnya sembari membaca laporan bisnis di tablet, sementara Salva duduk di sebelahnya, mengoleskan selai pada sepoto
Pagutan hangat itu mendadak terputus. Kesadaran Finn seolah ditarik paksa kembali ke realitas bumi oleh sisa akal sehatnya yang tersisa. Dengan napas yang memburu dan jantung yang berdegup liar, Finn memalingkan wajahnya ke samping, menolak ciuman Shayra secara halus namun tegas.Kedua telapak tangannya yang semula mencengkeram bahu Shayra perlahan turun, mendorong tubuh gadis itu dengan sangat hati-hati agar memberi jarak di antara mereka."Kita tidak boleh begini, Shayra," bisik Finn, suaranya terdengar serak, berat, dan sarat akan penyesalan. Ia menatap karpet di bawah mereka, tak berani menatap langsung sepasang mata murni milik gadis di bawahnya. "Jangan lakukan ini. Aku... aku tidak sebaik yang kamu bayangkan. Terima kasih karena kamu sudah menolongku dari Tante Riana tadi, tapi... kamu terlalu berharga, dan aku terlalu hina untuk melakukan ini denganmu."Kalimat dingin namun jujur itu seketika menghantam kesadaran Shayra bak siraman air es. Pikiran liar yang sempat menguasai ke
Derap langkah kaki beberapa pengawal berbadan tegap terdengar semakin dekat di ujung koridor. Menyadari Riana sudah menghilang di balik pintu darurat, Shayra segera menoleh ke arah belokan. Ia mengangkat satu tangannya, memberi isyarat mutlak agar para pengawal itu menghentikan langkah mereka."Pak Dimas, berhenti di sana," panggil Shayra dengan suara setengah berbisik namun tegas.Kepala pengawal itu menghentikan anak buahnya, menatap Shayra dengan patuh. "Ada apa, Non Shayra? Di mana orang yang membuat keributan tadi?""Dia sudah pergi lewat pintu keluar darurat. Tidak perlu dikejar, situasi sudah aman. Kalian kembali saja berjaga di depan aula utama, dan tolong jangan katakan apa pun pada Papa," dusta Shayra demi melindungi privasi Finn."Baik, Nona. Kami mengerti," Pak Dimas membungkuk hormat, lalu memimpin anak buahnya mundur dengan senyap.Setelah para pengawal pergi, koridor itu kembali diliputi keheningan yang pekat. Shayra memutar tubuhnya, melangkah cepat mendekati Finn. Tan
Grand Ballroom hotel bintang lima malam itu bertransformasi menjadi lautan kemewahan yang memesona. Kilau lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit berpadu sempurna dengan alunan musik klasika, menyambut ratusan tamu elite yang menghadiri gala perayaan ulang tahun La Grande Holdings yang ke-45.Di tengah hiruk-pikuk kaum borjuis itu, Shayra Wiwaha menjadi pusat semesta. Gaun satin marun model off-shoulder yang melekat sempurna di tubuh tinggi semampainya membuat gadis itu terlihat seperti dewi malam yang turun dari langit. Rambut hitam panjangnya ditata sanggul modern yang rapi, mengekspos leher jenjang dan tulang selangkanya yang indah.Tak pelak, hampir setiap pria muda dari kalangan pengusaha dan anak kolega bisnis yang berpapasan dengannya selalu melirik dengan tatapan memuja. Namun, tidak ada satu pun yang berani melangkah maju untuk menggoda, sebab tepat di sebelah Shayra, berdiri Juna Wiwaha, sang penguasa korporasi yang memancarkan aura dominasi yang teramat kuat
Sesuai prediksi semua orang, presentasi proyek analisis ekonomi makro Kelompok 7 berjalan dengan sangat sempurna. Penjelasan yang terstruktur rapi, ditambah dengan draf salindia buatan Finn yang begitu profesional, membuat dosen pengampu tak ragu untuk langsung memberikan nilai A+ di papan penilaian."Kerja bagus, Kelompok Tujuh. Ini adalah analisis terbaik yang pernah saya lihat semester ini," puji sang dosen sebelum membubarkan kelas."Gila! Kita beneran dapat A+!" seru Freya heboh begitu mereka keluar dari ruang kelas. "Finn, kamu bener-bener penyelamat hidup kami!""Iya, bro. Thanks banget, ya. Nanti malam kalau kamu senggang, biar aku yang traktir makan sebagai gantinya," timpal Jason antusias sembari menepuk bahu Finn.Finn hanya mengangguk datar, dengan cekatan memasukkan laptopnya ke dalam tas tanpa mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun. "Tidak usah. Tugasnya sudah selesai. Aku duluan."Pria itu langsung membalik tubuhnya dan berjalan pergi. Hubungan profesional mereka selesa
Satu minggu berlalu dengan cepat. Ruang diskusi di lantai dua perpustakaan pusat Universitas siang itu tampak tenang, hanya diisi oleh ketukan jemari di atas papan tik dan bisikan-bisikan mahasiswa yang sedang belajar.Shayra duduk tegak di salah satu meja bundar. Di hadapannya, Freya dan Jason sudah bersiap dengan buku catatan mereka. Tak lama kemudian, sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul. Finn melangkah masuk dengan ransel kanvas usangnya, mengenakan kaus hitam polos yang dilapisi kemeja denim pudar. Ia menarik kursi di hadapan Shayra tanpa mengeluarkan sepatah kata pun."Oke, karena minggu depan kita sudah harus maju presentasi, hari ini kita bagi tugas untuk pembagian materinya, ya," buka Shayra langsung pada inti masalah, menatap Finn dengan pandangan yang masih menyiratkan sisa kekesalan dari insiden minggu lalu.Tanpa repot-repot menjelaskan atau berbasa-basi, Finn membuka laptopnya. Jarinya bergerak lincah di atas trackpad selama beberapa detik.Tring!Ponsel Shayra, Fr
Juna terbangun dari sofa yang kini menjadi tempat tidurnya. Sejak kepergian Aleya, ia tak pernah lagi menyentuh kamar mereka.Ada rindu yang sialnya masih sesekali datang, meskipun ia sudah berusaha keras melupakan wanita yang sebentar lagi resmi menjadi mantan istrinya itu.Perasaan sayang bercamp
“Bagaimana Anda tahu nama ibu saya?” tanya Juna, suaranya menegang.Pria tua itu menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar. Saat ia kembali mengangkat wajahnya, air mata sudah mengalir deras di pipinya.Dengan suara yang penuh emosi karena menahan campuran rindu dan penyesalan yang tak
“Tuan, rendahkan badan Anda!” seru Juna sambil menekan pedal gas hingga habis.Pria tua itu langsung menunduk, melindungi kepalanya. Di depan, cahaya lampu sorot masih menyilaukan, sementara siluet beberapa pria mulai bergerak keluar dari mobil yang menghadang.Juna menyipitkan mata.Di kejauhan, i
“Sebenarnya, siapa mereka, Tuan? Kenapa mereka mengejar kita?” tanya Juna, kini benar-benar waspada. Nada suaranya tertahan, tetapi jelas dipenuhi ketegangan.Pria tua itu terdiam sejenak, rahangnya mengeras.“Ceritanya panjang,” jawabnya akhirnya, suaranya rendah namun penuh amarah.“Yang jelas… m







