LOGINJuna terbangun dari sofa yang kini menjadi tempat tidurnya. Sejak kepergian Aleya, ia tak pernah lagi menyentuh kamar mereka.
Ada rindu yang sialnya masih sesekali datang, meskipun ia sudah berusaha keras melupakan wanita yang sebentar lagi resmi menjadi mantan istrinya itu.
Perasaan sayang bercampur benci mengaduk-aduk dadanya, membuatnya terjebak dalam kegelisahan yang tak kunjung usai.
Namun pagi ini berbeda.
Alih-alih memikirkan Aleya, pikiran Juna justru kembali pada kejadian semalam.
Tentang pria tua itu.
Tentang pengakuan yang cukup mengguncang dirinya.
Tentang satu fakta yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Banyak pertanyaan bermunculan di benaknya. Kenapa baru sekarang Tuhan mempertemukannya dengan kakeknya?
Kenapa tidak sejak dulu?
Jika saja ia bertemu lebih awal, mungkin hidupnya akan berbeda.
Mungkin ia tidak akan merasa serendah ini.
Mungkin ia masih bisa mempertahankan rumah tangganya.
Sebuah ketukan di pintu membuyarkan semua andai-andai yang memenuhi kepala Juna.
“Siapa pagi-pagi begini sudah bertamu?” gerutunya pelan. Meski begitu, ia tetap bangkit dan melangkah menuju pintu.
Saat pintu terbuka, Juna terdiam.
Di hadapannya, Aleya berdiri dengan angkuh. Penampilannya jauh lebih rapi, lebih terawat. Gaun yang dikenakannya tampak mahal, begitu juga sepatu yang membungkus kakinya.
Berbeda jauh dengan dirinya.
“Tumben kamu masih ada di rumah. Padahal taksimu tidak ada,” ucap Aleya datar. “Tadinya aku cuma mau menyampaikan ini.”
Tanpa menunggu respons, ia menyodorkan amplop cokelat ke dada Juna. Lebih tepatnya, setengah melemparkan amplop itu.
Aleya membuang mukanya.
Sebaliknya, Juna justru menatap wanita itu dengan penuh harap. Ada sesuatu di dadanya yang kembali bergerak. Perasaan miliknya yang belum benar-benar hilang.
“Masuk dulu… jelaskan ini apa,” ucap Juna lembut.
Nada suaranya menyimpan harapan yang terlalu jelas.
Bagaimanapun, mereka pernah berbagi hidup selama bertahun-tahun. Dan setelah semua yang terjadi semalam, Juna ingin bercerita.
Hasratnya ingin meluapkan semuanya, tentang hidupnya, tentang kejadian aneh yang baru saja ia alami, tentang ia tidak Bersama dengan Wanita yang ia sayangi itu selama berhari-hari.
Dulu, Aleya selalu antusias mendengarkan cerita-ceritanya. Tentang penumpang, tentang kejadian di jalan.
Namun entah sejak kapan, wanita itu menjadi asing.
“Aku tidak punya waktu,” potong Aleya cepat.
Tatapannya tetap kosong.
“Itu cuma surat undangan. Untuk sidang perceraian kita.”
“Al… kenapa kita sampai sejauh ini? Apa tidak ada cara lain supaya kita bisa kembali? Mari kita duduk dulu, Al. Kita bicarakan baik-baik,” bujuk Juna.
Harga dirinya benar-benar telah runtuh. Ia bahkan tak lagi peduli pada luka yang Aleya torehkan sebelumnya. Yang ia inginkan hanya satu, Aleya kembali.
Namun wanita itu justru tersenyum tipis, sinis.
“Kamu benar-benar menyedihkan,” ucapnya dingin.
Tatapannya menusuk.
“Dengarkan baik-baik, Juna. Aku tidak akan pernah kembali padamu. Aku tidak sudi menjalani hidup yang menyedihkan seperti ini. Kalau kamu susah, jangan ajak orang lain ikut tenggelam bersamamu.”
Juna meremas tangannya kuat-kuat. Amarah dan sakit bercampur menjadi satu, tetapi ia menahannya.
Belum sempat ia berkata apa pun, seorang pria berpakaian rapi muncul dari belakang Aleya.
“Nona… oh, maaf…” ucapnya sedikit terkejut saat melihat Juna berdiri di ambang pintu.
“Kenapa?” tanya Aleya tanpa menoleh.
“Tuan Gala sudah menunggu kita.”
“Baik,” jawab Aleya singkat.
Ia kembali menatap Juna, kali ini lebih dingin dari sebelumnya.
“Undangan itu hanya formalitas. Kalau tidak datang, justru lebih baik. Supaya semuanya cepat selesai.”
Tanpa menunggu jawaban, Aleya berbalik dan melangkah pergi.
Juna hanya bisa diam.
Ia melihat wanita itu masuk ke dalam mobil hitam mengilap yang sudah menunggu. Di dalamnya, tampak seseorang dengan setelan krem duduk tenang, namun wajahnya tak terlihat jelas.
Pintu tertutup.
Mobil itu melaju perlahan, lalu menghilang di ujung jalan.
Dan Juna masih berdiri di sana.
Ia tidak melangkah.
Kakinya tetap terpaku di tempat, meski hatinya berteriak untuk mengejar.
Namun kali ini, ia memilih diam.
Ia tidak ingin lagi mengejar. Tidak ingin lagi memohon seperti seseorang yang tak memiliki harga diri.
Cukup.
Semua sudah cukup sampai di sini.Hatinya kosong, namun juga penuh dalam waktu yang bersamaan.
Setetes air mata jatuh.
Cepat ia hapus.
“Semoga kamu tidak pernah menyesalinya, Aleya,” bisiknya lirih.
Ia menarik napas dalam, menegakkan tubuhnya.
“Aleya Ganesha… mulai hari ini, aku melepaskanmu sebagai istriku. Aku mengikhlaskannya.”
Suara itu pelan, tapi tegas.
“Semoga kamu bahagia.”
Saat Juna masih terdiam dalam lamunannya, tiba-tiba sebuah suara memecah keheningan.
“Tuan Arjuna Wiwaha.”
Juna tersentak. Ia menoleh cepat ke arah sumber suara.
Seorang pria berdiri tidak jauh darinya.
“Kamu… Vicky?” tanya Juna, sedikit mengernyit. Ia masih ingat pria itu, sekretaris yang ia temui di penthouse semalam.
Ada banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan. Tentang bagaimana pria ini bisa muncul di sini, tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Namun Juna menahannya.
Ia terlalu lelah untuk bertanya banyak.
“Ya, benar, Tuan,” jawab Vicky dengan senyum tipis yang tetap profesional. “Tuan Satya ingin bertemu Anda.”
Semenjak malam gala perayaan di hotel itu, kehidupan emosional Shayra Wiwaha berubah total. Di dalam kamarnya yang mewah, setiap kali ia memejamkan mata, memori di sudut tangga mezanin itu selalu berputar tanpa izin. Sentuhan tegas telapak tangan Finn di dadanya, pagutan bibir pria itu yang awalnya dingin namun kemudian membakar, hingga sensasi ketika sesuatu yang keras di balik celana Finn menggeliat menegang di pangkal pahanya—semuanya telah menjadi candu yang aneh bagi Shayra.Ia menginginkan sentuhan itu lagi. Rasa penasaran seorang gadis muda yang baru pertama kali merasakan letupan gairah terus bergejolak di dadanya. Namun, setiap kali fantasi liar itu menguasai pikirannya, sebuah nama yang diucapkan mamanya malam itu mendadak bergema di kepalanya bak alarm bahaya: Raga.Keesokan paginya, suasana ruang makan kediaman Wiwaha terasa sejuk. Juna sedang menyesap kopi hitamnya sembari membaca laporan bisnis di tablet, sementara Salva duduk di sebelahnya, mengoleskan selai pada sepoto
Pagutan hangat itu mendadak terputus. Kesadaran Finn seolah ditarik paksa kembali ke realitas bumi oleh sisa akal sehatnya yang tersisa. Dengan napas yang memburu dan jantung yang berdegup liar, Finn memalingkan wajahnya ke samping, menolak ciuman Shayra secara halus namun tegas.Kedua telapak tangannya yang semula mencengkeram bahu Shayra perlahan turun, mendorong tubuh gadis itu dengan sangat hati-hati agar memberi jarak di antara mereka."Kita tidak boleh begini, Shayra," bisik Finn, suaranya terdengar serak, berat, dan sarat akan penyesalan. Ia menatap karpet di bawah mereka, tak berani menatap langsung sepasang mata murni milik gadis di bawahnya. "Jangan lakukan ini. Aku... aku tidak sebaik yang kamu bayangkan. Terima kasih karena kamu sudah menolongku dari Tante Riana tadi, tapi... kamu terlalu berharga, dan aku terlalu hina untuk melakukan ini denganmu."Kalimat dingin namun jujur itu seketika menghantam kesadaran Shayra bak siraman air es. Pikiran liar yang sempat menguasai ke
Derap langkah kaki beberapa pengawal berbadan tegap terdengar semakin dekat di ujung koridor. Menyadari Riana sudah menghilang di balik pintu darurat, Shayra segera menoleh ke arah belokan. Ia mengangkat satu tangannya, memberi isyarat mutlak agar para pengawal itu menghentikan langkah mereka."Pak Dimas, berhenti di sana," panggil Shayra dengan suara setengah berbisik namun tegas.Kepala pengawal itu menghentikan anak buahnya, menatap Shayra dengan patuh. "Ada apa, Non Shayra? Di mana orang yang membuat keributan tadi?""Dia sudah pergi lewat pintu keluar darurat. Tidak perlu dikejar, situasi sudah aman. Kalian kembali saja berjaga di depan aula utama, dan tolong jangan katakan apa pun pada Papa," dusta Shayra demi melindungi privasi Finn."Baik, Nona. Kami mengerti," Pak Dimas membungkuk hormat, lalu memimpin anak buahnya mundur dengan senyap.Setelah para pengawal pergi, koridor itu kembali diliputi keheningan yang pekat. Shayra memutar tubuhnya, melangkah cepat mendekati Finn. Tan
Grand Ballroom hotel bintang lima malam itu bertransformasi menjadi lautan kemewahan yang memesona. Kilau lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit berpadu sempurna dengan alunan musik klasika, menyambut ratusan tamu elite yang menghadiri gala perayaan ulang tahun La Grande Holdings yang ke-45.Di tengah hiruk-pikuk kaum borjuis itu, Shayra Wiwaha menjadi pusat semesta. Gaun satin marun model off-shoulder yang melekat sempurna di tubuh tinggi semampainya membuat gadis itu terlihat seperti dewi malam yang turun dari langit. Rambut hitam panjangnya ditata sanggul modern yang rapi, mengekspos leher jenjang dan tulang selangkanya yang indah.Tak pelak, hampir setiap pria muda dari kalangan pengusaha dan anak kolega bisnis yang berpapasan dengannya selalu melirik dengan tatapan memuja. Namun, tidak ada satu pun yang berani melangkah maju untuk menggoda, sebab tepat di sebelah Shayra, berdiri Juna Wiwaha, sang penguasa korporasi yang memancarkan aura dominasi yang teramat kuat
Sesuai prediksi semua orang, presentasi proyek analisis ekonomi makro Kelompok 7 berjalan dengan sangat sempurna. Penjelasan yang terstruktur rapi, ditambah dengan draf salindia buatan Finn yang begitu profesional, membuat dosen pengampu tak ragu untuk langsung memberikan nilai A+ di papan penilaian."Kerja bagus, Kelompok Tujuh. Ini adalah analisis terbaik yang pernah saya lihat semester ini," puji sang dosen sebelum membubarkan kelas."Gila! Kita beneran dapat A+!" seru Freya heboh begitu mereka keluar dari ruang kelas. "Finn, kamu bener-bener penyelamat hidup kami!""Iya, bro. Thanks banget, ya. Nanti malam kalau kamu senggang, biar aku yang traktir makan sebagai gantinya," timpal Jason antusias sembari menepuk bahu Finn.Finn hanya mengangguk datar, dengan cekatan memasukkan laptopnya ke dalam tas tanpa mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun. "Tidak usah. Tugasnya sudah selesai. Aku duluan."Pria itu langsung membalik tubuhnya dan berjalan pergi. Hubungan profesional mereka selesa
Satu minggu berlalu dengan cepat. Ruang diskusi di lantai dua perpustakaan pusat Universitas siang itu tampak tenang, hanya diisi oleh ketukan jemari di atas papan tik dan bisikan-bisikan mahasiswa yang sedang belajar.Shayra duduk tegak di salah satu meja bundar. Di hadapannya, Freya dan Jason sudah bersiap dengan buku catatan mereka. Tak lama kemudian, sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul. Finn melangkah masuk dengan ransel kanvas usangnya, mengenakan kaus hitam polos yang dilapisi kemeja denim pudar. Ia menarik kursi di hadapan Shayra tanpa mengeluarkan sepatah kata pun."Oke, karena minggu depan kita sudah harus maju presentasi, hari ini kita bagi tugas untuk pembagian materinya, ya," buka Shayra langsung pada inti masalah, menatap Finn dengan pandangan yang masih menyiratkan sisa kekesalan dari insiden minggu lalu.Tanpa repot-repot menjelaskan atau berbasa-basi, Finn membuka laptopnya. Jarinya bergerak lincah di atas trackpad selama beberapa detik.Tring!Ponsel Shayra, Fr
Pertanyaan Satya itu terus bergema di kepala Juna, bahkan setelah sambungan telepon berakhir lama. "Apa kau masih yakin itu anakmu?" Awalnya, ego Juna ingin langsung membantah. Namun, semakin lama ia memikirkannya, riak-riak keraguan justru bermunculan ke permukaan. Jika anak
Di belahan dunia lain, jauh dari bayang-bayang nama La Grande, ancaman Raga yang tak pernah berakhir, dan permainan kekuasaan yang melelahkan, Juna menjalani hari-harinya dengan cara yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Semuanya terasa tenang, lambat, dan untuk pertama kalinya dalam hidup, ia
Suasana kamar itu terasa semakin hangat, kontras dengan udara dingin yang menyelinap dari balik jendela kastil. Juna bersandar pada bantal tinggi yang diatur sedemikian rupa, matanya terus mengikuti pergerakan Salva. Istrinya itu mondar-mandir merapikan gaun pernikahan yang baru saja mereka lepas
Halaman belakang kastil itu benar-benar disulap menjadi tempat yang sakral. Latar belakang hutan pinus yang diselimuti kabut tipis Jerman memberikan suasana yang tenang, magis, dan sangat intim. Juna duduk di kursi roda dengan setelan jas putih yang tampak kontras dengan hijaunya pepohonan, ditem







