MasukMALAM HARI.
Malam itu, SMA Moels yang megah berubah menjadi siluet raksasa yang mengintimidasi di bawah guyuran hujan gerimis. Pukul 21.50, Kella sudah berada di balik rimbunnya pohon pinus yang menghadap langsung ke pintu belakang perpustakaan sayap barat.
Jam malam memang sunyi di sekitar sekolah. Kella berdiri sendirian mengenakan tactical suit hitam ketat yang menyatu dengan kegelapan. Ia menyamarkan penampilannya walaupun masih menggunakan kacamata Aegis, bagian kepala tertutup rapat sepaket dengan apa yang dikenakannya.
Lensa Aegis di matanya menyala biru tipis, memindai setiap sudut area dengan mode termal.
[SISTEM: DRONE PENGINTAI AKTIF. SINYAL TERENKRIPSI AMAN.] [DETEKSI: DUA PENJAGA DI PINTU BELAKANG. SATU UNIT MOBIL BOX HITAM MEMASUKI AREA.]
Kella menyentuh earpiece-nya. "Tahan drone di ketinggian lima puluh meter. Jangan sampai tertangkap radar internal Vaughan," bisiknya.
Kella secara diam-diam kembali ke sekolah dengan partner setianya. Alat penghubung mereka bertiga masing-masing satu. K yang menjalankan di sisi yang Kella suruh pantau. Sedangkan satu lagi menunggu di tempat paling jauh dari lokasi target.
Kella menunggu sampai target bergerak.
Pukul 22.00 tepat.
Sebuah mobil box hitam tanpa plat nomor berhenti tepat di depan pintu belakang perpustakaan. Kella melihat Clarissa dan Stephanie keluar dari mobil mewah yang terparkir tak jauh dari sana, mereka tampak gelisah. Tak lama kemudian, beberapa pria berbadan tegap mulai mengeluarkan kotak-kotak kayu berlabel simbol kimia yang sangat familiar bagi Kella.
"Itu dia," gumam Kella. "Simbol yang sama dengan Project Chimera."
Kella bergerak dengan kecepatan luar biasa, memanjat pipa pembuangan dan mendarat tanpa suara di balkon lantai dua. Ia menyelinap masuk melalui jendela yang sudah ia retas kuncinya sore tadi. Di dalam perpustakaan yang gelap, suasana terasa sangat mencekam. Aroma buku tua bercampur dengan bau ozon yang aneh seperti bau ruang mesin yang sangat besar.
Kella berjalan menuju rak buku sejarah keluarga Vaughan. Sesuai informasi yang partnernya infokan, Kella mengambil buku berjudul 'The Unspoken Heritage'.
Klik.
Rak buku raksasa itu bergeser, menampakkan sebuah lorong lift dengan teknologi pemindai retina. Kella tersenyum tipis. Ia mengeluarkan flashdisk yang ia ambil dari loker sore tadi dan menancapkannya pada panel kontrol.
"Sistem, gunakan protokol Ghost In The Cell. Salin data retina Winson Amersoln yang sudah kita simpan." Senyum Kella, kemudian cahaya sistem Aegis memperlihatkan.
[SISTEM PROSES: 80%... 100%. ACCESS GRANTED.]
Pintu lift terbuka. Kella masuk ke dalamnya, turun jauh ke bawah tanah sekolah yang tidak pernah diketahui publik. Saat pintu lift terbuka kembali, Kella terkesiap. Di depannya membentang sebuah laboratorium raksasa yang sangat canggih. Tabung-tabung kaca besar berisi cairan biru berjejer di sepanjang dinding, dan di dalamnya... terdapat organ-organ manusia yang tampak diawetkan secara biologis.
Kella menatap kagum dan terkejut saling bersamaan. “Wow, ternyata gedung tua ini punya ruangan rahasia seluas dan secanggih ini? Hebat, hebat.” Sembari menepuk tangannya lirih, dan menggelengkan kepalanya.
"Apa semua ini sitaan?" bisik Kella ngeri. "Ini yang disebut Project Chimera." Kella menatap semua barang, dan berkas yang tepat berada di dalam sebuah perpustakaan sayap barat.
Ia segera mendekati salah satu komputer pusat. Jarinya menari di atas keyboard virtual, menyalin seluruh data ke dalam sistem Aegis. Namun, gerakannya terhenti saat ia melihat satu file berjudul:
Kecelakaan Arthemis - Laporan Forensik Asli.
Saat Kella akan membuka file tersebut, sebuah suara langkah kaki di seluruh ruangan, memecah keheningan laboratorium. Kella panik, ia bergegas bersembunyi di balik meja yang tertutup rapat.
Kella melihat langkah kaki hitam, seperti kaki pria. Kella melihat kaki pria itu lewat celah garis pintu meja. Ia tidak lupa menutup rapat mulutnya agar tidak keluar suara dari dirinya.
“Bagaimana? Apakah semuanya aman pak?” Suara yang terdengar familiar, seperti suara perempuan seumuranya. Kella melihat dari celah, ia menitikan sepatu hils warna hitamnya.
Siapa perempuan itu? Batin Kella.
“Ini semua tidak boleh ada yang tahu, Bapak paham, kan?” Bapak itu mengeluarkan suaranya yang bariton. “Tentu saja Nona Clarissa, saya pastikan semua rahasia aman.” Ucap Pria itu dari balik kegelapan.
Klak.
Kella melalak matanya, ia tanpa sengaja mengenai barang yang ada di dalam meja laboratorium dalam perpustakaan sayap barat.
“Siapa di sana?” Clarissa melangkahkan kakinya ke sumber suara. Kella yang mendengar itu semakin menutupkan mulutnya, jantungnya sangat-sangat berdebar. Namun sebelum ketahuan, suara perempuan lain memasuki laboratorium ini.
“Ris, ayo Bapak supir sudah menunggu.” Clarissa yang mendengar suara temannya, ia segera berhenti dan membalikan tubuhnya. “Oh sudah? Ayo kita selesaikan ini,” Clarissa tidak jadi untuk melangkah ke sumber suara di dalam meja tadi.
Clarissa kembali merintah Pria itu. “Pak, sepertinya ular-ular dan tikus percobaan yang di dalam meja itu sedang berantem deh, tolong besok Bapak pisahkan mereka ya, untuk sekarang ikut kita selesaikan pesanan ini!” Perintah Clarissa, Pria itu mengangguk. Mereka segera bergitu saja setelah mengecek lab tersebut aman.
Kella yang mendengar ular? Tikus? Ia segera membuka pintu meja persembunyiaannya. Kella merasa ketakutakan ia segera melihat di sekujur tubuhnya apakah mereka tidak menempel ataupun ikut ke dalam pakaian yang Kella kenakan.
“Kurang ajar! Ck, harusnya bersembunyi di tempat lain saja tadi.” Kella merasa menyesal. Namun penyesalan tersebut berakhir ketika suara dari partnernya memanggil.
“Cek, Nona Kella radar 1 apakah terdengar?” suara balik sebrang.
“Ada apa?”
“Nona, sebaiknya kita pulang sekarang.” Saran dari suara balik sebrang.
“Oh, kenapa?”
“Baha-“ Belum sempat suara itu menjelaskan tiba-tiba suara dari sistem berbunyi.
[SISTEM WARNING: DETEKSI BAHAYA! GAS BERACUN MULAI DILEPAS. SISTEM PENGHANCURAN OTOMATIS AKTIF DALAM 5 MENIT.]
"Sial! Apakah sistem ruangan ini secara otomatis di lepaskan ketika malam hari?" desis Kella.
Kella merasa sudah tidak ada waktu untuk kembali menelusuri tempat ini. Kella bergegas keluar dari ruangan rahasia, dan secara bersembunyi keluar dari perpustakaan sayap barat tanpa celah, semua aman.
***
MANSION KEDIAMAN AMERSOLN
Kella kembali ke kamarnya melewati dinding luar kamarnya, dari balkon kecil menggunakan tali yang bisa menancap sendiri ketika di tarik keluar. Setelah masuk kamar tanpa suara, Kella bergegas membersihkan dirinya. Tidak lupa, Kella segera melempar pakaian yang ia pakai tadi ke tempat tungku api yang membara untuk memanaskan suhu ruang. Benar, Kella segera membakar pakaian tactical suit hitam.
Mengingat tadi ia bersembunyi bersama hewan-hewan liar. Kella bergidik ngeri, dan semua harus bersih tanpa celah.
Tak tak tak
Suara langkah kaki terdengar jelas, suara riuh orang-orang saling bertabrakan. Kella yang selepas mandi, merasa bingung dengan suara keramaian di lantai bawah, tepat ruang tamu.
“Kok sepertinya ramai, ya?” gumam Kella.
"Bermain bola basket," jawab Kella dengan wajah penuh tantang. Azam menahan tawanya, apa yang dikatakan gadis tersebut? Ingin melawan dia? yang notabenya Ketua tim basket?Azam sungguh tidak kuat lagi menahan tawa, sehingga tanpa sadar tawanya lepas. Dan membuat gadis di depannya itu, mengkerut.Kella cemberut, "Kenapa tertawa! ada yang lucu, kah?" tanyanya meskipun perkataan dan gerakan tubuhnya saling menyangkal."Kamu serius?" tanya Azam untuk lebih memastikan, tetapi tanggapan gadis tersebut menatap dengan gigih dan penuh percaya diri. "Huft, baiklah! Kapan?" tanya Azam kembali.Kella berfikir, kemudian ia menatapnya. "Dua minggu yang akan datang, sepulang sekolah. Jangan lupa!" sahutnya. Lelaki tersebut mengangguk, lalu Kella pergi dari hadapannya.Yah, dia takut bila gadis yang datang bersama lelaki tadi akan marah, jadi ia memutuskan pergi dan kembali bermain yang la
“Mah, Pah! Apa yang kalian sembunyikan dariku?” tanya Azam dengan nada yang masih sama, dingin. Esta Astira Rahendra dan Eron Rahendra, mereka adalah kedua orang tua dari Azam, Ketua Osis. Sekaligus pemilik sekolah SMAN 1 Teknikal, dan Rumah Sakit Teknikal. Kemudian, mata mereka berkelabat karena tidak tahu harus menjawab apa. Sementara, ini semua sebuah rahasia. Dan yang paling penting, tidak boleh putra satu-satunya mereka mengetahui apa yang diperbuat. “Jawab pertanyaan Azam, Mah, Pah!” geram Azam ketika kedua orang tuanya tidak ada sahutan. Esta terdiam. “Azam! Sebaiknya kamu jangan ikut campur urusan orang tua! sekarang pergi ke kamarmu!” bentak Eron mengalihkan pembicaraan. Tatapan tajam dari pemuda itu cukup menakutkan. Dan dia hanya bisa menurut ucapan orang tuanya, meski tidak mendapat jawaban apapun. Selepas anaknya pergi kedua ora
Kella menatap lelaki itu tajam. “Kamu bilang apa?” Azam berkeringat dingin, takutnya akan menyinggungnya. “Aku jelek?” sambung Kella, sembari mencondongkan tubuhnya pada lelaki itu. “Em, itu..” rasanya cukup menegangkan bagi Azam, yang melihat raut muka dari Kella. Lalu perlahan ia mundur, agar tidak terlalu dekat padanya. Kella menegakkan tubuh, dan berlalu pergi meninggalkan Azam. “Eh, mau kemana?” tanya Azam sembari berteriak, ketika punggung badannya menjauh. Tidak ada sahutan dari Kella, lalu Azam juga ikut pergi, karena tidak ada hal lain lagi berada di danau. ••• Minggu. Kemarin malam, cukup banyak hal yang tidak bisa diduga. Ketika kacamatanya dilepas, Kella melihat banyak darah yang bercucur, serta warga yang tengah sekarat. Kella ingin menolong mereka, tetapi semua salah kakak kelasnya itu! “Argh!
Tempat yang dipenuhi oleh lentera yang indah, dan lampu kemerlap berwarna-warni. Membuat pemandangan danau seperti di surga, sangatlah indah. Azam membawanya ke tempat yang jauh lebih indah dari pada tadi di pasar malam. Sempat Kella menolak untuk dibawa oleh kakak kelasnya, tetapi karena lelaki itu kekeh padanya, ia terpaksa menurut. Tapi tak menyangka, lelaki itu membawanya ke tempat paling indah. Dan juga, belum pernah ia mendatangi tempat bertema dan berlatar seperti di depan matanya. “Indah, kan?” tanya Azam. Kella hanya terdiam, sebenarnya masih ada amarah di dalam dirinya. Karena itu, lebih baik diam dari pada menyakiti lelaki itu. “Kenapa diam?” tanya Azam kembali. Lalu gadis itu menoleh. “Biar kamu puas dulu bicaranya,” ucap Kella. Azam terkekeh. “Bicara saja, di Indonesia nggak ada orang yang melarang berbicara kok!” balasnya. &n
Malam. Sepulang dari tempat pembuatan kunci. Kella langsung tidur hingga sore hari, dan dia masih terbaring di tempat tidur. Ting! Kella segera mengecek ponselnya yang berbunyi. Dalam notifikasinya tertulis nama kontak temannya, lalu dibukalah pesan tersebut. Indira | Kella, pergi ke pasar malam yuk! | Besok libur, jadi bebas deh, heheh. Kella | Sekarang? Indira | Iyah! | Jam 7 aku tunggu di depan kos kamu, okhey? Kella |Ya Kella mengakhiri pesan tersebut, lalu segera pergi mandi untuk kedua kalinya. Pukul 19.00 malam. Kella telah siap untuk pergi dengan temannya. Outfit yang digunakan, yaitu kaus putih, rok floral, sneakers putih dan jaket denim. Serta aksesoris yang sering digunakan, seperti
Pagi hari. Bulu mata yang lentik, hidung mancung, paras cantik dan cara tidurnya terlihat damai ketika tidur. Kella tidur tanpa mendengkur, bahkan terlihat imut kala itu. Kring kring kring! Suara dari jam beker, membuat kelopak matanya mengerjap. Lalu tangannya meraba ke nakas samping tempat tidur, untuk mengambil jam tersebut. Matanya melihat angka pada jam. Lalu menekan tombol atas jam beker, agar dapat berhenti. Kemudian, Kella terbangun. Lalu berposisi duduk di spring bed miliknya. Keadaannya masih mengantuk, dan jam tersebut masih pukul 05.00 pagi. Dia sengaja mengatur pada jam tersebut, karena tidak ingin terlambat saja. Setelah keadaan sudah lebih jernih, ia segera mengambil handuk, lalu pergi untuk mandi. Setelah mandi dan berganti baju. Kella siap untuk berangkat sekolah pada pukul 06.20.







