MasukKEDIAMAN AMERSOLN
Kella mengeringkan rambutnya dengan handuk seadanya, lalu mengenakan piyama satin panjang untuk menutupi sisa-sisa ketegangannya. Ia melirik ke arah tungku perapian pakaian tactical-nya sudah menjadi abu, menyisakan aroma kain terbakar yang tersamarkan oleh wangi lilin aromaterapi yang sengaja ia nyalakan.
Dengan langkah tenang namun waspada, Kella membuka sedikit pintu kamarnya. Suara teriakan histeris Sherly terdengar mendominasi, disusul oleh suara berat Winson yang terdengar sedang menelepon seseorang dengan nada tinggi.
"Aku tidak peduli berapa biayanya! Pastikan detektif itu tutup mulut!" bentak Winson.
Kella berjalan ke balkon dalam yang menghadap langsung ke ruang tamu lantai bawah. Di sana, pemandangan kacau tersaji. Clarissa dan ibunya ada di sana, wajah Clarissa pucat pasi, matanya sembab karena tangis. Sherly sedang memeluk sahabatnya itu sambil ikut terisak.
"Ayah, Clarissa hampir saja mati!" teriak Sherly ke arah Winson. "Seseorang menyabotase laboratorium itu! Gas beracunnya bocor tepat saat Clarissa masih di sana!"
Kella mengerutkan kening di balik bayang-bayang gelap lantai dua. Sabotase? Gas itu meledak karena sistem otomatis, bukan sabotase. Atau... ada orang lain yang sengaja memicu sistem itu saat aku masih di dalam?
"Tenanglah, Sherly. Clarissa sudah aman di sini," Maudy mencoba menenangkan, namun tangannya sendiri gemetar saat memegang segelas air.
Winson membanting ponselnya ke sofa. "Masalahnya bukan cuma gas itu! Sistem keamanan pusat melapor bahwa ada penyusupan data. Seseorang menggunakan identitas retina saya untuk masuk ke server Chimera!"
Deg. Jantung Kella berdegup kencang. Ia tahu Winson akan menyadarinya, tapi ia tidak menyangka akan secepat ini.
"Siapa yang berani, Yah? Apa itu Kak Azzam?" tanya Sherly.
"Bukan dia. Azzam punya aksesnya sendiri," sahut Clarissa dengan suara parau. "Tapi tadi... di dalam lab, aku mendengar sesuatu di balik meja kerja. Pak Supir bilang itu cuma hewan yang kita jadikan kelinci percobaan, tapi aku merasa ada seseorang yang mengawasi kami."
Winson tiba-tiba terdiam. Matanya yang tajam dan penuh curiga perlahan mendongak, menatap ke arah deretan kamar di lantai atas. Kella segera menarik kepalanya kembali ke balik dinding, mengatur napas agar tetap teratur.
"Kella," gumam Winson pelan, namun nadanya seperti vonis mati. "Di mana anak pembawa sial itu?"
Langkah kaki berat Winson mulai menaiki tangga kayu satu per satu, dengan ekspresi darinya terlihat sangar dan membara penuh amarah.
Tak tak tak
Kella tidak punya banyak waktu. Ia segera berlari ke ranjangnya, mengacak-acak rambutnya agar terlihat seperti orang yang baru bangun tidur, dan menyembunyikan kacamata Aegis di balik bantal yang memiliki kompartemen rahasia.
Brak!
Pintu kamar Kella didorong kasar hingga menghantam dinding. Winson berdiri di sana, napasnya memburu, matanya merah menatap Kella yang sedang berpura-pura mengucek mata dengan wajah linglung.
"Ada apa, Ayah? Kenapa berisik sekali di bawah?" tanya Kella dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Winson berjalan mendekat, ia menarik paksa lengan Kella dan memeriksa telapak tangannya. Ia mencari bekas luka, debu, atau apapun yang mencurigakan. Kella tetap mempertahankan wajah polosnya, meski dalam hati ia sudah menyiapkan serangan fatal jika pria ini berani melangkah lebih jauh.
"Kau tidak keluar kamar malam ini?" tanya Winson dingin.
"Keluar? Ayah kan yang melarangku makan malam dan menyuruhku tetap di kamar," jawab Kella getir, memberikan sedikit bumbu kekecewaan dalam suaranya. "Aku tidur sejak jam delapan. Bau apa ini? Kenapa Ayah terlihat sangat marah?"
Winson menatap tungku api yang masih menyala. Ia berjalan mendekat, mengaduk abu di dalamnya dengan ujung sepatunya. Tidak ada yang tersisa, hanya abu hitam pekat.
“Ayah, sebenarnya ada apa?” tanya Kella dengan berpura-pura polos dan tidak tahu apa yang sedang terjadi.
“Kau serius tidak keluar kamar?” Winson bertanya kembali untuk lebih menyakinkan Kella memperlihatkan dua jari nya piece, “Suer yah, Kella mana pernah bohong,” ucapnya bohong untuk menyakinkan sang Ayah.
Winson melihat Kella dari atas sampai bawah. Ia melihat piyama kusut, rambut kusut, dan kacamata yang terlepas itu hatinya sedikit tenang. Namun, Winson kembali menatap Kella.
"Jika aku tahu kau bermain-main di belakangku, Kella-" Winson menggantung kalimatnya, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Kella. "Aku tidak akan segan-segan mengirimmu menyusul ibumu ke liang lahat."
Winson berbalik dan keluar dari kamar, membanting pintu dengan keras. Setelah yakin suara langkah kaki itu menjauh, Kella terduduk di lantai. Tubuhnya lemas, namun matanya berkilat tajam. Ia meraba pergelangan tangannya yang memerah karena cengkeraman Winson.
Kella tersenyum licik, “Liang lahat? Jika semua ini kau yang merencanakan itu semua dan membunuh Ibu ku, kita lihat siapa yang hancur duluan? Aku, atau keluarga mu Pak tua!” Lirihnya.
Kella mengambil kacamatanya kembali. Ia tidak peduli dengan ancaman Winson. Tidak lama sistem Aegis berbunyi, Ting.
[SISTEM: SALINAN DATA SELESAI. FILE KECELAKAAN ARTHEMIS SIAP DIBUKA.]
Ia membuka file tersebut, dan sebuah foto forensik muncul di lensa Aegis. Di sana, di samping jenazah ibunya yang bersimbah darah, terdapat sebuah jam tangan perak yang hancur. Jam tangan yang sangat ia kenali.
"Jam tangan itu,” bisik Kella dengan air mata yang mulai menetes. "Itu milik Winson Amersoln."
Kella mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. Kebenaran itu lebih menyakitkan dari yang ia bayangkan. Ayahnya sendiri ada di lokasi kecelakaan itu.
"Ayah, kau tidak hanya membiarkannya mati. Kau yang membunuhnya," desis Kella.
Kella segera menutup file tersebut. Ia meneteskan air matanya, ia merasa kecewa namun sempat berpikir sejenak. “Lalu kenapa Ayah begitu tidak rela melakukan kejahatan, dan setiap malam akan berdiri di depan pintu kamar Kella dan meminta maaf?”
Air mata Kella sudah tidak terbendung, menangis tanpa suara. “Lalu semua sandiwara yang Ayah mainkan? Ibu Maudy juga? Dan kedatangan Ibu Maudy bersama Sherly? Ada apa dengan semua itu ketika kau terlibat pada lokasi pembunuhan Ibu kandung ku, Ayah?” Kella menangis tersedu-sedu, ia meringkuk di atas kasurnya menyembunyikan wajahnya.
Hati Kella malam ini sungguh hancur, mengetahui satu kebenaran yang terungkap. Dan semua itu, Ayahnya yaitu Winson Amersoln, ikut terlibat. Kella menegaskan dirinya, mata itu membara penuh amarah dan dendam yang terbelenggu.
“Ayah, Ibu Maudy, Clarissa, dan Vaughan. Aku akan satu persatu menagih semua itu dari diri kalian jika semua kecelakaan Ibuku kalian yang menyebabkannya!” tangan kecil Kella menggegam erat penuh dendam dan amarah.
Kella berdiri. Ia mengambil sebuah laptopnya, Kella segera mengirim email terhadap seseorang.
Mr, G
Apakah kau sibuk? Aku perlu bantuanmu!
Kella mengetik pesan tersebut dengan mata tajam penuh dendam. Selepas menangis rasanya sungguh lega, namun hati tetap berat. Kella merasa harus segera menemukan petunjuk baru, ia harus segera tahu dengan kejadian sepuluh tahun yang lalu. Ia harus membalaskan semua itu, jika memang harus mempertaruhkan nyawanya sekaligus.
"Bermain bola basket," jawab Kella dengan wajah penuh tantang. Azam menahan tawanya, apa yang dikatakan gadis tersebut? Ingin melawan dia? yang notabenya Ketua tim basket?Azam sungguh tidak kuat lagi menahan tawa, sehingga tanpa sadar tawanya lepas. Dan membuat gadis di depannya itu, mengkerut.Kella cemberut, "Kenapa tertawa! ada yang lucu, kah?" tanyanya meskipun perkataan dan gerakan tubuhnya saling menyangkal."Kamu serius?" tanya Azam untuk lebih memastikan, tetapi tanggapan gadis tersebut menatap dengan gigih dan penuh percaya diri. "Huft, baiklah! Kapan?" tanya Azam kembali.Kella berfikir, kemudian ia menatapnya. "Dua minggu yang akan datang, sepulang sekolah. Jangan lupa!" sahutnya. Lelaki tersebut mengangguk, lalu Kella pergi dari hadapannya.Yah, dia takut bila gadis yang datang bersama lelaki tadi akan marah, jadi ia memutuskan pergi dan kembali bermain yang la
“Mah, Pah! Apa yang kalian sembunyikan dariku?” tanya Azam dengan nada yang masih sama, dingin. Esta Astira Rahendra dan Eron Rahendra, mereka adalah kedua orang tua dari Azam, Ketua Osis. Sekaligus pemilik sekolah SMAN 1 Teknikal, dan Rumah Sakit Teknikal. Kemudian, mata mereka berkelabat karena tidak tahu harus menjawab apa. Sementara, ini semua sebuah rahasia. Dan yang paling penting, tidak boleh putra satu-satunya mereka mengetahui apa yang diperbuat. “Jawab pertanyaan Azam, Mah, Pah!” geram Azam ketika kedua orang tuanya tidak ada sahutan. Esta terdiam. “Azam! Sebaiknya kamu jangan ikut campur urusan orang tua! sekarang pergi ke kamarmu!” bentak Eron mengalihkan pembicaraan. Tatapan tajam dari pemuda itu cukup menakutkan. Dan dia hanya bisa menurut ucapan orang tuanya, meski tidak mendapat jawaban apapun. Selepas anaknya pergi kedua ora
Kella menatap lelaki itu tajam. “Kamu bilang apa?” Azam berkeringat dingin, takutnya akan menyinggungnya. “Aku jelek?” sambung Kella, sembari mencondongkan tubuhnya pada lelaki itu. “Em, itu..” rasanya cukup menegangkan bagi Azam, yang melihat raut muka dari Kella. Lalu perlahan ia mundur, agar tidak terlalu dekat padanya. Kella menegakkan tubuh, dan berlalu pergi meninggalkan Azam. “Eh, mau kemana?” tanya Azam sembari berteriak, ketika punggung badannya menjauh. Tidak ada sahutan dari Kella, lalu Azam juga ikut pergi, karena tidak ada hal lain lagi berada di danau. ••• Minggu. Kemarin malam, cukup banyak hal yang tidak bisa diduga. Ketika kacamatanya dilepas, Kella melihat banyak darah yang bercucur, serta warga yang tengah sekarat. Kella ingin menolong mereka, tetapi semua salah kakak kelasnya itu! “Argh!
Tempat yang dipenuhi oleh lentera yang indah, dan lampu kemerlap berwarna-warni. Membuat pemandangan danau seperti di surga, sangatlah indah. Azam membawanya ke tempat yang jauh lebih indah dari pada tadi di pasar malam. Sempat Kella menolak untuk dibawa oleh kakak kelasnya, tetapi karena lelaki itu kekeh padanya, ia terpaksa menurut. Tapi tak menyangka, lelaki itu membawanya ke tempat paling indah. Dan juga, belum pernah ia mendatangi tempat bertema dan berlatar seperti di depan matanya. “Indah, kan?” tanya Azam. Kella hanya terdiam, sebenarnya masih ada amarah di dalam dirinya. Karena itu, lebih baik diam dari pada menyakiti lelaki itu. “Kenapa diam?” tanya Azam kembali. Lalu gadis itu menoleh. “Biar kamu puas dulu bicaranya,” ucap Kella. Azam terkekeh. “Bicara saja, di Indonesia nggak ada orang yang melarang berbicara kok!” balasnya. &n
Malam. Sepulang dari tempat pembuatan kunci. Kella langsung tidur hingga sore hari, dan dia masih terbaring di tempat tidur. Ting! Kella segera mengecek ponselnya yang berbunyi. Dalam notifikasinya tertulis nama kontak temannya, lalu dibukalah pesan tersebut. Indira | Kella, pergi ke pasar malam yuk! | Besok libur, jadi bebas deh, heheh. Kella | Sekarang? Indira | Iyah! | Jam 7 aku tunggu di depan kos kamu, okhey? Kella |Ya Kella mengakhiri pesan tersebut, lalu segera pergi mandi untuk kedua kalinya. Pukul 19.00 malam. Kella telah siap untuk pergi dengan temannya. Outfit yang digunakan, yaitu kaus putih, rok floral, sneakers putih dan jaket denim. Serta aksesoris yang sering digunakan, seperti
Pagi hari. Bulu mata yang lentik, hidung mancung, paras cantik dan cara tidurnya terlihat damai ketika tidur. Kella tidur tanpa mendengkur, bahkan terlihat imut kala itu. Kring kring kring! Suara dari jam beker, membuat kelopak matanya mengerjap. Lalu tangannya meraba ke nakas samping tempat tidur, untuk mengambil jam tersebut. Matanya melihat angka pada jam. Lalu menekan tombol atas jam beker, agar dapat berhenti. Kemudian, Kella terbangun. Lalu berposisi duduk di spring bed miliknya. Keadaannya masih mengantuk, dan jam tersebut masih pukul 05.00 pagi. Dia sengaja mengatur pada jam tersebut, karena tidak ingin terlambat saja. Setelah keadaan sudah lebih jernih, ia segera mengambil handuk, lalu pergi untuk mandi. Setelah mandi dan berganti baju. Kella siap untuk berangkat sekolah pada pukul 06.20.







