Share

Semua Takjub

last update Last Updated: 2021-08-14 23:40:46

Kella mengertakkan gigi, menatap punggung Azzam yang menghilang di balik pintu toilet. "Sangat jelek?" desisnya pelan. "Akan kupastikan kau menelan kata-kata itu bersama seluruh harga dirimu, Vaughan!" Kella segera memunguti buku-bukunya yang basah. Aegis kembali memberikan notifikasi di sudut matanya.

[SISTEM: AUDIO TERDETEKSI. FREKUENSI RENDAH DI KORIDOR LUAR. JARAK 5 METER.]

Kella menajamkan pendengarannya. Ia tidak langsung keluar. Ia berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka, menggunakan celah kecil untuk mengintip. Di luar, ia melihat Clarissa dan kelompoknya tidak benar-benar pergi jauh. Mereka berkumpul di dekat loker, tampak panik namun juga sedang membicarakan sesuatu dengan suara berbisik yang tergesa-gesa.

"Kau lihat tadi? Azzam membela si miskin itu!" suara Valerie terdengar melengking tertahan.

"Bukan itu masalahnya, bodoh!" Clarissa menyela, suaranya gemetar. "Kalau Azzam sampai tahu kita menggunakan ruang bawah tanah itu untuk menyimpan barang-barang sitaan, kita bisa habis. Ayahnya Azzam sangat ketat soal area terlarang di sayap barat."

Kella membeku. Ruang bawah tanah?

"Tenanglah, Ris," sahut Nadia mencoba menenangkan. "Kunci aksesnya ada di tangan Stephanie. Dan lagi, rumor soal suara-suara di lab musik itu sudah cukup buat orang-orang takut mendekati sayap barat setelah jam empat. Tidak akan ada yang tahu kalau kita menyembunyikan pesanan itu di sana."

"Tapi tadi Azzam hampir saja curiga!" Clarissa mendesis. "Kita harus pindahkan barang itu sebelum acara Gala Dinner sekolah minggu depan. Aku dengar dari kakak kelas, ada pengiriman baru yang masuk lewat pintu belakang perpustakaan malam ini."

Kella mematikan mode perekaman audio setelah merasa cukup. Matanya berkilat. Lab musik. Sayap barat. Pengiriman malam ini.

“Sebenarnya apa maksud dari mereka ini? Sayap barat? Lab musik? Dan pengiriman barang apa yang mereka lakukan?” batin Kella, masih bersembunyi di balik dinding pemisah.

“Sudahlah Ris, kita tidak perlu khawatirkan itu. Kau tau siapa keluargaku kan, Ris?” Senyum licik Stephanie yang juga termasuk dari keluarga besar anak-anak elit di Moels.

Clarissa mengangguk lega, “Baiklah cukup menenangkan, Stephanie kau harus bisa lebih hati-hati dengan tugasmu! Jangan seperti satu orang itu yang gelagatnya ingin membantu si miskin itu,” Clarissa menyindir Dinda karena kasus tadi, Dinda hanya menelan salivanya.

Clarissa, Stephanie, Nadia pergi meninggalkan Dinda sendiri depan samping toilet. Dinda hanya menunduk memainkan jarinya, ia tidak tahu harus apa. Dinda kemudian menarik nafasnya berat, “Sabar Dinda, kamu pasti bisa lewati masa SMA ini!” semangatnya.

Kella yang di dalam toilet segera buru-buru keluar. Kella menatap lurus, matanya penuh dendam dan amarah. “Kita lihat saja kalian berlima!” gumamnya dengan tangan mengepal.

Kella keluar dari toilet setelah memastikan koridor sepi. Ia tidak menuju ke kelas seni musik. Tujuannya berubah. Ia berjalan menuju loker pribadinya, mengambil sebuah flashdisk kecil yang disembunyikan di balik sol sepatu cadangannya. Ia tidak lupa juga untuk mengganti seragamnya di ruang ganti olahraga, karena seragam yang tadi ia pakai sudah terlalu basah air pel.

Setelah urusannya selesai, ia baru akan pergi ke ruang musik.

Saat ia berbelok di tikungan koridor menuju arah tangga, ia berpapasan dengan seorang guru tua yang sedang membawa tumpukan kertas Pak Glen, guru sejarah yang dikenal eksentrik dan sering menghabiskan waktu di perpustakaan.

"Ah, Kella? Kenapa kau tidak segera ke ruang musik?" tanya Pak Glen heran.

Kella memasang wajah sedikit gugup. "Itu pak, habis dari toilet hehe” canggungnya.

Pak Glen menghela napas, menatap Kella dengan geleng-geleng. “Ya sudah, langsung ke ruang musik saja kamu!” perintahnya. Kella mengangguk, dan menunduk hormat kecil. “Baik, pak!” balas Kella.

Setelah Kella semakin menjauh dari Pak Glen. Kella berhenti sejenak, ia meraba saku roknya, memastikan smartphone-nya aktif. Ia mengirim pesan singkat ke nomor yang tidak terdaftar.

K: "Target dikonfirmasi. Sayap barat, pintu belakang perpustakaan. Pukul 22.00. Siapkan drone pengintai. Kita lihat apa yang disembunyikan keluarga Vaughan di bawah lantai sekolah ini."

Kella menyunggingkan senyum tipis. Ia akan tetap pergi ke kelas seni musik sekarang. Ia merasa kali ini akan menemukan sedikit lebih banyak petunjuk yang semakin membawanya menuju sebuah kebenaran.

***

Kella melangkah mantap menyusuri koridor menuju ruang seni musik. Begitu pintu kayu besar itu terbuka, aroma kayu pinus dan melodi piano yang rumit menyambutnya. Di tengah ruangan, Azzam sedang duduk di depan grand piano, jemarinya bergerak lincah memainkan komposisi Rachmaninoff yang kelam dan bertenaga.

Pak Tomi berdiri di samping piano, memberikan instruksi teknis sebelum akhirnya menyadari kehadiran Kella.

"Kella, kau terlambat?" Pak Tomi menaikkan alisnya.

"Maaf, Pak. Ada insiden kecil dengan seragam saya," jawab Kella datar, matanya sempat bersitubruk dengan mata tajam Azzam yang berhenti bermain.

"Ya sudah, duduk. Hari ini kita sedang menguji interpretasi emosi dalam instrumen. Siapa yang mau maju setelah Azzam?" tanya Pak Tomi sambil memindai kelas.

Clarissa, yang duduk di barisan depan bersama Stephanie, tertawa kecil yang sengaja dikeraskan. "Pak, kenapa tidak si anak beasiswa saja? Saya ingin tahu, apa orang miskin punya waktu untuk belajar seni, atau tangannya terlalu kasar karena sering mengepel lantai?"

Tawa pecah di ruangan itu. Azzam hanya menyandarkan punggungnya di kursi piano, melipat tangan di dada dengan seringai tipis yang memprovokasi. "Ayo, Si Jelek. Tunjukkan padaku apa yang kau punya jelek," tantang Azzam dengan suara rendah namun jernih.

Kella mengepalkan tangan. Kau yang memintanya, Vaughan.

Tanpa sepatah kata, Kella berjalan ke arah rak instrumen. Ia mengambil sebuah biola tua yang tersimpan di sudut. Ia memeriksa senarnya, menyetelnya dengan gerakan yang sangat presisi hingga Pak Tomi sedikit tertegun melihat cara Kella memegang bow-nya.

Kella berdiri di tengah ruang musik. Cahaya matahari dari jendela besar menyinari kacamata tebalnya, menyembunyikan tatapan matanya yang membara.

Begitu bow menyentuh senar, ruangan itu seketika hening.

Kella memainkan Danse Macabre. Namun, ia tidak memainkannya dengan cara standar. Ia menyuntikkan teknik staccato yang tajam dan agresif. Melodinya terdengar seperti jeritan yang terpendam, penuh kemarahan, dan sangat teknis. Lensa Aegis di matanya memberikan proyeksi beat visual yang membantunya mencapai sinkronisasi sempurna.

Azzam terdiam. Matanya tidak lepas dari gerakan jemari Kella yang menari di atas fingerboard. Kecepatan dan akurasi Kella berada di level profesional bukan level siswi SMA biasa.

Di sela-sela permainannya, Kella sengaja menatap lurus ke arah Azzam. Seolah setiap gesekan biola itu adalah serangan langsung ke harga diri pria itu. Nada-nada tinggi yang dihasilkan biola itu terdengar seperti peringatan.

Saat nada terakhir memudar dengan getaran vibrato yang pedih, seluruh kelas membeku. Pak Tomi bahkan lupa menutup mulutnya karena kagum. "Luar biasa..." gumam Pak Tomi memecah keheningan. "Kella, dari mana kau belajar teknik triple stop seberat itu?"

Kella menurunkan biolanya, kembali ke mode 'gadis cupu' dalam sekejap. "Hanya sering menonton YouTube, Pak," jawabnya sambil menunduk. Kella berjalan kembali ke tempat duduknya, melewati Azzam. Saat jarak mereka hanya beberapa senti, Kella berbisik sangat pelan, hampir menyerupai desisan.

"Masih menganggapku jelek, Vaughan? Atau kau baru saja menyadari bahwa kau sedang menghadapi monster yang salah?" Azzam tidak menjawab, namun rahangnya mengeras. Ia melihat Kella duduk tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Sementara itu, Kella tersenyum di balik telapak tangannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasia Si Gadis Cupu   Tantangan Kella

    "Bermain bola basket," jawab Kella dengan wajah penuh tantang. Azam menahan tawanya, apa yang dikatakan gadis tersebut? Ingin melawan dia? yang notabenya Ketua tim basket?Azam sungguh tidak kuat lagi menahan tawa, sehingga tanpa sadar tawanya lepas. Dan membuat gadis di depannya itu, mengkerut.Kella cemberut, "Kenapa tertawa! ada yang lucu, kah?" tanyanya meskipun perkataan dan gerakan tubuhnya saling menyangkal."Kamu serius?" tanya Azam untuk lebih memastikan, tetapi tanggapan gadis tersebut menatap dengan gigih dan penuh percaya diri. "Huft, baiklah! Kapan?" tanya Azam kembali.Kella berfikir, kemudian ia menatapnya. "Dua minggu yang akan datang, sepulang sekolah. Jangan lupa!" sahutnya. Lelaki tersebut mengangguk, lalu Kella pergi dari hadapannya.Yah, dia takut bila gadis yang datang bersama lelaki tadi akan marah, jadi ia memutuskan pergi dan kembali bermain yang la

  • Rahasia Si Gadis Cupu   Bertemu Dengannya Lagi

    “Mah, Pah! Apa yang kalian sembunyikan dariku?” tanya Azam dengan nada yang masih sama, dingin. Esta Astira Rahendra dan Eron Rahendra, mereka adalah kedua orang tua dari Azam, Ketua Osis. Sekaligus pemilik sekolah SMAN 1 Teknikal, dan Rumah Sakit Teknikal. Kemudian, mata mereka berkelabat karena tidak tahu harus menjawab apa. Sementara, ini semua sebuah rahasia. Dan yang paling penting, tidak boleh putra satu-satunya mereka mengetahui apa yang diperbuat. “Jawab pertanyaan Azam, Mah, Pah!” geram Azam ketika kedua orang tuanya tidak ada sahutan. Esta terdiam. “Azam! Sebaiknya kamu jangan ikut campur urusan orang tua! sekarang pergi ke kamarmu!” bentak Eron mengalihkan pembicaraan. Tatapan tajam dari pemuda itu cukup menakutkan. Dan dia hanya bisa menurut ucapan orang tuanya, meski tidak mendapat jawaban apapun. Selepas anaknya pergi kedua ora

  • Rahasia Si Gadis Cupu   Surat Petunjuk

    Kella menatap lelaki itu tajam. “Kamu bilang apa?” Azam berkeringat dingin, takutnya akan menyinggungnya. “Aku jelek?” sambung Kella, sembari mencondongkan tubuhnya pada lelaki itu. “Em, itu..” rasanya cukup menegangkan bagi Azam, yang melihat raut muka dari Kella. Lalu perlahan ia mundur, agar tidak terlalu dekat padanya. Kella menegakkan tubuh, dan berlalu pergi meninggalkan Azam. “Eh, mau kemana?” tanya Azam sembari berteriak, ketika punggung badannya menjauh. Tidak ada sahutan dari Kella, lalu Azam juga ikut pergi, karena tidak ada hal lain lagi berada di danau. ••• Minggu. Kemarin malam, cukup banyak hal yang tidak bisa diduga. Ketika kacamatanya dilepas, Kella melihat banyak darah yang bercucur, serta warga yang tengah sekarat. Kella ingin menolong mereka, tetapi semua salah kakak kelasnya itu! “Argh!

  • Rahasia Si Gadis Cupu   Di antara Aku, Kamu!

    Tempat yang dipenuhi oleh lentera yang indah, dan lampu kemerlap berwarna-warni. Membuat pemandangan danau seperti di surga, sangatlah indah. Azam membawanya ke tempat yang jauh lebih indah dari pada tadi di pasar malam. Sempat Kella menolak untuk dibawa oleh kakak kelasnya, tetapi karena lelaki itu kekeh padanya, ia terpaksa menurut. Tapi tak menyangka, lelaki itu membawanya ke tempat paling indah. Dan juga, belum pernah ia mendatangi tempat bertema dan berlatar seperti di depan matanya. “Indah, kan?” tanya Azam. Kella hanya terdiam, sebenarnya masih ada amarah di dalam dirinya. Karena itu, lebih baik diam dari pada menyakiti lelaki itu. “Kenapa diam?” tanya Azam kembali. Lalu gadis itu menoleh. “Biar kamu puas dulu bicaranya,” ucap Kella. Azam terkekeh. “Bicara saja, di Indonesia nggak ada orang yang melarang berbicara kok!” balasnya. &n

  • Rahasia Si Gadis Cupu   Pasar Malam yang Menyeramkan

    Malam. Sepulang dari tempat pembuatan kunci. Kella langsung tidur hingga sore hari, dan dia masih terbaring di tempat tidur. Ting! Kella segera mengecek ponselnya yang berbunyi. Dalam notifikasinya tertulis nama kontak temannya, lalu dibukalah pesan tersebut. Indira | Kella, pergi ke pasar malam yuk! | Besok libur, jadi bebas deh, heheh. Kella | Sekarang? Indira | Iyah! | Jam 7 aku tunggu di depan kos kamu, okhey? Kella |Ya Kella mengakhiri pesan tersebut, lalu segera pergi mandi untuk kedua kalinya. Pukul 19.00 malam. Kella telah siap untuk pergi dengan temannya. Outfit yang digunakan, yaitu kaus putih, rok floral, sneakers putih dan jaket denim. Serta aksesoris yang sering digunakan, seperti

  • Rahasia Si Gadis Cupu   Kehebohan Sesaat

    Pagi hari. Bulu mata yang lentik, hidung mancung, paras cantik dan cara tidurnya terlihat damai ketika tidur. Kella tidur tanpa mendengkur, bahkan terlihat imut kala itu. Kring kring kring! Suara dari jam beker, membuat kelopak matanya mengerjap. Lalu tangannya meraba ke nakas samping tempat tidur, untuk mengambil jam tersebut. Matanya melihat angka pada jam. Lalu menekan tombol atas jam beker, agar dapat berhenti. Kemudian, Kella terbangun. Lalu berposisi duduk di spring bed miliknya. Keadaannya masih mengantuk, dan jam tersebut masih pukul 05.00 pagi. Dia sengaja mengatur pada jam tersebut, karena tidak ingin terlambat saja. Setelah keadaan sudah lebih jernih, ia segera mengambil handuk, lalu pergi untuk mandi. Setelah mandi dan berganti baju. Kella siap untuk berangkat sekolah pada pukul 06.20.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status