Share

Bab 2

Penulis: Kaleng
Shira pulang untuk meminta tanda tangan Charles, tetapi dia malah menemukan mobil ambulans terparkir di luar. Pelayan tampak cemas dan berkata, "Nyonya Shira, gawat! Penyakit ginjal Nyonya Cindy memburuk lagi."

Wajah Cindy tampak pucat. Dia terbaring di tandu dan tidak sadarkan diri.

Detik berikutnya, Charles meneleponnya. Shira terdiam sejenak, lalu mengangkat panggilan itu.

Terdengar suara pria itu dari kejauhan yang tengah mengarahkan semua orang. "Semuanya, untuk berjaga-jaga, siapkan perlengkapan yang diperlukan untuk operasi transplantasi ginjal!"

Setelah itu, Charles baru mengangkat ponselnya. "Shira, ada pasien yang punya golongan darah langka sepertimu. Nyawanya dalam bahaya. Kamu harus segera datang ke rumah sakit!"

Pasien yang dimaksud pria itu adalah Cindy.

Hati Shira seolah dipelintir dan diremukkan. Tepat di saat dia mau menolak, sebuah teriakan keras terdengar dari ujung telepon.

"Dokter Charles, donor ginjal baru sudah ditemukan! Seorang anak kecil dan dia juga punya golongan darah langka!"

Tiba-tiba terjadi keheningan di ujung telepon.

Charles mengaktifkan mode pesawat di ponselnya dan melangkah keluar. "Anak laki-laki atau perempuan? Berapa umurnya?"

"Anak perempuan, usianya sembilan tahun. Namanya Tiara Noradi!"

Sinyalnya tiba-tiba terputus.

Jderr!

Sebuah petir seakan menggelegar di benak Shira.

Tiara adalah adik perempuannya dan juga satu-satunya keluarganya di dunia ini!

Dia hampir berteriak di telepon, "Charles, hentikan! Adikku nggak boleh donor ginjal. Dia punya gangguan pembekuan darah! Charles! Hentikan!"

Akan tetapi, yang terdengar di ujung telepon hanyalah nada sibuk tanpa henti.

Nada dering melengking itu berbunyi. Itu adalah panggilan rumah sakit.

"Nona Shira, adik kamu dibawa pergi secara paksa! Gangguan pembekuan darahnya sudah hampir sembuh. Apa yang terjadi sebenarnya?"

Suara dokter yang mendesak itu seakan merobek gendang telinga Shira. Menyisakan serangkaian suara yang memekakkan telinga.

Dengan tangan gemetar, Shira menghubungi nomor Charles, tetapi ditolak berkali-kali.

Pesan dari Charles tiba pada detik berikutnya.

[Tenanglah. Aku lagi operasi.]

Shira diblokir.

Kata-kata singkat itu membuat Shira hampir gila.

Dia bergegas ke rumah sakit swasta milik Keluarga Liandra seperti orang gila, tetapi sudah terlambat.

Saat dia tiba, operasi transplantasi ginjal sudah selesai.

Tiara berbaring diam di meja operasi. Darah yang menetes dari tubuhnya membentuk genangan di bawahnya.

Shira pergi mencari dokter dengan langkah terhuyung-huyung. Dia baru mengetahui bahwa semua dokter telah dipindahkan bersama Cindy. Bahkan, ambulans terdekat pun baru bisa tiba dalam 20 menit berikutnya.

"Kak Shira…" Wajah gadis berusia sembilan tahun itu sepucat kertas.

"Tiara! Aku di sini. Kakak ada di sini." Menatap luka yang berdarah itu, Shira hampir putus asa.

Tiara tersenyum dengan susah payah. "Kak Shira, habis... disuntik hari ini, kita… pulang ke rumah, 'kan?"

Shira memeluk bahu ramping adiknya dan berusaha menahan isak tangisnya. "Iya, sabar ya. Kita akan pulang sebentar lagi."

Senyum Tiara tampak lebih bahagia, tetapi kelopak matanya terasa berat.

Hati Shira begitu pedih sampai-sampir hampir muntah. "Bertahanlah! Tiara! Jangan tidur, aku mohon!"

Suhu tubuh dalam pelukannya makin lama makin dingin. Hati Shira juga ikut hancur berkeping-keping.

Saat ambulans tiba, tubuh Tiara sudah dingin.

"Nona Tiara, turut berduka cita." Dokter itu menghela napas.

Tatapan Shira tampak kosong. Dia terduduk di genangan darah dan diliputi oleh rasa duka yang mencekik tenggorokannya.

Satu-satunya keluarganya yang tersisa di dunia ini sudah tiada.

Seperti mayat berjalan, dia mengendong tubuh adiknya dan berjalan keluar dengan kaku.

Di sudut jalan, dia berpapasan dengan Bugatti milik Charles yang familier.

Perdebatan sengit terdengar dari dalam mobil.

"Tuan Charles, kamu jelas tahu operasi nggak bisa dilakukan sebelum melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap Tiara! Dia itu adiknya Nyonya Shira!"

"Aku tahu!" Suara Charles terdengar mendesak. "Tapi kondisi Cindy sudah parah. Kalau nggak segera dioperasi, bakal terlambat. Kami susah payah baru menemukan golongan darah yang cocok dengan Cindy. Karena Shira baik-baik saja, Tiara juga pasti akan baik-baik saja!"

Revan menghela napas dan bertanya, "Apa salah satu alasan kamu mendekati Nona Shira dulu karena golongan darahnya?"

Suasana di mobil itu seketika hening.

Shira mengerutkan bibirnya erat-erat dan menunggu jawaban pria itu.

"Mungkin juga." Suara Charles begitu datar, tetapi mampu membuat hati Shira hancur berkeping-keping.

Dia tersenyum pahit, seakan-akan ada sepotong jiwanya yang telah tercabut.

Ternyata, apa yang dulu dia sangka sebagai penebusan tidak lebih dari sekadar transaksi dengan label harga.

Setelah mengucapkan kata-kata itu, hati Charles merasakan kesedihan yang sulit dijelaskan.

Pria itu berdehem pelan, lalu berkata dengan suara rendah, "Bukankah Shira selalu bilang acara pernikahan sebelumnya nggak berjalan dengan baik dan meninggalkan penyesalan dalam hatinya? Aku akan adakan acara pernikahan yang megah untuknya dalam tiga hari lagi. Terus, aku juga akan memperlakukannya dengan baik."

"Terus, masalah transplantasi ginjal Tiara…"

"Jangan kasih tahu dia dulu. Biarlah dia fokus mempersiapkan acara pernikahan. Tonik dan suplemen baru yang datang dari luar negeri paling efektif untuk menguatkan tubuh. Kirimkan saja padanya. Aku akan mengembangkan beberapa resep lagi."

"Baik, Pak."

Bugatti itu meluncur pergi. Asap knalpotnya membuat Shira muntah-muntah dengan mata memerah.

Panggilan telepon dari Revan masuk. Shira menekan tombol jawab.

"Nyonya Shira, Tuan Charles bilang dia butuh tanda tanganmu untuk menerima sejumlah suplemen. Apa kamu bisa pulang sebentar?"

"Oh ya, Tuan juga bilang dia akan menemanimu mencoba gaun pengantin dan cincin berlian besok. Dia juga sudah buat janji dengan desainer favoritmu."

Shira membuka mulutnya, tetapi air mata mengalir deras di wajahnya secara tidak terkendali.

'Tidak perlu lagi.'

'Charles, Tiara sudah mati.'

'Shira yang mecintaimu juga sudah mati.'

'Kamulah yang membunuh mereka dengan tanganmu sendiri.'
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rahasia di Balik Pernikahan Dokter   Bab 14

    Setelah dikurung lama, akhirnya Charles dibebaskan.Dia mengerutkan kening saat menatap pria jangkung dan gagah di depannya.Ternyata dialah yang membawa Shira pergi.Dia berkata kepada Sean dengan suara serak, "Kenapa kamu lepaskan aku? Apa kamu nggak takut Shira tahu kamu itu orang yang begitu kejam dan keji?"Sean tertawa terbahak-bahak, seolah mendengar lelucon paling konyol. Dia menatap Charles. Tatapan matanya sedingin es."Kamu kira aku sembunyikan semua ini dari Shira? Bagaimana kalau Shira tahu semua yang kulakukan ini?"Wajah Charles memucat. Pria itu langsung menyangkal. "Nggak mungkin, mana mungkin Shira membiarkanmu memperlakukanku seperti ini?"Wajah Sean langsung muram. Dia mendengus dingin. "Nggak mungkin? Kenapa nggak mungkin? Apa kamu lupa bagaimana kamu memperlakukannya dulu? Fakta kalau dia nggak memintaku untuk mengakhiri nyawamu saja sudah termasuk sangat baik!"Sean tidak berniat mengatakan apa pun lagi dan berbalik untuk pergi.Charles berteriak, "Berhenti! Berh

  • Rahasia di Balik Pernikahan Dokter   Bab 13

    Kota Gatham.Setelah melihat pesan dari informan di ponselnya, bibir Sean melengkung membentuk senyum dingin.Dia berkata dengan lembut, "Dia telah masuk perangkap."Shira tengah bermain-main dengan Lumi. Saat mendengar perkataan itu, dia pun berdiri dan berjalan ke arah Sean."Dia mau datang?"Orang yang dimaksudnya jelas adalah Charles.Sean mengangguk. "Benar. Kita sudah memasang jebakan di Gatham. Kita akan menangkap Charles begitu dia masuk ke Gatham."Dia memegang tangan Shira yang dingin dan gemetar, lalu menghiburnya."Shira, jangan khawatir. Aku akan balas seribu kali lipat rasa sakit yang dia berikan padamu."Shira menggigit bibirnya erat-erat. Suaranya sangat lembut. "Aku hanya ingin cari keadilan untuk Tiara dan anak dalam kandunganku. Mereka nggak bersalah."Sembari berbicara, air matanya mengalir di wajahnya seperti manik-manik yang pecah.Ternyata, Shira masih belum bisa melepaskan masalah Tiara dan ketiga anaknya.Jika kematian orang tuanya adalah duka seumur hidup, mak

  • Rahasia di Balik Pernikahan Dokter   Bab 12

    Di sisi lain, Cindy berpesta sepanjang malam dengan sekelompok sosialita di sebuah kelab malam.Ada beberapa pria penghibur yang berdiri di hadapan mereka. Semuanya berpakaian minim dan hampir menempelkan tubuh mereka ke tubuh Cindy.Sebaliknya, Cindy, yang dikenal sebagai wanita polos dan berbudi luhur di komunitas Howini, tidak menunjukkan rasa terkejut dan sepertinya sudah terbiasa dengan pemandangan ini.Jari-jarinya dengan lembut menelusuri perut seorang pria penghibur, sambil mengeluarkan suara tawa kecil.Melihat hal itu, seorang wanita menggodanya. "Cindy, kamu nggak takut adik iparmu datang menangkapmu karena bermain seperti ini?"Cindy melengkungkan bibirnya membentuk senyum sinis. "Mana mungkin si bego itu bisa berpikir begitu banyak? Waktu dia nggak sengaja mendengar pembicaraan kita sebelumnya itu, aku juga bisa dengan mudah menyakinkannya."Saat Charles mendengarkan percakapan mereka dari luar pintu, wajahnya makin muram, seolah-olah ditampar oleh realita.Detik berikutny

  • Rahasia di Balik Pernikahan Dokter   Bab 11

    Kota Howini.Begitu melihat tulisan 'Gatham' di helikopter, Charles mengabaikan nasihat semua orang dan bersikeras menuju ke utara.Bahkan Kakek Adi yang usianya hampir 80 tahun pun terkejut. Pria tua berjanggut putih itu bersandar pada tongkatnya dan tampak sangat geram."Charles! Coba saja kalau kamu berani pergi ke Gatham.""Kakek, aku harus menemukan Shira. Dia istriku. Mana mungkin aku menelantarkannya begitu saja?"Kakek Adi membanting tongkatnya ke tanah. "Tahukah kamu seperti apa Gatham itu? Begitu kamu meninggalkan Howini, meski aku punya kemampuan luar biasa, aku juga nggak bisa melindungimu!""Aku nggak butuh dilindungi lagi. Aku harus pergi cari Shira. Aku nggak peduli Kakek setuju atau nggak."Kakek Adi menarik napas berat beberapa kali, lalu melambaikan tangannya, dan memberi isyarat kepada kepala pelayan untuk membawakan beberapa dokumen."Charles, sebaiknya kamu lihat semua ini dulu. Siapa tahu barang ini bisa membantumu."Charles mengambil dokumen itu. Saat melihat tul

  • Rahasia di Balik Pernikahan Dokter   Bab 10

    Kota Gatham.Sean Fanjaya sedang mengoleskan obat ke luka di tangan Shira.Kesepuluh jari Shira yang putih dan ramping telah lecet karena kerikil kasar. Hasil dari ukiran batu di dinding setelah menyaksikan pemandangan di dalam vila.Bahkan, rasa sakit di jari-jari yang lecet tidak bisa dibandingkan dengan rasa sakit yang menyayat hati Shira.Dia masih pingsan. Alisnya berkerut, seolah-olah sedang bermimpi buruk.Tiba-tiba dia terbangun kaget, sambil menggenggam tangan Sean erat-erat. "Jangan!"Sean mengerutkan kening dengan kasihan. Dia segera berkata, "Jangan takut, jangan takut. Shira, sudah nggak apa-apa lagi."Shira baru tersadar kembali. Dia mendongak dan mendapati lingkungan yang agak asing baginya. "Di mana... ini?""Kota Gatham, rumahku. Tempat yang benar-benar aman."Sean menutupi tubuhnya dengan selimut sambil berkata, "Aku jamin nggak ada seorang pun yang bisa menyakitimu di sini, Shira."Mendengar kata-kata itu, wajah Shira akhirnya kembali tenang. Dia mengerutkan bibirnya

  • Rahasia di Balik Pernikahan Dokter   Bab 9

    Charles menyeret Cindy kembali ke vila Keluarga Liandra. Dia sama sekali mengabaikan tangisan dan permohonan wanita itu."Charles, lepaskan aku. Kamu sudah bikin aku kesakitan!"Riasan di wajah Cindy agak luntur. Charles juga meninggalkan bekas merah besar di lengannya.Melihat itu, Charles menarik napas dalam-dalam beberapa kali, lalu menenangkan emosinya."Kakak Ipar, apa maksud perkataanmu itu?"Menghadapi pertanyaan dingin dari pria itu, mata Cindy langsung memerah. Dia kembali memasang tampang yang rapuh dan rentan."Maksud apa lagi? Aku cuma nggak mau kehilangan harga diri di depan teman-temanku!"Ekspresi wajah Charles masih tidak senang. "Meski begitu, kamu juga nggak boleh bilang Shira seperti itu! Dia itu istriku."Mendengar ini, air mata Cindy mengalir di pipinya seperti manik-manik yang pecah. "Ya, kalian semua berpasangan, tapi aku nggak! Kakakmu ninggal di usia muda. Dia memercayakan diriku kepada kalian sebelum dia meninggal. Seandainya aku tahu kalian semua nggak menyuk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status