Masuk
Setelah dikurung lama, akhirnya Charles dibebaskan.Dia mengerutkan kening saat menatap pria jangkung dan gagah di depannya.Ternyata dialah yang membawa Shira pergi.Dia berkata kepada Sean dengan suara serak, "Kenapa kamu lepaskan aku? Apa kamu nggak takut Shira tahu kamu itu orang yang begitu kejam dan keji?"Sean tertawa terbahak-bahak, seolah mendengar lelucon paling konyol. Dia menatap Charles. Tatapan matanya sedingin es."Kamu kira aku sembunyikan semua ini dari Shira? Bagaimana kalau Shira tahu semua yang kulakukan ini?"Wajah Charles memucat. Pria itu langsung menyangkal. "Nggak mungkin, mana mungkin Shira membiarkanmu memperlakukanku seperti ini?"Wajah Sean langsung muram. Dia mendengus dingin. "Nggak mungkin? Kenapa nggak mungkin? Apa kamu lupa bagaimana kamu memperlakukannya dulu? Fakta kalau dia nggak memintaku untuk mengakhiri nyawamu saja sudah termasuk sangat baik!"Sean tidak berniat mengatakan apa pun lagi dan berbalik untuk pergi.Charles berteriak, "Berhenti! Berh
Kota Gatham.Setelah melihat pesan dari informan di ponselnya, bibir Sean melengkung membentuk senyum dingin.Dia berkata dengan lembut, "Dia telah masuk perangkap."Shira tengah bermain-main dengan Lumi. Saat mendengar perkataan itu, dia pun berdiri dan berjalan ke arah Sean."Dia mau datang?"Orang yang dimaksudnya jelas adalah Charles.Sean mengangguk. "Benar. Kita sudah memasang jebakan di Gatham. Kita akan menangkap Charles begitu dia masuk ke Gatham."Dia memegang tangan Shira yang dingin dan gemetar, lalu menghiburnya."Shira, jangan khawatir. Aku akan balas seribu kali lipat rasa sakit yang dia berikan padamu."Shira menggigit bibirnya erat-erat. Suaranya sangat lembut. "Aku hanya ingin cari keadilan untuk Tiara dan anak dalam kandunganku. Mereka nggak bersalah."Sembari berbicara, air matanya mengalir di wajahnya seperti manik-manik yang pecah.Ternyata, Shira masih belum bisa melepaskan masalah Tiara dan ketiga anaknya.Jika kematian orang tuanya adalah duka seumur hidup, mak
Di sisi lain, Cindy berpesta sepanjang malam dengan sekelompok sosialita di sebuah kelab malam.Ada beberapa pria penghibur yang berdiri di hadapan mereka. Semuanya berpakaian minim dan hampir menempelkan tubuh mereka ke tubuh Cindy.Sebaliknya, Cindy, yang dikenal sebagai wanita polos dan berbudi luhur di komunitas Howini, tidak menunjukkan rasa terkejut dan sepertinya sudah terbiasa dengan pemandangan ini.Jari-jarinya dengan lembut menelusuri perut seorang pria penghibur, sambil mengeluarkan suara tawa kecil.Melihat hal itu, seorang wanita menggodanya. "Cindy, kamu nggak takut adik iparmu datang menangkapmu karena bermain seperti ini?"Cindy melengkungkan bibirnya membentuk senyum sinis. "Mana mungkin si bego itu bisa berpikir begitu banyak? Waktu dia nggak sengaja mendengar pembicaraan kita sebelumnya itu, aku juga bisa dengan mudah menyakinkannya."Saat Charles mendengarkan percakapan mereka dari luar pintu, wajahnya makin muram, seolah-olah ditampar oleh realita.Detik berikutny
Kota Howini.Begitu melihat tulisan 'Gatham' di helikopter, Charles mengabaikan nasihat semua orang dan bersikeras menuju ke utara.Bahkan Kakek Adi yang usianya hampir 80 tahun pun terkejut. Pria tua berjanggut putih itu bersandar pada tongkatnya dan tampak sangat geram."Charles! Coba saja kalau kamu berani pergi ke Gatham.""Kakek, aku harus menemukan Shira. Dia istriku. Mana mungkin aku menelantarkannya begitu saja?"Kakek Adi membanting tongkatnya ke tanah. "Tahukah kamu seperti apa Gatham itu? Begitu kamu meninggalkan Howini, meski aku punya kemampuan luar biasa, aku juga nggak bisa melindungimu!""Aku nggak butuh dilindungi lagi. Aku harus pergi cari Shira. Aku nggak peduli Kakek setuju atau nggak."Kakek Adi menarik napas berat beberapa kali, lalu melambaikan tangannya, dan memberi isyarat kepada kepala pelayan untuk membawakan beberapa dokumen."Charles, sebaiknya kamu lihat semua ini dulu. Siapa tahu barang ini bisa membantumu."Charles mengambil dokumen itu. Saat melihat tul
Kota Gatham.Sean Fanjaya sedang mengoleskan obat ke luka di tangan Shira.Kesepuluh jari Shira yang putih dan ramping telah lecet karena kerikil kasar. Hasil dari ukiran batu di dinding setelah menyaksikan pemandangan di dalam vila.Bahkan, rasa sakit di jari-jari yang lecet tidak bisa dibandingkan dengan rasa sakit yang menyayat hati Shira.Dia masih pingsan. Alisnya berkerut, seolah-olah sedang bermimpi buruk.Tiba-tiba dia terbangun kaget, sambil menggenggam tangan Sean erat-erat. "Jangan!"Sean mengerutkan kening dengan kasihan. Dia segera berkata, "Jangan takut, jangan takut. Shira, sudah nggak apa-apa lagi."Shira baru tersadar kembali. Dia mendongak dan mendapati lingkungan yang agak asing baginya. "Di mana... ini?""Kota Gatham, rumahku. Tempat yang benar-benar aman."Sean menutupi tubuhnya dengan selimut sambil berkata, "Aku jamin nggak ada seorang pun yang bisa menyakitimu di sini, Shira."Mendengar kata-kata itu, wajah Shira akhirnya kembali tenang. Dia mengerutkan bibirnya
Charles menyeret Cindy kembali ke vila Keluarga Liandra. Dia sama sekali mengabaikan tangisan dan permohonan wanita itu."Charles, lepaskan aku. Kamu sudah bikin aku kesakitan!"Riasan di wajah Cindy agak luntur. Charles juga meninggalkan bekas merah besar di lengannya.Melihat itu, Charles menarik napas dalam-dalam beberapa kali, lalu menenangkan emosinya."Kakak Ipar, apa maksud perkataanmu itu?"Menghadapi pertanyaan dingin dari pria itu, mata Cindy langsung memerah. Dia kembali memasang tampang yang rapuh dan rentan."Maksud apa lagi? Aku cuma nggak mau kehilangan harga diri di depan teman-temanku!"Ekspresi wajah Charles masih tidak senang. "Meski begitu, kamu juga nggak boleh bilang Shira seperti itu! Dia itu istriku."Mendengar ini, air mata Cindy mengalir di pipinya seperti manik-manik yang pecah. "Ya, kalian semua berpasangan, tapi aku nggak! Kakakmu ninggal di usia muda. Dia memercayakan diriku kepada kalian sebelum dia meninggal. Seandainya aku tahu kalian semua nggak menyuk







