Se connecter“Saya hanya perlu waktu, Pak Arga!” jawab Alya setengah berteriak tepat di depan permukaan bibir tebal Arga yang mengunci ruang geraknya.
Napas Alya memburu cepat, menerpa langsung rahang kokoh sang CEO yang berada terlampau dekat dengan wajahnya. “Kemarin malam saya sebenarnya berniat membalas pesan Anda dan menjelaskan semuanya. Tapi saya ketiduran saking capeknya setelah lembur dan membersihkan
“Saya hanya perlu waktu, Pak Arga!” jawab Alya setengah berteriak tepat di depan permukaan bibir tebal Arga yang mengunci ruang geraknya.Napas Alya memburu cepat, menerpa langsung rahang kokoh sang CEO yang berada terlampau dekat dengan wajahnya. “Kemarin malam saya sebenarnya berniat membalas pesan Anda dan menjelaskan semuanya. Tapi saya ketiduran saking capeknya setelah lembur dan membersihkan laboratorium R&D semalaman!”Alya memajukan sedikit wajahnya, menunjuk penampilannya sendiri dengan gerakan kesal. “Lihat penampilan saya sekarang! Rambut saya berantakan, baju saya kusut, bahkan kantung mata saya tebal sekali karena semalam hanya bisa tidur sebentar dan sangat lelah sekali! Saya bukan robot yang bisa Anda todong pekerjaan harian dan urusan pribadi sekaligus!”Arga t
Alya melangkah kaku melewati pintu jati besar ruang kerja CEO, memeluk erat map draf laporan laboratorium Nusantara Premium di depan dadanya. Begitu kakinya menapak di atas lantai karpet tebal, terdengar bunyi klik pelan dari luar. Sekretaris Doni benar-benar mengunci pintu itu sesuai perintah. Suasana ruangan luas ber-AC dingin ini mendadak terasa teramat sunyi sepi, menyergap seluruh pasokan udara di dalam paru-paru Alya hingga kepalanya mendadak pening karena gugup.‘Sial, dia benar-benar mengunci pintunya dari luar. Ruangan ini kedap suara, apa pun yang terjadi di sini tidak akan ada orang luar yang tahu,’ jerit Alya di dalam batinnya yang seketika didera rasa cemas yang teramat menghimpit ulu hati.Alya mengedarkan pandangan matanya ke segala penjuru ruangan, namun dia tidak melihat siluet tubuh tegap Arga di balik meja kerja marmer hitam. Tepa
Alya terbangun dengan rambut yang berantakan di atas bantal putih hote. Begitu kesadarannya terkumpul, hal pertama yang dia rasakan adalah getaran berulang kali dari gawai di samping kepalanya karena alarm. Dengan mata yang masih sepet, Alya menyalakan layar ponselnya yang semalam sempat mati total.Ada tiga buah pesan beruntun dari Arga Mahendra yang dikirim sejak pukul tiga subuh tadi.Pesan pertama:‘Alya, aku masih menunggu jawabanmu.’Pesan kedua:‘Kalau kamu memang membutuhkan waktu sendiri, katakan saja. Aku tidak akan memaksamu untuk pulang ke apartemen.’Pesan ketiga:‘Tapi j
Alya langsung tertidur lelap saking capeknya begitu punggungnya menyentuh kasur empuk hotel. Matanya terpejam rapat, tidak menyadari bahwa beberapa menit kemudian, lampu indikator ponselnya yang sedang diisi daya berubah menjadi hijau redup, menandakan gawai itu sudah menyala kembali secara otomatis. Deretan pesan baru yang menggantung di ruang obrolannya bersama Arga terbiarkan begitu saja tanpa ada jawaban lanjutan.‘Aku cuma mau tenang semalam saja, jangan ada gangguan dulu,’ cicit Alya di dalam alam bawah sadarnya yang teramat lelah menghadapi kegilaan bosnya sepanjang hari.Sementara itu, di tempat lain yang berjarak beberapa kilometer, suasana di dalam apartemen mewah milik Arga terasa sangat sunyi dan menekan. Arga Mahendra masih duduk tegak di tepi sofa ruang tengah dengan kemeja hitam yang belum diganti.
“Aduh, Al, keputusanmu tadi beneran bikin senam jantung tau,” keluh Maya sambil menghempaskan tumpukan draf tabel riset ke atas meja laboratorium R&D dengan bunyi ketukan yang tegas.Alya menoleh kaku, mendapati tatapan tidak enak dan wajah cemberut dari ketiga rekan satu tim tugasnya yang baru saja duduk di kubikel. Suasana laboratorium yang sejuk setelah jam lima sore ini mendadak terasa sedikit menekan. Alya meremas ujung jas laboratoriumnya, merasa sangat bersalah karena keputusan akal-akalan daruratnya di ruang rapat direksi tadi siang telah menyeret teman-temannya untuk ikut terjebak dalam kerja lembur malam ini.“Maafkan aku ya, teman-teman. Aku terpaksa mengambil keputusan ini,” kata Alya dengan nada suara yang penuh rasa tidak enak. Dia mencoba memasang senyuman terbaik demi menyemangati mereka. “Tapi tenang saja, Pak Arga sudah berjanji bahwa akan ada tunjangan lembur khusus yang sangat besar untuk tim tugas kita tanpa ada potongan satu rupiah pun dari kantor pusat.”Menden
Alya segera melangkah keluar dari ruangan kerja CEO dan menutup pintu jati besar itu dengan sangat keras. Di koridor luar yang sepi, dia bersandar pada dinding marmer seraya menghela napas panjang berulang kali untuk menenangkan debaran jantungnya yang berantakan. Rasa panik dan salah tingkah akibat konfrontasi tegasnya dengan Arga barusan masih menyisakan hawa panas di pipinya.‘Hampir saja aku kelewatan lagi menghadapi pria itu,’ batin Alya seraya merapikan kemeja kerjanya yang agak kusut.Namun, saat Alya sedang sibuk menepuk dadanya sendiri, dia tersentak kaku ketika menyadari sekretaris pribadi Arga sedang memperhatikannya dengan dahi berkerut bingung dari balik meja komputer lobi atas. Alya langsung salah tingkah, buru-buru membetulkan letak rambutnya yang berantakan dan menyapa pria itu dengan c







