Share

Bab 3

Author: Ungu
Tiba-tiba, suara om terdengar dari luar. Ternyata dia pulang lebih awal, karena pekerjaannya selesai lebih cepat.

Hal ini tentu membuat tante panik setengah mati. Dia bergegas bangun, menyeka tubuh seadanya, menyembunyikan daster sutranya yang sobek, lalu memakai gaun lain dari jemuran balkon untuk dipakai.

Begitu dia selesai merapikan diri, om mendorong pintu masuk. Tante langsung berpura-pura marah dan mengeluh bahwa aku sulit dimandikan, lalu meminta om untuk membantunya.

Dalam hati, aku merasa agak kecewa,

Namun, bisa mengambil kesempatan padanya dan merasakan sendiri kelembutan tubuh itu dengan lidahku sudah merupakan keuntungan besar bagiku.

Malam minggu itu adalah hari peringatan pernikahan mereka. Om sengaja membeli alkohol bagus untuk merayakannya. Mereka berdua minum sampai setengah mabuk dan mulai bermesraan langsung di ruang tamu. Pemandangan itu begitu merangsang sampai rasanya aku hampir gila.

Ternyata seperti itu rupa tante saat tenggelam dalam gairah. Dia mendongakkan kepalanya tinggi-tinggi, menggoyangkan pinggulnya setiap kali menerima hentakan. Suara desahannya yang terputus-putus meruntuhkan logikaku, membuat bagian bawahku mengeras hingga terasa sakit.

Tante menyadari tatapanku. Sesekali dia mencuri pandang ke arahku, menatap tonjolan di celanaku dengan tatapan yang sangat ambigu. Sambil membelai tubuhnya sendiri, dia terus mengeluarkan desahan di hadapanku.

Akhirnya, mereka berdua pindah dari ruang tamu ke kamar tidur. Setelah selesai, om langsung tertidur pulas seperti orang mati, sementara tante masih berbaring sambil merintih pelan, tampak belum sepenuhnya puas.

Tante sempat melirikku sekilas, lalu menggigit bibirnya, berbaring dengan pakaian lengkap dan memejamkan mata.

Aku menelan ludah dengan penuh semangat. Lalu, diam-diam merangkak naik ke atas ranjang dan mengulurkan tangan untuk menyentuh tubuhnya yang masih merona karena gairah.

Aku tahu kalau sudah mabuk dan tertidur, om tidak akan bangun meski ada gempa sekalipun. Apalagi setelah kelelahan bercinta tadi, tidurnya pasti akan lebih lelap.

Memikirkan hal itu, rasa khawatirku hilang. Aku segera menanggalkan seluruh pakaianku dan menempelkan tubuhku ke tubuh tante.

Akhirnya, bisa bersentuhan langsung dengan orang yang kudambakan selama ini, membuat seluruh tubuhku gemetar hebat. Tanganku bahkan sampai bingung harus diletakkan di mana.

Tante tampaknya masih setengah tertidur, dia hanya gemetar sedikit saat kusentuh. Dia berbaring dengan patuh di bawah tubuhku. Setiap gerakanku memicu getaran hebat pada dirinya.

Seolah merasakan gerakanku, dia tanpa sadar memeluk tubuhku dan menarik kepalaku ke arah tubuhnya.

Aku menjulurkan lidah, mulai menikmati kulit putih mulusnya itu.

Jejak mesra yang kubuat menjalar mulai dari dada, putingnya, hingga ke perut bawahnya. Aku membayangkan bagaimana perutnya tadi sedikit menonjol karena hentakan om. Jika itu aku, mungkin aku bisa masuk lebih lama lagi.

“Aku… aku masih mau minum lagi….”

Tiba-tiba, om membalikkan badannya. Hal itu membuatku kaget bukan main. Jika mereka berdua sampai bangun dan sadar, penyamaranku akan terbongkar.

Aku pun segera bersembunyi di balik selimut, menelungkup di atas tubuh tante, sambil berdoa agar om tidak bangun.

Untungnya, om hanya mengigau dan lanjut tidur lagi.

Namun, tante sudah sadar sepenuhnya. Dia bisa merasakan dengan sangat jelas bahwa orang yang menindihnya adalah diriku.

Melihatnya mulai meronta, aku segera berakting bodoh lagi dan berbisik pelan, “Tante bohong, katanya mau kasih aku permen hari ini….”

“Yogi, kamu apain? Aku ini tantemu, mana boleh kamu menindih di atas tubuhku, apalagi….”

Tante tak sanggup melanjutkan kata-katanya karena malu. Dia juga takut om akan mendengar, jadi dia bicara dengan suara yang sangat rendah.

Aku mengulurkan tangan, mengelus paha tante, lalu perlahan meluncur menuju bagian yang paling intim.

“Tante bilang mau kasih permen hari ini, tapi malah lupa. Jadi, aku ambil sendiri saja.”

Aku menjilati pinggangnya yang sensitif. Dia tersentak kaget. Sebuah desahan hampir keluar dari mulutnya, tapi dia segera menutup mulutnya sendiri dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mencoba menahan tanganku yang sedang berbuat nakal.

“Tante akan kasih permen padamu besok… ah… hm… besok pagi… ah… pasti akan kukasih….”

“Tadi om bilang ada permen di sini.” Aku terus berpura-pura bodoh, tanganku menekan kulit sensitif di paha bagian dalamnya, “Aku nggak mau permen biasa. Aku mau coba rasa permen yang di sini.”

Aku membenamkan kepalaku dan lidahku mulai menjelajahi area pribadinya.

Sementara itu, dengan wajah memerah, tante hanya bisa melakukan perlawanan sia-sia dengan mendorong bahuku.

Dan suaminya masih tertidur dengan sangat lelap di sampingnya.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rahasiaku Dengan Istri Omku   Bab 10

    Aku langsung menguasai tubuhnya sepenuhnya. Kami menyatu begitu erat dan aku mulai menjelajahi setiap bagian tubuh yang selama ini hanya ada dalam fantasiku.Tante yang setengah sadar mengira aku adalah om. Awalnya, dia sempat ingin menolak, tapi dia tak kuasa menahan gejolak gairah yang mulai kubangkitkan di dalam dirinya.“Pelankan suaramu sedikit, jangan sampai Holina mendengarnya,” ujar tante dengan nada agak kesal. Tapi, karena menginginkannya juga, akhirnya dia membiarkan saja setiap tindakanku.Dalam kegelapan, ditambah kondisi tante yang sedang mabuk, aku pun semakin berani. Setelah memuaskannya, aku juga memintanya untuk memanjakanku dan diriku kembali menikmati kepuasan itu sekali lagi.“Sayang, cepatlah sedikit. Kamu lumayan berguna malam ini, jangan sampai mengecewakanku,” desak tante padaku, sambil mengatur posisinya.Tanganku sampai gemetar karena sangking semangatnya. Akhirnya, kali ini tidak akan ada gangguan dan aku tak perlu berhenti di pertengahan lagi.Setidaknya da

  • Rahasiaku Dengan Istri Omku   Bab 9

    Keduanya saling memuaskan satu sama lain dengan gerakan yang penuh gairah. Tak butuh waktu lama, Holina pun mulai terbakar gairah.“Aku sudah sangat menginginkannya. Waktumu cukup sampai dia pulang?” Holina menggoyangkan pinggangnya yang ramping dengan gelisah, wajahnya tampak memerah. “Suara pintu terbuka akan terdengar kalau dia balik. Aku akan usahakan secepat mungkin.”Om mendengus tidak sabar dan segera merangkak ke belakangnya seperti seekor anjing, lalu menyatu dengan panas.Aku merasa bagian terbaik menjadi orang bodoh adalah bisa menonton mereka melakukan adegan panas secara langsung kapan saja dan di mana saja.Ini jauh lebih merangsang daripada menonton film.Aku tak menyangka ternyata om cukup hebat juga sampai bisa menaklukkan Holina dalam waktu singkat, bahkan berani melakukannya di dapur.Sempat terlintas di pikiranku untuk membongkar aksi mereka, tapi aku segera mengurungkan niat itu. Pikirku, ini justru bagus. Jika suatu saat nanti Holina berani mengungkit soal aku ya

  • Rahasiaku Dengan Istri Omku   Bab 8

    “Aku mau main! Main kucing-kucingan! Kucingnya nyaman sekali. Tante, mana ekor kucingnya?” Aku bertepuk tangan kegirangan seperti orang bodoh, sangat kooperatif dan menerjang ke tubuhnya.Begitu menoleh, aku melihat bahwa ternyata ekor kucing itu terpasang di bagian belakangnya, belum dilepas sampai sekarang.“Kamu baring yang benar, tante akan kasih main ekor kucingnya. Tapi, kamu harus patuh, nggak boleh berisik.”Dengan wajah memerah, tante mengatur posisiku dan menanggalkan pakaiannya. Sambil berpura-pura asik memainkan ekor kucing itu, otakku terus berputar mencari cara.Ini adalah kesempatan langka, kalau sampai terlewatkan, entah kapan lagi kesempatan seperti ini akan datang.Setelah ronde singkat itu selesai, dalam hati aku mulai membandingkan antara Holina dan tante.Kedua wanita ini punya kelebihan masing-masing. Holina tampak muda, cantik dan sangat berani.Namun, tante pun tidak kalah. Meski agak pemalu dan tertutup, dia jauh lebih memikat. Terutama sepasang buah dadanya ya

  • Rahasiaku Dengan Istri Omku   Bab 7

    Karena aku sedang berpura-pura menjadi orang bodoh, begitu melihat Holina mendekat, aku langsung mendorongnya dan berteriak sambil menghindar.“Jangan kabur, dong. Kakak punya permen di sini, ini untukmu. Kakak mau memijatmu sebentar. Pijatan tadi terasa enak, ‘kan?”Holina mengeluarkan beberapa buah permen untukku. Melihat aku asik makan permen dengan gembira, dia pun mulai melancarkan aksinya.“Pijat… aku mau tante ikut juga. Kalau tante dan kakak bersama seperti tadi, aku akan senang sekali.”Mumpung dia bertanya, tentu saja aku harus menyeret tante juga. Kalau mereka berdua bisa bersama, akan sangat indah sekali.Tadi di dalam ruang siaran memang merangsang, tapi kami belum benar-benar melakukannya.Sekarang siarannya sudah mati, saatnya menikmati ini dengan sungguh-sungguh.Holina melirik ke arah tante, tapi tante langsung menolak dengan wajah memerah, “Jangan harap! Tadi itu demi siaran, kalau sekarang aku nggak punya muka untuk melakukannya.”Holina menghela napas tanda kecewa d

  • Rahasiaku Dengan Istri Omku   Bab 6

    “Posisi kalian kurang, ganti yang lain! Kami baru akan kasih empat juta kalau adegannya benar-benar menggemparkan.”“Si bodoh itu juga jangan diam saja, tangannya harus ikut interaksi dengan kalian. Mainkan jarinya!”Awalnya, tante merasa agak malu dan kaku, jadi semuanya dipandu oleh Holina.Karena tante agak canggung, si sultan merasa tidak puas. Untuk memacu semangat mereka, dia menyawer dua juta untuk masing-masing sebagai pemanasan.Melihat uang masuk, Holina segera menarik tante untuk mengubah taktik. Apapun yang ingin penonton lihat, akan mereka lakukan.Aku yang dilayani oleh mereka berdua merasa seperti di surga, seluruh tubuhku seolah melayang di atas awan. Setiap sel di tubuhku merasakan kenikmatan yang tak terlukiskan.Ternyata bermain bertiga jauh lebih seru dan merangsang.Setelah aku mencapai puncak sekali, si sultan semakin ketagihan menonton dan sawerannya terus mengalir tanpa henti.“Ganti pakai kostum kucing dan rubah, lalu ulang lagi! Aku tambah dua juta lagi. Punya

  • Rahasiaku Dengan Istri Omku   Bab 5

    Tubuh tante agak gemetar, dia menggoyangkan pantatnya yang montok itu.Jangankan si berondong, aku yang melihatnya saja merasa darahku mendidih, seolah mau meledak.Si berondong menyuruhku segera memakan permen lolipop itu.Aku pun sangat bersemangat dan langsung mendekat.“Iya benar, begitu caranya! Pintar sekali, luar biasa!” teriak si berondong dengan wajah memerah karena kegirangan.Kemudian, dia berdiri di depan tante dan melepaskan ikat pinggangnya.“Hei nakal, bagaimana rasanya? Seru sekali, ‘kan?”Tante tampak sangat bergairah, “Yogi pintar sekali… rasanya nyaman sekali….”Pipinya merona, dia sudah mulai kehilangan kendali. Melihat senjata yang dikeluarkan si berondong, matanya memancarkan gairah. Dia langsung mendekatkan wajah cantiknya dan mulai melayani dengan mulutnya.Sambil sesekali mendongak menatap si berondong dengan tatapan mata yang sayu dan menggoda.Aku bekerja keras menghabiskan permen itu dan segera membuat tante banjir hingga wajahku berantakan terkena cairannya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status