LOGINAku langsung menguasai tubuhnya sepenuhnya. Kami menyatu begitu erat dan aku mulai menjelajahi setiap bagian tubuh yang selama ini hanya ada dalam fantasiku.Tante yang setengah sadar mengira aku adalah om. Awalnya, dia sempat ingin menolak, tapi dia tak kuasa menahan gejolak gairah yang mulai kubangkitkan di dalam dirinya.“Pelankan suaramu sedikit, jangan sampai Holina mendengarnya,” ujar tante dengan nada agak kesal. Tapi, karena menginginkannya juga, akhirnya dia membiarkan saja setiap tindakanku.Dalam kegelapan, ditambah kondisi tante yang sedang mabuk, aku pun semakin berani. Setelah memuaskannya, aku juga memintanya untuk memanjakanku dan diriku kembali menikmati kepuasan itu sekali lagi.“Sayang, cepatlah sedikit. Kamu lumayan berguna malam ini, jangan sampai mengecewakanku,” desak tante padaku, sambil mengatur posisinya.Tanganku sampai gemetar karena sangking semangatnya. Akhirnya, kali ini tidak akan ada gangguan dan aku tak perlu berhenti di pertengahan lagi.Setidaknya da
Keduanya saling memuaskan satu sama lain dengan gerakan yang penuh gairah. Tak butuh waktu lama, Holina pun mulai terbakar gairah.“Aku sudah sangat menginginkannya. Waktumu cukup sampai dia pulang?” Holina menggoyangkan pinggangnya yang ramping dengan gelisah, wajahnya tampak memerah. “Suara pintu terbuka akan terdengar kalau dia balik. Aku akan usahakan secepat mungkin.”Om mendengus tidak sabar dan segera merangkak ke belakangnya seperti seekor anjing, lalu menyatu dengan panas.Aku merasa bagian terbaik menjadi orang bodoh adalah bisa menonton mereka melakukan adegan panas secara langsung kapan saja dan di mana saja.Ini jauh lebih merangsang daripada menonton film.Aku tak menyangka ternyata om cukup hebat juga sampai bisa menaklukkan Holina dalam waktu singkat, bahkan berani melakukannya di dapur.Sempat terlintas di pikiranku untuk membongkar aksi mereka, tapi aku segera mengurungkan niat itu. Pikirku, ini justru bagus. Jika suatu saat nanti Holina berani mengungkit soal aku ya
“Aku mau main! Main kucing-kucingan! Kucingnya nyaman sekali. Tante, mana ekor kucingnya?” Aku bertepuk tangan kegirangan seperti orang bodoh, sangat kooperatif dan menerjang ke tubuhnya.Begitu menoleh, aku melihat bahwa ternyata ekor kucing itu terpasang di bagian belakangnya, belum dilepas sampai sekarang.“Kamu baring yang benar, tante akan kasih main ekor kucingnya. Tapi, kamu harus patuh, nggak boleh berisik.”Dengan wajah memerah, tante mengatur posisiku dan menanggalkan pakaiannya. Sambil berpura-pura asik memainkan ekor kucing itu, otakku terus berputar mencari cara.Ini adalah kesempatan langka, kalau sampai terlewatkan, entah kapan lagi kesempatan seperti ini akan datang.Setelah ronde singkat itu selesai, dalam hati aku mulai membandingkan antara Holina dan tante.Kedua wanita ini punya kelebihan masing-masing. Holina tampak muda, cantik dan sangat berani.Namun, tante pun tidak kalah. Meski agak pemalu dan tertutup, dia jauh lebih memikat. Terutama sepasang buah dadanya ya
Karena aku sedang berpura-pura menjadi orang bodoh, begitu melihat Holina mendekat, aku langsung mendorongnya dan berteriak sambil menghindar.“Jangan kabur, dong. Kakak punya permen di sini, ini untukmu. Kakak mau memijatmu sebentar. Pijatan tadi terasa enak, ‘kan?”Holina mengeluarkan beberapa buah permen untukku. Melihat aku asik makan permen dengan gembira, dia pun mulai melancarkan aksinya.“Pijat… aku mau tante ikut juga. Kalau tante dan kakak bersama seperti tadi, aku akan senang sekali.”Mumpung dia bertanya, tentu saja aku harus menyeret tante juga. Kalau mereka berdua bisa bersama, akan sangat indah sekali.Tadi di dalam ruang siaran memang merangsang, tapi kami belum benar-benar melakukannya.Sekarang siarannya sudah mati, saatnya menikmati ini dengan sungguh-sungguh.Holina melirik ke arah tante, tapi tante langsung menolak dengan wajah memerah, “Jangan harap! Tadi itu demi siaran, kalau sekarang aku nggak punya muka untuk melakukannya.”Holina menghela napas tanda kecewa d
“Posisi kalian kurang, ganti yang lain! Kami baru akan kasih empat juta kalau adegannya benar-benar menggemparkan.”“Si bodoh itu juga jangan diam saja, tangannya harus ikut interaksi dengan kalian. Mainkan jarinya!”Awalnya, tante merasa agak malu dan kaku, jadi semuanya dipandu oleh Holina.Karena tante agak canggung, si sultan merasa tidak puas. Untuk memacu semangat mereka, dia menyawer dua juta untuk masing-masing sebagai pemanasan.Melihat uang masuk, Holina segera menarik tante untuk mengubah taktik. Apapun yang ingin penonton lihat, akan mereka lakukan.Aku yang dilayani oleh mereka berdua merasa seperti di surga, seluruh tubuhku seolah melayang di atas awan. Setiap sel di tubuhku merasakan kenikmatan yang tak terlukiskan.Ternyata bermain bertiga jauh lebih seru dan merangsang.Setelah aku mencapai puncak sekali, si sultan semakin ketagihan menonton dan sawerannya terus mengalir tanpa henti.“Ganti pakai kostum kucing dan rubah, lalu ulang lagi! Aku tambah dua juta lagi. Punya
Tubuh tante agak gemetar, dia menggoyangkan pantatnya yang montok itu.Jangankan si berondong, aku yang melihatnya saja merasa darahku mendidih, seolah mau meledak.Si berondong menyuruhku segera memakan permen lolipop itu.Aku pun sangat bersemangat dan langsung mendekat.“Iya benar, begitu caranya! Pintar sekali, luar biasa!” teriak si berondong dengan wajah memerah karena kegirangan.Kemudian, dia berdiri di depan tante dan melepaskan ikat pinggangnya.“Hei nakal, bagaimana rasanya? Seru sekali, ‘kan?”Tante tampak sangat bergairah, “Yogi pintar sekali… rasanya nyaman sekali….”Pipinya merona, dia sudah mulai kehilangan kendali. Melihat senjata yang dikeluarkan si berondong, matanya memancarkan gairah. Dia langsung mendekatkan wajah cantiknya dan mulai melayani dengan mulutnya.Sambil sesekali mendongak menatap si berondong dengan tatapan mata yang sayu dan menggoda.Aku bekerja keras menghabiskan permen itu dan segera membuat tante banjir hingga wajahku berantakan terkena cairannya







