LOGINSetelah kecelakaan itu, tante meremehkanku karena mengira aku sudah menjadi bodoh. Dia tak pernah lagi menutupi tubuhnya di depanku. Bahkan saat aku mulai mencari kesempatan padanya, dia terpaksa harus terus membujukku dengan sabar. Aku pun semakin menjadi-jadi, perlahan-lahan menguji batasan kesabarannya. Hingga pada suatu hari, saat om sedang tidur lelap, aku menyelinap ke ranjang tante untuk menikmati tubuh indah yang sudah lama kudambakan. Tante gemetar di pelukanku. Karena takut om akan terbangun, dia terpaksa menahan suaranya sambil tetap berusaha membujukku, ‘si bodoh’ ini. Dia perlahan kehilangan tenaga, tersiksa di antara rasa nikmat dan bersalah…. Satu hal yang tidak dia ketahui, sebenarnya aku sudah lama sembuh dan kembali normal.
View MoreAku langsung menguasai tubuhnya sepenuhnya. Kami menyatu begitu erat dan aku mulai menjelajahi setiap bagian tubuh yang selama ini hanya ada dalam fantasiku.Tante yang setengah sadar mengira aku adalah om. Awalnya, dia sempat ingin menolak, tapi dia tak kuasa menahan gejolak gairah yang mulai kubangkitkan di dalam dirinya.“Pelankan suaramu sedikit, jangan sampai Holina mendengarnya,” ujar tante dengan nada agak kesal. Tapi, karena menginginkannya juga, akhirnya dia membiarkan saja setiap tindakanku.Dalam kegelapan, ditambah kondisi tante yang sedang mabuk, aku pun semakin berani. Setelah memuaskannya, aku juga memintanya untuk memanjakanku dan diriku kembali menikmati kepuasan itu sekali lagi.“Sayang, cepatlah sedikit. Kamu lumayan berguna malam ini, jangan sampai mengecewakanku,” desak tante padaku, sambil mengatur posisinya.Tanganku sampai gemetar karena sangking semangatnya. Akhirnya, kali ini tidak akan ada gangguan dan aku tak perlu berhenti di pertengahan lagi.Setidaknya da
Keduanya saling memuaskan satu sama lain dengan gerakan yang penuh gairah. Tak butuh waktu lama, Holina pun mulai terbakar gairah.“Aku sudah sangat menginginkannya. Waktumu cukup sampai dia pulang?” Holina menggoyangkan pinggangnya yang ramping dengan gelisah, wajahnya tampak memerah. “Suara pintu terbuka akan terdengar kalau dia balik. Aku akan usahakan secepat mungkin.”Om mendengus tidak sabar dan segera merangkak ke belakangnya seperti seekor anjing, lalu menyatu dengan panas.Aku merasa bagian terbaik menjadi orang bodoh adalah bisa menonton mereka melakukan adegan panas secara langsung kapan saja dan di mana saja.Ini jauh lebih merangsang daripada menonton film.Aku tak menyangka ternyata om cukup hebat juga sampai bisa menaklukkan Holina dalam waktu singkat, bahkan berani melakukannya di dapur.Sempat terlintas di pikiranku untuk membongkar aksi mereka, tapi aku segera mengurungkan niat itu. Pikirku, ini justru bagus. Jika suatu saat nanti Holina berani mengungkit soal aku ya
“Aku mau main! Main kucing-kucingan! Kucingnya nyaman sekali. Tante, mana ekor kucingnya?” Aku bertepuk tangan kegirangan seperti orang bodoh, sangat kooperatif dan menerjang ke tubuhnya.Begitu menoleh, aku melihat bahwa ternyata ekor kucing itu terpasang di bagian belakangnya, belum dilepas sampai sekarang.“Kamu baring yang benar, tante akan kasih main ekor kucingnya. Tapi, kamu harus patuh, nggak boleh berisik.”Dengan wajah memerah, tante mengatur posisiku dan menanggalkan pakaiannya. Sambil berpura-pura asik memainkan ekor kucing itu, otakku terus berputar mencari cara.Ini adalah kesempatan langka, kalau sampai terlewatkan, entah kapan lagi kesempatan seperti ini akan datang.Setelah ronde singkat itu selesai, dalam hati aku mulai membandingkan antara Holina dan tante.Kedua wanita ini punya kelebihan masing-masing. Holina tampak muda, cantik dan sangat berani.Namun, tante pun tidak kalah. Meski agak pemalu dan tertutup, dia jauh lebih memikat. Terutama sepasang buah dadanya ya
Karena aku sedang berpura-pura menjadi orang bodoh, begitu melihat Holina mendekat, aku langsung mendorongnya dan berteriak sambil menghindar.“Jangan kabur, dong. Kakak punya permen di sini, ini untukmu. Kakak mau memijatmu sebentar. Pijatan tadi terasa enak, ‘kan?”Holina mengeluarkan beberapa buah permen untukku. Melihat aku asik makan permen dengan gembira, dia pun mulai melancarkan aksinya.“Pijat… aku mau tante ikut juga. Kalau tante dan kakak bersama seperti tadi, aku akan senang sekali.”Mumpung dia bertanya, tentu saja aku harus menyeret tante juga. Kalau mereka berdua bisa bersama, akan sangat indah sekali.Tadi di dalam ruang siaran memang merangsang, tapi kami belum benar-benar melakukannya.Sekarang siarannya sudah mati, saatnya menikmati ini dengan sungguh-sungguh.Holina melirik ke arah tante, tapi tante langsung menolak dengan wajah memerah, “Jangan harap! Tadi itu demi siaran, kalau sekarang aku nggak punya muka untuk melakukannya.”Holina menghela napas tanda kecewa d






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.