เข้าสู่ระบบKeesokan harinya, Citra resmi bergabung dan mulai bekerja di perusahaan Devan. Dimana dirinya yang baru mulai bekerja hari ini, langsung diikut sertakan dalam proyek besar, karena rekomendasi dari Manager HRD.
Ruang rapat dipenuhi oleh para manajer senior dan auditor ahli. Citra duduk di kursi paling ujung belakang, memegang tablet khusus magang. Sedangkan Devan duduk di kepala meja dengan setelan jas abu-abu gelap, memancarkan aura otoritas yang mutlak. Devan mengetuk meja dengan pulpen mahalnya, menatap tajam ke seluruh ruangan. "Proyek restrukturisasi pajak PT Megah Sentosa ini bernilai sepuluh miliar rupiah. Saya tidak toleran terhadap kesalahan sekecil apa pun. Tapi saya dengar, HRD memasukkan satu staf magang baru ke dalam tim ini?" Semua mata di ruangan itu seketika menoleh ke arah Citra yang duduk di pojok. Citra tetap menegakkan punggungnya, menolak untuk terlihat terintimidasi. "Benar, Pak Devan. Citra Larasati memiliki nilai ujian teknis tertinggi sepanjang sejarah rekrutmen kita, jadi kami merekomendasikannya untuk menyerap ilmu di proyek ini." Suara Manager HRD mengudarakan jawaban. Devan tersenyum sinis, menatap Citra dari kejauhan. Tatapan merendahkan dan tajam secara bersamaan. "Menyerap ilmu? Atau justru menjadi beban? Ruangan ini diisi oleh orang-orang yang memiliki jam terbang tinggi, bukan tempat bermain anak kemarin sore yang bahkan tidak tahu cara membedakan pengelakan pajak (tax evasion) dan penghematan pajak (tax avoidance) secara praktis," ucap Devan dengan tegas. Beberapa manajer senior berbisik-bisik, memandang rendah ke arah Citra. "Benar juga! Kenapa anak magang yang baru saja masuk hari ini, sudah langsung diikut sertakan dalam proyek besar seperti ini." "Jangan bilang kalau — ... Siapa namanya tadi?" "Ci — tra... Citra deh kayaknya." "Jangan bilang kalau si Citra - Citra itu ada strawberry mangga apel sama manager?" "Bisa jadi." Bisikan itu tertangkap oleh pendengaran Citra. Karena bisikan itu berasal dari dua wanita yang duduk berjarak satu kursi darinya. Citra menarik napas dalam-dalam. Harga dirinya terusik. Tanpa sadar dirinya mengepalkan kedua tangannya di bawah meja rapat. Dia tahu Devan sengaja menyerangnya karena dendam malam itu. Citra bangkit berdiri dari kursinya, membuat seisi ruangan terkejut. "Mohon maaf menyela, Pak Devan. Jika Anda meragukan kompetensi saya hanya berdasarkan status 'magang', izinkan saya meluruskan satu hal." Suara Citra tenang, sangat kontras dengan jantungnya yang berpacu cepat karena menahan amarah. Devan menyilangkan tangan di dada, bersandar di kursinya. "Silakan. Yakinkan saya sebelum saya menendangmu keluar dari ruangan ini." Citra mendengkus. Sempat terpikir olehnya apakah dirinya salah makan pagi ini? Karena masih sepagi ini sudah berurusan dengan Devan. "PT Megah Sentosa adalah perusahaan manufaktur yang menyembunyikan keuntungan mereka lewat skema transfer pricing ke anak perusahaan mereka di Singapura. Manajemen senior di sini mungkin fokus pada laporan laba rugi makro mereka. Tapi jika Anda melihat lampiran 3A pada berkas audit tahun lalu..." Citra menekan tabletnya, mengirimkan sebuah grafik analisis yang dia buat semalam ke layar proyektor utama di depan. "Terdapat selisih harga pokok penjualan sebesar lima belas persen yang tidak wajar pada pembelian bahan baku utama. Itu bukan penghematan pajak yang legal (tax avoidance), melainkan murni pengelakan pajak ilegal (tax evasion) yang melanggar Pasal 39A Undang-Undang KUP. Jika tim senior tetap maju dengan draf lama, Sovereign yang akan terseret kasus hukum karena dianggap ikut menyembunyikan barang bukti." Ruangan seketika senyap. Manajer senior yang tadi berbisik langsung memeriksa berkas mereka dengan panik, dan wajah mereka mendadak pucat karena menyadari kesalahan fatal yang justru ditemukan oleh seorang anak magang. Beruntung Citra sempat memperhatikan penataran data rapat hari ini. Niatnya hanya untuk mempelajari dan mengamati, namun siapa sangka malah menemukan celah dari data yang dia lihat. Sudah Citra katakan. Uang adalah motivasi hidupnya. Sedangkan Otak adalah asetnya. Devan menatap layar proyektor, lalu beralih menatap Citra. Kilat kekaguman melintas cepat di matanya, meskipun dia langsung menutupinya dengan ekspresi datar yang dingin. 'Gadis ini... dia bukan cuma berani di ranjang. Otaknya benar-benar encer. Analisis sekritis ini bahkan terlewat oleh tim manajer,' dewi batin Devan mengutarakan kekaguman kerja Citra dan juga kejadian one night stand hari yang lalu. Devan berdehem, memecah keheningan ruangan. "Penjelasan yang... lumayan untuk ukuran pemula. Tapi mempresentasikan data dan memenangkan negosiasi dengan klien adalah dua hal yang berbeda, Citra. Mulai hari ini, kau dipindahkan ke bawah pengawasan Supervisor Alex. Pastikan analisis kasat matamu ini membuahkan hasil nyata dalam waktu tiga hari." Citra tersenyum formal, menundukkan kepala sedikit. "Baik, Pak Devan. Saya akan membuktikannya kepada Anda," ucap Citra dengan bangga atas kemenangan debat dengan Devan. "Rapat selesai. Johan, ikut saya ke ruangan." Devan bangkit berdiri dan melangkah keluar ruangan dengan cepat. Diikuti oleh semua jajaran manager senior dan ahli audit. Begitu pintu tertutup, Citra langsung menghela napas lega, sementara Alex — yang juga ada di dalam ruangan itu—menghampiri Citra dengan senyuman bangga yang lebar. "Citra. Aku gak nyangka ya kamu seteliti itu," ucap Alex sambil menepuk pelan bahu Citra. "Tapi harusnya aku gak kaget ya. Kamu kan dari dulu udah sejenius ini." Citra tersenyum manis. "Kamu bisa aja sih, Lex. Mohon bantuannya ya." Supervisor tampan dengan gaya casual di depan Citra adalah teman kuliah Citra. Dan sekarang dirinya malah bekerja di bawah pimpinan divisi Alex, bisa dibilang ini keberuntungan. Alex juga merasa senang karena Citra satu divisi dengannya. Apalagi saat tahu pertama kali dirinya bertemu dengan Citra di lobby. Saat itu Citra keluar dari lift CEO, sempat berfikir kalau bisa jadi Citra adalah kekasih Devan. Namun saat mendekat dan mengobrol sebentar, baru dia tahu bahwa Citra salah masuk lift. Tanpa Alex tahu, kesalahan kecil itu mengakibatkan dirinya terjebak oleh konfrontasi Devan di dalam lift."Citra, bagaimana tidurmu malam ini?" Suara lembut dan hangat masuk ke indera pendengaran Citra. Citra yang baru saja duduk di meja makan pun menoleh ke pemilik suara itu. Ibu mertuanya — Imelda. "Cukup nyenyak, Mom," ucap Citra, sambil tersenyum manis. "Syukurlah, Nak." balas Imelda sambil mengoleskan selai coklat ke atas roti lalu menaruhnya di piring Citra. "Makanlah Citra." Citra melebarkan matanya, "Astaga Mom... Terimakasih." Imelda hanya mengangguk ringan sebagai jawabannya. Dan kembali memakan sarapannya. Citra pun memakannya. Matanya mengedarkan pandangannya, di meja makan hanya ada ibu dan ayah mertuanya saja. Andre melihat Citra menoleh kesana kemari berkata dengan suara tegas sekaligus hangat. "Devan sudah pergi 30 menit yang lalu.
Citra berdiri kaku di dekat pintu kamar mandi, jemarinya meremas ujung gaun tidur sutra marunnya. Tatapan lapar Devan yang menggelap membuat atmosfer kamar terasa begitu sesak. Hening. "Kemari, Citra." Suara Devan berat dan serak, memecah keheningan. Citra melangkah ragu-ragu mendekati ranjang king size. "Aku... aku bingung harus bagaimana. Kita... kita kan hanya kontrak, Devan," jawab Citra dengan suara yang bergetar halus. Devan bangkit berdiri, memangkas jarak di antara mereka, lalu menangkup wajah polos Citra yang bersih dari riasan. Ibu jarinya mengusap bibir ranum Citra. "Kontrak itu mewajibkanmu melahirkan anak laki-laki untukku dalam dua tahun. Dan malam ini... aku datang untuk menagih hak mutlakku yang sempat tertunda kemarin
"Sebenarnya Mommy ingin kamu dan Devan tinggal di sini selama beberapa hari lagi," ucap Imelda saat berjalan menaiki tangga lantai dua. Di sampingnya Citra menoleh pelan, binggung ingin membalas ucapan Ibu Devan bagaimana. "Tapi mau bagaimana lagi, Devan ingin tinggal sendiri. Sepertinya dia memang ingin belajar membina rumah tangga yang baik," lanjut Imelda. "Maaf, Mom. Saat Devan sudah membuat keputusan, akan sulit untuk diperdebatkan. Bukan begitu kan, Mom?" Suara Citra penuh penyesalan. Saat hampir selesai makan malam tadi, Imelda memberi saran agar Devan dan Citra tinggal saja di mansion, akan tetapi Devan menolak. Alasannya karena Devan ingin tinggal berdua dengan Citra saja. Setelah mengatakan itu, Devan langsung beranjak pergi ke kamarnya, karena ada pekerjaan mendadak. Meninggalkan Citra di kemewahan meja makan sendiri. Imelda dan Andre terus meneman
"Bersikaplah layaknya pasangan yang saling mencintai. Paham, Citra?" Mendengar perkataan Devan, Citra mengangguk patuh. Dirinya menghembuskan nafas panjang guna menetralkan detak jantungnya yang berpacu liar — gugup. Karena ini adalah pertama kalinya dia akan berhadapan langsung dengan orang tua pria yang kini sah menjadi suaminya. Pintu ganda mansion terbuka. Devan melangkah masuk sambil menggandeng tangan Citra secara formal. Citra kini mengenakan gaun malam kasual berwarna pastel yang anggun, rambutnya disanggul cantik, dengan beberapa helai menjuntai di samping wajahnya yang dirias tipis. Begitu mereka masuk, seorang wanita paruh baya berwajah lembut namun sangat berkelas sedang berdiri dengan senyum lebar yang tulus. Imelda — Ibu Devan. Imelda berjalan cepat menghampiri Citra, langsung memegang kedua tangan Citra dengan hangat. ""Oh, Tuhan... Devan tidak berbohong. Kau benar-benar cantik sekali, Citra. Wajahmu sangat teduh." Citra tersenyum canggung, dia sediki
"D-Devan... Apa-apaan ini?!" Citra membalikkan layar ponselnya ke hadapan Devan. Di sana terpampang foto pemberkatan mereka yang baru saja diambil beberapa menit lalu, lengkap dengan rilis pers resmi dari humas Sovereign Tax and Audit. [ BREAKING NEWS: Devan Baskara, Pendiri & CEO Sovereign Tax and Audit, Resmi Menikahi Citra Larasati Pagi Ini ] Citra berdiri dari kursi dengan tubuh gemetar karena marah. "Kau gila?! Kenapa kau mengumumkannya ke media?! Perjanjian kita ini kontrak dua tahun! Ekspektasiku ini akan menjadi pernikahan rahasia yang tidak diketahui siapa pun!" Suaranya meninggi. Devan tetap duduk dengan tenang di sofanya, menyilangkan kaki, lalu menatap Citra dengan tatapan mata elang yang dingin namun penuh kepemilikan mutlak. "Aku tidak pernah berjanji untuk merahasiakan pernikahan ini, Citra," Devan menjawab enteng.
"Kenapa?" tanya Citra dengan tatapan sayu. Devan tersenyum sinis, menatap Citra dengan tatapan lapar yang tertahan. "Kenapa?" ulangnya. "Bisakah aku menganggap pertanyaanmu itu, karena kau menginginkan sesuatu yang lebih dariku?" Citra tersadar, kenapa dirinya malah menanyakan alasannya? "Bu-bukan seperti itu, aku hanya mengira kau sedang mempermainkanku! Walaupun aku hanya istri kontrak, tapi aku tak suka diduakan dan tak suka dikhianati!" Penjelasan Citra justru membuat Devan bungkam. Sekelebat ingatan masalalu terlintas, kejadian yang tak ingin Devan ingat dan Devan benci seumur hidupnya. "Aku tak berniat menduakan, karena aku tak percaya akan adanya cinta!" ucapnya dengan suara dingin. "Aku tak melanjutkannya karena ingin menikmatimu secara utuh tanpa terburu-buru. Aku akan menagih hak mutlakku atas tubuhmu ini... saat malam pengantin kita nanti," lanjutnya. Citra ber-oh ria. Dia hanya mengangguk patuh. "Kalau begitu, aku pergi dulu." "Tak perlu, kau bisa istir







