Share

4. Direndahkan

Author: Hydragea
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-06 23:05:30

Keesokan harinya, Citra resmi bergabung dan mulai bekerja di perusahaan Devan. Dimana dirinya yang baru mulai bekerja hari ini, langsung diikut sertakan dalam proyek besar, karena rekomendasi dari Manager HRD.

Ruang rapat dipenuhi oleh para manajer senior dan auditor ahli.

Citra duduk di kursi paling ujung belakang, memegang tablet khusus magang.

Sedangkan Devan duduk di kepala meja dengan setelan jas abu-abu gelap, memancarkan aura otoritas yang mutlak.

Devan mengetuk meja dengan pulpen mahalnya, menatap tajam ke seluruh ruangan.

"Proyek restrukturisasi pajak PT Megah Sentosa ini bernilai sepuluh miliar rupiah. Saya tidak toleran terhadap kesalahan sekecil apa pun. Tapi saya dengar, HRD memasukkan satu staf magang baru ke dalam tim ini?"

Semua mata di ruangan itu seketika menoleh ke arah Citra yang duduk di pojok.

Citra tetap menegakkan punggungnya, menolak untuk terlihat terintimidasi.

"Benar, Pak Devan. Citra Larasati memiliki nilai ujian teknis tertinggi sepanjang sejarah rekrutmen kita, jadi kami merekomendasikannya untuk menyerap ilmu di proyek ini." Suara Manager HRD mengudarakan jawaban.

Devan tersenyum sinis, menatap Citra dari kejauhan. Tatapan merendahkan dan tajam secara bersamaan.

"Menyerap ilmu? Atau justru menjadi beban? Ruangan ini diisi oleh orang-orang yang memiliki jam terbang tinggi, bukan tempat bermain anak kemarin sore yang bahkan tidak tahu cara membedakan pengelakan pajak (tax evasion) dan penghematan pajak (tax avoidance) secara praktis," ucap Devan dengan tegas.

Beberapa manajer senior berbisik-bisik, memandang rendah ke arah Citra.

"Benar juga! Kenapa anak magang yang baru saja masuk hari ini, sudah langsung diikut sertakan dalam proyek besar seperti ini."

"Jangan bilang kalau — ... Siapa namanya tadi?"

"Ci — tra... Citra deh kayaknya."

"Jangan bilang kalau si Citra - Citra itu ada strawberry mangga apel sama manager?"

"Bisa jadi."

Bisikan itu tertangkap oleh pendengaran Citra. Karena bisikan itu berasal dari dua wanita yang duduk berjarak satu kursi darinya.

Citra menarik napas dalam-dalam. Harga dirinya terusik. Tanpa sadar dirinya mengepalkan kedua tangannya di bawah meja rapat.

Dia tahu Devan sengaja menyerangnya karena dendam malam itu. Citra bangkit berdiri dari kursinya, membuat seisi ruangan terkejut.

"Mohon maaf menyela, Pak Devan. Jika Anda meragukan kompetensi saya hanya berdasarkan status 'magang', izinkan saya meluruskan satu hal." Suara Citra tenang, sangat kontras dengan jantungnya yang berpacu cepat karena menahan amarah.

Devan menyilangkan tangan di dada, bersandar di kursinya.

"Silakan. Yakinkan saya sebelum saya menendangmu keluar dari ruangan ini."

Citra mendengkus. Sempat terpikir olehnya apakah dirinya salah makan pagi ini? Karena masih sepagi ini sudah berurusan dengan Devan.

"PT Megah Sentosa adalah perusahaan manufaktur yang menyembunyikan keuntungan mereka lewat skema transfer pricing ke anak perusahaan mereka di Singapura. Manajemen senior di sini mungkin fokus pada laporan laba rugi makro mereka. Tapi jika Anda melihat lampiran 3A pada berkas audit tahun lalu..."

Citra menekan tabletnya, mengirimkan sebuah grafik analisis yang dia buat semalam ke layar proyektor utama di depan.

"Terdapat selisih harga pokok penjualan sebesar lima belas persen yang tidak wajar pada pembelian bahan baku utama. Itu bukan penghematan pajak yang legal (tax avoidance), melainkan murni pengelakan pajak ilegal (tax evasion) yang melanggar Pasal 39A Undang-Undang KUP. Jika tim senior tetap maju dengan draf lama, Sovereign yang akan terseret kasus hukum karena dianggap ikut menyembunyikan barang bukti."

Ruangan seketika senyap. Manajer senior yang tadi berbisik langsung memeriksa berkas mereka dengan panik, dan wajah mereka mendadak pucat karena menyadari kesalahan fatal yang justru ditemukan oleh seorang anak magang.

Beruntung Citra sempat memperhatikan penataran data rapat hari ini. Niatnya hanya untuk mempelajari dan mengamati, namun siapa sangka malah menemukan celah dari data yang dia lihat.

Sudah Citra katakan. Uang adalah motivasi hidupnya. Sedangkan Otak adalah asetnya.

Devan menatap layar proyektor, lalu beralih menatap Citra. Kilat kekaguman melintas cepat di matanya, meskipun dia langsung menutupinya dengan ekspresi datar yang dingin.

'Gadis ini... dia bukan cuma berani di ranjang. Otaknya benar-benar encer. Analisis sekritis ini bahkan terlewat oleh tim manajer,' dewi batin Devan mengutarakan kekaguman kerja Citra dan juga kejadian one night stand hari yang lalu.

Devan berdehem, memecah keheningan ruangan.

"Penjelasan yang... lumayan untuk ukuran pemula. Tapi mempresentasikan data dan memenangkan negosiasi dengan klien adalah dua hal yang berbeda, Citra. Mulai hari ini, kau dipindahkan ke bawah pengawasan Supervisor Alex. Pastikan analisis kasat matamu ini membuahkan hasil nyata dalam waktu tiga hari."

Citra tersenyum formal, menundukkan kepala sedikit.

"Baik, Pak Devan. Saya akan membuktikannya kepada Anda," ucap Citra dengan bangga atas kemenangan debat dengan Devan.

"Rapat selesai. Johan, ikut saya ke ruangan."

Devan bangkit berdiri dan melangkah keluar ruangan dengan cepat. Diikuti oleh semua jajaran manager senior dan ahli audit.

Begitu pintu tertutup, Citra langsung menghela napas lega, sementara Alex — yang juga ada di dalam ruangan itu—menghampiri Citra dengan senyuman bangga yang lebar.

"Citra. Aku gak nyangka ya kamu seteliti itu," ucap Alex sambil menepuk pelan bahu Citra. "Tapi harusnya aku gak kaget ya. Kamu kan dari dulu udah sejenius ini."

Citra tersenyum manis. "Kamu bisa aja sih, Lex. Mohon bantuannya ya."

Supervisor tampan dengan gaya casual di depan Citra adalah teman kuliah Citra. Dan sekarang dirinya malah bekerja di bawah pimpinan divisi Alex, bisa dibilang ini keberuntungan.

Alex juga merasa senang karena Citra satu divisi dengannya. Apalagi saat tahu pertama kali dirinya bertemu dengan Citra di lobby.

Saat itu Citra keluar dari lift CEO, sempat berfikir kalau bisa jadi Citra adalah kekasih Devan. Namun saat mendekat dan mengobrol sebentar, baru dia tahu bahwa Citra salah masuk lift.

Tanpa Alex tahu, kesalahan kecil itu mengakibatkan dirinya terjebak oleh konfrontasi Devan di dalam lift.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Rahim Kontrak 2 Milyar   69. Malam Panas Bersama Devan

    Cup! Devan menempelkan bibirnya di atas bibir Citra. Lalu bergerak perlahan, menyesap dan meraup bibir ranum Citra. Jarinya yang berada di pinggang Citra meremasnya pelan, seiring bertambahnya ritme ciumannya. Citra awalnya diam membeku, hingga akhirnya dia membalas ciuman Devan. Karena sekarang dia pun sepertinya sudah mulai kecanduan dengan tubuh kekar Devan. Suara decapan lidah yang beradu dan suara pendingin ruangan yang menderu memenuhi ruang kamar Devan. Kaki Devan membawa langkahnya menuju ranjang king size tanpa melepas pagutan bibir mereka. Langkahnya pelan namun pasti. Devan merebahkan tubuh ramping Citra, mengurungnya dengan pagar tubuhnya sendiri. Dia menarik diri beberapa sentu, melepas pagutan bibir mereka, membuat benang saliva tercipta di antara bibir mereka. Matanya memandang wajah Citra dengan seksama. Wajah putih bersih, bulu mata panjang, hidung mancung, dan bibir merahnya yang sedikit bengkak, membuat penampilan Citra sangat cantik. "Cantik," gumam

  • Rahim Kontrak 2 Milyar   68. Penampilan Yang Menggoda

    "Apa?" Imelda menyerahkan gaun tidur itu kepadanya. “Kalau begitu, malam ini Mommy pesan cucu perempuan satu, ya.” Devan langsung mendelik. “Mommy!” Imelda tertawa kecil. “Kenapa? Kalian sudah menikah. Wajar kalau Mommy berharap.” “Jangan bicara sembarangan, Mom." tegur Devan pada ibunya. “Memangnya salah?” “Pergilah, Mom. Dipanggil Daddy noh." Devan mengusir halus ibunya. Imelda justru semakin menggoda. “Jangan terlalu lama, ya. Kasihan Citra kalau menunggu.” “Mommy.” “Baik, baik. Mommy pergi.” Namun, sebelum benar-benar berbalik, Imelda sempat menepuk lengan Devan. Imelda tersenyum, lalu berjalan meninggalkan kamar. Devan segera menutup pintu. Setelah pintu tertutup rapat, dia berdiri cukup lama di tempatnya. Tatapannya jatuh pada gaun tidur yang masih berada di tangannya. Pesan cucu perem

  • Rahim Kontrak 2 Milyar   67. Godaan Imelda

    Di kamar Devan yang berada di mansion keluarga Baskara, Citra duduk di depan meja rias. Rambutnya yang panjang masih tergerai di punggung. Kedua tangannya memegang liontin kalung pemberian Nenek Devan, sementara tatapannya terus tertuju pada ukiran kepala elang dengan sayap terbuka di tengah perisai kecil itu. Batu safir biru tua yang tertanam di bawahnya memantulkan cahaya lampu kamar. Cantik. Elegan. Dan jelas bukan perhiasan biasa. Citra sedikit memiringkan kepalanya, mencoba memperhatikan setiap detail ukiran tersebut. “Kalung ini benar-benar mahal, ya?” gumamnya. Tanpa sadar, dia kembali menyentuh liontin itu. Perhiasan ini adalah simbol keluarga Baskara. Dan sekarang, benda tersebut berada di lehernya. Citra masih sibuk mengagumi kalung itu ketika suara pintu kamar mandi terbuka terdengar dari belakang. Devan keluar dengan mengen

  • Rahim Kontrak 2 Milyar   66. Simbol Keluarga Baskara

    "Devan, apa yang terjadi?" Devan tetap diam. Dia seolah tidak mendengar suara Nenek. Pikirannya kembali dipenuhi oleh potongan-potongan masa lalu yang tidak diinginkannya. Suara pertengkaran. Pintu yang dibanting. Tangisan. Wajah seseorang yang pernah dia cintai, lalu meninggalkannya dengan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. Dan setelah itu… Kesunyian. Perasaan ditinggalkan. Ketakutan bahwa orang yang berada di sisinya akan pergi tanpa menoleh lagi. Napas Devan semakin berat. Namun, di tengah kekacauan itu, hanya satu sosok yang mampu menariknya kembali. Citra. Aroma tubuh wanita itu. Kehangatan yang terasa nyata. Dan detak jantungnya yang bisa dia rasakan melalui pelukan tersebut. Citra mengangkat kedua tangannya, lalu perlahan mengusap punggung Devan. “Devan, aku di sini,” bisiknya. Tubuh Devan menegang sesaat. “Aku di sini,” ulang Citra, lebih lembut. Devan memejamkan mata. Dia tidak tahu mengapa setiap kali pikirannya mulai diseret kembali ke masa lalu, d

  • Rahim Kontrak 2 Milyar   65. Masa Kecil Devan

    Di dalam kamar Nenek, Citra duduk di sisi ranjang sambil memperhatikan wanita tua yang kini duduk di hadapannya. Nenek tersenyum tipis, menatap dalam Citra."Jadi ini istri Devan.” ucapnya dengan suara lembut khas wanita yang penuh cinta. Citra tersenyum canggung. “Iya, Nek.” Nenek mengangguk pelan. “Entah kenapa Nenek masih sulit percaya kalau Devan akhirnya menikah.” Citra terkekeh kecil. Tangannya saling bertaut di pangkuannya, sedangkan tatapannya sesekali turun, canggung untuk terus menatap Nenek Devan."Memangnya Devan dulu tidak pernah dekat dengan perempuan?” tanyanya. Nenek menggeleng. "Bukan begitu. Devan sejak kecil memang berbeda dari anak-anak lain.” Citra yang semula hanya tersenyum langsung menjadi penasaran saat nenek Devan berkata begitu. “Berbeda bagaimana, Nek?” Nenek terdiam sebentar, seolah sedang memilih kata yang tepat. Takut jika kata-kata yang keluar malah membu

  • Rahim Kontrak 2 Milyar   64. Ruang Kerja Andre

    “Kenapa kamu tidak pernah membawa Citra kemari lagi? Apa kau sengaja menyembunyikan Citra dari Nenekmu, karena wanita itu?” Devan yang sejak tadi berdiri dengan kedua tangan di dalam saku celana langsung mengangkat wajah. Tatapannya berubah dingin. “Mommy sedang membicarakan siapa?” Imelda menghela napas. "Jangan berpura-pura tidak tahu.” "Siapa yang berpura-pura, aku memang tidak ta—" “Celine.” Andre–ayah Devan yang sejak tadi duduk di belakang meja kerja akhirnya ikut bersuara. Satu nama itu membuat rahang Devan mengeras. Tatapannya langsung beralih kepada Daddy-nya. Ruangan mendadak terasa jauh lebih sunyi. Devan masih bungkam, tidak berkata sedikitpun, karena nama itu keluar dari mulut Andre, sukses membuat pikirannya kembali melayang ke masalalu. Imelda memperhatikan perubahan wajah putranya. Keterdiamannya cukup menjawab semua pertanyaan yang berlal

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status