LOGINDi area kubikal kerja divisi audit yang sibuk. Citra sedang fokus mengetik di laptop barunya dengan tumpukan berkas setinggi lima sentimeter di sampingnya.
Alex berjalan mendekat sambil membawa dua cup kopi hangat, lalu meletakkannya di meja Citra. "Hei, istirahat dulu. Otak jeniusmu itu bisa berasap kalau dipaksa memelototi angka dari jam delapan pagi," ucapnya dengan nada sedikit menggoda. Citra mendongak, tersenyum tipis lalu mengambil kopi pemberian Alex. "Terima kasih, Lex. Aku harus menyelesaikan ini secepatnya. Aku tidak mau memberi celah sedikit pun bagi si CEO arogan itu untuk memecatku." ucap Citra setelah menyeruput kopi miliknya. Alex terkekeh, bersandar di pembatas kubikal. "Pak Devan memang terkenal killer dan perfeksionis, tapi sejujurnya, baru kali ini aku melihat dia seakan punya dendam pribadi pada staf magang. Kau yakin tidak pernah membuat masalah dengannya sebelum masuk ke sini?" selidik Alex. Citra seketika tegang, teringat malam di penthouse hotel, namun langsung menggeleng cepat. "T-tentu saja tidak. Mana mungkin orang miskin sepertiku punya urusan dengan konglomerat seperti dia. Dia hanya... senang menindas orang lemah, kurasa." Ekspresi Citra yang gugup, membuat Alex mengerutkan dahinya halus. Merasa ada yang sedang di tutupi oleh teman kuliahnya. Namun, karena tak ingin terlalu ikut campur, dirinya bersikap biasa. "Ya, sudahlah. Kebetulan ini sudah jam makan siang. Ayo ke kantin bawah, aku yang traktir sebagai perayaan hari pertamamu bekerja di bawah divisiku." Citra mendengar ajakan Alex tak kuasa menolak. Akhirnya dirinya pun mengiyakan. Mereka berjalan berdampingan sambil sesekali tertawa karena membahas masa kuliah mereka yang lucu. Kantin lantai 10 sangat luas dan mewah, mirip food court mal. Citra dan Alex duduk di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke pemandangan kota. Mereka makan sambil mengobrol akrab, tertawa lepas seperti masa-masa kuliah dulu. "Jadi, setelah lulus kau langsung di-PHK sepihak oleh kantor lamamu? Tega sekali mereka." Ekspresi Citra meredup, mengaduk makanannya pelan "Begitulah. Dunia ini keras kalau kita tidak punya uang atau koneksi, Lex. Belum lagi utang almarhum orang tuaku... rentenir terus meneror setiap hari. Makanya, pekerjaan dari divisi-mu ini benar-benar penyelamat hidupku." Suara Citra merendah karena sedih. Alex menatap Citra dengan pandangan tulus dan penuh perhatian, lalu menggenggam sekilas tangan Citra di atas meja untuk memberi kekuatan. "Kau wanita yang kuat, Citra. Sejak kuliah aku selalu mengagumi ketangguhanmu. Sekarang kau ada di timku. Aku berjanji akan menjagamu dari tekanan di kantor ini, termasuk dari intimidasi Pak Devan." Citra tersentak karena tindakan Alex. Namun sedetik kemudian dirinya merasa terharu, menarik tangannya pelan sambil tersenyum. "Terima kasih banyak, Alex. Kau teman yang sangat baik." Alex menganggukkan kepala. Kembali fokus ke makan siang mereka, sambil sesekali tertawa kecil saat mendengar Alex menjokes ala bapak-bapak. Citra tahu bahwa itu salah satu cara Alex untuk menghapus canggung yang terjadi dan menghilangkan kesedihannya. Tanpa mereka sadari, dari area mezanin lantai 11 yang posisinya menjorok dan bisa melihat langsung ke arah kantin di lantai 10, berdiri Devan Baskara bersama Johan. Devan memegang cangkir espresso hitam, matanya menyipit tajam, menatap lurus ke arah meja Citra dan Alex. Rahang Devan mengeras saat melihat Alex menggenggam tangan Citra, dan melihat bagaimana Citra tersenyum begitu lepas pada pria lain—sesuatu yang tidak pernah gadis itu lakukan di depannya. Perasaan ini terkesan familiar sekaligus asing. Seperti saat dulu, saat...— "Johan. Supervisor yang sedang bersama anak magang itu, Alex?" tanyanya dengan suara rendah. Johan melihat ke arah yang ditunjuk Devan, lalu memeriksa tabletnya. "Betul, Pak. Supervisor Divisi Audit 2. Rekan satu angkatan Mbak Citra saat kuliah dulu. Menurut data HRD, mereka memang sangat dekat sejak masa menduduki bangku universitas." Devan meremas cangkir kopinya hingga jemarinya memutih, aura kepemilikan yang posesif mendadak bangkit dalam dirinya. Hah? Devan tak mengerti kenapa dirinya merasa tak suka dengan kedekatan Alex dengan Citra, sekaligus fakta bahwa mereka teman dekat. Cemburu? Jangan mimpi! Devan berpikir mungkin karena dirinya dan Citra sudah menghabiskan malam yang panas. Jadi wajar saja dirinya merasa marah karena bodoh dan merasa Citra tipe perempuan yang gampang dekat dengan pria manapun. "Rekan kuliah? Berani sekali dia pamer kemesraan di lingkungan kantor saya." Johan bingung dengan reaksi bosnya. Bukankah banyak staf yang berpasangan. Tapi kenapa bosnya ini merespon kedekatan Alex dan Citra. Bahkan reaksi pertama kali saat di lift tempo hari. Karena Devan belum memberitahu apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya dan Citra. "Maaf, Pak? Apakah ada peraturan kantor yang mereka langgar?" Devan membalikkan badan dengan kasar, meletakkan cangkir kopinya di meja dengan dentingan keras. "Kirimkan dokumen revisi proyek 10 Miliar ke meja Citra sekarang juga. Tambahkan analisis risiko makroekonomi lima tahun ke depan. Katakan padanya, saya minta drafnya selesai sebelum jam kerja berakhir hari ini." Johan terkejut. "Tapi Pak, analisis makro lima tahun itu biasanya dikerjakan tim senior selama tiga hari—" Devan menatap Johan dengan pandangan mematikan. Membuat Johan menghentikan ucapannya. "Saya tidak peduli. Kalau dia punya waktu untuk merayu supervisor-nya di kantin, artinya dia punya banyak waktu luang untuk bekerja. Lakukan sekarang." Devan melangkah pergi dengan amarah yang membakar, sementara di bawah sana, Citra mendadak merinding tanpa tahu dirinya baru saja memicu badai kecemburuan sang CEO. Johan menggaruk pelipisnya karena binggung, namun tetap menjalankan perintah Devan dan mengikuti Devan di belakangnya. 'Sialan!' batin Devan memaki apapun yang dia lihat.Cup! Devan menempelkan bibirnya di atas bibir Citra. Lalu bergerak perlahan, menyesap dan meraup bibir ranum Citra. Jarinya yang berada di pinggang Citra meremasnya pelan, seiring bertambahnya ritme ciumannya. Citra awalnya diam membeku, hingga akhirnya dia membalas ciuman Devan. Karena sekarang dia pun sepertinya sudah mulai kecanduan dengan tubuh kekar Devan. Suara decapan lidah yang beradu dan suara pendingin ruangan yang menderu memenuhi ruang kamar Devan. Kaki Devan membawa langkahnya menuju ranjang king size tanpa melepas pagutan bibir mereka. Langkahnya pelan namun pasti. Devan merebahkan tubuh ramping Citra, mengurungnya dengan pagar tubuhnya sendiri. Dia menarik diri beberapa sentu, melepas pagutan bibir mereka, membuat benang saliva tercipta di antara bibir mereka. Matanya memandang wajah Citra dengan seksama. Wajah putih bersih, bulu mata panjang, hidung mancung, dan bibir merahnya yang sedikit bengkak, membuat penampilan Citra sangat cantik. "Cantik," gumam
"Apa?" Imelda menyerahkan gaun tidur itu kepadanya. “Kalau begitu, malam ini Mommy pesan cucu perempuan satu, ya.” Devan langsung mendelik. “Mommy!” Imelda tertawa kecil. “Kenapa? Kalian sudah menikah. Wajar kalau Mommy berharap.” “Jangan bicara sembarangan, Mom." tegur Devan pada ibunya. “Memangnya salah?” “Pergilah, Mom. Dipanggil Daddy noh." Devan mengusir halus ibunya. Imelda justru semakin menggoda. “Jangan terlalu lama, ya. Kasihan Citra kalau menunggu.” “Mommy.” “Baik, baik. Mommy pergi.” Namun, sebelum benar-benar berbalik, Imelda sempat menepuk lengan Devan. Imelda tersenyum, lalu berjalan meninggalkan kamar. Devan segera menutup pintu. Setelah pintu tertutup rapat, dia berdiri cukup lama di tempatnya. Tatapannya jatuh pada gaun tidur yang masih berada di tangannya. Pesan cucu perem
Di kamar Devan yang berada di mansion keluarga Baskara, Citra duduk di depan meja rias. Rambutnya yang panjang masih tergerai di punggung. Kedua tangannya memegang liontin kalung pemberian Nenek Devan, sementara tatapannya terus tertuju pada ukiran kepala elang dengan sayap terbuka di tengah perisai kecil itu. Batu safir biru tua yang tertanam di bawahnya memantulkan cahaya lampu kamar. Cantik. Elegan. Dan jelas bukan perhiasan biasa. Citra sedikit memiringkan kepalanya, mencoba memperhatikan setiap detail ukiran tersebut. “Kalung ini benar-benar mahal, ya?” gumamnya. Tanpa sadar, dia kembali menyentuh liontin itu. Perhiasan ini adalah simbol keluarga Baskara. Dan sekarang, benda tersebut berada di lehernya. Citra masih sibuk mengagumi kalung itu ketika suara pintu kamar mandi terbuka terdengar dari belakang. Devan keluar dengan mengen
"Devan, apa yang terjadi?" Devan tetap diam. Dia seolah tidak mendengar suara Nenek. Pikirannya kembali dipenuhi oleh potongan-potongan masa lalu yang tidak diinginkannya. Suara pertengkaran. Pintu yang dibanting. Tangisan. Wajah seseorang yang pernah dia cintai, lalu meninggalkannya dengan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. Dan setelah itu… Kesunyian. Perasaan ditinggalkan. Ketakutan bahwa orang yang berada di sisinya akan pergi tanpa menoleh lagi. Napas Devan semakin berat. Namun, di tengah kekacauan itu, hanya satu sosok yang mampu menariknya kembali. Citra. Aroma tubuh wanita itu. Kehangatan yang terasa nyata. Dan detak jantungnya yang bisa dia rasakan melalui pelukan tersebut. Citra mengangkat kedua tangannya, lalu perlahan mengusap punggung Devan. “Devan, aku di sini,” bisiknya. Tubuh Devan menegang sesaat. “Aku di sini,” ulang Citra, lebih lembut. Devan memejamkan mata. Dia tidak tahu mengapa setiap kali pikirannya mulai diseret kembali ke masa lalu, d
Di dalam kamar Nenek, Citra duduk di sisi ranjang sambil memperhatikan wanita tua yang kini duduk di hadapannya. Nenek tersenyum tipis, menatap dalam Citra."Jadi ini istri Devan.” ucapnya dengan suara lembut khas wanita yang penuh cinta. Citra tersenyum canggung. “Iya, Nek.” Nenek mengangguk pelan. “Entah kenapa Nenek masih sulit percaya kalau Devan akhirnya menikah.” Citra terkekeh kecil. Tangannya saling bertaut di pangkuannya, sedangkan tatapannya sesekali turun, canggung untuk terus menatap Nenek Devan."Memangnya Devan dulu tidak pernah dekat dengan perempuan?” tanyanya. Nenek menggeleng. "Bukan begitu. Devan sejak kecil memang berbeda dari anak-anak lain.” Citra yang semula hanya tersenyum langsung menjadi penasaran saat nenek Devan berkata begitu. “Berbeda bagaimana, Nek?” Nenek terdiam sebentar, seolah sedang memilih kata yang tepat. Takut jika kata-kata yang keluar malah membu
“Kenapa kamu tidak pernah membawa Citra kemari lagi? Apa kau sengaja menyembunyikan Citra dari Nenekmu, karena wanita itu?” Devan yang sejak tadi berdiri dengan kedua tangan di dalam saku celana langsung mengangkat wajah. Tatapannya berubah dingin. “Mommy sedang membicarakan siapa?” Imelda menghela napas. "Jangan berpura-pura tidak tahu.” "Siapa yang berpura-pura, aku memang tidak ta—" “Celine.” Andre–ayah Devan yang sejak tadi duduk di belakang meja kerja akhirnya ikut bersuara. Satu nama itu membuat rahang Devan mengeras. Tatapannya langsung beralih kepada Daddy-nya. Ruangan mendadak terasa jauh lebih sunyi. Devan masih bungkam, tidak berkata sedikitpun, karena nama itu keluar dari mulut Andre, sukses membuat pikirannya kembali melayang ke masalalu. Imelda memperhatikan perubahan wajah putranya. Keterdiamannya cukup menjawab semua pertanyaan yang berlal







