ホーム / Romansa / Rahim Kontrak 2 Milyar / 5. Makan Siang dan Rekan Kerja

共有

5. Makan Siang dan Rekan Kerja

作者: Hydragea
last update 公開日: 2026-07-06 23:07:10

Di area kubikal kerja divisi audit yang sibuk. Citra sedang fokus mengetik di laptop barunya dengan tumpukan berkas setinggi lima sentimeter di sampingnya.

Alex berjalan mendekat sambil membawa dua cup kopi hangat, lalu meletakkannya di meja Citra.

"Hei, istirahat dulu. Otak jeniusmu itu bisa berasap kalau dipaksa memelototi angka dari jam delapan pagi," ucapnya dengan nada sedikit menggoda.

Citra mendongak, tersenyum tipis lalu mengambil kopi pemberian Alex.

"Terima kasih, Lex. Aku harus menyelesaikan ini secepatnya. Aku tidak mau memberi celah sedikit pun bagi si CEO arogan itu untuk memecatku." ucap Citra setelah menyeruput kopi miliknya.

Alex terkekeh, bersandar di pembatas kubikal.

"Pak Devan memang terkenal killer dan perfeksionis, tapi sejujurnya, baru kali ini aku melihat dia seakan punya dendam pribadi pada staf magang. Kau yakin tidak pernah membuat masalah dengannya sebelum masuk ke sini?" selidik Alex.

Citra seketika tegang, teringat malam di penthouse hotel, namun langsung menggeleng cepat.

"T-tentu saja tidak. Mana mungkin orang miskin sepertiku punya urusan dengan konglomerat seperti dia. Dia hanya... senang menindas orang lemah, kurasa."

Ekspresi Citra yang gugup, membuat Alex mengerutkan dahinya halus. Merasa ada yang sedang di tutupi oleh teman kuliahnya. Namun, karena tak ingin terlalu ikut campur, dirinya bersikap biasa.

"Ya, sudahlah. Kebetulan ini sudah jam makan siang. Ayo ke kantin bawah, aku yang traktir sebagai perayaan hari pertamamu bekerja di bawah divisiku."

Citra mendengar ajakan Alex tak kuasa menolak. Akhirnya dirinya pun mengiyakan.

Mereka berjalan berdampingan sambil sesekali tertawa karena membahas masa kuliah mereka yang lucu.

Kantin lantai 10 sangat luas dan mewah, mirip food court mal.

Citra dan Alex duduk di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke pemandangan kota. Mereka makan sambil mengobrol akrab, tertawa lepas seperti masa-masa kuliah dulu.

"Jadi, setelah lulus kau langsung di-PHK sepihak oleh kantor lamamu? Tega sekali mereka."

Ekspresi Citra meredup, mengaduk makanannya pelan

"Begitulah. Dunia ini keras kalau kita tidak punya uang atau koneksi, Lex. Belum lagi utang almarhum orang tuaku... rentenir terus meneror setiap hari. Makanya, pekerjaan dari divisi-mu ini benar-benar penyelamat hidupku." Suara Citra merendah karena sedih.

Alex menatap Citra dengan pandangan tulus dan penuh perhatian, lalu menggenggam sekilas tangan Citra di atas meja untuk memberi kekuatan.

"Kau wanita yang kuat, Citra. Sejak kuliah aku selalu mengagumi ketangguhanmu. Sekarang kau ada di timku. Aku berjanji akan menjagamu dari tekanan di kantor ini, termasuk dari intimidasi Pak Devan."

Citra tersentak karena tindakan Alex. Namun sedetik kemudian dirinya merasa terharu, menarik tangannya pelan sambil tersenyum.

"Terima kasih banyak, Alex. Kau teman yang sangat baik."

Alex menganggukkan kepala. Kembali fokus ke makan siang mereka, sambil sesekali tertawa kecil saat mendengar Alex menjokes ala bapak-bapak.

Citra tahu bahwa itu salah satu cara Alex untuk menghapus canggung yang terjadi dan menghilangkan kesedihannya.

Tanpa mereka sadari, dari area mezanin lantai 11 yang posisinya menjorok dan bisa melihat langsung ke arah kantin di lantai 10, berdiri Devan Baskara bersama Johan.

Devan memegang cangkir espresso hitam, matanya menyipit tajam, menatap lurus ke arah meja Citra dan Alex.

Rahang Devan mengeras saat melihat Alex menggenggam tangan Citra, dan melihat bagaimana Citra tersenyum begitu lepas pada pria lain—sesuatu yang tidak pernah gadis itu lakukan di depannya.

Perasaan ini terkesan familiar sekaligus asing. Seperti saat dulu, saat...—

"Johan. Supervisor yang sedang bersama anak magang itu, Alex?" tanyanya dengan suara rendah.

Johan melihat ke arah yang ditunjuk Devan, lalu memeriksa tabletnya.

"Betul, Pak. Supervisor Divisi Audit 2. Rekan satu angkatan Mbak Citra saat kuliah dulu. Menurut data HRD, mereka memang sangat dekat sejak masa menduduki bangku universitas."

Devan meremas cangkir kopinya hingga jemarinya memutih, aura kepemilikan yang posesif mendadak bangkit dalam dirinya.

Hah? Devan tak mengerti kenapa dirinya merasa tak suka dengan kedekatan Alex dengan Citra, sekaligus fakta bahwa mereka teman dekat.

Cemburu? Jangan mimpi!

Devan berpikir mungkin karena dirinya dan Citra sudah menghabiskan malam yang panas. Jadi wajar saja dirinya merasa marah karena bodoh dan merasa Citra tipe perempuan yang gampang dekat dengan pria manapun.

"Rekan kuliah? Berani sekali dia pamer kemesraan di lingkungan kantor saya."

Johan bingung dengan reaksi bosnya. Bukankah banyak staf yang berpasangan. Tapi kenapa bosnya ini merespon kedekatan Alex dan Citra.

Bahkan reaksi pertama kali saat di lift tempo hari. Karena Devan belum memberitahu apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya dan Citra.

"Maaf, Pak? Apakah ada peraturan kantor yang mereka langgar?"

Devan membalikkan badan dengan kasar, meletakkan cangkir kopinya di meja dengan dentingan keras.

"Kirimkan dokumen revisi proyek 10 Miliar ke meja Citra sekarang juga. Tambahkan analisis risiko makroekonomi lima tahun ke depan. Katakan padanya, saya minta drafnya selesai sebelum jam kerja berakhir hari ini."

Johan terkejut. "Tapi Pak, analisis makro lima tahun itu biasanya dikerjakan tim senior selama tiga hari—"

Devan menatap Johan dengan pandangan mematikan. Membuat Johan menghentikan ucapannya.

"Saya tidak peduli. Kalau dia punya waktu untuk merayu supervisor-nya di kantin, artinya dia punya banyak waktu luang untuk bekerja. Lakukan sekarang."

Devan melangkah pergi dengan amarah yang membakar, sementara di bawah sana, Citra mendadak merinding tanpa tahu dirinya baru saja memicu badai kecemburuan sang CEO.

Johan menggaruk pelipisnya karena binggung, namun tetap menjalankan perintah Devan dan mengikuti Devan di belakangnya.

'Sialan!' batin Devan memaki apapun yang dia lihat.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Rahim Kontrak 2 Milyar   15. Kehangatan Pagi Hari

    "Citra, bagaimana tidurmu malam ini?" Suara lembut dan hangat masuk ke indera pendengaran Citra. Citra yang baru saja duduk di meja makan pun menoleh ke pemilik suara itu. Ibu mertuanya — Imelda. "Cukup nyenyak, Mom," ucap Citra, sambil tersenyum manis. "Syukurlah, Nak." balas Imelda sambil mengoleskan selai coklat ke atas roti lalu menaruhnya di piring Citra. "Makanlah Citra." Citra melebarkan matanya, "Astaga Mom... Terimakasih." Imelda hanya mengangguk ringan sebagai jawabannya. Dan kembali memakan sarapannya. Citra pun memakannya. Matanya mengedarkan pandangannya, di meja makan hanya ada ibu dan ayah mertuanya saja. Andre melihat Citra menoleh kesana kemari berkata dengan suara tegas sekaligus hangat. "Devan sudah pergi 30 menit yang lalu.

  • Rahim Kontrak 2 Milyar   14. Hasrat Dalam Batas Dingin (21+)

    Citra berdiri kaku di dekat pintu kamar mandi, jemarinya meremas ujung gaun tidur sutra marunnya. Tatapan lapar Devan yang menggelap membuat atmosfer kamar terasa begitu sesak. Hening. "Kemari, Citra." Suara Devan berat dan serak, memecah keheningan. Citra melangkah ragu-ragu mendekati ranjang king size. "Aku... aku bingung harus bagaimana. Kita... kita kan hanya kontrak, Devan," jawab Citra dengan suara yang bergetar halus. Devan bangkit berdiri, memangkas jarak di antara mereka, lalu menangkup wajah polos Citra yang bersih dari riasan. Ibu jarinya mengusap bibir ranum Citra. "Kontrak itu mewajibkanmu melahirkan anak laki-laki untukku dalam dua tahun. Dan malam ini... aku datang untuk menagih hak mutlakku yang sempat tertunda kemarin

  • Rahim Kontrak 2 Milyar   13. Wejangan Imelda

    "Sebenarnya Mommy ingin kamu dan Devan tinggal di sini selama beberapa hari lagi," ucap Imelda saat berjalan menaiki tangga lantai dua. Di sampingnya Citra menoleh pelan, binggung ingin membalas ucapan Ibu Devan bagaimana. "Tapi mau bagaimana lagi, Devan ingin tinggal sendiri. Sepertinya dia memang ingin belajar membina rumah tangga yang baik," lanjut Imelda. "Maaf, Mom. Saat Devan sudah membuat keputusan, akan sulit untuk diperdebatkan. Bukan begitu kan, Mom?" Suara Citra penuh penyesalan. Saat hampir selesai makan malam tadi, Imelda memberi saran agar Devan dan Citra tinggal saja di mansion, akan tetapi Devan menolak. Alasannya karena Devan ingin tinggal berdua dengan Citra saja. Setelah mengatakan itu, Devan langsung beranjak pergi ke kamarnya, karena ada pekerjaan mendadak. Meninggalkan Citra di kemewahan meja makan sendiri. Imelda dan Andre terus meneman

  • Rahim Kontrak 2 Milyar   12. Topeng Di Balik Meja Makan

    "Bersikaplah layaknya pasangan yang saling mencintai. Paham, Citra?" Mendengar perkataan Devan, Citra mengangguk patuh. Dirinya menghembuskan nafas panjang guna menetralkan detak jantungnya yang berpacu liar — gugup. Karena ini adalah pertama kalinya dia akan berhadapan langsung dengan orang tua pria yang kini sah menjadi suaminya. Pintu ganda mansion terbuka. Devan melangkah masuk sambil menggandeng tangan Citra secara formal. Citra kini mengenakan gaun malam kasual berwarna pastel yang anggun, rambutnya disanggul cantik, dengan beberapa helai menjuntai di samping wajahnya yang dirias tipis. Begitu mereka masuk, seorang wanita paruh baya berwajah lembut namun sangat berkelas sedang berdiri dengan senyum lebar yang tulus. Imelda — Ibu Devan. Imelda berjalan cepat menghampiri Citra, langsung memegang kedua tangan Citra dengan hangat. ""Oh, Tuhan... Devan tidak berbohong. Kau benar-benar cantik sekali, Citra. Wajahmu sangat teduh." Citra tersenyum canggung, dia sediki

  • Rahim Kontrak 2 Milyar   11. Pernikahan Yang Terekspos

    "D-Devan... Apa-apaan ini?!" Citra membalikkan layar ponselnya ke hadapan Devan. Di sana terpampang foto pemberkatan mereka yang baru saja diambil beberapa menit lalu, lengkap dengan rilis pers resmi dari humas Sovereign Tax and Audit. [ BREAKING NEWS: Devan Baskara, Pendiri & CEO Sovereign Tax and Audit, Resmi Menikahi Citra Larasati Pagi Ini ] Citra berdiri dari kursi dengan tubuh gemetar karena marah. "Kau gila?! Kenapa kau mengumumkannya ke media?! Perjanjian kita ini kontrak dua tahun! Ekspektasiku ini akan menjadi pernikahan rahasia yang tidak diketahui siapa pun!" Suaranya meninggi. Devan tetap duduk dengan tenang di sofanya, menyilangkan kaki, lalu menatap Citra dengan tatapan mata elang yang dingin namun penuh kepemilikan mutlak. "Aku tidak pernah berjanji untuk merahasiakan pernikahan ini, Citra," Devan menjawab enteng.

  • Rahim Kontrak 2 Milyar   10. Janji Suci Pengikat

    "Kenapa?" tanya Citra dengan tatapan sayu. Devan tersenyum sinis, menatap Citra dengan tatapan lapar yang tertahan. "Kenapa?" ulangnya. "Bisakah aku menganggap pertanyaanmu itu, karena kau menginginkan sesuatu yang lebih dariku?" Citra tersadar, kenapa dirinya malah menanyakan alasannya? "Bu-bukan seperti itu, aku hanya mengira kau sedang mempermainkanku! Walaupun aku hanya istri kontrak, tapi aku tak suka diduakan dan tak suka dikhianati!" Penjelasan Citra justru membuat Devan bungkam. Sekelebat ingatan masalalu terlintas, kejadian yang tak ingin Devan ingat dan Devan benci seumur hidupnya. "Aku tak berniat menduakan, karena aku tak percaya akan adanya cinta!" ucapnya dengan suara dingin. "Aku tak melanjutkannya karena ingin menikmatimu secara utuh tanpa terburu-buru. Aku akan menagih hak mutlakku atas tubuhmu ini... saat malam pengantin kita nanti," lanjutnya. Citra ber-oh ria. Dia hanya mengangguk patuh. "Kalau begitu, aku pergi dulu." "Tak perlu, kau bisa istir

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status