แชร์

3. Konfrontasi Di Lift

ผู้เขียน: Hydragea
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-06 23:04:02

[KAMI TAHU KAU DI MANA HARI INI. KALAU BESOK BELUM BAYAR 50 JUTA, ADIKMU DI KAMPUNG YANG JADI JAMINAN!]

Wajah Citra mendadak pucat, napasnya memburu panik saat membaca pesan ancaman dari Rentenir.

"Sialan! Bagaimana bisa mereka tahu aku di sini? Keparat... adikku..."

Rasa panik yang luar biasa membuat otak cerdas Citra mendadak blank. Dia berjalan sangat cepat tanpa melihat arah, hanya fokus pada layar ponselnya yang terus bergetar.

Di ujung koridor, sebuah pintu lift bermaterial stainless steel emas baru saja terbuka lebar secara otomatis.

Citra langsung menerobos masuk ke dalam lift tanpa melihat papan peringatan digital di atas pintu yang menyala merah.

RESTRICTED - CEO ONLY.

"Hampir saja..."

Citra menekan tombol 'Lobby' dengan tergesa-gesa, lalu bersandar pada dinding lift yang dilapisi cermin mewah, mencoba mengontrol napasnya yang memburu.

Saat pintu lift perlahan mulai tertutup, sebuah tangan pria berjas mahal menahan sensor pintu dari luar.

Pintu lift kembali terbuka, menampilkan sosok pria bertubuh tegap, tinggi, dengan aura intimidasi yang sangat pekat, didampingi seorang asisten pribadi di belakangnya.

Devan Baskara.

Citra yang masih mengusap dadanya karena panik, mendongak.

Di dalam ruang lift yang sempit itu, sepasang mata mereka akhirnya bertemu untuk pertama kalinya setelah malam itu.

Pintu lift tertutup rapat. Devan Baskara melangkah masuk dengan aura yang begitu dingin, diikuti oleh asisten pribadinya, Johan.

Citra seketika merasa atmosfer di dalam lift turun drastis menjadi sangat dingin. Dia bergeser ke sudut lift, mencoba bersikap sopan.

Johan menatap Citra dengan kening berkerut, suaranya tegas namun sopan.

"Maaf, Mbak. Siapa Anda? Anda tahu ini lift khusus untuk jajaran Direksi dan CEO? Staf atau pelamar tidak diizinkan masuk ke sini."

Jantung Citra berdegup kencang, baru menyadari kesalahannya.

"Ah... maaf, Pak. Saya benar-benar tidak sengaja. Saya... saya pelamar kerja yang baru selesai wawancara di lantai 12. Tadi saya terburu-buru dan tidak melihat papan petunjuk."

Devan tetap diam, berdiri membelakangi Citra. Dia hanya menatap pantulan Citra dari cermin lift.

Pandangan matanya yang tajam mengamati pakaian Citra yang sederhana, kontras dengan kemewahan kantor miliknya.

Devan berbicara tanpa menoleh, suaranya berat dan mengintimidasi.

"Tidak bisa membaca petunjuk sesederhana itu? Perusahaan ini tidak butuh staf yang matanya tertinggal di rumah, Johan."

"Baik, Pak Devan. Nanti saya akan menegur tim keamanan dan HRD kenapa pelamar bisa lolos ke koridor ini," sahut Johan cepat.

Citra merasa harga dirinya diinjak, dia mengepalkan tangan, mencoba membela diri dengan tenang.

"Saya akui saya salah karena tidak teliti, Pak. Tapi menganggap saya tidak bisa membaca hanya karena satu kelalaian kecil di bawah tekanan, rasa-rasanya itu kesimpulan yang terlalu impulsif bagi seorang atasan."

Mendengar bantahan itu, Devan sedikit menaikkan alisnya di cermin. Jarang ada orang—apalagi pelamar magang—yang berani membalas ucapannya.

Namun, Devan tak berniat adu mulut dengan wanita asing di depannya. Pembicaraan itu berakhir sepihak.

Citra pun mendengkus melihat Devan terdiam. Sungguh jiwa bar-barnya ingin beradu mulut dengan pria arogan ini.

Lift terus bergerak turun dengan mulus. Johan yang merasa situasi terlalu tegang, memilih mundur satu langkah untuk memberikan ruang bagi Devan.

Karena Johan bergeser, posisi berdiri Devan kini tepat berada sedikit di depan samping Citra.

Citra yang merasa tidak nyaman memalingkan wajahnya ke arah samping kanan, memperlihatkan sisi belakang telinga kirinya dengan jelas. Rambutnya yang sedikit terikat ke atas mengekspos kulit lehernya.

Mata elang Devan tidak sengaja melirik ke arah belakang telinga Citra.

Di sana, di atas kulit putih gadis itu, tercetak sebuah tanda lahir unik berbentuk bulan sabit kecil berwarna kecokelatan.

Devan seketika tubuhnya menegang. Ingatannya langsung melemparnya kembali ke malam di penthouse hotel dua hari lalu.

Sentuhan liar, napas yang memburu, dan tanda lahir yang dia elus berkali-kali di bawah temaram lampu kamar

Devan berbicara dalam hati, 'tanda lahir itu... Tidak salah lagi. Gadis sialan yang kabur dari ranjangku.'

Devan tiba-tiba membalikkan tubuhnya sepenuhnya menghadap Citra. Langkah kakinya yang lebar langsung memangkas jarak di antara mereka, memojokkan Citra ke dinding cermin lift.

Citra terkejut, matanya membelalak saat Devan tiba-tiba berada hanya beberapa sentimeter di depannya.

"P-Pak? Apa yang Anda lakukan?" tanyanya dengan suara tercekat akibat aura intimidasi dari Devan.

Devan menatap lurus ke dalam manik mata Citra, mengunci pandangannya dengan intensitas yang membakar.

"Angkat wajahmu!"

Citra menelan ludah, detak jantungnya menggila. Jarak yang sangat dekat ini membuat indra penciumannya menangkap wangi parfum maskulin cedarwood yang sangat familier. Wangi yang sama dengan pria asing semalam.

Mata Citra meneliti wajah Devan—rahang tegas, hidung mancung sempurna, dan bibir tipis itu.

'Ya Tuhan... Dia? Pria asing di hotel itu... adalah CEO perusahaan ini?!' batin Citra terkejut.

Suasana di dalam lift menjadi sangat hening, menyisakan ketegangan yang pekat. Johan yang melihat tindakan impulsif bosnya hanya bisa melongo kaget, tidak berani menyela.

"Jadi... kau suka menyelinap masuk ke tempat yang bukan hakmu? Pertama di kamarku, sekarang di liftku." Suara Devan merendah, hampir sama seperti bisikan.

Citra terpaku mendengar tuduhan Devan yang menganggap dirinya seperti itu.

Citra mencoba mempertahankan sisa-sisa keberaniannya, meskipun tangannya gemetar di balik map.

"Saya tidak tahu apa maksud Anda, Pak. Saya ke sini murni untuk mencari kerja."

Devan tersenyum sinis, penuh kemenangan. Melihat gadis bodoh di depannya, dirinya ingin sekali memaki.

"Kau pintar berakting, tapi tanda lahir di belakang telingamu itu tidak bisa berbohong. Kau pergi tanpa pamit setelah malam itu. Kenapa? Takut aku menuntutmu?"

Wajah Citra memerah antara malu dan marah.

"Malam itu adalah kesalahan! Dan jika Anda seorang profesional, Anda tidak akan mencampuradukkan urusan pribadi dengan proses rekrutmen perusahaan ini!"

TING!

Suara bel lift berbunyi panjang, menandakan mereka telah sampai di lantai lobi.

Pintu lift terbuka lebar, menampilkan area lobi yang ramai oleh karyawan.

Devan mundur satu langkah, kembali memasang wajah dinginnya yang tak tersentuh, seolah konfrontasi barusan tidak pernah terjadi.

Devan melangkah keluar lift, namun sebelum Citra ikut melangkah keluar, Devan menoleh ke arah Citra lewat ujung matanya.

"Kita lihat seberapa jauh 'kesalahan' ini bisa membawamu, Citra Larasati. Johan, pastikan dia lolos ke tahap berikutnya. Aku sendiri yang akan menguji kemampuannya."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Rahim Kontrak 2 Milyar   15. Kehangatan Pagi Hari

    "Citra, bagaimana tidurmu malam ini?" Suara lembut dan hangat masuk ke indera pendengaran Citra. Citra yang baru saja duduk di meja makan pun menoleh ke pemilik suara itu. Ibu mertuanya — Imelda. "Cukup nyenyak, Mom," ucap Citra, sambil tersenyum manis. "Syukurlah, Nak." balas Imelda sambil mengoleskan selai coklat ke atas roti lalu menaruhnya di piring Citra. "Makanlah Citra." Citra melebarkan matanya, "Astaga Mom... Terimakasih." Imelda hanya mengangguk ringan sebagai jawabannya. Dan kembali memakan sarapannya. Citra pun memakannya. Matanya mengedarkan pandangannya, di meja makan hanya ada ibu dan ayah mertuanya saja. Andre melihat Citra menoleh kesana kemari berkata dengan suara tegas sekaligus hangat. "Devan sudah pergi 30 menit yang lalu.

  • Rahim Kontrak 2 Milyar   14. Hasrat Dalam Batas Dingin (21+)

    Citra berdiri kaku di dekat pintu kamar mandi, jemarinya meremas ujung gaun tidur sutra marunnya. Tatapan lapar Devan yang menggelap membuat atmosfer kamar terasa begitu sesak. Hening. "Kemari, Citra." Suara Devan berat dan serak, memecah keheningan. Citra melangkah ragu-ragu mendekati ranjang king size. "Aku... aku bingung harus bagaimana. Kita... kita kan hanya kontrak, Devan," jawab Citra dengan suara yang bergetar halus. Devan bangkit berdiri, memangkas jarak di antara mereka, lalu menangkup wajah polos Citra yang bersih dari riasan. Ibu jarinya mengusap bibir ranum Citra. "Kontrak itu mewajibkanmu melahirkan anak laki-laki untukku dalam dua tahun. Dan malam ini... aku datang untuk menagih hak mutlakku yang sempat tertunda kemarin

  • Rahim Kontrak 2 Milyar   13. Wejangan Imelda

    "Sebenarnya Mommy ingin kamu dan Devan tinggal di sini selama beberapa hari lagi," ucap Imelda saat berjalan menaiki tangga lantai dua. Di sampingnya Citra menoleh pelan, binggung ingin membalas ucapan Ibu Devan bagaimana. "Tapi mau bagaimana lagi, Devan ingin tinggal sendiri. Sepertinya dia memang ingin belajar membina rumah tangga yang baik," lanjut Imelda. "Maaf, Mom. Saat Devan sudah membuat keputusan, akan sulit untuk diperdebatkan. Bukan begitu kan, Mom?" Suara Citra penuh penyesalan. Saat hampir selesai makan malam tadi, Imelda memberi saran agar Devan dan Citra tinggal saja di mansion, akan tetapi Devan menolak. Alasannya karena Devan ingin tinggal berdua dengan Citra saja. Setelah mengatakan itu, Devan langsung beranjak pergi ke kamarnya, karena ada pekerjaan mendadak. Meninggalkan Citra di kemewahan meja makan sendiri. Imelda dan Andre terus meneman

  • Rahim Kontrak 2 Milyar   12. Topeng Di Balik Meja Makan

    "Bersikaplah layaknya pasangan yang saling mencintai. Paham, Citra?" Mendengar perkataan Devan, Citra mengangguk patuh. Dirinya menghembuskan nafas panjang guna menetralkan detak jantungnya yang berpacu liar — gugup. Karena ini adalah pertama kalinya dia akan berhadapan langsung dengan orang tua pria yang kini sah menjadi suaminya. Pintu ganda mansion terbuka. Devan melangkah masuk sambil menggandeng tangan Citra secara formal. Citra kini mengenakan gaun malam kasual berwarna pastel yang anggun, rambutnya disanggul cantik, dengan beberapa helai menjuntai di samping wajahnya yang dirias tipis. Begitu mereka masuk, seorang wanita paruh baya berwajah lembut namun sangat berkelas sedang berdiri dengan senyum lebar yang tulus. Imelda — Ibu Devan. Imelda berjalan cepat menghampiri Citra, langsung memegang kedua tangan Citra dengan hangat. ""Oh, Tuhan... Devan tidak berbohong. Kau benar-benar cantik sekali, Citra. Wajahmu sangat teduh." Citra tersenyum canggung, dia sediki

  • Rahim Kontrak 2 Milyar   11. Pernikahan Yang Terekspos

    "D-Devan... Apa-apaan ini?!" Citra membalikkan layar ponselnya ke hadapan Devan. Di sana terpampang foto pemberkatan mereka yang baru saja diambil beberapa menit lalu, lengkap dengan rilis pers resmi dari humas Sovereign Tax and Audit. [ BREAKING NEWS: Devan Baskara, Pendiri & CEO Sovereign Tax and Audit, Resmi Menikahi Citra Larasati Pagi Ini ] Citra berdiri dari kursi dengan tubuh gemetar karena marah. "Kau gila?! Kenapa kau mengumumkannya ke media?! Perjanjian kita ini kontrak dua tahun! Ekspektasiku ini akan menjadi pernikahan rahasia yang tidak diketahui siapa pun!" Suaranya meninggi. Devan tetap duduk dengan tenang di sofanya, menyilangkan kaki, lalu menatap Citra dengan tatapan mata elang yang dingin namun penuh kepemilikan mutlak. "Aku tidak pernah berjanji untuk merahasiakan pernikahan ini, Citra," Devan menjawab enteng.

  • Rahim Kontrak 2 Milyar   10. Janji Suci Pengikat

    "Kenapa?" tanya Citra dengan tatapan sayu. Devan tersenyum sinis, menatap Citra dengan tatapan lapar yang tertahan. "Kenapa?" ulangnya. "Bisakah aku menganggap pertanyaanmu itu, karena kau menginginkan sesuatu yang lebih dariku?" Citra tersadar, kenapa dirinya malah menanyakan alasannya? "Bu-bukan seperti itu, aku hanya mengira kau sedang mempermainkanku! Walaupun aku hanya istri kontrak, tapi aku tak suka diduakan dan tak suka dikhianati!" Penjelasan Citra justru membuat Devan bungkam. Sekelebat ingatan masalalu terlintas, kejadian yang tak ingin Devan ingat dan Devan benci seumur hidupnya. "Aku tak berniat menduakan, karena aku tak percaya akan adanya cinta!" ucapnya dengan suara dingin. "Aku tak melanjutkannya karena ingin menikmatimu secara utuh tanpa terburu-buru. Aku akan menagih hak mutlakku atas tubuhmu ini... saat malam pengantin kita nanti," lanjutnya. Citra ber-oh ria. Dia hanya mengangguk patuh. "Kalau begitu, aku pergi dulu." "Tak perlu, kau bisa istir

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status