LOGIN[KAMI TAHU KAU DI MANA HARI INI. KALAU BESOK BELUM BAYAR 50 JUTA, ADIKMU DI KAMPUNG YANG JADI JAMINAN!]
Wajah Citra mendadak pucat, napasnya memburu panik saat membaca pesan ancaman dari Rentenir. "Sialan! Bagaimana bisa mereka tahu aku di sini? Keparat... adikku..." Rasa panik yang luar biasa membuat otak cerdas Citra mendadak blank. Dia berjalan sangat cepat tanpa melihat arah, hanya fokus pada layar ponselnya yang terus bergetar. Di ujung koridor, sebuah pintu lift bermaterial stainless steel emas baru saja terbuka lebar secara otomatis. Citra langsung menerobos masuk ke dalam lift tanpa melihat papan peringatan digital di atas pintu yang menyala merah. RESTRICTED - CEO ONLY. "Hampir saja..." Citra menekan tombol 'Lobby' dengan tergesa-gesa, lalu bersandar pada dinding lift yang dilapisi cermin mewah, mencoba mengontrol napasnya yang memburu. Saat pintu lift perlahan mulai tertutup, sebuah tangan pria berjas mahal menahan sensor pintu dari luar. Pintu lift kembali terbuka, menampilkan sosok pria bertubuh tegap, tinggi, dengan aura intimidasi yang sangat pekat, didampingi seorang asisten pribadi di belakangnya. Devan Baskara. Citra yang masih mengusap dadanya karena panik, mendongak. Di dalam ruang lift yang sempit itu, sepasang mata mereka akhirnya bertemu untuk pertama kalinya setelah malam itu. Pintu lift tertutup rapat. Devan Baskara melangkah masuk dengan aura yang begitu dingin, diikuti oleh asisten pribadinya, Johan. Citra seketika merasa atmosfer di dalam lift turun drastis menjadi sangat dingin. Dia bergeser ke sudut lift, mencoba bersikap sopan. Johan menatap Citra dengan kening berkerut, suaranya tegas namun sopan. "Maaf, Mbak. Siapa Anda? Anda tahu ini lift khusus untuk jajaran Direksi dan CEO? Staf atau pelamar tidak diizinkan masuk ke sini." Jantung Citra berdegup kencang, baru menyadari kesalahannya. "Ah... maaf, Pak. Saya benar-benar tidak sengaja. Saya... saya pelamar kerja yang baru selesai wawancara di lantai 12. Tadi saya terburu-buru dan tidak melihat papan petunjuk." Devan tetap diam, berdiri membelakangi Citra. Dia hanya menatap pantulan Citra dari cermin lift. Pandangan matanya yang tajam mengamati pakaian Citra yang sederhana, kontras dengan kemewahan kantor miliknya. Devan berbicara tanpa menoleh, suaranya berat dan mengintimidasi. "Tidak bisa membaca petunjuk sesederhana itu? Perusahaan ini tidak butuh staf yang matanya tertinggal di rumah, Johan." "Baik, Pak Devan. Nanti saya akan menegur tim keamanan dan HRD kenapa pelamar bisa lolos ke koridor ini," sahut Johan cepat. Citra merasa harga dirinya diinjak, dia mengepalkan tangan, mencoba membela diri dengan tenang. "Saya akui saya salah karena tidak teliti, Pak. Tapi menganggap saya tidak bisa membaca hanya karena satu kelalaian kecil di bawah tekanan, rasa-rasanya itu kesimpulan yang terlalu impulsif bagi seorang atasan." Mendengar bantahan itu, Devan sedikit menaikkan alisnya di cermin. Jarang ada orang—apalagi pelamar magang—yang berani membalas ucapannya. Namun, Devan tak berniat adu mulut dengan wanita asing di depannya. Pembicaraan itu berakhir sepihak. Citra pun mendengkus melihat Devan terdiam. Sungguh jiwa bar-barnya ingin beradu mulut dengan pria arogan ini. Lift terus bergerak turun dengan mulus. Johan yang merasa situasi terlalu tegang, memilih mundur satu langkah untuk memberikan ruang bagi Devan. Karena Johan bergeser, posisi berdiri Devan kini tepat berada sedikit di depan samping Citra. Citra yang merasa tidak nyaman memalingkan wajahnya ke arah samping kanan, memperlihatkan sisi belakang telinga kirinya dengan jelas. Rambutnya yang sedikit terikat ke atas mengekspos kulit lehernya. Mata elang Devan tidak sengaja melirik ke arah belakang telinga Citra. Di sana, di atas kulit putih gadis itu, tercetak sebuah tanda lahir unik berbentuk bulan sabit kecil berwarna kecokelatan. Devan seketika tubuhnya menegang. Ingatannya langsung melemparnya kembali ke malam di penthouse hotel dua hari lalu. Sentuhan liar, napas yang memburu, dan tanda lahir yang dia elus berkali-kali di bawah temaram lampu kamar Devan berbicara dalam hati, 'tanda lahir itu... Tidak salah lagi. Gadis sialan yang kabur dari ranjangku.' Devan tiba-tiba membalikkan tubuhnya sepenuhnya menghadap Citra. Langkah kakinya yang lebar langsung memangkas jarak di antara mereka, memojokkan Citra ke dinding cermin lift. Citra terkejut, matanya membelalak saat Devan tiba-tiba berada hanya beberapa sentimeter di depannya. "P-Pak? Apa yang Anda lakukan?" tanyanya dengan suara tercekat akibat aura intimidasi dari Devan. Devan menatap lurus ke dalam manik mata Citra, mengunci pandangannya dengan intensitas yang membakar. "Angkat wajahmu!" Citra menelan ludah, detak jantungnya menggila. Jarak yang sangat dekat ini membuat indra penciumannya menangkap wangi parfum maskulin cedarwood yang sangat familier. Wangi yang sama dengan pria asing semalam. Mata Citra meneliti wajah Devan—rahang tegas, hidung mancung sempurna, dan bibir tipis itu. 'Ya Tuhan... Dia? Pria asing di hotel itu... adalah CEO perusahaan ini?!' batin Citra terkejut. Suasana di dalam lift menjadi sangat hening, menyisakan ketegangan yang pekat. Johan yang melihat tindakan impulsif bosnya hanya bisa melongo kaget, tidak berani menyela. "Jadi... kau suka menyelinap masuk ke tempat yang bukan hakmu? Pertama di kamarku, sekarang di liftku." Suara Devan merendah, hampir sama seperti bisikan. Citra terpaku mendengar tuduhan Devan yang menganggap dirinya seperti itu. Citra mencoba mempertahankan sisa-sisa keberaniannya, meskipun tangannya gemetar di balik map. "Saya tidak tahu apa maksud Anda, Pak. Saya ke sini murni untuk mencari kerja." Devan tersenyum sinis, penuh kemenangan. Melihat gadis bodoh di depannya, dirinya ingin sekali memaki. "Kau pintar berakting, tapi tanda lahir di belakang telingamu itu tidak bisa berbohong. Kau pergi tanpa pamit setelah malam itu. Kenapa? Takut aku menuntutmu?" Wajah Citra memerah antara malu dan marah. "Malam itu adalah kesalahan! Dan jika Anda seorang profesional, Anda tidak akan mencampuradukkan urusan pribadi dengan proses rekrutmen perusahaan ini!" TING! Suara bel lift berbunyi panjang, menandakan mereka telah sampai di lantai lobi. Pintu lift terbuka lebar, menampilkan area lobi yang ramai oleh karyawan. Devan mundur satu langkah, kembali memasang wajah dinginnya yang tak tersentuh, seolah konfrontasi barusan tidak pernah terjadi. Devan melangkah keluar lift, namun sebelum Citra ikut melangkah keluar, Devan menoleh ke arah Citra lewat ujung matanya. "Kita lihat seberapa jauh 'kesalahan' ini bisa membawamu, Citra Larasati. Johan, pastikan dia lolos ke tahap berikutnya. Aku sendiri yang akan menguji kemampuannya."Cup! Devan menempelkan bibirnya di atas bibir Citra. Lalu bergerak perlahan, menyesap dan meraup bibir ranum Citra. Jarinya yang berada di pinggang Citra meremasnya pelan, seiring bertambahnya ritme ciumannya. Citra awalnya diam membeku, hingga akhirnya dia membalas ciuman Devan. Karena sekarang dia pun sepertinya sudah mulai kecanduan dengan tubuh kekar Devan. Suara decapan lidah yang beradu dan suara pendingin ruangan yang menderu memenuhi ruang kamar Devan. Kaki Devan membawa langkahnya menuju ranjang king size tanpa melepas pagutan bibir mereka. Langkahnya pelan namun pasti. Devan merebahkan tubuh ramping Citra, mengurungnya dengan pagar tubuhnya sendiri. Dia menarik diri beberapa sentu, melepas pagutan bibir mereka, membuat benang saliva tercipta di antara bibir mereka. Matanya memandang wajah Citra dengan seksama. Wajah putih bersih, bulu mata panjang, hidung mancung, dan bibir merahnya yang sedikit bengkak, membuat penampilan Citra sangat cantik. "Cantik," gumam
"Apa?" Imelda menyerahkan gaun tidur itu kepadanya. “Kalau begitu, malam ini Mommy pesan cucu perempuan satu, ya.” Devan langsung mendelik. “Mommy!” Imelda tertawa kecil. “Kenapa? Kalian sudah menikah. Wajar kalau Mommy berharap.” “Jangan bicara sembarangan, Mom." tegur Devan pada ibunya. “Memangnya salah?” “Pergilah, Mom. Dipanggil Daddy noh." Devan mengusir halus ibunya. Imelda justru semakin menggoda. “Jangan terlalu lama, ya. Kasihan Citra kalau menunggu.” “Mommy.” “Baik, baik. Mommy pergi.” Namun, sebelum benar-benar berbalik, Imelda sempat menepuk lengan Devan. Imelda tersenyum, lalu berjalan meninggalkan kamar. Devan segera menutup pintu. Setelah pintu tertutup rapat, dia berdiri cukup lama di tempatnya. Tatapannya jatuh pada gaun tidur yang masih berada di tangannya. Pesan cucu perem
Di kamar Devan yang berada di mansion keluarga Baskara, Citra duduk di depan meja rias. Rambutnya yang panjang masih tergerai di punggung. Kedua tangannya memegang liontin kalung pemberian Nenek Devan, sementara tatapannya terus tertuju pada ukiran kepala elang dengan sayap terbuka di tengah perisai kecil itu. Batu safir biru tua yang tertanam di bawahnya memantulkan cahaya lampu kamar. Cantik. Elegan. Dan jelas bukan perhiasan biasa. Citra sedikit memiringkan kepalanya, mencoba memperhatikan setiap detail ukiran tersebut. “Kalung ini benar-benar mahal, ya?” gumamnya. Tanpa sadar, dia kembali menyentuh liontin itu. Perhiasan ini adalah simbol keluarga Baskara. Dan sekarang, benda tersebut berada di lehernya. Citra masih sibuk mengagumi kalung itu ketika suara pintu kamar mandi terbuka terdengar dari belakang. Devan keluar dengan mengen
"Devan, apa yang terjadi?" Devan tetap diam. Dia seolah tidak mendengar suara Nenek. Pikirannya kembali dipenuhi oleh potongan-potongan masa lalu yang tidak diinginkannya. Suara pertengkaran. Pintu yang dibanting. Tangisan. Wajah seseorang yang pernah dia cintai, lalu meninggalkannya dengan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. Dan setelah itu… Kesunyian. Perasaan ditinggalkan. Ketakutan bahwa orang yang berada di sisinya akan pergi tanpa menoleh lagi. Napas Devan semakin berat. Namun, di tengah kekacauan itu, hanya satu sosok yang mampu menariknya kembali. Citra. Aroma tubuh wanita itu. Kehangatan yang terasa nyata. Dan detak jantungnya yang bisa dia rasakan melalui pelukan tersebut. Citra mengangkat kedua tangannya, lalu perlahan mengusap punggung Devan. “Devan, aku di sini,” bisiknya. Tubuh Devan menegang sesaat. “Aku di sini,” ulang Citra, lebih lembut. Devan memejamkan mata. Dia tidak tahu mengapa setiap kali pikirannya mulai diseret kembali ke masa lalu, d
Di dalam kamar Nenek, Citra duduk di sisi ranjang sambil memperhatikan wanita tua yang kini duduk di hadapannya. Nenek tersenyum tipis, menatap dalam Citra."Jadi ini istri Devan.” ucapnya dengan suara lembut khas wanita yang penuh cinta. Citra tersenyum canggung. “Iya, Nek.” Nenek mengangguk pelan. “Entah kenapa Nenek masih sulit percaya kalau Devan akhirnya menikah.” Citra terkekeh kecil. Tangannya saling bertaut di pangkuannya, sedangkan tatapannya sesekali turun, canggung untuk terus menatap Nenek Devan."Memangnya Devan dulu tidak pernah dekat dengan perempuan?” tanyanya. Nenek menggeleng. "Bukan begitu. Devan sejak kecil memang berbeda dari anak-anak lain.” Citra yang semula hanya tersenyum langsung menjadi penasaran saat nenek Devan berkata begitu. “Berbeda bagaimana, Nek?” Nenek terdiam sebentar, seolah sedang memilih kata yang tepat. Takut jika kata-kata yang keluar malah membu
“Kenapa kamu tidak pernah membawa Citra kemari lagi? Apa kau sengaja menyembunyikan Citra dari Nenekmu, karena wanita itu?” Devan yang sejak tadi berdiri dengan kedua tangan di dalam saku celana langsung mengangkat wajah. Tatapannya berubah dingin. “Mommy sedang membicarakan siapa?” Imelda menghela napas. "Jangan berpura-pura tidak tahu.” "Siapa yang berpura-pura, aku memang tidak ta—" “Celine.” Andre–ayah Devan yang sejak tadi duduk di belakang meja kerja akhirnya ikut bersuara. Satu nama itu membuat rahang Devan mengeras. Tatapannya langsung beralih kepada Daddy-nya. Ruangan mendadak terasa jauh lebih sunyi. Devan masih bungkam, tidak berkata sedikitpun, karena nama itu keluar dari mulut Andre, sukses membuat pikirannya kembali melayang ke masalalu. Imelda memperhatikan perubahan wajah putranya. Keterdiamannya cukup menjawab semua pertanyaan yang berlal







