LOGINPintu ruang kerja CEO terbuka. Johan melangkah masuk dengan senyum lebar, membawa dokumen kontrak yang sudah ditandatangani oleh PT Megah Sentosa.
"Pak Devan, kabar luar biasa. PT Megah Sentosa baru saja menandatangani kontrak restrukturisasi senilai sepuluh miliar rupiah. Strategi audit forensik yang diajukan oleh tim Divisi 2 berhasil mutlak. Klien bahkan memuji kecerdasan Citra Larasati yang berani membongkar celah hukum mereka tanpa membuat mereka dituntut pidana." Devan duduk di kursi kebesarannya, menatap dokumen itu. Sisi egonya bangga, namun hatinya menolak memberi muka pada gadis itu. "Gadis itu... benar-benar melakukannya. Dia memenangkan taruhannya." "Benar, Pak. Seluruh divisi sedang merayakan keberhasilan Citra sekarang. Tapi... ada satu hal lagi, Pak." Suara Johan terdengar gugup di akhir kata. Devan menatap asistennya dengan dahi mengerut. "Apa?" "Nyonya Besar baru saja menelepon. Beliau menegaskan bahwa jadwal kencan buta Anda dengan anak pemilik maskapai penerbangan sudah ditetapkan akhir pekan ini. Anda tidak bisa menghindar lagi." Devan memijat pangkal hidungnya, kilas balik trauma masa lalu dengan mantannya dan paksaan orang tuanya membuat dadanya sesak. Sudah berulang kali Devan tegaskan bahwa dirinya akan menikah jika sudah siap menikah. Rasa muak akan paksaan dan segala rencana perjodohan orang tuanya menjalar sampai ke titik pemikiran impulsifnya. Dia menatap nama 'Citra Larasati' di lembar dokumen proyek. Ah benar! Gadis malam itu! "Johan. Panggil Citra ke ruangan saya sekarang. Hanya dia sendiri. Dan pastikan tidak ada yang mengganggu kami," perintah Devan dengan nada otoriter tanpa penjelasan. Johan hanya mengangguk patuh, dan pergi meninggalkan bosnya. Devan sudah memutuskan akan menghentikan semua rencana konyol ibunya lewat Citra. Citra melangkah masuk ke ruangan Devan dengan dagu terangkat. Alih-alih terlihat lelah setelah tiga hari lembur, matanya justru berbinar penuh kemenangan. "Selamat sore, Pak Devan. Saya dengar Anda memanggil saya. Apakah untuk menerima surat pengunduran diri saya, atau untuk mengakui bahwa analisis 'amatir' saya berhasil menghasilkan sepuluh miliar untuk perusahaan Anda?" Nada suara Citra terdengar menantang di telinga Devan. Namun, Devan harus menurunkan egonya untuk hal penting ini. Devan bangkit berdiri, berjalan perlahan mengitari meja kerjanya, lalu bersandaran di depan meja, melipat tangan di dada. "Kau cukup sombong untuk ukuran staf magang, Citra. Tapi harus kuakui, otakmu memang seksi kalau menyangkut angka." Wajah Citra sedikit memerah mendengar kata 'seksi', namun dia tetap tenang. 'Otakku sepertinya terkontaminasi oleh one night stand saat itu,' dewi batin Citra berucap. "Saya ke sini untuk bekerja, Pak. Jika tidak ada urusan pekerjaan lagi, saya permisi." Citra melangkah setelah memberikan gestur hormat pada Devan. "Tunggu. Aku punya penawaran proyek baru untukmu. Dan kali ini, nilainya jauh lebih besar dari sepuluh miliar." Suara Devan menginterupsi. Citra menghentikan langkahnya, berbalik dengan kening berkerut. "Penawaran proyek baru? Kerja sama dengan perusahaan mana, Pak?" Devan tak langsung menjawab, matanya menatap lurus ke mata Citra, suaranya merendah namun tegas. "Menikahlah denganku!" Citra melebarkan kedua matanya karena terkejut. Dirinya seketika mematung. Dia menatap Devan seolah pria di depannya baru saja kehilangan akal sehatnya. "Menikah? Anda pasti sedang bercanda. Kita bahkan saling membenci! Dan jangan lupakan fakta kalau Anda mengintimidasi saya sejak hari pertama!" "Ini murni bisnis, Citra. Orang tuaku memaksaku menikah, dan aku tidak percaya pada apa yang disebut cinta. Aku butuh seorang istri formalitas untuk menghindari perjodohan, dan seorang anak laki-laki sebagai pewaris dalam waktu dua tahun. Setelah kontrak selesai, kita bercerai. Kau bebas, aku bebas." Gila! Pernikahan yang sakral pun bisa Devan manipulasi menjadi bisnis. Citra terkekeh sinis, menyilangkan tangan. "Dan apa untungnya bagiku? Menjadi tawanan pria arogan seperti Anda?" "Sebutkan hargamu." ucap Devan enteng. Mendengar kata 'harga', otak praktis Citra langsung teringat pada ancaman rentenir yang kemarin mengancam keselamatan adiknya di kampung. Dia tahu ini kesempatan emasnya. Hidup itu harus realistis, prinsip bisa berubah jika ada uang. "Lima ratus juta rupiah sebagai uang kompensasi." Devan menganggukkan kepalanya pelan. "Dan Anda harus menjamin perlindungan mutlak untukku dan keluargaku dari teror rentenir. Bersihkan nama almarhum orang tuaku dari semua utang." lanjut Citra. Devan tersenyum meremehkan, menganggap angka itu terlalu kecil. "Hanya lima ratus juta untuk harga dirimu? Terlalu murah. Aku akan memberikan dua miliar rupiah. Setengahnya akan ditransfer ke rekeningmu malam ini sebagai mahar untuk melunasi seluruh utangmu, dan sisanya setelah anak laki-laki itu lahir. Bagaimana?" Citra menelan ludah. Dua miliar rupiah. Angka itu bukan hanya melunasi utang, tapi bisa mengubah seluruh kasta hidupnya dan menjamin masa depan adiknya. Citra menatap Devan dengan tatapan tajam dan penuh tekad. "Hanya dua tahun. Hanya di depan kamera dan keluarga kita bersandiwara. Di luar itu, kita adalah orang asing." Devan mengulurkan tangannya ke depan. "Setuju?"Cup! Devan menempelkan bibirnya di atas bibir Citra. Lalu bergerak perlahan, menyesap dan meraup bibir ranum Citra. Jarinya yang berada di pinggang Citra meremasnya pelan, seiring bertambahnya ritme ciumannya. Citra awalnya diam membeku, hingga akhirnya dia membalas ciuman Devan. Karena sekarang dia pun sepertinya sudah mulai kecanduan dengan tubuh kekar Devan. Suara decapan lidah yang beradu dan suara pendingin ruangan yang menderu memenuhi ruang kamar Devan. Kaki Devan membawa langkahnya menuju ranjang king size tanpa melepas pagutan bibir mereka. Langkahnya pelan namun pasti. Devan merebahkan tubuh ramping Citra, mengurungnya dengan pagar tubuhnya sendiri. Dia menarik diri beberapa sentu, melepas pagutan bibir mereka, membuat benang saliva tercipta di antara bibir mereka. Matanya memandang wajah Citra dengan seksama. Wajah putih bersih, bulu mata panjang, hidung mancung, dan bibir merahnya yang sedikit bengkak, membuat penampilan Citra sangat cantik. "Cantik," gumam
"Apa?" Imelda menyerahkan gaun tidur itu kepadanya. “Kalau begitu, malam ini Mommy pesan cucu perempuan satu, ya.” Devan langsung mendelik. “Mommy!” Imelda tertawa kecil. “Kenapa? Kalian sudah menikah. Wajar kalau Mommy berharap.” “Jangan bicara sembarangan, Mom." tegur Devan pada ibunya. “Memangnya salah?” “Pergilah, Mom. Dipanggil Daddy noh." Devan mengusir halus ibunya. Imelda justru semakin menggoda. “Jangan terlalu lama, ya. Kasihan Citra kalau menunggu.” “Mommy.” “Baik, baik. Mommy pergi.” Namun, sebelum benar-benar berbalik, Imelda sempat menepuk lengan Devan. Imelda tersenyum, lalu berjalan meninggalkan kamar. Devan segera menutup pintu. Setelah pintu tertutup rapat, dia berdiri cukup lama di tempatnya. Tatapannya jatuh pada gaun tidur yang masih berada di tangannya. Pesan cucu perem
Di kamar Devan yang berada di mansion keluarga Baskara, Citra duduk di depan meja rias. Rambutnya yang panjang masih tergerai di punggung. Kedua tangannya memegang liontin kalung pemberian Nenek Devan, sementara tatapannya terus tertuju pada ukiran kepala elang dengan sayap terbuka di tengah perisai kecil itu. Batu safir biru tua yang tertanam di bawahnya memantulkan cahaya lampu kamar. Cantik. Elegan. Dan jelas bukan perhiasan biasa. Citra sedikit memiringkan kepalanya, mencoba memperhatikan setiap detail ukiran tersebut. “Kalung ini benar-benar mahal, ya?” gumamnya. Tanpa sadar, dia kembali menyentuh liontin itu. Perhiasan ini adalah simbol keluarga Baskara. Dan sekarang, benda tersebut berada di lehernya. Citra masih sibuk mengagumi kalung itu ketika suara pintu kamar mandi terbuka terdengar dari belakang. Devan keluar dengan mengen
"Devan, apa yang terjadi?" Devan tetap diam. Dia seolah tidak mendengar suara Nenek. Pikirannya kembali dipenuhi oleh potongan-potongan masa lalu yang tidak diinginkannya. Suara pertengkaran. Pintu yang dibanting. Tangisan. Wajah seseorang yang pernah dia cintai, lalu meninggalkannya dengan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. Dan setelah itu… Kesunyian. Perasaan ditinggalkan. Ketakutan bahwa orang yang berada di sisinya akan pergi tanpa menoleh lagi. Napas Devan semakin berat. Namun, di tengah kekacauan itu, hanya satu sosok yang mampu menariknya kembali. Citra. Aroma tubuh wanita itu. Kehangatan yang terasa nyata. Dan detak jantungnya yang bisa dia rasakan melalui pelukan tersebut. Citra mengangkat kedua tangannya, lalu perlahan mengusap punggung Devan. “Devan, aku di sini,” bisiknya. Tubuh Devan menegang sesaat. “Aku di sini,” ulang Citra, lebih lembut. Devan memejamkan mata. Dia tidak tahu mengapa setiap kali pikirannya mulai diseret kembali ke masa lalu, d
Di dalam kamar Nenek, Citra duduk di sisi ranjang sambil memperhatikan wanita tua yang kini duduk di hadapannya. Nenek tersenyum tipis, menatap dalam Citra."Jadi ini istri Devan.” ucapnya dengan suara lembut khas wanita yang penuh cinta. Citra tersenyum canggung. “Iya, Nek.” Nenek mengangguk pelan. “Entah kenapa Nenek masih sulit percaya kalau Devan akhirnya menikah.” Citra terkekeh kecil. Tangannya saling bertaut di pangkuannya, sedangkan tatapannya sesekali turun, canggung untuk terus menatap Nenek Devan."Memangnya Devan dulu tidak pernah dekat dengan perempuan?” tanyanya. Nenek menggeleng. "Bukan begitu. Devan sejak kecil memang berbeda dari anak-anak lain.” Citra yang semula hanya tersenyum langsung menjadi penasaran saat nenek Devan berkata begitu. “Berbeda bagaimana, Nek?” Nenek terdiam sebentar, seolah sedang memilih kata yang tepat. Takut jika kata-kata yang keluar malah membu
“Kenapa kamu tidak pernah membawa Citra kemari lagi? Apa kau sengaja menyembunyikan Citra dari Nenekmu, karena wanita itu?” Devan yang sejak tadi berdiri dengan kedua tangan di dalam saku celana langsung mengangkat wajah. Tatapannya berubah dingin. “Mommy sedang membicarakan siapa?” Imelda menghela napas. "Jangan berpura-pura tidak tahu.” "Siapa yang berpura-pura, aku memang tidak ta—" “Celine.” Andre–ayah Devan yang sejak tadi duduk di belakang meja kerja akhirnya ikut bersuara. Satu nama itu membuat rahang Devan mengeras. Tatapannya langsung beralih kepada Daddy-nya. Ruangan mendadak terasa jauh lebih sunyi. Devan masih bungkam, tidak berkata sedikitpun, karena nama itu keluar dari mulut Andre, sukses membuat pikirannya kembali melayang ke masalalu. Imelda memperhatikan perubahan wajah putranya. Keterdiamannya cukup menjawab semua pertanyaan yang berlal







