ホーム / Romansa / Rahim Kontrak 2 Milyar / 7. Batas Ego dan Harga Diri

共有

7. Batas Ego dan Harga Diri

作者: Hydragea
last update 公開日: 2026-07-22 17:58:04

Di dalam kamar kostnya yang sempit, Citra duduk di lantai, bersandar pada ranjang tipisnya.

Kamar itu sunyi, hanya menyisakan deru kipas angin tua.

Telapak tangan kanannya masih terasa agak panas—sisa dari hantaman keras yang dia layangkan ke pipi CEO Sovereign beberapa jam yang lalu di akhir jam kerja.

Air matanya menetes pelan dan menutup mulutnya karena isak yang hampir meledak.

"Dia pikir dia siapa? Hanya karena dia kaya, punya kuasa, dan kami pernah melakukan kesalahan terkutuk malam itu, dia pikir dia bisa membeli rahimku? Dua tahun? Anak laki-laki? Dia benar-benar menganggapku tidak lebih dari sekadar barang sewaan!" gumam Citra di sela isak tangisnya.

Citra mengingat kembali kalimat tajam Devan di ruangannya tadi yang memicu tamparannya.

"Kau butuh uang untuk melunasi utang orang tuamu, dan aku butuh ahli waris. Anggap saja ini transaksi yang saling menguntungkan setelah malam itu."

"Lagipula tak akan ada laki-laki yang menginginkan barang bekas, kecuali mereka memiliki nilai. Sedangkan dirimu...?"

Kecuali mereka memiliki nilai. Sedangkan dirimu?

Kalimat Devan itu terus berputar di kepalanya. Menampar harga dirinya di depan dirinya sendiri.

Sebegitu tak berharganya dimata orang lain? Bahkan di mata pria yang mengambil mahkotanya yang berharga.

Citra mencengkeram rambutnya frustrasi, menangis kembali dan bergumam dengan suara tercekat karena isak tangisnya.

"Brengsek! Malam itu adalah kecelakaan! Menamparnya adalah hal paling benar yang kulakukan untuk mempertahankan harga diriku!"

Citra membenamkan wajahnya di antara lututnya yang gemetar. Suara tangisnya pun terdengar memilukan.

Dirinya merasa nasibnya begitu sulit dan melelahkan. Baik secara fisik, batin, harga diri dan finansial-nya selalu dirundung masalah.

Namun, tatapan Citra beralih pada layar ponselnya yang menyala di lantai. Sebuah pesan teks baru saja masuk dari nomor rentenir yang menerornya:

[ Besok adalah batas akhir. Kalau uang 50 juta tidak masuk, kami tidak menjamin keselamatan adikmu yang di kampung. ]

Citra melempar ponsel miliknya ke samping kasur. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya bergetar hebat.

"Aku harus meminta bantuan siapa?" gumamnya.

Dalam keputusasaannya terlintas wajah dingin Devan.

"Ya Tuhan... apa yang harus kulakukan? Pasti egonya terluka karena kutampar. Tapi jika aku tidak menerima uangnya, rentenir-rentenir gila itu akan menghancurkan adikku."

Sekarang Citra merasakan dirinya berada diambang harga diri dan keselamatan adiknya.

Haruskah dia menerima penawaran Devan?

Citra menggelengkan kepalanya, "Tidak. Aku tak ingin bergantung pada siapapun."

Mungkin karena kelelahan dirinya pun tertidur. Sebelum tertidur, dirinya mencoba berfikir positif dan tak akan terjadi apapun dengan adiknya.

Atau mungkin tak akan terjadi apapun dengannya karena tindakan impulsifnya terhadap Devan.

Dirinya akan bekerja di Sovereign dengan giat, agar cepat membungkam rentenir yang meneror dirinya. Dan membuktikan pada Devan bahwa dirinya bisa menyelesaikan itu semua tanpa bantuan dari dirinya.

Setidaknya itu yang Citra harapkan.

*****

Keesokan paginya di kantor Sovereign. Pintu ruang kerja CEO terkunci rapat dari dalam. Tidak ada yang berani mendekat karena aura dingin yang memancar dari ruangan itu sejak pagi buta.

Di dalam ruangan, Devan berdiri menghadap dinding kaca besar, mencengkeram cangkir kopi dengan rahang mengeras.

Matanya memerah menahan amarah, menatap pantulan dirinya di kaca.

"Berani-beraninya dia... Berani-beraninya gadis miskin itu menampar wajahku!"

Devan berjalan cepat ke arah meja kerjanya, meletakan cangkir kopinya dengan keras dan menendang kursi eksekutifnya hingga bergeser jauh.

Amarahnya meledak mengingat penolakan mentah-mentah dari Citra kemarin.

"Aku menawarkan jalan keluar yang bergelimang harta untuk hidupnya yang menyedihkan! Dua miliar! Aku bahkan menjamin perlindungan dari rentenir yang mencekik lehernya! Dan dia bertingkah seolah aku baru saja menodainya?!" Suara Devan menggelegar di dalam ruangan mewah miliknya.

Devan mencengkeram tepi meja kerjanya dengan kuat hingga urat-urat di tangannya menyembul.

"Kita sudah melakukan one night stand! Tubuhnya sudah mengenalku! Apa lagi yang harus dia pertahankan? Di dunia nyata ini, harga diri tidak akan bisa melunasi utang atau menyelamatkan hidupnya! Dia hanya sok jual mahal di depanku!" ucapnya seraya menyapu apapun yang berada di merja kerjanya.

Devan tak mengerti, haruskah Citra masih memikirkan harga diri disaat dia sendiri sudah mengangkat pantat di depannya?

Namun, tak bisa dipungkiri bahwa reaksi tubuhnya kembali saat bersama Citra.

Devan perlahan mengatur napasnya yang memburu, mencoba mengembalikan kontrol dirinya.

Dia berjalan ke arah pintu tersembunyi di ruangannya, melihat ke arah layar monitor CCTV kecil yang menampilkan area koridor luar.

Tidak ada orang lain yang tahu tentang rahasia ini, dan dia memastikan keributan kemarin tidak bocor keluar.

Devan tersenyum sinis, penuh intrik yang dingin.

"Kau sengaja tidak mengajukan surat pengunduran diri hari ini, Citra. Artinya kau tahu, kau tidak punya pilihan lain selain tetap bekerja di sini. Kau sedang bertarung dengan idealismemu yang tidak berguna itu."

Devan kembali duduk di kursi kerjanya, menyilangkan kaki, dan menatap dokumen kontrak pernikahan yang masih bersih belum ditandatangani di atas mejanya.

"Mari kita lihat seberapa lama 'harga diri' yang kau agungkan itu bisa bertahan di bawah tekanan utangmu. Kau yang menamparku, maka kau juga yang harus merangkak ke ruangan ini untuk memohon padaku agar aku sudi menandatangani kontrak ini."

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Rahim Kontrak 2 Milyar   69. Malam Panas Bersama Devan

    Cup! Devan menempelkan bibirnya di atas bibir Citra. Lalu bergerak perlahan, menyesap dan meraup bibir ranum Citra. Jarinya yang berada di pinggang Citra meremasnya pelan, seiring bertambahnya ritme ciumannya. Citra awalnya diam membeku, hingga akhirnya dia membalas ciuman Devan. Karena sekarang dia pun sepertinya sudah mulai kecanduan dengan tubuh kekar Devan. Suara decapan lidah yang beradu dan suara pendingin ruangan yang menderu memenuhi ruang kamar Devan. Kaki Devan membawa langkahnya menuju ranjang king size tanpa melepas pagutan bibir mereka. Langkahnya pelan namun pasti. Devan merebahkan tubuh ramping Citra, mengurungnya dengan pagar tubuhnya sendiri. Dia menarik diri beberapa sentu, melepas pagutan bibir mereka, membuat benang saliva tercipta di antara bibir mereka. Matanya memandang wajah Citra dengan seksama. Wajah putih bersih, bulu mata panjang, hidung mancung, dan bibir merahnya yang sedikit bengkak, membuat penampilan Citra sangat cantik. "Cantik," gumam

  • Rahim Kontrak 2 Milyar   68. Penampilan Yang Menggoda

    "Apa?" Imelda menyerahkan gaun tidur itu kepadanya. “Kalau begitu, malam ini Mommy pesan cucu perempuan satu, ya.” Devan langsung mendelik. “Mommy!” Imelda tertawa kecil. “Kenapa? Kalian sudah menikah. Wajar kalau Mommy berharap.” “Jangan bicara sembarangan, Mom." tegur Devan pada ibunya. “Memangnya salah?” “Pergilah, Mom. Dipanggil Daddy noh." Devan mengusir halus ibunya. Imelda justru semakin menggoda. “Jangan terlalu lama, ya. Kasihan Citra kalau menunggu.” “Mommy.” “Baik, baik. Mommy pergi.” Namun, sebelum benar-benar berbalik, Imelda sempat menepuk lengan Devan. Imelda tersenyum, lalu berjalan meninggalkan kamar. Devan segera menutup pintu. Setelah pintu tertutup rapat, dia berdiri cukup lama di tempatnya. Tatapannya jatuh pada gaun tidur yang masih berada di tangannya. Pesan cucu perem

  • Rahim Kontrak 2 Milyar   67. Godaan Imelda

    Di kamar Devan yang berada di mansion keluarga Baskara, Citra duduk di depan meja rias. Rambutnya yang panjang masih tergerai di punggung. Kedua tangannya memegang liontin kalung pemberian Nenek Devan, sementara tatapannya terus tertuju pada ukiran kepala elang dengan sayap terbuka di tengah perisai kecil itu. Batu safir biru tua yang tertanam di bawahnya memantulkan cahaya lampu kamar. Cantik. Elegan. Dan jelas bukan perhiasan biasa. Citra sedikit memiringkan kepalanya, mencoba memperhatikan setiap detail ukiran tersebut. “Kalung ini benar-benar mahal, ya?” gumamnya. Tanpa sadar, dia kembali menyentuh liontin itu. Perhiasan ini adalah simbol keluarga Baskara. Dan sekarang, benda tersebut berada di lehernya. Citra masih sibuk mengagumi kalung itu ketika suara pintu kamar mandi terbuka terdengar dari belakang. Devan keluar dengan mengen

  • Rahim Kontrak 2 Milyar   66. Simbol Keluarga Baskara

    "Devan, apa yang terjadi?" Devan tetap diam. Dia seolah tidak mendengar suara Nenek. Pikirannya kembali dipenuhi oleh potongan-potongan masa lalu yang tidak diinginkannya. Suara pertengkaran. Pintu yang dibanting. Tangisan. Wajah seseorang yang pernah dia cintai, lalu meninggalkannya dengan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. Dan setelah itu… Kesunyian. Perasaan ditinggalkan. Ketakutan bahwa orang yang berada di sisinya akan pergi tanpa menoleh lagi. Napas Devan semakin berat. Namun, di tengah kekacauan itu, hanya satu sosok yang mampu menariknya kembali. Citra. Aroma tubuh wanita itu. Kehangatan yang terasa nyata. Dan detak jantungnya yang bisa dia rasakan melalui pelukan tersebut. Citra mengangkat kedua tangannya, lalu perlahan mengusap punggung Devan. “Devan, aku di sini,” bisiknya. Tubuh Devan menegang sesaat. “Aku di sini,” ulang Citra, lebih lembut. Devan memejamkan mata. Dia tidak tahu mengapa setiap kali pikirannya mulai diseret kembali ke masa lalu, d

  • Rahim Kontrak 2 Milyar   65. Masa Kecil Devan

    Di dalam kamar Nenek, Citra duduk di sisi ranjang sambil memperhatikan wanita tua yang kini duduk di hadapannya. Nenek tersenyum tipis, menatap dalam Citra."Jadi ini istri Devan.” ucapnya dengan suara lembut khas wanita yang penuh cinta. Citra tersenyum canggung. “Iya, Nek.” Nenek mengangguk pelan. “Entah kenapa Nenek masih sulit percaya kalau Devan akhirnya menikah.” Citra terkekeh kecil. Tangannya saling bertaut di pangkuannya, sedangkan tatapannya sesekali turun, canggung untuk terus menatap Nenek Devan."Memangnya Devan dulu tidak pernah dekat dengan perempuan?” tanyanya. Nenek menggeleng. "Bukan begitu. Devan sejak kecil memang berbeda dari anak-anak lain.” Citra yang semula hanya tersenyum langsung menjadi penasaran saat nenek Devan berkata begitu. “Berbeda bagaimana, Nek?” Nenek terdiam sebentar, seolah sedang memilih kata yang tepat. Takut jika kata-kata yang keluar malah membu

  • Rahim Kontrak 2 Milyar   64. Ruang Kerja Andre

    “Kenapa kamu tidak pernah membawa Citra kemari lagi? Apa kau sengaja menyembunyikan Citra dari Nenekmu, karena wanita itu?” Devan yang sejak tadi berdiri dengan kedua tangan di dalam saku celana langsung mengangkat wajah. Tatapannya berubah dingin. “Mommy sedang membicarakan siapa?” Imelda menghela napas. "Jangan berpura-pura tidak tahu.” "Siapa yang berpura-pura, aku memang tidak ta—" “Celine.” Andre–ayah Devan yang sejak tadi duduk di belakang meja kerja akhirnya ikut bersuara. Satu nama itu membuat rahang Devan mengeras. Tatapannya langsung beralih kepada Daddy-nya. Ruangan mendadak terasa jauh lebih sunyi. Devan masih bungkam, tidak berkata sedikitpun, karena nama itu keluar dari mulut Andre, sukses membuat pikirannya kembali melayang ke masalalu. Imelda memperhatikan perubahan wajah putranya. Keterdiamannya cukup menjawab semua pertanyaan yang berlal

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status