MasukDi dalam kamar kostnya yang sempit, Citra duduk di lantai, bersandar pada ranjang tipisnya.
Kamar itu sunyi, hanya menyisakan deru kipas angin tua. Telapak tangan kanannya masih terasa agak panas—sisa dari hantaman keras yang dia layangkan ke pipi CEO Sovereign beberapa jam yang lalu di akhir jam kerja. Air matanya menetes pelan dan menutup mulutnya karena isak yang hampir meledak. "Dia pikir dia siapa? Hanya karena dia kaya, punya kuasa, dan kami pernah melakukan kesalahan terkutuk malam itu, dia pikir dia bisa membeli rahimku? Dua tahun? Anak laki-laki? Dia benar-benar menganggapku tidak lebih dari sekadar barang sewaan!" gumam Citra di sela isak tangisnya. Citra mengingat kembali kalimat tajam Devan di ruangannya tadi yang memicu tamparannya. "Kau butuh uang untuk melunasi utang orang tuamu, dan aku butuh ahli waris. Anggap saja ini transaksi yang saling menguntungkan setelah malam itu." "Lagipula tak akan ada laki-laki yang menginginkan barang bekas, kecuali mereka memiliki nilai. Sedangkan dirimu...?" Kecuali mereka memiliki nilai. Sedangkan dirimu? Kalimat Devan itu terus berputar di kepalanya. Menampar harga dirinya di depan dirinya sendiri. Sebegitu tak berharganya dimata orang lain? Bahkan di mata pria yang mengambil mahkotanya yang berharga. Citra mencengkeram rambutnya frustrasi, menangis kembali dan bergumam dengan suara tercekat karena isak tangisnya. "Brengsek! Malam itu adalah kecelakaan! Menamparnya adalah hal paling benar yang kulakukan untuk mempertahankan harga diriku!" Citra membenamkan wajahnya di antara lututnya yang gemetar. Suara tangisnya pun terdengar memilukan. Dirinya merasa nasibnya begitu sulit dan melelahkan. Baik secara fisik, batin, harga diri dan finansial-nya selalu dirundung masalah. Namun, tatapan Citra beralih pada layar ponselnya yang menyala di lantai. Sebuah pesan teks baru saja masuk dari nomor rentenir yang menerornya: [ Besok adalah batas akhir. Kalau uang 50 juta tidak masuk, kami tidak menjamin keselamatan adikmu yang di kampung. ] Citra melempar ponsel miliknya ke samping kasur. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya bergetar hebat. "Aku harus meminta bantuan siapa?" gumamnya. Dalam keputusasaannya terlintas wajah dingin Devan. "Ya Tuhan... apa yang harus kulakukan? Pasti egonya terluka karena kutampar. Tapi jika aku tidak menerima uangnya, rentenir-rentenir gila itu akan menghancurkan adikku." Sekarang Citra merasakan dirinya berada diambang harga diri dan keselamatan adiknya. Haruskah dia menerima penawaran Devan? Citra menggelengkan kepalanya, "Tidak. Aku tak ingin bergantung pada siapapun." Mungkin karena kelelahan dirinya pun tertidur. Sebelum tertidur, dirinya mencoba berfikir positif dan tak akan terjadi apapun dengan adiknya. Atau mungkin tak akan terjadi apapun dengannya karena tindakan impulsifnya terhadap Devan. Dirinya akan bekerja di Sovereign dengan giat, agar cepat membungkam rentenir yang meneror dirinya. Dan membuktikan pada Devan bahwa dirinya bisa menyelesaikan itu semua tanpa bantuan dari dirinya. Setidaknya itu yang Citra harapkan. ***** Keesokan paginya di kantor Sovereign. Pintu ruang kerja CEO terkunci rapat dari dalam. Tidak ada yang berani mendekat karena aura dingin yang memancar dari ruangan itu sejak pagi buta. Di dalam ruangan, Devan berdiri menghadap dinding kaca besar, mencengkeram cangkir kopi dengan rahang mengeras. Matanya memerah menahan amarah, menatap pantulan dirinya di kaca. "Berani-beraninya dia... Berani-beraninya gadis miskin itu menampar wajahku!" Devan berjalan cepat ke arah meja kerjanya, meletakan cangkir kopinya dengan keras dan menendang kursi eksekutifnya hingga bergeser jauh. Amarahnya meledak mengingat penolakan mentah-mentah dari Citra kemarin. "Aku menawarkan jalan keluar yang bergelimang harta untuk hidupnya yang menyedihkan! Dua miliar! Aku bahkan menjamin perlindungan dari rentenir yang mencekik lehernya! Dan dia bertingkah seolah aku baru saja menodainya?!" Suara Devan menggelegar di dalam ruangan mewah miliknya. Devan mencengkeram tepi meja kerjanya dengan kuat hingga urat-urat di tangannya menyembul. "Kita sudah melakukan one night stand! Tubuhnya sudah mengenalku! Apa lagi yang harus dia pertahankan? Di dunia nyata ini, harga diri tidak akan bisa melunasi utang atau menyelamatkan hidupnya! Dia hanya sok jual mahal di depanku!" ucapnya seraya menyapu apapun yang berada di merja kerjanya. Devan tak mengerti, haruskah Citra masih memikirkan harga diri disaat dia sendiri sudah mengangkat pantat di depannya? Namun, tak bisa dipungkiri bahwa reaksi tubuhnya kembali saat bersama Citra. Devan perlahan mengatur napasnya yang memburu, mencoba mengembalikan kontrol dirinya. Dia berjalan ke arah pintu tersembunyi di ruangannya, melihat ke arah layar monitor CCTV kecil yang menampilkan area koridor luar. Tidak ada orang lain yang tahu tentang rahasia ini, dan dia memastikan keributan kemarin tidak bocor keluar. Devan tersenyum sinis, penuh intrik yang dingin. "Kau sengaja tidak mengajukan surat pengunduran diri hari ini, Citra. Artinya kau tahu, kau tidak punya pilihan lain selain tetap bekerja di sini. Kau sedang bertarung dengan idealismemu yang tidak berguna itu." Devan kembali duduk di kursi kerjanya, menyilangkan kaki, dan menatap dokumen kontrak pernikahan yang masih bersih belum ditandatangani di atas mejanya. "Mari kita lihat seberapa lama 'harga diri' yang kau agungkan itu bisa bertahan di bawah tekanan utangmu. Kau yang menamparku, maka kau juga yang harus merangkak ke ruangan ini untuk memohon padaku agar aku sudi menandatangani kontrak ini.""Citra, bagaimana tidurmu malam ini?" Suara lembut dan hangat masuk ke indera pendengaran Citra. Citra yang baru saja duduk di meja makan pun menoleh ke pemilik suara itu. Ibu mertuanya — Imelda. "Cukup nyenyak, Mom," ucap Citra, sambil tersenyum manis. "Syukurlah, Nak." balas Imelda sambil mengoleskan selai coklat ke atas roti lalu menaruhnya di piring Citra. "Makanlah Citra." Citra melebarkan matanya, "Astaga Mom... Terimakasih." Imelda hanya mengangguk ringan sebagai jawabannya. Dan kembali memakan sarapannya. Citra pun memakannya. Matanya mengedarkan pandangannya, di meja makan hanya ada ibu dan ayah mertuanya saja. Andre melihat Citra menoleh kesana kemari berkata dengan suara tegas sekaligus hangat. "Devan sudah pergi 30 menit yang lalu.
Citra berdiri kaku di dekat pintu kamar mandi, jemarinya meremas ujung gaun tidur sutra marunnya. Tatapan lapar Devan yang menggelap membuat atmosfer kamar terasa begitu sesak. Hening. "Kemari, Citra." Suara Devan berat dan serak, memecah keheningan. Citra melangkah ragu-ragu mendekati ranjang king size. "Aku... aku bingung harus bagaimana. Kita... kita kan hanya kontrak, Devan," jawab Citra dengan suara yang bergetar halus. Devan bangkit berdiri, memangkas jarak di antara mereka, lalu menangkup wajah polos Citra yang bersih dari riasan. Ibu jarinya mengusap bibir ranum Citra. "Kontrak itu mewajibkanmu melahirkan anak laki-laki untukku dalam dua tahun. Dan malam ini... aku datang untuk menagih hak mutlakku yang sempat tertunda kemarin
"Sebenarnya Mommy ingin kamu dan Devan tinggal di sini selama beberapa hari lagi," ucap Imelda saat berjalan menaiki tangga lantai dua. Di sampingnya Citra menoleh pelan, binggung ingin membalas ucapan Ibu Devan bagaimana. "Tapi mau bagaimana lagi, Devan ingin tinggal sendiri. Sepertinya dia memang ingin belajar membina rumah tangga yang baik," lanjut Imelda. "Maaf, Mom. Saat Devan sudah membuat keputusan, akan sulit untuk diperdebatkan. Bukan begitu kan, Mom?" Suara Citra penuh penyesalan. Saat hampir selesai makan malam tadi, Imelda memberi saran agar Devan dan Citra tinggal saja di mansion, akan tetapi Devan menolak. Alasannya karena Devan ingin tinggal berdua dengan Citra saja. Setelah mengatakan itu, Devan langsung beranjak pergi ke kamarnya, karena ada pekerjaan mendadak. Meninggalkan Citra di kemewahan meja makan sendiri. Imelda dan Andre terus meneman
"Bersikaplah layaknya pasangan yang saling mencintai. Paham, Citra?" Mendengar perkataan Devan, Citra mengangguk patuh. Dirinya menghembuskan nafas panjang guna menetralkan detak jantungnya yang berpacu liar — gugup. Karena ini adalah pertama kalinya dia akan berhadapan langsung dengan orang tua pria yang kini sah menjadi suaminya. Pintu ganda mansion terbuka. Devan melangkah masuk sambil menggandeng tangan Citra secara formal. Citra kini mengenakan gaun malam kasual berwarna pastel yang anggun, rambutnya disanggul cantik, dengan beberapa helai menjuntai di samping wajahnya yang dirias tipis. Begitu mereka masuk, seorang wanita paruh baya berwajah lembut namun sangat berkelas sedang berdiri dengan senyum lebar yang tulus. Imelda — Ibu Devan. Imelda berjalan cepat menghampiri Citra, langsung memegang kedua tangan Citra dengan hangat. ""Oh, Tuhan... Devan tidak berbohong. Kau benar-benar cantik sekali, Citra. Wajahmu sangat teduh." Citra tersenyum canggung, dia sediki
"D-Devan... Apa-apaan ini?!" Citra membalikkan layar ponselnya ke hadapan Devan. Di sana terpampang foto pemberkatan mereka yang baru saja diambil beberapa menit lalu, lengkap dengan rilis pers resmi dari humas Sovereign Tax and Audit. [ BREAKING NEWS: Devan Baskara, Pendiri & CEO Sovereign Tax and Audit, Resmi Menikahi Citra Larasati Pagi Ini ] Citra berdiri dari kursi dengan tubuh gemetar karena marah. "Kau gila?! Kenapa kau mengumumkannya ke media?! Perjanjian kita ini kontrak dua tahun! Ekspektasiku ini akan menjadi pernikahan rahasia yang tidak diketahui siapa pun!" Suaranya meninggi. Devan tetap duduk dengan tenang di sofanya, menyilangkan kaki, lalu menatap Citra dengan tatapan mata elang yang dingin namun penuh kepemilikan mutlak. "Aku tidak pernah berjanji untuk merahasiakan pernikahan ini, Citra," Devan menjawab enteng.
"Kenapa?" tanya Citra dengan tatapan sayu. Devan tersenyum sinis, menatap Citra dengan tatapan lapar yang tertahan. "Kenapa?" ulangnya. "Bisakah aku menganggap pertanyaanmu itu, karena kau menginginkan sesuatu yang lebih dariku?" Citra tersadar, kenapa dirinya malah menanyakan alasannya? "Bu-bukan seperti itu, aku hanya mengira kau sedang mempermainkanku! Walaupun aku hanya istri kontrak, tapi aku tak suka diduakan dan tak suka dikhianati!" Penjelasan Citra justru membuat Devan bungkam. Sekelebat ingatan masalalu terlintas, kejadian yang tak ingin Devan ingat dan Devan benci seumur hidupnya. "Aku tak berniat menduakan, karena aku tak percaya akan adanya cinta!" ucapnya dengan suara dingin. "Aku tak melanjutkannya karena ingin menikmatimu secara utuh tanpa terburu-buru. Aku akan menagih hak mutlakku atas tubuhmu ini... saat malam pengantin kita nanti," lanjutnya. Citra ber-oh ria. Dia hanya mengangguk patuh. "Kalau begitu, aku pergi dulu." "Tak perlu, kau bisa istir







