Share

Bab 4. Kehilangan

Semua perkataan dokter Reno tidak ia percayai begitu saja. Jihan menganggapnya hanya angin belaka. Kenapa juga sang dokter harus mengatakan hal terburuk yang akan terjadi pada sang ibu. Seharusnya dia tidak mendahului takdir yang belum tentu terjadi.

Masih ada Tuhannya yang akan mengabulkan doanya. Memberikan hadiah terbaik untuk ibunya yang telah berjuang melawan penyakitnya yang sudah dideritanya sejak lama.

"Jihan."

"Iya." Jihan mengangkat wajahnya dan menatap dokter itu.

"Kamu mendengar apa yang saya katakan, kan?"

"Iya, dok. Jihan mendengar semuanya dengan jelas," jawab Jihan seraya tersenyum tipis. Ia bahkan mendengarkan dengan jelas setiap kalimat yang terlontar dari bibir dokter itu dengan pikiran yang sulit terlukiskan oleh kata-kata.

"Jihan." Dokter itu diam sesaat. Matanya menatap lekat Jihan. Jihan paham jika beban dokter Reno sangatlah besar.

Percayalah, Jihan juga takut jika ini terjadi. Tapi mau bagaimana lagi, jika tidak dioperasi, ibunya akan terus merasakan kesakitan akibat penyakitnya itu. Dan Jihan tidak tega harus melihat ibunya kesakitan terus menerus.

"Kami akan melakukan yang terbaik untuk ibumu. Tapi dengan berat hati saya harus sampaikan hal ini," sambungnya lagi dengan suara pelan.

Jihan mendongak dan membalas tatapan dokter Reno.

"Iya, Dok. Jihan mengerti."

"Ok kalau begitu," dokter Fahri melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Saya akan memulai operasinya 5 menit lagi. Doakan semoga operasinya berjalan lancar dan ibumu kembali sehat seperti semula. Tentu kita tahu bahwa tidak akan ada yang bisa mengalahkan kedahsyatan sebuah doa yang sungguh-sungguh. Apalagi doa anak sholehah sepertimu." tukas Dokter Reno sambil tersenyum. Tangannya pun mengusap puncak kepala Jihan seperti adiknya sendiri.

"Iya, Dok," jawab Jihan dengan suara bergetar. Haru dan sedih menjadi satu. Apalagi dia hanya sendirian disini. Yudha yang seharusnya menemaninya saat ini malah pergi ke luar kota.

Jihan tahu siapa yang bisa mendengarkan keluh kesahnya saat ini. Siapa yang akan menjadi tempat bercurah dan memohon keajaiban untuk ibunya. Jihan tidak ingin menunggu dengan sia-sia. Jihan ingin mengeluarkan semua kesedihannya pada Tuhannya.

Jihan berdoa di mushola rumah sakit selama menunggu proses operasi ibunya. Dia juga melafalkan Alquran untuk menghilangkan kegundahan hatinya. Jihan bersujud meminta bantuan pada Tuhannya. Kali ini dalam sholatnya ia tidak meminta apapun, tapi meminta keajaiban untuk ibunya. Dan hanya penciptanyalah yang bisa menolongnya saat ini.

Sampai sore tiba, Jihan masih berada di sana. Dan apapun hasilnya Jihan akan menerimanya. Karena ia yakin jika itu adalah takdir yang telah digariskan dan mungkin itulah yang terbaik untuk semuanya.

Ia juga tidak bisa memaksakan kehendaknya pada sang penciptanya. Karena sang penciptanya tahu apa yang dibutuhkannya, bukan yang diinginkannya.

Setelah puas menumpahkan segala keluhnya, Kinan memutuskan untuk kembali ke ruang operasi ibunya. Ia ingin segera mengetahui hasil operasi ibunya. Dan semoga semuanya baik-baik saja.

Semakin Jihan melangkah, semakin jantungnya berdetak lebih kencang. Apalagi melihat beberapa suster yang terlihat sedang sibuk. Sampai mata Jihan melihat dokter Reno yang berdiri menatapnya dengan tatapan sendu.

Jihan berusaha membuang pikiran buruk tentang ibunya. Ia percaya jika ibunya akan baik-baik saja dan bisa kembali sembuh seperti sedia kala.

Dokter Reno berdiri menatapnya, kemudian mendekat saat Jihan telah berhenti di depannya.

"Jihan, maaf. Saya sudah melakukan yang terbaik, tapi_"

Bagai tersambar petir rasanya.

"Tidak mungkin, Dok?" Jihan masih berusaha menyangkalnya. Ia yakin jika ini hanya prank semata. Tidak mungkin ibunya meninggalkannya begitu cepat.

"Maaf, Jihan. Saya sudah melakukan yang terbaik, tapi Tuhan berkehendak lain. Dia mempunyai rencana untuk kehidupanmu selanjutnya, jadi ikhlaskan semuanya, Jihan. Ini yang terbaik," ucap dokter itu dengan suara berat.

Jihan tidak bisa mengendalikan perasaannya saat ini. Dia masih berusaha menyangkal dan merangsek masuk ke dalam ruangannya. Tapi dengan sigap dokter Reno menahannya karena suster di dalam sedang melepas semua alat yang tertempel pada tubuh ibu Jihan.

"Dokter, Jihan ingin bertemu dengan ibu, Dok. Biarkan Jihan masuk!!" teriak Jihan yang sudah mulai kehilangan kontrol dalam kesadarannya.

"Sabar, Jihan. Kamu tunggu sebentar." Dokter Reno sudah mulai kewalahan menghadapi kebrutalan Jihan. Ia sangat memaklumi apa yang dilakukan Jihan sekarang. Pasti gadis itu sangat terpukul karena kehilangan sandaran dalam hidupnya.

"Dokter, Jihan mau ibu. Jihan mau ikut ibu sekarang!!" Jihan mulai lost control. Berusaha berontak dan memukul segalanya. Hingga akhirnya tubuh Jihan terasa melemah dan tak lama kemudian ambruk dalam pelukan dokter Reno yang dengan sigap menangkapnya.

***

Jika Tuhan menyayangi hambanya, kenapa Jihan sampai saat ini masih hidup? Kenapa dia tidak meninggal saja untuk berkumpul bersama ibu dan adiknya yang meninggalkannya terlebih dahulu.

Kini siapa yang akan mendengar keluh kesahnya sepanjang hari? Tangisannya? Siapa yang akan menghapus air matanya jika semua orang yang menyayanginya dengan tega meninggalkannya begitu saja. Sendirian tanpa sandaran.

Dokter Reno memeluk Jihan yang nampak terpukul itu, "Kamu yang sabar, Jihan. Ini yang terbaik untuk ibumu. Ibumu sudah sembuh. Beliau tidak sakit lagi."

Jihan menangis, meraung dalam pelukan dokter Reno. "Ibu!! Jangan tinggalin Jihan, Bu!! Ibu nggak boleh ninggalin Jihan. Ibu harus hidup bersama Jihan, Bu!!!" Teriaknya histeris.

Wajar saja Jihan seperti itu, karena selama ini hanya ibunya yang dia punya. Dan sekarang ibunya telah tiada, lalu dengan siapa dia akan hidup sekarang?

Sedangkan Yudha sama sekali belum pernah menanyakan keadaannya sejak pria itu meninggalkannya.

Jihan masuk ke dalam ruangan sang ibu dengan di papah dokter Reno. Dengan perlahan dia membuka kain penutup yang menutupi wajah ibunya.

"Ibu!!!! Jangan tinggalin Jihan, Bu. Jihan hidup sama siapa jika ibu ninggalin Jihan sendiri. Bangun Bu, bangun!!!" Pecah sudah air mata yang sedari dia tahan ketika akan melihat jenazah sang ibu.

Jihan mengeluarkan semua emosinya ketika berada di hadapan jenazah sang ibu. Agar Ibunya tau jika Jihan sangat kehilangan dirinya.

Dia terus menangis seraya memeluk jenazah sang Ibu yang nampak tersenyum cantik itu. Dia berharap ini hanya mimpi, dan ketika dia membuka mata dia melihat ibunya tersenyum indah menatap dirinya.

Namun itu hanya angan semata, ibunya tetap terpejam kala dia membuka matanya. Dan saat itulah kesadarannya mulai pulih jika ibunya telah tiada.

***

Jihan memandang gundukan tanah merah itu dengan tatapan kosong. Dia masih berat dan tak percaya dengan apa yang menimpanya kini. Ingin sekali dia ikut terkubur dengan sang ibu, agar dia tak menjalani hidup sendiri dan menjadi sebatang kara di dunia ini.

Dia lebih memilih mati bersama sang ibu, dari pada harus hidup tanpa wanita yang selalu membuatnya kuat dalam menjalani liku-liku hidup di dunia ini. Wanita yang selalu memberinya semangat kala rasa lelah menerpa hidupnya.

Dia sakit, dia sedih bahkan terpuruk ketika sang ibu meninggalkannya. Semangat hidupnya pun ikut terkubur dengan jenazah yang sudah di timbun dengan tanah itu.

"Ibu, Jihan sama siapa, Bu? Kenapa Ibu tega ninggalin Jihan? Jihan mau ikut saja denganmu, Bu. Jihan nggak mau sendirian, Bu." Tangis pilu Jihan dengan memeluk gundukan tanah itu.

Dia tak memperdulikan pakaiannya yang kotor dan basah. Karena yang dia butuhkan sekarang adalah pelukan hangat sang Ibu kembali dia rasakan. Jika bisa, dia ingin sang Ibu bisa hidup kembali, dan berharap sang Ibu hanya mati suri.

Dia memejamkan matanya dan menikmati kesendiriannya. Dia tak ingin ditemani siapapun, karena dia hanya ingin bersama ibunya.

Hingga sebuah tangan memegang pundaknya, mengelusnya pelan seolah memberi kekuatan.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status