Home / Fantasi / Raja Dunia Bela Diri! / BAB 13 : Paman Hei!

Share

BAB 13 : Paman Hei!

Author: Efrianto H.
last update Petsa ng paglalathala: 2025-11-19 01:55:34

Lin Tian tersenyum kecil dan menoleh. Sosok Lin Yao berdiri di sana, cantik, halus, dengan alis bulan sabit dan mata yang tersenyum. Ia, bersama Jing Qiuxue, adalah salah satu dari empat gadis tercantik di Kota Tianyong.

Lin Tian bercanda, “Kalau aku benar-benar gila kecantikan, pasti aku sudah mengejarmu setiap hari, Kak Yao.”

Lin Yao memutar mata. “Berhenti bercanda. Kau membuat ayah dan guruku bertengkar. Kau kira mudah masuk akademi nanti? Lalu bagaimana kau bertanggung jawab?”

Lin Tian mengeluarkan meteor bintang dan menyerahkannya.

“Ini batu meteorit bintang dari Lapisan Kedua. Pakai saja untuk kultivasi.”

Lin Yao mematung, lalu mendesah lembut.

“Setiap kali ayah memberi batu meteorit, kau selalu menyelipkannya padaku. Sekarang aku sudah di Alam Meridian Roda… seharusnya aku yang memberi padamu.”

Ia menatap Lin Tian lama. Sejak kecil, dialah yang selalu dibantu pemuda itu. Ia tahu semua alasannya, karena Lin Chuan menyayanginya, Lin Tian ingin ia menjadi yang terkuat.

Lin Tian tersenyum. “Kalau begitu, kali ini biarkan aku memakainya. Tinggal dua hari, aku harus mempercepat kultivasi.”

Lin Yao menunduk. “Kau anak baik. Nanti, kalau sudah di Ibu Kota Chu, aku kenalkan gadis-gadis yang lebih baik. Jangan pedulikan keluarga Jing itu.”

Lin Tian tahu Kak Yao sedang menenangkan hatinya. Sebagai balasan, ia jongkok tiba-tiba.

Lin Yao kaget. “Hei… apa yang kau…”

“Naik.” Lin Tian tersenyum lebar.

Wajah Lin Yao memerah. “Pergi!”

“Waktu kecil kau selalu naik ke punggungku setiap hari. Sekarang sudah besar dan cantik, tiba-tiba jadi malu?”

Lin Yao memukul pundaknya kecil-kecil, tapi akhirnya naik juga dengan wajah memerah.

Lin Tian mengangkatnya dengan mudah.

“Hahaha… Kak Yao sekarang sudah makin berat.”

“Diam kau!” Lin Yao mencubit telinganya.

Mereka tertawa sepanjang jalan menuju halaman timur.

Di halaman, ibu Lin Yao sedang menyiram tanaman. Begitu melihat mereka, ia tersenyum hangat.

“Yao’er, sudah besar tapi masih saja manja pada Tian.”

Lin Yao cepat-cepat turun. “Ibu! Bukan begitu! Dia yang memaksa!”

Ibu hanya tertawa.

Lin Tian pamit dan berjalan ke halaman barat. Di sana, Paman Hei sedang menyapu, tubuh tuanya bungkuk, dengan satu lengan dan satu kaki yang sudah hilang.

Paman Hei, bisa di bilang adalah satu-satunya keluarganya. Orang ini juga yang membawanya ke keluarga Lin.

Selama beberapa tahun, pria tua ini banyak mengajarkan hal kepadanya.

“Paman Hei, biar aku saja.”

Orang tua itu menoleh, dan tatapannya langsung berubah tajam.

“Kau… sudah memadatkan Jiwa Bintang?”

Lin Tian mengangguk.

“Lapisan ke berapa? Dan Jiwa Bintang apa?”

Suara lelaki tua itu bergetar.

“Lapisan Surgawi Kelima. Jiwa Bintang Palu Langit.”

Tubuh Paman Hei goyah sejenak. Ia berbalik dan berjalan cepat ke halaman belakang tanpa berkata apa pun.

Lin Tian mengikutinya diam.

Paman Hei duduk pelan di bangku batu, menatap pemuda itu.

“Selama bertahun-tahun aku memaksamu menghancurkan meridianmu, menahan rasa sakit yang tidak manusiawi. Aku melarangmu menyerap Qi Asal Langit dan Bumi, bahkan melarangmu berkomunikasi dengan Bintang Takdir.”

Ia menatap Lin Tian dalam-dalam.

“Apa kau pernah menyalahkanku?”

Lin Tian tersenyum lembut.

“Tidak. Justru berkat itu aku bisa merasakan bintang sedalam ini. Kalau dulu aku serakah menyerap Qi Asal Langit dan Bumi, bagaimana mungkin aku memiliki afinitas untuk mencapai Lapisan Kelima?”

Ia melanjutkan,

“Hancurnya meridian bukan kutukan. Itu berkah tersembunyi.”

Paman Hei memejamkan mata, napasnya bergetar.

“Mulai hari ini, aku takkan mengatur jalanmu lagi. Tapi ingat satu hal:

Jangan pernah menyerap Qi Asal Langit dan Bumi.

Hanya Kultivator Takdir yang paling murni yang bisa membuka lebih banyak gerbang bintang… dan memadatkan Jiwa Bintang tanpa batas.”

Lin Tian menunduk dalam-dalam.

“Lin Tian akan selalu mengingatnya.”

Paman Hei pernah mengatakan kepadanya bahwa orang-orang serakah, dan hampir semuanya menyerap Qi Asal langit dan bumi serta kekuatan Bintang untuk mempercepat fokus mereka. Namun, hal ini akan menodai bakat seseorang.

Dunia ini adalah milik para Penggarap Takdir Bela Diri.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Raja Dunia Bela Diri!   BAB 4269: "END"

    “Konyol. Status macam apa yang kau miliki? Bahkan jika kau tidak ingin mengikutiku, kau tidak perlu mengarang sosok fiktif. Jangankan Alam Iblis Jatuh, di seluruh Pulau Sepuluh Ribu Iblis, atau bahkan Surga Biru Mendalam, siapa yang layak membuat Kaisar Iblis Darah merasa kagum dan takut?” “Tentu saja ada.” Raja Iblis Batu Hitam yang terluka parah melangkah maju dan menatap Kaisar Iblis Darah, berkata, “Aku tahu betapa hebat dirimu, tetapi aku tidak pernah mencoba membujuk Yu Ruo karena aku tahu itu sia-sia. Orang di hatinya adalah seseorang yang bahkan tidak bisa kau bandingkan, bahkan tidak pantas kau hormati.” “Kau kurang ajar.” Kaisar Iblis Darah menatap Raja Iblis Batu Hitam lagi. Dalam sekejap, Raja Iblis Batu Hitam diselimuti kilatan merah tua tak berujung, seolah ia akan binasa hanya dengan satu pikiran dari Kaisar Iblis Darah. “Ayah, ini pilihanku. Tolong jangan ikut campur lagi,” kata Yan Yu Ruo kepada Raja Iblis Batu Hitam. “Gadis bodoh, dia sekarang berasal dari du

  • Raja Dunia Bela Diri!   BAB 4268: “Kau lebih memilih mati daripada ikut denganku?”

    “Hanya Ayah dan kau yang tahu mengapa aku meremehkan orang-orang itu, bahkan jenius paling hebat dan Kaisar Iblis termuda dalam sepuluh ribu tahun Alam Iblis Jatuh.” Yan Yu Ruo tersenyum dan memandang langit, berkata, “Setiap kali aku mencoba melupakan kenangan itu, namanya tiba-tiba muncul dan mengganggu hidupku lagi. Dari Gunung Iblis, lalu Kaisar Langit Qingxuan, kemudian menjadi Raja Dewa. Bajingan itu sengaja berusaha mencegahku melupakannya.” Ju Yu tersenyum getir. Ia tidak berbeda. Setiap orang bertemu banyak orang dalam hidup mereka. Beberapa orang ditakdirkan hanya menjadi orang yang lewat, meskipun mereka meninggalkan kenangan berharga dalam hidup. Namun orang itu berbeda. Tepat ketika kau ingin melupakannya, namanya tiba-tiba dipanggil dan muncul dalam hidupmu. Ia menjadi semakin mempesona, seperti matahari yang bersinar di langit. Kau tidak bisa melupakannya meskipun menginginkannya. “Yang menyebalkan adalah, pernikahan bajingan itu menjadi acara besar, dirayakan di se

  • Raja Dunia Bela Diri!   BAB 4267: “Putri, Raja Iblis ingin kau pergi.”

    Sebelum ada yang sempat bereaksi, Raja Dewa sudah naik ke kapal dan berlayar ke laut. Orang-orang di pantai menatap kosong pemandangan itu. Seseorang berkata, “Aku selalu membayangkan apa yang akan kukatakan jika melihat Raja Dewa, tetapi ketika benar-benar melihatnya, aku tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.” “Aku juga.” Seseorang di sebelahnya mengungkapkan perasaan yang sama, menggelengkan kepala dan tersenyum getir. “Para dewi itu, semuanya sangat cantik. Wanita-wanita tercantik di Alam Abadi Primordial mungkin semuanya berada di sisi Raja Dewa.” “Kau lupa, masih ada satu lagi di sana, di tengah laut.” Seseorang berkata sambil tertawa. Mata semua orang berbinar saat mereka mengingat wajah yang sangat cantik itu, wajah yang memukau dunia. Ia pernah menjadi wanita tercantik di Alam Surgawi. Ia telah berlayar di Lautan Tak Terbatas selama bertahun-tahun, dan rumahnya berada di Kota Tak Terbatas. Pada saat itu, kelompok tersebut tiba-tiba saling bertukar pandang, lalu ters

  • Raja Dunia Bela Diri!   BAB 4266:Mungkinkah ada teman-teman lama Raja Dewa di tempat itu?

    Kabar kedatangan Lin Tian di keluarga Hua menyebar dengan cepat. Semakin banyak orang yakin bahwa Raja Dewa kini berada di Dunia Partikel. Semua orang di Dunia Partikel sangat gembira dan berharap dapat bertemu Raja Dewa suatu hari nanti. Betapa indahnya jika mereka dapat diangkat menjadi Buddha seperti Hua Rufeng. Sayangnya, itu ditakdirkan hanya menjadi fantasi indah. Selain sensasi yang disebabkan oleh kedatangan Lin Tian, beberapa hal juga terjadi di berbagai penjuru Dunia Partikel. Misalnya, di Alam Bela Diri Abadi terdahulu, di sebuah danau, seorang peri turun dari langit dan memainkan guqin di tepi danau. Musiknya merdu dan indah, seolah juga menyampaikan kerinduan dan kesedihan tak berujung. Ketika musik itu berakhir, suara itu bisa membuat orang menangis tersedu-sedu. Orang-orang mengatakan bahwa seseorang dapat membuat peri menangis karena kerinduannya, tetapi siapakah orang itu? Selain itu, peri ini memainkan musik di sana sepanjang hari tanpa makan atau minum, memb

  • Raja Dunia Bela Diri!   BAB 4265:Mungkin itulah alasan Raja Dewa datang secara pribadi.?

    Setelah sekian lama, wanita yang tampak seperti peri atau makhluk halus itu sepertinya mulai lelah. Ia berjalan menembus salju menuju pohon kuno dan duduk, bersandar pada pria berbaju putih. Ia sedikit menutup mata, menikmati momen itu. Wanita berambut putih di sebelahnya juga duduk, bersandar di sisi lainnya. Waktu seolah berhenti, hanya kepingan salju yang menari-nari di udara. Perlahan-lahan, ketiga orang di bawah pohon tua itu tertutup salju. Mereka bersandar di sana dengan tenang seperti manusia salju. Sungguh indah. Waktu berlalu tanpa terasa. Di dunia partikel, berita menyebar dari Negara Chu: seseorang telah melihat Raja Dewa Lin Tian duduk tenang di bawah pohon kuno di tengah hamparan salju putih yang luas, dengan sembilan dewi surgawi menari di hadapannya. Yang lain mengaku pernah menyaksikan Lin Tian berperahu di danau bersama banyak peri, menikmati sinar matahari seolah ia adalah orang biasa, hanya saja orang-orang di sekitarnya terlalu mempesona. Kabar kembaliny

  • Raja Dunia Bela Diri!   BAB 4264:apakah kau ingin pergi ke rumahmu untuk berkunjung?

    “Siapa yang mau ikut denganmu? Aku ingin ikut dengan ayah baptisku.” Fan Ye melesat dan berlari ke sisi Lin Tian, meraih lengannya. Fan Le tertegun sejenak, belum sempat bereaksi, lalu mendongak ke langit dan menghela napas. “Sungguh bencana. Apakah ini benar-benar putriku?” “Jangan khawatir, aku akan datang menemuimu setiap sepuluh atau seratus tahun sekali, kapan pun aku sedang dalam suasana hati yang baik,” kata Fan Ye sambil membuat wajah lucu, membuat Fan Le hampir menangis. “Tian,” Ye Qingyun memanggil saat ia tiba. “Ayah baptis.” Lin Tian menatap Ye Qingyun. “Ajak juga adikmu Ling Shuang. Dia pasti bosan di Istana Raja Dewa,” kata Ye Qingyun sambil tersenyum. Lin Tian tidak bisa menolak. “Qingyun, kita berdua orang tua bisa bermain catur,” kata Lin Chuan kepada Ye Qingyun. “Ah, Kakak Senior Lin, aku akan membalas dendam padamu karena memperlakukanku seperti ini,” kata Jun Mengchen dengan berat hati. “Terserah kau saja.” Lin Tian tersenyum kepada Jun Mengchen, dan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status