Accueil / Fantasi / Raja Hantu Kegelapan / 1.3 - Laut Merah Darah

Partager

1.3 - Laut Merah Darah

Auteur: suki_luxu
last update Date de publication: 2026-06-22 07:50:19

"Master Q? Ramuan? Ritual? Dewa? Banyak sekali hal asing yang tidak ku ketahui di dunia ini," Rostav membaca kertas itu dengan raut wajah kecut, dia berusaha memahami apa yang sebenarnya dituliskan di kertas ini, tapi sebagian besar dia tidak memahaminya. "Ramuan, ritual, dan Dewa, aku masih familiar dengan kata-kata itu, bahkan di Bumi ada 'orang pintar' yang mampu membuat seseorang kaya dalam sekejap, tapi dia harus melakukan sebuah ritual. Dan Ramuan, mungkin itu semacam gabungan bahan-bahan langka yang dapat membuat seseorang menjadi Master Q? Dan Dewa... ya aku sudah terlalu tahu. Tidak peduli di dunia mana, entitas Dewa sepertinya akan selalu ada.

"Tapi pertanyaan utamaku adalah... apa itu Master Q? Apakah Master Q adalah sebutan untuk orang yang memiliki kemampuan sihir?" Rostav menatap kertas itu dan membaca baris pertama. "Master Q adalah sosok Yang Terhormat, pribadi yang melampaui batas kehormatan biasa dan menapaki jalan kemuliaan sejati... apakah itu artinya apa yang kupikirkan itu benar, bahwa Master Q adalah sosok yang memiliki kemampuan sihir? Itu cukup masuk akal, karena untuk menjadi Master Q seseorang harus meminum sebuah Ramuan, dan untuk meminum Ramuan tersebut, seseorang harus melakukan sebuah ritual.

"Apa yang akan terjadi jika seseorang itu tidak melalukan ritual dan langsung meminum Ramuan-nya? Apakah ada konsekuensi mengerikan yang akan terjadi?" memikirkan bagaimana dirinya menjadi seorang Master Q membuat Rostav menjadi sedikit bersemangat, tapi setelah dia pikir lagi, terlalu berbahaya jika dia langsung menjadi Master Q tanpa pengetahuan apa itu Master Q yang sebenarnya.

'Aku sebenarnya ingin meminum Ramuan ini. Ayolah, siapa juga orang yang tidak ingin memiliki kemampuan sihir? Itu impian semua orang saat masih kecil, kan? Tapi, bukankah ini terlalu berbahaya? Aku tidak tahu bagaimana Ramuan ini bisa ada di sini, siapa yang meninggalkan peti itu, siapa yang menulis secarik kertas itu? Itu masih menjadi misteri, jadi lebih baik simpan saja Ramuan ini di tempat aslinya, dan jangan sentuh lagi,' Rostav memasukkan kertas dan Ramuan kembali ke dalam peti, lalu kembali menguncinya rapat-rapat, melangkah mundur perlahan dan mengecek sekeliling.

Di pojok ruangan dia menemukan sebuah alat pancing yang cukup untuk membuat laki-laki manapun terpesona. Alat pancing itu terbuat dari bahan kuningan tapi tetap terlihat lentur dan kuat, dengan beberapa mekanisme penarik menggunakan mesin uap, dan beberapa detail gir-gir yang membuat penampilan alat pancing itu semakin mempesona.

"Ya Tuhan, ck, ck, ck. Lihatlah alat pancing ini..." dia melangkah mendekatinya dan mengelusnya, seolah-olah itu adalah sebuah bayi. "... begitu indah, mempesona, dan futuristik. Andai saja ada pancingan seperti ini di Bumi, aku pasti akan membelinya."

Walaupun kehidupan Rostav sebelumnya dipenuhi oleh pekerjaan, pekerjaan, dan pekerjaan, tapi dia memilki hobi yang dimiliki oleh kebanyakan laki-laki: memancing. Ketika dia mendapatkan hari libur atau ketika pekerjaannya sudah selesai, dia tidak langsung pergi tidur, melainkan memilih untuk pergi memancing bersama teman-temannya. Selain dia bisa menenangkan diri, dia juga bisa mendapatkan ikan yang lumayan besar.

Setelah menikmati keindahan alat pancing itu, Rostav akhirnya pergi dari ruang penyimpanan dan menjelajahi ruangan lain. Tapi, yang dia temukan hanyalah dapur, ruang mesin, ruang pembersihan, kamar mandi, kamar kosong, dan ruangan lainnya. Hal itu membuat Rostav bergumam di tengah-tengah ujung lorong, "apa alasan kapal ini kosong tak berpenghuni? Aku sudah mengelilingi lorong ini, tapi aku tidak menemukan orang satu pun. Seharusnya, jika Rostav adalah Kapten kapal, bukankah seharusnya dia memiliki anak buah?

"Dan, fakta bahwa aku bertransmigrasi ke tubuhnya, apakah itu menandakan dirinya sudah mati? Tapi apa yang membuatnya mati? Aku terbangun di Ruangan Kapten, duduk di kursi, apa yang bisa membuat Rostav mati? Apakah dia terkena sebuah serangan?" kemungkinan bahwa Rostav diserang masih cukup masuk akal di kepalanya, hal itu membuatnya melepas pakaiannya dan mengecek tubuhnya. Dia bahkan masuk ke salah satu kamar untuk melihat tubuhnya sendiri di cermin, tapi setelah beberapa lama mencari dia tidak menemukan bekas luka apa pun.

Rostav mengenakan kembali pakaiannya dan duduk di kasur, yang menurutnya tidak lebih empuk dari kasur di kamarnya.

"Tidak ada tanda-tanda serangan, tidak ada bekas luka. Lalu apa yang membuat Rostav mati?" Rostav memikirkan beberapa kemungkinan sebelum akhirnya menemukan jawaban yang paling masuk akal. "Atau mungkin dia terkena sebuah racun? Ya, itu masuk akal, sangat masuk akal, malah. Hanya saja pertanyaannya adalah, kenapa dan siapa yang memberikan racun kepada Rostav? Bukankah di kapal ini tidak ada orang? Lalu, siapa yang memberinya racun? Apakah Rostav sendiri? Apakah dia selama ini sendirian, dan akhirnya dia sudah tidak tahan dengan kesendiriannya dan memilih untuk bunuh diri dengan mengonsumsi racun?"

Rostav awalnya sulit untuk mempercayainya, tapi bagaimana pun juga, hanya itu kesimpulan yang paling masuk akal untuk saat ini. Dia akan memilih untuk percaya bahwa Rostav mati bunuh diri karena tak tahan dengan kesepian.

Beberapa menit kemudian, setelah beristirahat, Rostav menghela napas dan keluar dari kamar itu, menuju pintu di ujung lorong. Membukanya adalah sebuah ruangan yang sangat luas untuk sebuah kapal, dengan beberapa barel di beberapa sudut. Ruangan itu tertutup sepenuhnya, tidak jendala.

Rostav tidak terlalu memperhatikan ruangan ini dan memilih untuk pergi ke seberang, menuju sebuah tangga kayu yang mungkin akan membawanya naik ke atas.

Menaiki tangga itu, Rostav dapat mendengar suara gelombang air laut yang bergemuruh layaknya raungan monster, dia membuka pintu di ujung tangga, dan itu membawanya ke dek kapal yang sangat luas, dengan tiang, tali, dan layar yang terbuka lebar.

Udara dingin menampar seluruh tubuhnya, jubahnya berkibar hebat ditiup angin, seolah-olah sedang menyambutnya. Tapi, keindahan itu tak berlangsung lama ketika Rostav menatap langit.

Dia menelan salivanya dalam-dalam.

Langit berwarna merah darah dengan kabut pekat berwarna putih kemerahan, bergerak dan bergulung-gulung tak tentu arah.

"Ya Tuhan, dunia mengerikan macam apa ini?" Rostav tak bisa menurunkan kepalanya dari menatap langit. Dia bukan merasa kagum, tapi merasa ketakutan, langit berwarna merah, hal itu seolah-olah menunjukkan bahwa dunia akan dilanda kiamat. Rostav maju ke tepi dek yang dipenuhi oleh meriam dengan detail dan mesin rumit, dia menatap ke depan, melihat lautan berwarna merah darah, seolah-olah di bawah sana tak terhitung mayat telah terkubur hingga membuat warna air laut menjadi merah.

Dia naik ke atas, tempat kemudi berada, dari atas sana dia dapat melihat dengan lebih jelas. Dunia tempatnya saat ini lebih mirip seperti neraka daripada dunia yang ada di pikirannya. Dia berpikir bahwa dunia ini akan terlihat indah, penuh dengan makhluk ajaib, peri. Tapi kenyataan kadang memang lebih pahit, dunia tempatnya transmigrasi ini, segalanya dipenuhi oleh warna merah darah.

Saat dia ingin mengamati lebih lama lagi, di kejauhan dia melihat kumpulan awan hitam raksasa yang sedang mengarah ke kapal.

"Buruk!" mengetahui bahwa awan hitam itu bukanlah pertanda yang baik, Rostav segera melompat dari atas dan turun ke bawah, mengunci pintunya rapat-rapat. Dia berlari dan bersembunyi di ruangannya. Jelas saja dia merasa ketakutan, awan hitam itu mungkin pertanda badai akan segera datang.

Dan benar saja, seperti yang dia pikirkan, tak lama setelah dia bersembunyi di ruangannya, suara gemuruh guntur terdengar, menggelegar setiap detiknya. Sayangnya Ruangan Kapten tidak memiliki jendela, membuat Rostav tidak bisa melihat keadaan di luar.

'Petir macam apa yang menyambar setiap detiknya, ditambah dengan suara gemuruh guntur ini, membuat suasana menjadi semakin mencekam. Aku seolah-olah berada di dalam jeruji besi yang dikelilingi oleh puluhan hiu lapar,' Rostav akhirnya memilih untuk duduk di kursi, karena tempat itulah yang paling kokoh.

Beberapa saat kemudian kapal mulai bergetar, bergerak dan berputar dengan kecepatan tinggi, seolah-olah ada angin raksasa yang mengangkat kapal ini. Rostav hanya bisa membenamkan kepalanya diantara kedua tangannya, berharap agar badai ini cepat berlalu.

Tapi, kenyataan kadang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, badai salju kini telah berlangsung selama sepuluh menit. Kapal besar itu terombang-ambing, digempur, terbanting di tengah-tengah lautan darah yang luas. Ratusan petir berwarna merah menyambar ke segala arah, seolah-olah ingin merobek langit.

Tapi, entah keberuntungan apa yang dia dapatkan, kapal yang dia naiki ini tidak memiliki kerusakan sedikit pun, seolah-olah badai itu hanyalah hembusan angin sepoi-sepoi. Bahkan layar yang terbuka lebar itu tidak sobek sedikit pun.

Dua jam berlalu dan badai telah menghilang, digantikan oleh keheningan malam yang perlahan merangkak naik ke dunia. Bulan berwarna merah pucat naik ke langit, menerangi dunia dengan cahayanya yang berwarna kemerahan.

Sementara itu, Rostav yang sedari tadi berjuang melawan badai akhirnya bisa mengambil napas lega. "Hah, syukurlah aku masih selamat," dia mengelus dadanya dan segera pergi ke kasur, merebahkan tubuhnya, dan mulai tertidur.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Raja Hantu Kegelapan   1.26 - Siapa Sebenarnya Aku?

    "Yah, memang beginilah kapal ini. Selama ini aku berlayar hanya mengandalkan dorongan angin. Tak heran kecepatannya begitu lambat," ujar Rostav sambil menggulung kembali peta.Dia terdiam sejenak, merenungkan ucapannya sendiri. Memang, jauh di dalam hati, dia merasa kesal dengan lambannya kapal ini. Ukurannya pun tidak besar, di atas dek hanya berdiri dua layar yang menopang perjalanan mereka. Ruang bagian dalamnya juga sempit dan jauh dari kata nyaman.Rostav mengembuskan napas panjang. Dengan rasa frustrasi yang semakin mengusik pikirannya, dia bergumam dalam hati, 'hah... andai saja aku tahu cara mengoperasikan mesin di ruang permesinan, mungkin perjalanan ini akan jauh lebih mudah. Atau setidaknya, ada buku panduan yang bisa menjelaskan cara menyalakannya.'Hari masih pagi tapi Rostav sudah dibuat kesal dengan kapal ini. Selama ini dia tidak mempermasalahkan dengan kecepatan kapal yang lamban, karena memang dia sebenarnya masih asing dengan dunia ini, ditambah jarak dengan Hutan A

  • Raja Hantu Kegelapan   1.25 - Q Kerang Hijau Pengering

    Ketika dia memakainya, dia merasa sedikit aneh dengan pakaian ini. Pinggangnya seperti ditekan oleh pakaian, apalagi bagian roknya yang memiliki desain aneh, dengan bagian depan terbuka, memperlihatkan kakinya, sementara bagian belakangnya tertutup, menjuntai dengan ruffle bertingkat.Dia memutar tubuhnya, roknya berkibar ketika dia melakukannya. "Jadi seperti ini rasanya memakai pakaian bajak laut? Hm, rasanya sedikit aneh."Setelah itu, dia menundukkan kepalanya, melihat sepatu bot bertali berwarna coklat tua dengan aksen merah. Dia mengangkat sedikit salah satu kakinya untuk melihat sepatu itu lebih lanjut. "Rasanya sangat aneh memakai... em, sepatu, ya. Kakiku terasa sesak dan gerah. Dan ini juga membuatku sulit untuk berjalan. Aku sebenarnya ingin melepaskannya, tapi ini juga membantuku melatih menggunakan kaki manusia. Kurasa aku harus menahannya."Dia menurunkan kakinya dan kemudian melirik ke arah keranjang yang sudah penuh. Dia menghela napas dan mendekati keranjang itu, dia

  • Raja Hantu Kegelapan   1.24 - Pakaian Bajak Laut

    Rostav mendengarkan dengan seksama sambil memakan makanannya. Dia kini menganggap bahwa Cia adalah buku berjalan, karena informasi yang dia berikan sangat-sangat berguna. Dengan informasi tersebut, dia semakin mengetahui tentang sistem kekuatan yang ada di dunia ini. 'Ternyata, jalan seorang Master Q jauh lebih berat daripada yang kubayangkan,' dia menelan makanannya dengan berat dan memikirkannya lebih lanjut. 'Dari semua informasi yang baru saja kudapatkan, aku akhirnya memahami satu hal, bahwa bakat memegang peranan yang sangat penting.'Tanpa bakat yang memadai, Master Q akan kesulitan berkembang. Kerja keras memang tetap diperlukan, tetapi bakat menentukan seberapa jauh dan seberapa cepat seseorang dapat melangkah.'Di dunia para Master Q, bakat bukanlah segalanya, tapi sering kali menjadi faktor yang menentukan batas atas pencapaian seseorang.'Mereka yang memiliki bakat tinggi seolah dilahirkan dengan jalan yang lebih lapang,' Rostav melanjutkan sam

  • Raja Hantu Kegelapan   1.23 - Laut Primordial

    Cia tidak langsung meminta Rostav untuk menyalakan kompornya, melainkan dia memilih untuk meletakkan panci itu di meja dan mengambil bahan-bahan dan alat-alat yang ada di lemari. Dia mengambil wadah yang berisi daging ikan, dan mengambil wadah kaca yang berisi bumbu seperti garam dan merica. Serta empat wadah kayu yang berisi bawang putih, bawang merah, mentega, dan daging ikan. Serta sebuah pisau, dan centong logam.Dia membuka wadahnya dan mengambil beberapa siung bawang putih dan bawang merah, lalu mencincangnya.Rostav hanya melihat dengan santai sambil bersandar di kusen pintu. Dia melihat bagaimana Cia mencincang bawang putih dan bawang merah, gerakan tangannya seperti seorang koki profesional. Tidak, membandingkannya dengan koki profesional sepertinya terlalu jauh. Yang pasti, gerakan tangannya dalam mencincang bawang putih dan merah sangat halus. Sepertinya dia sudah terbiasa melakukannya.Setelah itu, dia menatap ke arah Rostav dan berkata, "bagai

  • Raja Hantu Kegelapan   1.22 - Persiapan Memasak

    Dan, benar saja, bahkan saat Rostav tertidur sampai malam, bukan karena malas... mungkin iya, tapi alasan terbesarnya adalah karena dia tidak tahu harus melakukan aktivitas apa lagi untuk mengisi waktu. Olahraga? Hm, dia sudah malas melakukannya. Stok makanan masih cukup banyak, itu tidak membuatnya berniat untuk memancing. Kenapa dia harus memancing saat stok makanan masih ada? Walaupun memang sebenarnya lebih baik menyiapkannya terlebih dahulu. Seperti kata pepatah, "Bawa payung sebelum hujan." Pepatah tersebut pada dasarnya bermakna bahwa seseorang sebaiknya bersiap dan mengambil langkah pencegahan sebelum menghadapi suatu masalah atau keadaan yang tidak diinginkan.Secara harfiah, pepatah ini menggambarkan orang yang membawa payung sebelum hujan turun agar tidak kebasahan. Tapi, dalam kehidupan sehari-hari, maknanya lebih luas, yaitu mengajarkan pentingnya sikap waspada, perencanaan yang matang, dan persiapan sejak dini.Dengan mempersiapkan diri terlebih dahul

  • Raja Hantu Kegelapan   1.21 - Perasaan Wanita Berubah Secepat Cuaca Musim Panas

    Hari saat ini masih pagi, tapi Rostav bingung harus melakukan apa. Ditambah dia kedatangan seorang putri duyung, yang di dunia ini disebut Ras Athu. Dia duduk di kursi kuningan sambil meletakkan kedua tangannya di belakang kepala. Dia menatap langit-langit dan memikirkan kembali penjelasan Cia tentang Laut Primordial. 'Laut Primordial terbagi menjadi lima Tingkat Bakat. Bakat Tingkat E, D, C, B, dan A. Setiap 1% luas Laut Primordial sama dengan lima langkah. Aku pernah menjelajahi Laut Primordial sampai ujung, dan kalau tidak salah totalnya mencapai dua ratus empat puluh lima langkah, dibagi lima, totalnya 49%. Itu artinya, aku hanya memiliki Bakat Tingkat C, mendekati puncaknya, 50%.'Aku tidak tahu bagaimana sistem mengeluarkan kemampuan Q. Dari penjelasan Cia, semakin luas Laut Primordial, semakin bertahan pula Master Q saat bertarung. Itu artinya, untuk mengeluarkan kemampuan Q memerlukan energi Laut Primordial, mirip dengan mana dalam game RPG. Juga, bukankah sistem ke

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status