Home / Fantasi / Raja Hantu Kegelapan / 1.1 - Dunia Lain

Share

Raja Hantu Kegelapan
Raja Hantu Kegelapan
Author: suki_luxu

1.1 - Dunia Lain

Author: suki_luxu
last update publish date: 2026-06-22 07:49:13

Volume 1 - Kota Gelap Gulita

'Ugh!'

'Menyakitkan!'

'Kepalaku sakit sekali, rasanya seperti dipompa dari dalam dan ingin meledak!'

Kegelapan yang dipenuhi oleh gumaman keputusasaan itu hancur seketika. Bagas Pratama yang masih tertidur merasakan kepalanya seperti dipukul menggunakan tongkat berkali-kali, lagi dan lagi. Tidak, itu lebih seperti kepalanya dihantam oleh benda tajam, menusuk tepat di pelipisnya, memutarnya dalam prosesnya. Kepalanya seperti di bor hingga berlubang, seolah-olah kepalanya adalah tembok rusak yang harus diperbaiki.

'Agh!' suara yang penuh kesakitan dan keputusasaan itu kembali lagi, seolah-olah tak ingin membiarkan Bagas beristirahat. Dalam tidurnya dia berusaha untuk menggerakkan salah satu anggota tubuhnya, tapi yang tidak dia duga adalah, seluruh anggota tubuhnya tidak bergeming, tidak merespon keinginan Bagas.

'Aku pasti tertidur lagi di meja kantor, dan rasa sakit ini karena aku terlalu banyak bekerja, tidak pernah diberikan hari libur, atau uang bonus karena lembur… mungkin sebentar lagi aku akan berpikir bahwa aku sudah bangun, padahal masih tertidur, apakah ini semacam lucid dream?' Bagas berusaha berfikir positif bahwa apa yang dia alami kini hanyalah sebatas mimpi, dia pernah mendengar sebuah informasi bahwa kadang-kadang seseorang dapat tersadar bahwa mereka sedang berada di dalam mimpi dan mampu mengendalikan mimpi sesuka hati.

Dengan berpikir bahwa rasa sakit yang dia alami akan segera berakhir ketika dirinya terbangun, hal itu membuat Bagas menjadi sedikit tenang.

'Memang aku berusaha untuk tenang, tapi rasa sakit kepala ini seolah-olah ingin membunuhku. Kepalaku seperti akan meledak dari dalam,' Bagas yang sudah tidak tahan dengan rasa sakitnya memaksa dirinya untuk bangun. 'Bangunlah! Bangunlah! Aku harus kembali bekerja... tidak, ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan pekerjaan sementara aku sendiri berada dalam kondisi yang sulit... untuk apa aku memikirkan pekerjaan yang membuatku sakit seperti ini? Sialan, semoga perusahaan ini bangkrut, dan bos yang suka semena-mena itu akan hidup melarat.'

Bagas berharap bahwa perusahaan tempatnya bekerja ini cepat bangkrut agar dia bisa kembali bebas, tapi dia segera memikirkan hal itu kembali. 'Tidak, kalau perusahaan ini bangkrut, aku pasti dipecat, dan di zaman sekarang, mencari pekerjaan seperti mencari berlian di trotoar. Tidak, tidak, perusahaan ini jangan bangkrut, semoga bos-nya cepat diganti dengan yang lain.'

Memikirkan hal itu entah kenapa membuatnya lupa tentang rasa sakit yang baru saja dia alami, tapi kini dia merasakannya lagi. Rasa sakit itu... bahkan jauh lebih parah dari sebelumnya, kali ini bahkan ditambah dengan bisikan-bisikan aneh yang segera memenuhi kepalanya, memenuhi setiap inci kepalanya.

Bagas berusaha melepaskan dirinya sendiri dari penjara "mimpi" ini, dia berteriak di dalam hati, meminta dirinya untuk bangun. 'Bangun! Bangun! BANGUN!'

Dan, entah keajaiban apa yang sedang bekerja pada tubuhnya saat itu, dia benar-benar terbangun. Kelopak matanya terbuka perlahan, berat dan gemetar, seakan ada sesuatu yang menahannya untuk kembali sadar sepenuhnya. Begitu kesadarannya terkumpul, napasnya langsung memburu tidak beraturan—kasar, berat, dan tergesa-gesa—seperti seseorang yang baru saja dipaksa berlari tanpa henti menembus lintasan maraton puluhan kilometer.

Suara tarikan napasnya memenuhi ruangan yang sunyi. Setiap helaannya terdengar serak dan panik, mirip seseorang yang baru muncul dari dasar lautan setelah hampir kehabisan oksigen di tengah perjalanan menuju permukaan. Seakan-akan beberapa detik lagi saja terlambat, tubuhnya mungkin benar-benar akan menyerah. Dan ketika akhirnya berhasil "mencapai permukaan", tubuhnya bereaksi liar, rakus menyerap udara sebanyak-banyaknya, seperti orang yang baru pertama kali merasakan bernapas lagi.

Tangannya gemetar kecil. Keringat dingin membasahi pelipis dan tengkuknya, sementara jantungnya berdetak begitu keras hingga terasa memukul rongga dadanya dari dalam. Pandangannya masih kabur, berputar-putar, sulit membedakan mana nyata dan mana sisa mimpi buruk yang belum sepenuhnya pergi.

"Hah, untung saja aku bisa terbangun. Aku pikir aku akan mengalami rasa sakit itu selama delapan jam," Bagas menghela napas lega karena tak harus mengalami rasa sakit selama itu. Kenapa delapan jam? Karena dia berpikir bahwa rasa sakit yang dia alami kini karena dia tertidur, dan berapa lama biasanya orang tidur? Setahu Bagas adalah delapan jam, itu yang paling ideal.

Beberapa detik dalam keheningan, pandangannya yang awalnya kabur dan berputar-putar kini secara perlahan kembali normal. Pandangannya kini menjadi jelas. Bagas menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan sisa-sisa rasa sakit yang baru saja dia alami, dan melanjutkan dengan mengusap wajahnya. Punggungnya bersandar pada kursi kuningan dengan detail rumit yang terlihat kuno, kepalanya mengarah ke atas, dan ketika dia membuka matanya lebar-lebar, Bagas Pratama mematung.

Matanya membelalak tak berkedip, tubuhnya tak bergerak sedikit pun selama kurang lebih sepuluh detik, sebelum akhirnya secara spontan Bagas melompat dari kursinya, menatap sekelilingnya.

Sekali lagi matanya membelalak, jelas itu bukan pertanda yang baik.

Dia kini berada di dalam sebuah ruangan yang cukup besar dengan meja perunggu yang terlihat kokoh dan kursi kuningan dengan paku keling, entah untuk dekorasi atau apa. Selain itu, di ruang ini juga terdapat sebuah lemari yang terbuat dari bahan-bahan aneh dengan banyaknya gir-gir kecil yang saling berhubungan dengan gir besar di bagian depan.

Dia belakang kursi kuningan juga terdapat sebuah kepala kambing yang terlihat sangat asli, tidak ada tanda-tanda kepala itu dibuat dengan tangan atau bahan murahan. Detailnya terlalu luar biasa untuk bisa dibuat dengan tangan.

Di ujung ruangan juga terdapat sebuah kasur yang terlihat empuk, seperti diisi oleh bulu domba premium. Dan di beberapa sudut dinding ruangan, terpajang sebuah pedang dan revolver yang masih terlihat baru, seolah-olah belum pernah digunakan.

Bagas Pratama menelan salivanya dengan berat dan dalam, dia melangkah mundur sebelum akhirnya dikejutkan dengan suara burung otonom yang dia tabrak.

Burung otonom itu terbuat dari berbagai rangkaian berbahan kuningan, besi, gir, serta sistem uap yang memungkinkannya untuk bergerak dan mengeluarkan suara sumbang.

Bagas berbalik arah dan melihat burung otonom itu yang menempel di dinding. Dia sekali lagi mundur hingga menabrak meja, meraba-raba meja itu, dan dengan kaki gemetar duduk di kursi.

"Apa yang... sebenarnya terjadi?" Bagas berusaha mencerna seluruh informasi yang baru saja dia dapatkan ini. Dia menundukkan kepalanya dan menggenggamnya dengan kedua tangan. "Tidak, tidak, mari coba kita rangkai apa yang baru saja terjadi padaku. Aku adalah Bagas Pratama, usia dua puluh lima tahun, seorang designer di perusahaan yang tidak pernah libur, tidak pernah mendapatkan uang lembur, dan tidak pernah naik gaji. Suatu hari aku iseng membeli sebuah lotre, berharap mendapatkan banyak uang agar aku tidak bekerja dan bisa hidup foya-foya. Karena itu, aku diam-diam melakukan sebuah ritual peningkatan keberuntungan, dan tiba-tiba saja aku pingsan, lalu mengalami rasa sakit itu, dan akhirnya tiba di tempat aneh ini."

Bagas mengangkat kepalanya, menyapu pandangan ke sekeliling, berharap bahwa semua ini adalah mimpi. Tapi yang dia lihat bukanlah tempat kerja atau kamarnya, tapi sebuah tempat asing yang dipenuhi oleh barang-barang aneh. Bagas pun menampar wajahnya sendiri untuk lebih memastikannya.

"Aduh!" dia merasakan sakit saat menampar wajahnya sendiri, dan mengusap pipi kanannya yang kini berubah menjadi sedikit kemerahan. "Hahaha, ini tidak mungkin, ini pasti mimpi..." Bagas tertawa mencela diri sendiri, sebelum akhirnya dia menyadari kebenarannya. "Tapi, mimpi seperti apa yang dapat memberikan rasa sakit seperti ini, dan sensasi senyata ini? Ini bukan mimpi. Agh!!!"

Pada momen itu, kepalanya diburu oleh rasa sakit dan bisikan-bisikan aneh yang segera memenuhi kepalanya. Kepalanya seperti sebuah sendok yang harus menampung air di dalam galon.

"Agh! Menyakitkan!" Bagas meraung tanpa sadar, memukul meja hingga tangannya berdarah, untuk setidaknya mengurangi rasa sakit yang dia alami ini.

"Rostav Zertu..."

"Rostav Zertu..."

"Rostav Zertu..."

Bisikan-bisikan itu mengatakan sebuah nama di kepala Bagas, dan setelah nama itu terucap, rasa sakit dan bisikan-bisikan itu menghilang sepenuhnya, seolah-olah lenyap ditelan kehampaan.

Bagas mengambil napas terlebih dulu sebelum menggumamkan nama tersebut, "Rostav Zertu, tujuh belas tahun. Jadi namaku sekarang adalah Rostav Zertu. Apa aku bertransmigrasi ke dunia lain? Apa ini seperti cerita di film-film atau di novel?"

Bagas tidak ingin memikirkan apakah dia bertransmigrasi ke dunia di suatu film atau novel, yang jelas dia satu hal bahwa, dia kini telah bertransmigrasi dan kemungkinan besar berada di dunia yang sama sekali berbeda dengan Bumi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Raja Hantu Kegelapan   1.26 - Siapa Sebenarnya Aku?

    "Yah, memang beginilah kapal ini. Selama ini aku berlayar hanya mengandalkan dorongan angin. Tak heran kecepatannya begitu lambat," ujar Rostav sambil menggulung kembali peta.Dia terdiam sejenak, merenungkan ucapannya sendiri. Memang, jauh di dalam hati, dia merasa kesal dengan lambannya kapal ini. Ukurannya pun tidak besar, di atas dek hanya berdiri dua layar yang menopang perjalanan mereka. Ruang bagian dalamnya juga sempit dan jauh dari kata nyaman.Rostav mengembuskan napas panjang. Dengan rasa frustrasi yang semakin mengusik pikirannya, dia bergumam dalam hati, 'hah... andai saja aku tahu cara mengoperasikan mesin di ruang permesinan, mungkin perjalanan ini akan jauh lebih mudah. Atau setidaknya, ada buku panduan yang bisa menjelaskan cara menyalakannya.'Hari masih pagi tapi Rostav sudah dibuat kesal dengan kapal ini. Selama ini dia tidak mempermasalahkan dengan kecepatan kapal yang lamban, karena memang dia sebenarnya masih asing dengan dunia ini, ditambah jarak dengan Hutan A

  • Raja Hantu Kegelapan   1.25 - Q Kerang Hijau Pengering

    Ketika dia memakainya, dia merasa sedikit aneh dengan pakaian ini. Pinggangnya seperti ditekan oleh pakaian, apalagi bagian roknya yang memiliki desain aneh, dengan bagian depan terbuka, memperlihatkan kakinya, sementara bagian belakangnya tertutup, menjuntai dengan ruffle bertingkat.Dia memutar tubuhnya, roknya berkibar ketika dia melakukannya. "Jadi seperti ini rasanya memakai pakaian bajak laut? Hm, rasanya sedikit aneh."Setelah itu, dia menundukkan kepalanya, melihat sepatu bot bertali berwarna coklat tua dengan aksen merah. Dia mengangkat sedikit salah satu kakinya untuk melihat sepatu itu lebih lanjut. "Rasanya sangat aneh memakai... em, sepatu, ya. Kakiku terasa sesak dan gerah. Dan ini juga membuatku sulit untuk berjalan. Aku sebenarnya ingin melepaskannya, tapi ini juga membantuku melatih menggunakan kaki manusia. Kurasa aku harus menahannya."Dia menurunkan kakinya dan kemudian melirik ke arah keranjang yang sudah penuh. Dia menghela napas dan mendekati keranjang itu, dia

  • Raja Hantu Kegelapan   1.24 - Pakaian Bajak Laut

    Rostav mendengarkan dengan seksama sambil memakan makanannya. Dia kini menganggap bahwa Cia adalah buku berjalan, karena informasi yang dia berikan sangat-sangat berguna. Dengan informasi tersebut, dia semakin mengetahui tentang sistem kekuatan yang ada di dunia ini. 'Ternyata, jalan seorang Master Q jauh lebih berat daripada yang kubayangkan,' dia menelan makanannya dengan berat dan memikirkannya lebih lanjut. 'Dari semua informasi yang baru saja kudapatkan, aku akhirnya memahami satu hal, bahwa bakat memegang peranan yang sangat penting.'Tanpa bakat yang memadai, Master Q akan kesulitan berkembang. Kerja keras memang tetap diperlukan, tetapi bakat menentukan seberapa jauh dan seberapa cepat seseorang dapat melangkah.'Di dunia para Master Q, bakat bukanlah segalanya, tapi sering kali menjadi faktor yang menentukan batas atas pencapaian seseorang.'Mereka yang memiliki bakat tinggi seolah dilahirkan dengan jalan yang lebih lapang,' Rostav melanjutkan sam

  • Raja Hantu Kegelapan   1.23 - Laut Primordial

    Cia tidak langsung meminta Rostav untuk menyalakan kompornya, melainkan dia memilih untuk meletakkan panci itu di meja dan mengambil bahan-bahan dan alat-alat yang ada di lemari. Dia mengambil wadah yang berisi daging ikan, dan mengambil wadah kaca yang berisi bumbu seperti garam dan merica. Serta empat wadah kayu yang berisi bawang putih, bawang merah, mentega, dan daging ikan. Serta sebuah pisau, dan centong logam.Dia membuka wadahnya dan mengambil beberapa siung bawang putih dan bawang merah, lalu mencincangnya.Rostav hanya melihat dengan santai sambil bersandar di kusen pintu. Dia melihat bagaimana Cia mencincang bawang putih dan bawang merah, gerakan tangannya seperti seorang koki profesional. Tidak, membandingkannya dengan koki profesional sepertinya terlalu jauh. Yang pasti, gerakan tangannya dalam mencincang bawang putih dan merah sangat halus. Sepertinya dia sudah terbiasa melakukannya.Setelah itu, dia menatap ke arah Rostav dan berkata, "bagai

  • Raja Hantu Kegelapan   1.22 - Persiapan Memasak

    Dan, benar saja, bahkan saat Rostav tertidur sampai malam, bukan karena malas... mungkin iya, tapi alasan terbesarnya adalah karena dia tidak tahu harus melakukan aktivitas apa lagi untuk mengisi waktu. Olahraga? Hm, dia sudah malas melakukannya. Stok makanan masih cukup banyak, itu tidak membuatnya berniat untuk memancing. Kenapa dia harus memancing saat stok makanan masih ada? Walaupun memang sebenarnya lebih baik menyiapkannya terlebih dahulu. Seperti kata pepatah, "Bawa payung sebelum hujan." Pepatah tersebut pada dasarnya bermakna bahwa seseorang sebaiknya bersiap dan mengambil langkah pencegahan sebelum menghadapi suatu masalah atau keadaan yang tidak diinginkan.Secara harfiah, pepatah ini menggambarkan orang yang membawa payung sebelum hujan turun agar tidak kebasahan. Tapi, dalam kehidupan sehari-hari, maknanya lebih luas, yaitu mengajarkan pentingnya sikap waspada, perencanaan yang matang, dan persiapan sejak dini.Dengan mempersiapkan diri terlebih dahul

  • Raja Hantu Kegelapan   1.21 - Perasaan Wanita Berubah Secepat Cuaca Musim Panas

    Hari saat ini masih pagi, tapi Rostav bingung harus melakukan apa. Ditambah dia kedatangan seorang putri duyung, yang di dunia ini disebut Ras Athu. Dia duduk di kursi kuningan sambil meletakkan kedua tangannya di belakang kepala. Dia menatap langit-langit dan memikirkan kembali penjelasan Cia tentang Laut Primordial. 'Laut Primordial terbagi menjadi lima Tingkat Bakat. Bakat Tingkat E, D, C, B, dan A. Setiap 1% luas Laut Primordial sama dengan lima langkah. Aku pernah menjelajahi Laut Primordial sampai ujung, dan kalau tidak salah totalnya mencapai dua ratus empat puluh lima langkah, dibagi lima, totalnya 49%. Itu artinya, aku hanya memiliki Bakat Tingkat C, mendekati puncaknya, 50%.'Aku tidak tahu bagaimana sistem mengeluarkan kemampuan Q. Dari penjelasan Cia, semakin luas Laut Primordial, semakin bertahan pula Master Q saat bertarung. Itu artinya, untuk mengeluarkan kemampuan Q memerlukan energi Laut Primordial, mirip dengan mana dalam game RPG. Juga, bukankah sistem ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status