LOGIN"Gerardo!" Shena terkejut dan semakin berontak. "Apa yang kau lakukan?!"
Gerardo menatap gaun yang kini rusak dengan ekspresi dingin. "Aku tidak suka kau memilih gaun ini. Aku sudah menyiapkan sendiri gaun yang pantas untukmu." Shena terengah, dadanya naik turun. "Itu hanya hadiah dari Tuan Damian, kau tidak bisa melakukan ini." Gerardo tidak menjawab. Sebagai gantinya, dia menekan tubuhnya ke tubuh Shena, mendekapnSejak hari itu peran baru yang Gerardo dapatkan sebagai seorang ayah memberi ia tanggung jawab baru. Saat ini bayi-bayi yang kecil itu telah tumbuh menjadi bayi yang menggemaskan, di sayangi semua orang, tubuhnya gemuk dan suara tangisnya menjadi pengiring rumah yang dulu sunyi. Sekarang nuansa rumah terasa lebih hidup. Nyonya Kalista, tuan Damian, tuan James semuanya menjadi kakek dan nenek siaga, bahkan Daniel juga menyayangi keponakannya itu. Shena kini tampak semakin matang sebagai seorang ibu. Setiap pagi ia akan bangun lebih awal untuk menyusui dan menenangkan kedua bayinya. Ada kelembutan baru dalam dirinya, semacam naluri keibuan yang muncul secara alami. Sementara Gerardo, yang dulunya tak pernah menyentuh dunia anak-anak, kini menjadi ayah yang teramat melindungi. Ia belajar mengganti popok, menggendong bayinya dengan posisi benar, hingga mengenali perbedaan tangis lapar dan tangis mengantuk. Setiap malam, ia akan duduk di dekat ranjang bayi, membacakan cerita pendek
Beberapa bulan kemudian setelah kondisi Shena pulih, begitu juga Gerardo yang sudah bisa beraktifitas seperti sedia kala. Mereka berdua memutuskan untuk kembali dari rumah Tuan James. Dengan Shena menggendong putri kecilnya dan Gerardo yang menggendong putra kecilnya mereka berpamitan pada Tuan James. Seharian itu lalu putra dan putri mereka menjadi rebutan orang-orang di rumahnya ketika semua orang ingin berkenalan dengannya. Sesaat setelah malam hari tiba, mereka baru bisa mengistirahatkan badan. Dan kebetulan sekali, sebelum mereka memutuskan kembali ke rumah ini, Gerardo sudah sempat membuatkan kamar untuk anak-anaknya, sehingga mereka bisa memulai semuanya dengan nyaman. "Kamu pasti lelah, tidurlah," ucap Shena memandangi Gerardo yang terlelap di sampingnya, tangannya sambil mengusap rambut pria itu. Hari ini ia memandangnya dan mengingat lagi momen bagaimana mereka bertemu untuk pertama kali. Semua kenangan itu muncul seperti klip film yang membuat ia menahan senyum. Gerardo
Saat para perawat membawa bayi-bayi itu keluar, keheningan kembali menyelimuti ruangan. Kali ini sunyi yang penuh harapan. Gerardo kembali memeluk Shena, membiarkan wanita itu bersandar sepenuhnya padanya. “Nama,” ucap Gerardo pelan. “Kita belum bicara soal nama.” Shena tersenyum lelah. “Aku menyimpan itu untukmu. Aku ingin kau yang memilih.” Gerardo menatap jendela, cahaya sore menembus tirai tipis. “Kalau begitu… kita pilih bersama. Seperti keluarga.” Shena menutup mata. Untuk pertama kalinya sejak semua tragedi itu terjadi, ia merasa aman. Tuan James memasuki ruangan Shena setelah mengetahui proses persalinan baru saja selesai, begitu dia masuk dia di kejutkan dengan keberadaan seorang pria yang tengah memeluk cucunya. Pandangannya penuh dengan tanya, begitu juga Gerardo yang terkejut. Dia langsung melepaskan pelukan itu, dan menatap wajah tuan James. Sebelumnya ia tak tahu dimana Shena berada. Tadi ia mendapat informasi dari Hector yang sudah di hubungi Daniel karena
Shena tercekat. Matanya membelalak, bibirnya terbuka tanpa suara. Gerardo tersenyum samar, lalu melangkah masuk perlahan. Lalu melihat dua bayi kembar di sampingnya. Shena tak berkata-kata. Air matanya langsung mengalir, begitu juga dengan perasaannya yang selama ini terpendam. "Gerardo..." ucapnya lirih. Gerardo menghampiri ranjang dan menunduk perlahan, menatap bayi mungil mereka. Jemarinya menyentuh lembut tangan si bayi. Perasaannya membuncah dia benar-benar tidak mempercayai hari ini, menerima keajaiban setelah empat bulan tertidur dan melihat anaknya dengan sehat dan selamat. Shena menahan tangisnya, tidak ingin terisak terlalu keras. Namun matanya membenarkan segalanya betapa ia merindukan pria ini, betapa ia takut kehilangan. "Maaf aku tidak ada saat kau melahirkan," kata Gerardo serak, menatapnya. Shena menggeleng sambil menghapus air matanya. "Kau datang tepat waktu... karena aku hampir percaya kau tak akan datang..." Gerardo menyentuh pipinya lembut, l
Teriakan Shena menggema di ruang bersalin. Tubuhnya sudah dibaringkan, wajahnya penuh keringat dan air mata. Para perawat dan dokter dengan sigap membantu proses kelahiran yang berlangsung lebih cepat dari perkiraan. Tuan James berdiri di luar ruangan dengan gelisah. Sesekali ia berdoa dalam hati, wajahnya tegang penuh kecemasan. Di tempat lain, di sebuah ruangan dengan penjagaan ketat, Gerardo terbaring lemah dalam kondisi koma. Tubuhnya dipenuhi selang dan alat bantu. Mesin monitor detak jantung terus berdetik dengan irama lambat dan stabil. "Sedikit lagi, Nyonya Shena! Tolong dorong lagi!" Shena menangis dalam lirih. Teriaknya bercampur dengan suara isak dan rasa sakit yang luar biasa. Mesin monitor di ruang ICU tempat Gerardo terbaring mendadak menunjukkan sedikit perubahan. Bip.Bip. Detak jantungnya naik perlahan. Jemarinya yang selama ini tak bergerak, sedikit menegang. "Dorong, Nyonya! Ayo... bayinya hampir keluar!" Shena memejamkan mata, menyalurkan seluruh
Paman dan bini Shena mengangguk. "Ya, sama-sama tuan." Setelah berbincang sebentar keduanya pun pergi. Shena merasa sedikit canggung di rumah ini. Namun Tuan James terus berusaha membuat Shena nyaman. Sepanjang waktu mereka bercerita banyak hal, termasuk pekerjaan yang di miliki keluarganya. Kakeknya bukan seorang pebisnis besar, tetapi dia punya cukup aset untuk bertahan hidup. Shena terus bercerita termasuk kondisi pernikahan dan juga kehamilannya, serta beberapa hal yang membuat ia terancam dengan suaminya itu. "Ayo, Shena. Rumah ini kini milikmu juga," ucap Tuan James kemudian mengarahkan Shena untuk berusaha nyaman di rumah ini. "Selamat datang, Nona," katanya. "Saya Maria, kepala pelayan rumah ini. Kami sudah menyiapkan kamar untuk Anda, dan dokter pribadi keluarga juga sudah diberitahu mengenai kondisi Anda." "Terima kasih," jawab Shena, masih terkesan dengan suasana rumah itu. Kakeknya memegang lembut bahunya. "Kau bisa istirahat setelah dokter datang memeriksa







