MasukGerardo tidak menunjukkan ragu. Dengan satu langkah maju, ia meraih pinggang Shena dan menariknya lebih dekat. Shena bahkan tidak sempat menarik napas saat bibirnya ditangkap oleh bibir Gerardo. Ia merasa gugup.
Ciuman itu lembut. Tidak terburu-buru, tetapi cukup dalam untuk membuat Shena merasa lemas. Ia bisa merasakan panas dari tubuh pria itu. Lily menutup mulutnya, tersenyum haru melihat pemandangan itu. Sementara Hector dan anSaat para perawat membawa bayi-bayi itu keluar, keheningan kembali menyelimuti ruangan. Kali ini sunyi yang penuh harapan. Gerardo kembali memeluk Shena, membiarkan wanita itu bersandar sepenuhnya padanya. “Nama,” ucap Gerardo pelan. “Kita belum bicara soal nama.” Shena tersenyum lelah. “Aku menyimpan itu untukmu. Aku ingin kau yang memilih.” Gerardo menatap jendela, cahaya sore menembus tirai tipis. “Kalau begitu… kita pilih bersama. Seperti keluarga.” Shena menutup mata. Untuk pertama kalinya sejak semua tragedi itu terjadi, ia merasa aman. Tuan James memasuki ruangan Shena setelah mengetahui proses persalinan baru saja selesai, begitu dia masuk dia di kejutkan dengan keberadaan seorang pria yang tengah memeluk cucunya. Pandangannya penuh dengan tanya, begitu juga Gerardo yang terkejut. Dia langsung melepaskan pelukan itu, dan menatap wajah tuan James. Sebelumnya ia tak tahu dimana Shena berada. Tadi ia mendapat informasi dari Hector yang sudah di hubungi Daniel karena
Shena tercekat. Matanya membelalak, bibirnya terbuka tanpa suara. Gerardo tersenyum samar, lalu melangkah masuk perlahan. Lalu melihat dua bayi kembar di sampingnya. Shena tak berkata-kata. Air matanya langsung mengalir, begitu juga dengan perasaannya yang selama ini terpendam. "Gerardo..." ucapnya lirih. Gerardo menghampiri ranjang dan menunduk perlahan, menatap bayi mungil mereka. Jemarinya menyentuh lembut tangan si bayi. Perasaannya membuncah dia benar-benar tidak mempercayai hari ini, menerima keajaiban setelah empat bulan tertidur dan melihat anaknya dengan sehat dan selamat. Shena menahan tangisnya, tidak ingin terisak terlalu keras. Namun matanya membenarkan segalanya betapa ia merindukan pria ini, betapa ia takut kehilangan. "Maaf aku tidak ada saat kau melahirkan," kata Gerardo serak, menatapnya. Shena menggeleng sambil menghapus air matanya. "Kau datang tepat waktu... karena aku hampir percaya kau tak akan datang..." Gerardo menyentuh pipinya lembut, l
Teriakan Shena menggema di ruang bersalin. Tubuhnya sudah dibaringkan, wajahnya penuh keringat dan air mata. Para perawat dan dokter dengan sigap membantu proses kelahiran yang berlangsung lebih cepat dari perkiraan. Tuan James berdiri di luar ruangan dengan gelisah. Sesekali ia berdoa dalam hati, wajahnya tegang penuh kecemasan. Di tempat lain, di sebuah ruangan dengan penjagaan ketat, Gerardo terbaring lemah dalam kondisi koma. Tubuhnya dipenuhi selang dan alat bantu. Mesin monitor detak jantung terus berdetik dengan irama lambat dan stabil. "Sedikit lagi, Nyonya Shena! Tolong dorong lagi!" Shena menangis dalam lirih. Teriaknya bercampur dengan suara isak dan rasa sakit yang luar biasa. Mesin monitor di ruang ICU tempat Gerardo terbaring mendadak menunjukkan sedikit perubahan. Bip.Bip. Detak jantungnya naik perlahan. Jemarinya yang selama ini tak bergerak, sedikit menegang. "Dorong, Nyonya! Ayo... bayinya hampir keluar!" Shena memejamkan mata, menyalurkan seluruh
Paman dan bini Shena mengangguk. "Ya, sama-sama tuan." Setelah berbincang sebentar keduanya pun pergi. Shena merasa sedikit canggung di rumah ini. Namun Tuan James terus berusaha membuat Shena nyaman. Sepanjang waktu mereka bercerita banyak hal, termasuk pekerjaan yang di miliki keluarganya. Kakeknya bukan seorang pebisnis besar, tetapi dia punya cukup aset untuk bertahan hidup. Shena terus bercerita termasuk kondisi pernikahan dan juga kehamilannya, serta beberapa hal yang membuat ia terancam dengan suaminya itu. "Ayo, Shena. Rumah ini kini milikmu juga," ucap Tuan James kemudian mengarahkan Shena untuk berusaha nyaman di rumah ini. "Selamat datang, Nona," katanya. "Saya Maria, kepala pelayan rumah ini. Kami sudah menyiapkan kamar untuk Anda, dan dokter pribadi keluarga juga sudah diberitahu mengenai kondisi Anda." "Terima kasih," jawab Shena, masih terkesan dengan suasana rumah itu. Kakeknya memegang lembut bahunya. "Kau bisa istirahat setelah dokter datang memeriksa
Beberapa saat kemudian, Hector dan anak buah Gerardo lainnya membawa Gerardo ke rumah sakit. Tubuh mereka juga terluka tapi mereka lebih mementingkan keselamatan Gerardo. Sesampainya di rumah sakit yang di kelola keluarga Gerardo, tim medis segera menyambut dengan tandu. Tubuh Gerardo langsung dibawa ke ruang operasi. Dia di tangani dengan serius saat ini. *** Sedangkan di tempat lain, di rumah Tuan Damian, suasana masih diselimuti duka yang pekat. Shena duduk terdiam di ruang tamu, mengenakan pakaian hitam sederhana. Wajahnya pucat, matanya sembab, seolah air mata telah mengering tapi rasa sakitnya justru menetap. Beberapa saat kemudian, seorang pria dan seorang wanita melangkah masuk. Raut wajah mereka dipenuhi kekhawatiran yang tulus. “Shena,” panggil sang wanita pelan. Shena mengangkat wajahnya perlahan. “Paman… Bibi…” Paman itu mendekat, duduk di hadapannya. “Kami datang menjemputmu.” Shena mengerutkan kening. “Menjemput? Kita mau ke mana, Paman?” Pria itu s
Gerardo tetap tidak merespon, pria itu terus merokok. Lalu berkata. "Mungkin kamu benar dan aku akan tetap mengatur rencana untuk menghabisi Javier. Bukan untuk membalas dendam pada kematian Julius tapi untuk menunjukan kekuatan Olympus dalam menaklukan Pegasus. Sudah sejak dulu impianku untuk menghabisi Javier lalu mengambil Pegasus untuk tunduk di bawah kita," ucap Gerardo. Saat mengatakan itu Diego dan Hector melihat kilapan berapi-api, kebangkitan dan juga semangat juang yang tinggi. Tepat saat itu Gerardo melihat Shena berjalan keluar dari area pemakaman dengan wajahnya yang sembab dan pakaian yang berlumur tanah, dia berjalan dengan di dampingi pengawal dan Lily. Mereka tidak berjalan kearahnya, dan Gerardo sudah tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Shena masuk ke dalam mobil tuan Damian, tanpa berbicara pada Gerardo. Tidak lama mobil itu melaju. Gerardo berpikir tebakannya benar, Shena benar-benar akan pergi dari rumahnya. Hector menatap Gerardo. "Tuan apa kita







