Mag-log inSementara itu, di mansion, Shena duduk di ranjangnya sambil mengelus perutnya yang masih rata. Pernikahan mereka terasa begitu cepat dan penuh tanda tanya. Gerardo bahkan langsung pergi bekerja setelah mengantarnya pulang.
Shena menghela napas panjang. Ia tahu pernikahan ini bukan berdasarkan cinta, tapi tetap saja, ada sedikit rasa kecewa di hatinya. Tak lama kemudian, pintu kamarnya diketuk. "Nona, saya bawa teh hangat untuk AndGerardo baru tiba di ruangan kerjanya ketika itu Marcel menemuinya. “Gerardo!” Marcel tampak tersenyum dengan sumringah, dan Gerardo sudah tahu apa yang akan di bahas oleh pria itu. Pasti tentang beritanya. "Aku turut senang dengan berita terbarumu, Gerardo," ucap Marcel sambil menepuk punggungnya ramah. "Ya." Gerardo manggut-manggut. "Jadi, bagaimana dengan rencana terbarumu. Apa kamu akan mencari calon istri?" tanya Marcel yang belum tahu pernikahan Gerardo. Dan beruntungnya Gerardo tidak sedang dalam suasana hati yang buruk. "Menurutmu, apa aku akan menyia-nyiakan kesempatan ini?" ujar Gerardo. Marcel tersenyum, ia tahu maksudnya. “Jangan lupa undang aku di pernikahanmu nanti.” “Tentu saja.” Setelah kepergian Marcel—Gerardo melanjutkan pekerjaannya.
Shena menatapnya. Ia memang salah, ia sudah membangkang, walaupun ia menolak, sekarang Gerardo berhak atas tubuhnya. Gerardo tersenyum tipis, tidak ingin membuang waktu, ia segera menyambar bibir gadis itu untuk di kecupnya. “Emph..” Shena terkejut, ia merasakan kelembutan bibir pria itu melumatnya, sebelah tangannya menyelinap masuk ke dalam roknya. Hingga membuat tubuhnya berdesir. Gadis itu menegang, sentuhan tangannya berhasil membuat ia nyaris kehilangan kesadaran. Pelayan yang lewat mungkin akan pura-pura tidak melihat. Tapi ia tidak bisa membiarkannya terus seperti ini, karena Gerardo bisa menelanjanginya di sini. "Gerardo!" Shena berbisik di sela ciuman itu. Tapi, pria itu tidak mendengarkannya. Pria itu melumat bibir istrinya menjadi lebih intens. Sampai beberapa menit dia baru melepaskannya. Tangannya menangkup pipi itu mengamati wajah cantik di
Keesokan paginya, Shena terbangun, dia mengerjap saat merasakan tubuhnya bergesekan dengan pria itu. Ia membuka mata dan melihat Gerardo masih mendengkur. Shena tidak ingin membangunkan, ia melepas diri dari pelukannya dengan pelan. Kemudian menuruni tempat tidur dan mengumpulkan semua pakaian untuk ia kenakan. Saat pakaian lengkap sudah membalutnya ia menuruni lantai untuk membantu pekerjaan di dapur. Hanya saja ketika ia baru tiba di dekat pintu dapur ia berpapasan dengan Hector. “Nyonya, apakah Tuan Gerardo sudah bangun?” Shena menggeleng. “Sepertinya dia kelelahan. Sebenarnya apa yang sudah terjadi pada kalian, kenapa kalian baru pulang dini hari tadi?” Hector tidak segera menjawab. “Semalam kita ada urusan di lapangan. Perlu nyonya ketahui, tuan benar-benar sedang menghad
Setibanya di rumah, Gerardo menuruni mobil, hujan masih turun dengan deras, Dia menerobos hujan menuju pintu masuk ketika anak buah berlari dengan payung kearahnya. Rumah ini sudah sangat sepi saat Gerardo menaiki tangga lantai dua. Shena yang sejak tadi menunggu di kamar, langsung beranjak ke depan pintu saat mendengar langkah kaki Gerardo memasuki rumah. Namun, pria itu melewatinya begitu saja tanpa sepatah kata pun. Tatapan Shena mengikuti punggungnya yang basah kuyup diterpa hujan. Pakaian Gerardo menempel di tubuhnya, memperlihatkan betapa lelah dan tegangnya otot-ototnya. Tapi yang membuat Shena sedikit tersinggung adalah sikap dinginnya. Ia menunggu pria itu sepanjang malam, tapi Gerardo bahkan tidak menoleh padanya. "Gerardo..." panggilnya pelan. Pria itu tak menjawab. Dia langsung masuk ke kamar mandi, membanting pintu tanpa
Sore hari Gerardo sudah kembali ke ruangannya, pada saat itu teleponnya berbunyi. Ia segera menerimanya. "Halo, Tuan." "Ya." Gerardo langsung membangkitkan tubuhnya begitu mendengar suara anak buahnya. "Kita sudah tiba di bandara dan sedang dalam perjalanan membawa Dokter Karina. Tapi ada sebuah mobil SUV hitam yang mengikuti kita," terang anak buah Gerardo dalam telepon. Gerardo mencengkeram teleponnya erat. Gerardo menghela napas berat. "Jangan berhenti. Pastikan kalian tetap di jalur utama. Jika mereka mendekat, buat mereka berputar putar." "Dimengerti, Tuan." Gerardo menutup telepon, lalu segera menekan tombol lain untuk menghubungi Hector. "Hector, siapkan orang untuk mengawal mobil anak buah kita. Ada yang mengikuti mereka." Hector yang bersiap me
Siang harinya. Daniel berjalan memasuki ruangan dokter Andrologi di sebuah rumah sakit untuk mengambil hasil pemeriksaan tes kesuburan terbaru miliknya. Ia mendapati kabar dari bawahannya bahwa orang-orang Gerardo sempat meminta data pemeriksaan miliknya dua tahun lalu, Daniel merasa aneh karena merasa tes miliknya tak punya hubungan terhadapnya. Tapi dia juga mendapat laporan dari anak buahnya jika Gerardo meragukan hasil pemeriksaannya yang menyatakan Gerardo mandul dua tahun lalu. Dengan itu Daniel menduga jika Gerardo mencurigai bahwa ada manipulasi yang di lakukan di rumah sakit itu. Dan mencurigai bahwa datanya di tukar dengan milik Daniel. Karena perasaannya tak enak, dia tak ingin menduga-duga jadi ia langsung melakukan pemeriksaan di rumah sakit yang berbeda. Karena jika hasil itu tertukar, maka dugaan buruk nya adalah nyata.







