로그인Kalimat permohonan maaf itu cuma empat kata, tapi sukses membuat lidah Nathan mendadak kelu. Amarah yang sudah di ujung bibirnya hilang begitu saja, berganti dengan rasa syok yang menjalar ke seluruh aliran darahnya. Bahkan jantungnya seperti berhenti berdetak.Ia kenal betul suara ini. Suara yang lima tahun belakangan ini terus menari-nari di benaknya. Suara yang membuatnya memiliki satu-satunya alasan selalu mengulur-ngulur waktu setiap kali Papanya Clara menanyakan kapan mereka akan menikah.Nathan membeku menatap wanita yang menunduk gemetar di depannya. Ada dorongan kuat di dalam hatinya untuk langsung menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya—menumpahkan rasa rindu gila yang menyiksanya tiap detik dalam hidupnya. Tapi di detik berikutnya, rasa benci tiba-tiba menguasai pikiran pria itu. Rasa sakit hati karena merasa dibuang saat ia terpuruk kembali membakar dirinya. Pria itu sama sekali tidak tahu kalau Salsa sebenarnya dipaksa pergi dan diusir secara kejam. Yang dia tahu, Sa
****Lima Tahun KemudianWaktu ternyata berjalan tanpa pernah peduli pada siapa pun yang tertinggal di belakang. Lima tahun berlalu, namun sisa-sisa badai masa lalu itu masih meninggalkan bekas yang amat dalam.Tahun pertama adalah masa-masa paling berat bagi Nathan. Hampir tiga ratus enam puluh lima hari hidupnya dipertaruhkan di atas tempat tidur rumah sakit di luar negeri, berjuang di antara hidup dan mati. Di masa-masa kelam itu, tak ada hari tanpa tangisan Alea. Anak gadisnya itu seolah kehabisan air mata karena terus meratapi kondisi papanya yang tak kunjung melek. Di sisi lain, ada Clara yang setia mendampingi—menjadi sosok yang selalu ada di setiap helaan napas berat Nathan selama masa pemulihan.Sementara itu di tanah air, roda bisnis Abimanyu Group tetap berputar pincang di bawah kendali Raka. Harus diakui, tanpa kehadiran Nathan, perusahaan itu tak lantas langsung meroket seperti sedia kala. Raka berjuang mati-matian menjaga agar fondasi yang tersisa tidak runtuh sepenuhnya.
“Alea gak mau,” tolaknya sambil menggeleng.“Kamu mau lihat Papamu mati, huh?” balas Nyonya Abimanyu menatap cucunya dengan penuh amarah, bahkan matanya melotot saking keselnya pada Alea.Entah kenapa akhir-akhir ini sang cucu menjadi anak yang sangat menyebalkan. Nyatanya tadi sudah jelas-jelas dirinya menyuruh Alea bicara kasar pada Salsa agar wanita miskin itu membenci Alea dan tidak berani lagi menghubungi cucunya. Tapi lihatlah, cucu yang sudah ia rawat dari kecil ini malah memeluk Salsa dan menangis meminta maaf menjelang kepergian wanita itu. Sungguh Nyonya Abimanyu dibuat geram oleh kelakuan Alea yang terus-menerus membantah ucapannya.Beberapa hari yang lalu, sang cucu juga sempat bertengkar hebat dengan Clara. Di saat Nyonya Abimanyu dan suaminya rela merendahkan harga diri demi memohon bantuan untuk Nathan, Alea dengan sombongnya justru menyulut amarah Clara. Akibatnya, Clara murka dan tidak mau lagi datang ke rumah sakit menunggui Nathan sampai pria itu pulih.“Non, please
Mendengar ucapan Alea, Raka langsung berlari menuju ruang ICU. Jantungnya berdegup kencang takut jika Nathan benar-benar pergi untuk selamanya. Ucapan dokter semalam masih terngiang-ngiang di benaknya dan Raka berharap semua ketakutan dokter itu tidak akan pernah terjadi. “Bangun, Pak. Ayo sembuh biar Bapak bisa melindungi Salsa. Bangun, Pak,” ucap Raka dalam hati. Alea menyusul Raka dari belakang. Gadis itu tak ingin kehilangan sang papa. Tidak ada ada orang yang menyayanginya melebihi sang papa.Sementara di depan ruang ICU, suasana yang tadinya tenang seketika berubah menjadi kekacauan yang sangat menakutkan. Suara peringatan dari alat medis di dalam ruangan seketika berbunyi nyaring nggak bisa didengar sampai di depan ruang ICU, memutus keheningan dan membuat hati siapa pun yang mendengarnya makin sakit.Pintu ruang ICU dibuka paksa dari luar. Beberapa dokter dan perawat berlari kencang menerobos masuk sambil mendorong troli darurat yang penuh dengan alat-alat medis, cairan obat,
Tanpa menanggapi ucapan Alea, Salsa memilih keluar dari ruangan itu. Setelah melepas pakaian steril yang tadi ia pakai, Salsa langsung menemui sang ayah. Semua orang menatapnya jijik. Tapi Salsa tak peduli itu. Dia bahkan tak berpamitan pada siapa pun ketika melangkah menjauhi ruang ICU bersama sang Ayah. Salsa tak menoleh lagi ke belakang, tapi dia mendoakan yang terbaik untuk Nathan.“Biar Ayah yang bawain tasnya, Nak,” ucap sang Ayah memberi tawaran. Salsa menggeleng dan memilih terus berjalan sambil menggandeng tangan sang ayah agar tubuhnya tidak oleng. Kakinya lemas seperti tak bertulang, bahkan seluruh tubuhnya terasa sangat dingin. Belum lagi kram di perutnya masih terasa jelas seolah sedang ada yang menggigit perutnya hingga sakit. Sesekali dia meringis menahan sakit yang menyerangnya.Saat akan belok di ujung lorong, suara Alea menghentikan langkahnya.“Tunggu,” ucap Alea. Salsa berhenti dan membalikkan badan guna bisa menatap Alea. Siapa sangka Alea malah berlari ke arahnya
Salsa dan ayahnya masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh Raka. Sementara kedua orang tua Nathan dan Alea masuk ke dalam mobil pribadi Nathan yang dikendarai oleh sopir mereka.Di dalam mobil, suasana terasa begitu hening. Raka beberapa kali melirik ke kaca spion tengah, menatap Salsa yang duduk termenung dengan wajah pucat pasi. Hati Raka terasa sakit, hingga akhirnya ia tak sanggup lagi menahan rasa bersalah yang sejak tadi menggerogoti hatinya.“Salsa, aku minta maaf...” suara Raka bergetar, menandakan Kalau pria itu benar-benar merasa bersalah pada Salsa wanita yang sangat dicintai oleh atasannya. “Aku benar-benar minta maaf tidak bisa menjaga rahasia hubunganmu dengan Pak Nathan. Saat perusahaan akan diakuisisi oleh perusahaan lain, Nyonya Abimanyu meminta Pak Nathan untuk menikahi Nona Clara agar semua masalah yang dihadapi Pak Nathan segera tuntas.”Raka menghela napas berat, mencoba menahan air mata yang mulai membendung di pelupuk matanya.“Tapi bukannya menyetujui ucapan N
Di sisi lain, layar ponsel di genggaman Zara mendadak terasa panas saat sebuah unggahan video di media sosial menampilkan sosok Aditya. Di dalam rekaman video itu, Aditya berjalan menunduk dengan tangan terborgol, dikelilingi beberapa petugas kepolisian yang menggiringnya masuk ke mobil tahanan. T
Begitu pintu ruangannya tertutup dan Salsa keluar, Nathan langsung melonggarkan dasinya yang terasa mencekik leher. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. Dia tidak membuang waktu untuk memikirkan hal lain dan langsung meraih ponsel pribadinya di atas meja kerja. Targetnya sudah jelas, yaitu menghanc
Nathan menatap tubuh Salsa dari atas hingga bawah, sementara gadis itu hanya bisa meneteskan air mata sampai akhirnya suara Nathan membuatnya buru-buru mengusap air mata yang membasahi kedua sudut matanya.“Jangan buat nafsuku hilang. Kau disini wajib melayani nafsuku dan membuatku puas,” ujar pria
Salsa berjalan mondar-mandir di depan ruang ICU, lalu bersandar lemas ke dinding ruang tunggu. Tatapan matanya terus-terusan tertuju pada pintu kaca buram di depannya. Pikiran Salsa sudah kacau sejak mendapat kabar kalau ayahnya kritis dan mengalami pendarahan hebat di otak akibat kecelakaan maut ya







