FAZER LOGINKeesokan harinya, seusai berdandan dan memastikan penampilannya tampak rapi sekaligus segar sesuai permintaan Nathan, Salsa keluar rumah dengan perasaan yang gugup bukan main.
Sebuah mobil mewah berwarna hitam legam sudah terparkir di depan gerbang. “Non Salsa, ya?” tanya seorang pria paruh baya yang berdiri di dekat mobil mewah. “Bapak siapa?” Salsa balik bertanya, untuk memastikan. “Saya sopir Tuan Nathan. Diminta menjemput Non Salsa untuk diantar ke vila,” jawab pria itu ramah. Setelah Salsa mengangguk mengiyakan, sopir itu langsung membukakan pintu belakang dengan sopan meminta Salsa masuk. “Silakan masuk, Non.” “Terima kasih, Pak. Tapi panggil Salsa saja,” pinta Salsa setelah duduk di jok belakang. Sang sopir hanya mengangguk meski ia tak akan patuh pada permintaan Salsa barusan. Mobil mewah itu kemudian melaju, membelah keramaian kota di hari weekend menuju ke sebuah vila di sudut kota, tepat di tepi pantai yang sepi pengunjung. Lokasi vila itu benar-benar jauh dari pemukiman penduduk maupun vila-vila lainnya. Sebenarnya tempat seperti ini sangat cocok dan nyaman untuk orang berkarakter introvert seperti Salsa. Namun, situasi kali ini berbeda. Berada di tempat sepi seperti ini justru membuat nyali Salsa ciut karena dia tahu akan segera berduaan dengan Nathan. Pertanyaan-pertanyaan cemas mulai menari-nari di dalam benaknya. Apa mungkin perempuan biasa seperti dirinya bisa memuaskan Nathan? Pria matang yang pesonanya selalu sukses membuat para wanita menjerit histeris setiap kali melihatnya. Atau jangan-jangan, Nathan justru akan menyiksanya kalau dia tidak bisa melayani pria itu dengan baik? Salsa bergidik ngeri membayangkan hal buruk yang bisa saja menimpanya. Tapi demi sang Ayah, matipun Salsa rela. Semua pikiran liar itu terus berputar-putar di otaknya tanpa menemukan jawaban, sampai akhirnya suara sang sopir membuyarkan lamunannya. “Silakan turun, Non. Tadi Tuan meminta Non Salsa untuk menunggu di ruang tamu dulu. Semua pintunya sudah terbuka otomatis,” ucap sopir itu, yang rupanya tetap memilih memanggilnya dengan sebutan Non. “Terima kasih, Pak.” Dengan rasa takut yang menjalar di sekujur tubuhnya, Salsa pun turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam vila yang terlihat sangat mewah dan luas itu. Jantungnya berdegup semakin kencang saat dia duduk seorang diri di sofa ruang tamu sesuai dengan permintaan sopir pribadi Nathan. Salsa mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang sepi. “Apa Om Nathan belum datang, ya?” pikirnya dalam hati, mencoba menebak situasi yang menantinya di depan mata. “Ayo naik,” suara Nathan dari lantai dua berhasil membuat wajah Salsa pucat. Jantungnya menggedor-gedor sangat keras di rongga dadanya. Tak ingin membuat pria itu marah, Salsa pun naik ke lantai atas dengan kaki yang kian lemas. “Masuk, dan kunci pintunya,” perintah Nathan dengan nada datar, hingga membuat nyali Salsa semakin ciut. Setelah terdengar suara pintu yang terkunci, Nathan kembali bersuara tanpa mengalihkan pandangannya, “Kemarilah.” Dengan gugup yang luar biasa, Salsa berjalan mendekati ayah sahabatnya itu. Nathan bangkit dari sofa, lalu menatap Salsa dari atas sampai bawah secara perlahan. Langkah kaki Nathan yang mantap membawanya berjalan mendekat, hingga pria itu berhenti tepat di depan Salsa. Jantung Salsa berdebar tak karuan. Napasnya seketika tercekat saat tubuh Nathan kini hanya berjarak sejengkal darinya. “Kamu tegang banget,” gumam Nathan pelan. Napasnya yang hangat menyapu leher Salsa, dan aroma maskulin yang menguar kuat dari tubuh pria matang itu membuat seluruh tubuh Salsa gemetar hebat. “O–Om...” Salsa mencicit, suaranya tertahan di tenggorokan. “Rileks, Salsa,” ujar Nathan lagi, kali ini nadanya jauh lebih lembut. Jari panjangnya yang hangat menyentuh dagu Salsa, mengangkatnya perlahan namun menuntut kepatuhan agar sepasang mata mereka saling menatap. Tatapan tajam Nathan seolah mengunci seluruh kesadaran Salsa. Pria itu berbisik lagi, menegaskan posisinya, “Kita mulai, ya…” Tubuh Salsa semakin menegang hebat. Otaknya meneriakkan alarm untuk segera mundur dan kabur dari sana, tetapi anehnya, tubuhnya seolah terkunci dan tak bisa bergerak sama sekali. ‘Apa yang dia lakukan padaku… dan kenapa tubuhku malah bereaksi seperti ini?’ batin Salsa.Nathan mengajak yang lainnya untuk ke ruang keluarga setelah makan malam mereka berakhir. Si kembar sibuk makan buah sambil nonton kartun kesayangannya di layar besar yang ada di sana. Sementara Alea, duduk diantara Mama dan Papanya. Raka mengawasi si kembar, sesekali memberi minum saat bocah itu tersedak. “Pa, harusnya papa nggak perlu kirim uang sebanyak itu buat Alea. Tolong jangan bikin Raka jadi laki-laki yang tidak berguna dong, Pa. Alea juga udah punya hasil sendiri untuk biaya pernikahan kami,” ucapnya. Bukan berniat menolak pemberian sang papa, tapi siapa yang nggak kaget tiba-tiba ada transaksi sebesar 10 miliar masuk ke dalam rekeningnya. Awalnya dia ada Raka mau makan malam di luar, tapi gara-gara transferan itu membuatnya memilih untuk makan malam bersama Papa dan Mama angkatnya. “Nanti setelah menikah biar jadi urusan suamimu atas dirimu dan anak-anak kalian kelak, sayang. Lagian itu Mama yang transfer,” ucap Nathan. “Ma,” panggil Alea merengek.“Stop ya, Al. Muak kal
“Capek gak, sayang?” Tanya Salsa saat menyambut kepulangan sang suami dari kantor. Tadi sebelum Nathan pulang dia juga sudah memberi kabar pada istrinya bahwa pertemuan hari ini dengan klien bisnisnya berjalan dengan lancar, bahkan kerjasama jangka panjang itu sudah mereka tanda tangan. Mendengar rezeki suaminya yang tiada henti membuat Salsa terus bersyukur dan berharap suaminya selalu diberi kesehatan. Mendengar pertanyaan dari istrinya Nathan memicingkan mata menatap ke arah istrinya, mereka sudah tiba di kamar. “Tumben tanya-tanya capek, sayang? Mau berapa ronde lagi?” bisiknya.BugSalsa memukul gemas lengan suaminya membuat pria itu terkekeh. Dia membantu Nathan membuka jas kerjanya, lalu mengambilkan air putih untuk sang suami. Mereka duduk di sofa yang ada di kamar itu sembari Nathan membuka sepatunya.“Jangan lupa utamakan kesehatan ya, sayang. Aku nggak mau kamu mati-matian kerja kalau ujung-ujungnya nanti malah ngedrop,” ucap Salsa sambil menatap bola mata abu milik sang s
“Kita eksekusi sekarang saja, Bos, kebetulan Nathan Abimanyu tidak membawa anak buahnya,” ucap salah satu orang suruhan Aditya di dalam mobil Jeep itu yang Sudah beberapa hari ini membuntuti Nathan dan Salsa.“Jangan bertindak gegabah, kita ikuti saja dulu ke mana mereka pergi. Dari sana kita akan bisa mendapatkan celah untuk melaksanakan rencana yang sudah kita susun. Lebih baik terlambat tapi berhasil daripada kita tergesa-gesa tapi hasilnya nol. Pekerjaan ini resikonya sangat berat, yang kita hadapi bukan orang sembarangan. Kita nggak bisa asal-asalan mempertimbangkan waktu yang tepat untuk eksekusi,” sahut pimpinan preman itu.Bayangan mendapatkan bonus fantastis dari Aditya Sudah ada di depan mata mereka. Tapi mereka tetap harus menahan diri dan mencari waktu yang tepat untuk melaksanakan tugasnya itu. Setiap kali Nathan berbelok ke perumahan elit itu, mobil Jeep yang selalu membuntutinya mengambil arah yang berlawanan agar tidak membuat Nathan curiga. Tapi targetnya sudah jelas,
Nathan dengan terburu-buru membuka seluruh pakaiannya begitu dia dan Salsa tiba-tiba di kamar hotel yang disewanya siang ini. “Sayang, kamu kayak orang yang sudah lama gak berhubungan badan saja,” omel Salsa melihat reaksi suaminya yang berlebihan.“Di rumah gak pernah puas, sayang. Baru masuk Kenzo dan Kenzi udah teriak. Ma, Pa ngapain di kamar mandi lama banget,” sahut Nathan menirukan ucapan si kembar tadi pagi saat dia menyentuh istrinya di toilet pagi-pagi buta. Salsa terkekeh mendengarnya. Ternyata memiliki anak seusia si kembar membuat mereka kewalahan saat ingin berhubungan badan. Apalagi si kembar tidak ingin jauh-jauh sedikitpun dari sang Mama saat tidur malam. Mereka benar-benar menolak diminta tidur di kamar masing-masing. Bahkan dengan lantang mereka malah mengusir Nathan dan meminta Papanya Itu untuk tidur di kamarnya, lalu membiarkan mereka tidur bersama sang mama.“Anak kita sudah ketempelan sama kamu, sayang. Susah nyari puas di rumah,” bisiknya lagi sambil mencium
Akhirnya Clara benar-benar sudah bisa berdamai dengan takdir hidupnya yang kejam. Sejak kedatangan Nathan yang menunjukkan ketulusan niat jujur untuk membantunya bangkit dari jurang keterpurukan, Clara bersumpah dalam hati kecilnya kalau suatu saat nanti dia harus menjadi seorang wanita karir yang sukses dan mandiri. Dia sudah kapok dan tidak akan mau lagi berteman dengan siapa pun yang selama ini hanya memanfaatkan kekayaan serta fasilitasnya saja, lalu tanpa perasaan meninggalkannya di saat dirinya jatuh terpuruk. Bahkan rasa sakitnya tidak berhenti sampai di sana. Beberapa sahabat dekat yang dulu selalu ia bantu kehidupan ekonominya secara cuma-cuma, justru menjadi orang pertama yang ikut menghujat, memojokkan, dan menghakiminya atas kesalahan serta kejahatan yang sama sekali tidak pernah dirinya lakukan.Clara juga sudah bulat dan mantap memutuskan untuk ikut bersama kedua orang tua Nathan pergi menetap di London. Lagipula, negara itu sudah sangat familier buat Clara, mengingat b
Nathan merengkuh saku jasnya lalu mengeluarkan selembar cek dengan nominal yang sangat fantastis. Jumlah angka di sana bahkan jauh lebih besar daripada seluruh harta simpanan keluarga Darmawan yang kemarin dibawa kabur oleh Aditya. Nathan menggeser cek itu agar lebih dekat lagi ke arah Clara."Aku harap kamu mau menerima bantuan yang tak seberapa ini. Ini benar-benar tulus aku dan istriku berikan untukmu agar kamu bisa melanjutkan hidup di luar sana. Ini pemberian tulus dari kami bukan utang. Kehidupanmu mungkin memang sudah tidak bisa kembali seperti dulu lagi. Papamu sedang di dalam sel untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, sementara mamamu sudah tenang di alam sana. Tapi aku yakin banget, mamamu pasti ingin melihat kamu bahagia. Beliau pasti ingin kamu bangkit, menjadi pribadi yang lebih kuat, dan bisa membuat hidupmu tetap berjalan meskipun dunia terasa sangat tidak adil untukmu. Pintu rumahku 24 jam selalu terbuka untukmu. Kapan pun kamu membutuhkan bantuan, datang dan temui
Di dalam taksi online, air matanya menetes membasahi layar ponselnya yang menunjukkan jam digital. Sepuluh menit perjalanan rasanya seperti berabad-abad. Begitu mobil berhenti di depan sebuah gerbang rumah mewah di pusat kota, Salsa langsung turun.Rumah mewah itu berdiri megah, seolah tak tersentu
Salsa berjalan mondar-mandir di depan ruang ICU, lalu bersandar lemas ke dinding ruang tunggu. Tatapan matanya terus-terusan tertuju pada pintu kaca buram di depannya. Pikiran Salsa sudah kacau sejak mendapat kabar kalau ayahnya kritis dan mengalami pendarahan hebat di otak akibat kecelakaan maut ya
Nathan menatap tubuh Salsa dari atas hingga bawah, sementara gadis itu hanya bisa meneteskan air mata sampai akhirnya suara Nathan membuatnya buru-buru mengusap air mata yang membasahi kedua sudut matanya.“Jangan buat nafsuku hilang. Kau disini wajib melayani nafsuku dan membuatku puas,” ujar pria
“Ta–tapi saya gak mau pakai baju ini, Om,” cicit Salsa, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya yang sudah hampir habis ditelan ketakutan setiap kali bertemu dengan Nathan.Nathan yang sejak tadi sibuk di depan MacBook seketika berhenti mengetik. Dia menoleh ke sumber suara, menatap Salsa dengan r







