Mag-log inNathan menatap tubuh Salsa dari atas hingga bawah, menyapu setiap inci paras dan lekuk gadis di depannya dengan tatapan penuh minat. Menyadari itu, Salsa buru-buru mengusap jejak air mata di sudut matanya, menahan napas yang terasa berat.
“Aku tidak suka melihat ada orang menangis di depanku,” ujar Nathan datar. Suara baritonnya begitu tenang, namun berhasil membuat Salsa tak berani membantah. “Kamu di sini karena kesepakatan kita, Salsa.” Salsa mengangguk patuh. Hatinya bergejolak ingin menolak. Ada rasa bersalah, malu, dan takut yang bercampur jadi satu di hatinya. Ini pertama kalinya dia menyerahkan diri pada seorang pria—dan pria itu adalah ayah dari sahabatnya sendiri. Pikirannya seketika meragukan akan masa depannya, tetapi ingatan akan wajah sang ayah di ruang ICU memaksa Salsa untuk bertahan. Tanpa memutuskan kontak mata, Nathan mengikis jarak. Tangan kekarnya merengkuh pinggang Salsa, menarik tubuh mungil itu mendekat hingga tak ada celah di antara mereka. Nathan melumat bibir Salsa dengan dalam dan menuntut, membimbing langkah gadis itu menuju ranjang tanpa memutuskan ciuman panas mereka. Begitu bagian belakang lutut Salsa menyentuh tepi kasur, Nathan mendorong tubuh mungil itu hingga terbaring di atas ranjang. Nathan melepas pakaiannya sendiri. Jemari pria itu kemudian terulur membuka kancing dan meluruhkan gaun tidur berbahan brokat mahal yang dikenakan Salsa, membiarkannya terjatuh di lantai. Pandangan Nathan kian berkabut nafsu. Kulit mulus dan keindahan tubuh Salsa yang terpapar utuh di depannya membuat napas pria matang itu mengatup berat. Salsa memalingkan wajah ke samping, enggan menatap tatapan tajam pria yang kini berada di atas tubuhnya. Namun, sentuhan Nathan tidak bisa ia hindari. Pria itu menyusuri leher Salsa dengan ciuman-ciuman hangat dan turun lalu berhenti di atas dadanya, meninggalkan jejak kepemilikan dan ruam kemerahan di kulit mulusnya. Desahan kecil lolos dari bibir Salsa saat bibir dan jemari Nathan mulai menjelajahi bagian paling sensitif tubuhnya. Tubuh Salsa menegang. Akalnya terus berteriak bahwa ini adalah transaksi yang salah, tetapi anehnya, sentuhan panas dari pria matang di atasnya ini mengirimkan desiran hangat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Setiap kali Salsa mencoba menggeser tubuhnya karena panik, kurungan tubuh kekar Nathan dengan mudah menahannya. “Rileks,” bisik Nathan di ceruk leher Salsa. Suaranya serak dan hangat, bertolak belakang dengan aura dingin yang biasa ia tampilkan. Pria itu menengadah sejenak, menatap mata Salsa yang berkaca-kaca. “Kamu tegang sekali... Apa kamu belum pernah melakukan ini sebelumnya?” Salsa hanya menggeleng, tak sanggup bersuara. Nathan sempat terdiam sejenak. Dalam dunia bisnis dan pergaulannya, sulit mempercayai ada gadis dewasa yang benar-benar belum tersentuh, apalagi Salsa langsung menyetujui tawaran transaksional ini demi uang satu miliar. Pria itu mengira Salsa hanya bersikap pura-pura polos. Namun, ada sesuatu dari getaran tubuh Salsa yang membuat Nathan tergerak untuk membuktikannya sendiri. Sebagai pria yang terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan, Nathan menyusuri setiap jengkal tubuh Salsa, menuntun gadis itu masuk lebih dalam ke dalam pusaran gairah yang makin sulit dikendalikan. “Lebarkan kakimu, Salsa,” perintah Nathan dengan suara parau. Salsa yang dirayapi rasa malu justru makin merapatkan kedua pahanya. Ketakutan dan kepasrahan saling bertolak belakang di dalam dirinya. Namun, Nathan bukanlah pria yang bisa ditolak. Dengan usapan yang lembut di pangkal pahanya, Nathan memisahkannya, memamerkan milik Salsa yang paling rahasia di hadapannya. Wajah Salsa memerah padam. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa seperti tersengat aliran listrik tegangan tinggi. Saat matanya tak sengaja menangkap milik Nathan, rasa panik mulai menyergapnya—apakah benda besar dan panjang itu bisa masuk ke lubang sempitnya? Nathan memosisikan dirinya dan mulai melakukan penyatuan. Penyatuan pertama terasa tertahan. Rasa sempit dan hambatan yang nyata membuat Nathan kesulitan menerobos gawang itu. Pria itu menyadari gawang ini belum pernah tersentuh. Namun, nafsu yang sudah mulai memuncak membuat Nathan mendorong lebih dalam hingga gawang itu bobol juga. Pekikan tertahan dan isakan perih lolos dari tenggorokan Salsa saat sensasi yang sangat menyakitkan seolah merobek kesadarannya. Salsa memejamkan mata, jemarinya secara refleks mencengkeram kuat bahu kokoh Nathan, menyalurkan rasa sakit yang tak tertahankan. Nathan menghentikan gerakannya sejenak, membiarkan Salsa beradaptasi dengan rasa baru itu. Matanya menangkap noda merah segar yang mulai menghiasi sprei putih di bawah tubuh mereka. Rasa terkejut sekaligus kepuasan seketika menjalar di hati Nathan. Gadis ini benar-benar masih suci. Senyum tipis yang sarat akan dominasi terbit di sudut bibir Nathan. “Ternyata kamu masih perawan...” gumamnya parau. Tanpa membuang waktu lagi, Nathan melanjutkan kegiatan panas mereka. Jeritan kecil dan rintihan Salsa perlahan bercampur dengan desahan pasrah saat sentuhan Nathan tak hanya membawa rasa perih, tetapi juga gejolak nikmat yang mengkhianati penolakan batinnya. Hari ini, Nathan benar-benar menuntaskan nafsunya hingga mencapai puncaknya surga dunia, bahkan meminta Salsa melayaninya kembali. Beberapa saat kemudian, Salsa tampak merintih saat mencoba turun dari tempat tidur. Tubuhnya terasa pegal dan sakit. Berbeda dari dugaan Salsa bahwa pria itu akan meninggalkannya begitu saja, Nathan justru menunjukkan kesabaran yang tak terduga. Pria itu menunggu Salsa membersihkan diri hingga memakai kembali pakaiannya, karena dia sendiri yang akan mengantarkan Salsa kembali ke rumah sakit. Sebelum Salsa melangkah keluar dari vila menuju mobil, Nathan merogoh dompetnya dan menyodorkan setumpuk uang kertas bernilai nominal tinggi di atas meja. “Ambil ini untuk membeli pakaian baru dan parfum mahal,” ucap Nathan, matanya menatap tenang ke arah Salsa. Mata Salsa menatap sendu tumpukan uang pecahan seratus ribu di hadapannya. Perasaan kerdil kembali menghujam hatinya. Apakah ini harga dari kehormatan yang baru saja ia serahkan pada pria ini? batinnya pilu. “Ambil, Salsa,” ulang Nathan karena pria itu tidak menerima penolakan. Tak ingin memicu kemarahan pria itu, Salsa meraih uang tersebut dengan tangan gemetar. “Bolehkah uang ini Salsa pakai untuk mengangsur utang satu miliar itu, Om?” tanya Salsa. Nathan hanya mendecak pelan, tak memberi jawaban pasti atas pertanyaan lugu itu, membuat Salsa refleks menunduk canggung. “Terima kasih, Om... Kalau boleh, sebagian uangnya mau Salsa pakai untuk melunasi tunggakan uang kuliah,” bisik Salsa lagi, berharap pencerahan. “Hmm,” sahut Nathan singkat dengan deheman berat yang memberi sinyal persetujuan. Salsa segera memasukkan uang tersebut ke dalam tasnya. Mereka kemudian berjalan menuju mobil mewah Nathan. Hari itu, Nathan sendiri yang mengambil alih kemudi karena sopir pribadinya sedang menyelesaikan urusan lain. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, suasana di dalam kabin mobil diselimuti keheningan. Kesunyian itu membuat Salsa merasa canggung dan tak tenang, memandangi pepohonan di luar jendela untuk mengalihkan rasa tegangnya. Hingga akhirnya, mobil mewah itu berhenti di area drop-off lobi rumah sakit. Sebelum Salsa meraih gagang pintu untuk turun, suara berat Nathan kembali terdengar. “Masih terasa sakit?” Pipi Salsa seketika merona merah mendengar pertanyaan jujur dari pria di sampingnya. “Ma–masih sedikit, Om,” jawabnya terbata. Nathan menatapnya sejenak dengan pandangan yang sulit diartikan. “Nanti kalau sudah terbiasa, rasa sakitnya akan berganti nikmat.” Kalimat itu makin membuat wajah Salsa memanas, Salsa pun berpamitan, “Salsa turun dulu, Om.” Ia segera membuka pintu dan turun dari mobil mewah tersebut. Namun, baru satu langkah kakinya menepaki anak tangga lobi rumah sakit, tubuh Salsa mendadak tak bisa bergerak. Matanya terbelalak menatap sosok yang berdiri tak jauh di depannya—sosok yang menatapnya dengan penuh amarah seolah ingin mengulitinya hidup-hidup. Bibir Salsa bergetar ingin menyapa, tetapi lidahnya kelu. Keringat dingin seketika bercucuran membasahi punggungnya.Semakin pamannya ngomel semakin kuat keinginan Zara untuk memilih jalan pintas mengakhiri masalah yang dihadapinya. Seandainya pamannya mengetahui kalau dirinya sedang mengidap penyakit mematikan, mungkin detik ini juga dia sudah diusir dari rumah ini. Zara memilih diam dan membiarkan ibunya yang berdebat dengan pamannya itu.“Iya nanti kami cari kerja. Lagian rumah ini peninggalan ayah dan ibu. Aku juga ada ayah dan ibu. Jangan kamu menyuruhku untuk menambah laki-laki brengsek itu lagi,” sahut ibunya Zara mendengar ucapan kakaknya. “Terserah,” balas pria itu langsung keluar dari kamar yang ditempati adiknya dan keponakannya yang super males itu.Lama ibunya Zara terdiam, sampai akhirnya dia punya ide, “ibu akan minta modal dari Salsa. Ibu yakin dia masih mau membantu kita. Kita harus keluar dari rumah ini,” ujar sang ibu.“Terserah ibu,” balas Zara. Saat itu juga ibunya mulai bersiap-siap membuat Zara bingung, “ibu mau kemana?” tanyanya.“Mau ke kantor Abimanyu Group. Ibu akan buat
Zara masih menangis histeris dan menolak hasil laboratorium yang dibacakan oleh dokter. Dia enggak percaya kalau dirinya mengidap penyakit HIV/AIDS, penyakit mematikan yang belum ada obatnya sampai detik ini. Dia terus menangis meraung-raung, bahkan menjambak rambutnya. Suster yang ada di ruangan dokter berusaha ikut menenangkan, tapi tangisan itu terus terdengar semakin menyayat hati.Dokter paruh baya itu menatap iba ke arah pasien di hadapannya ini. Semua orang yang mendapatkan hasil kesehatan dengan virus mematikan ini pasti tidak bisa menerima kenyataan pahit itu. Tapi sebagai dokter yang sering menghadapi pasien yang sama, beliau dengan sabar berusaha menenangkan dan memberi penjelasan yang logis pada pasien di depannya ini.“Bu Zara, dengan Anda menangis seperti ini tidak akan mengubah apa pun. Tolong berhenti menangis biar saya bisa menjelaskan apa yang bisa Ibu lakukan ke depannya. Masih ada pengobatan yang bisa Ibu lakukan untuk menghambat perkembangan virus di tubuh Ibu,” u
“Sekolah di rumah aja ya, Pa,” bujuk si kembar.“No, sayang. Kalian harus sekolah formal,” jawab Nathan.“Tapi nanti kalau ngantuk di sekolah gimana, Pa?” Gadis kecilnya merengek pada sang papa.“Tahan dong sayang. Saat belajar nggak ada yang boleh tidur ya. Kalau sampai ada yang tidur, tidak nurut apa kata Papa Mama, dan nakal di sekolah maka Papa tidak akan pernah belikan mainan lagi!” Ancaman Nathan membuat kedua anaknya memberengut tanpa berkata apapun sebagai balasan.Setelah 30 menit berlalu akhirnya mereka sampai di sekolah baru si kembar. Untung tubuhnya bongsor, jadi orang tidak akan tahu kalau usia mereka kurang dari 6 tahun. Untung juga kekuatan sang Papa sangat luar biasa sehingga bisa membuat si kembar diterima di sekolah terbaik di negeri ini. Bayarannya tidak main-main, bahkan Nathan langsung mendaftarkan diri sebagai donatur tetap yayasan ini. “Selamat pagi dan selamat datang, Kenzi dan Kenzo,” sapa Miss Ratna, wali kelas mereka menyambut kedatangan anak didiknya.“Se
“Apa kamu benar-benar sudah ikhlas melihat Nathan berbahagia dengan Salsa, Aunty enggak mau kamu nanti berbuat yang bukan-bukan terhadap mereka. Tolong untuk ke depan, segala sesuatu yang kamu lakukan adalah yang terbaik. Nathan dan Salsa begitu tulus ingin melihatmu bangkit dan tidak tenggelam dalam keterpurukan yang tak bertepi,” ucap Nyonya Abimanyu memberikan nasihat pada Clara.Mereka masih berada di dalam pesawat menuju ke London. Saat ini, pramugari menyajikan hidangan utama untuk Clara dan kedua orang tua Nathan.Mendengar ucapan Nyonya Abimanyu membuat Clara menghentikan niatnya untuk makan, lalu menatap wanita paruh baya di depannya ini.“Demi apa pun, aku sudah tidak punya perasaan jahat lagi pada Salsa maupun Nathan. Aku sudah ikhlas, Aunty. Aku sudah ikhlas menerima takdir ini. Bahkan, aku sendiri bingung ke mana rasa cinta yang dulu aku rasakan buat Nathan, sekarang benar-benar tidak tersisa sedikit pun,” ungkapnya jujur.Nyonya dan Tuan Abimanyu bisa menghela napas lega
Nathan mengajak yang lainnya untuk ke ruang keluarga setelah makan malam mereka berakhir. Si kembar sibuk makan buah sambil nonton kartun kesayangannya di layar besar yang ada di sana. Sementara Alea, duduk diantara Mama dan Papanya. Raka mengawasi si kembar, sesekali memberi minum saat bocah itu tersedak. “Pa, harusnya papa nggak perlu kirim uang sebanyak itu buat Alea. Tolong jangan bikin Raka jadi laki-laki yang tidak berguna dong, Pa. Alea juga udah punya hasil sendiri untuk biaya pernikahan kami,” ucapnya. Bukan berniat menolak pemberian sang papa, tapi siapa yang nggak kaget tiba-tiba ada transaksi sebesar 10 miliar masuk ke dalam rekeningnya. Awalnya dia ada Raka mau makan malam di luar, tapi gara-gara transferan itu membuatnya memilih untuk makan malam bersama Papa dan Mama angkatnya. “Nanti setelah menikah biar jadi urusan suamimu atas dirimu dan anak-anak kalian kelak, sayang. Lagian itu Mama yang transfer,” ucap Nathan. “Ma,” panggil Alea merengek.“Stop ya, Al. Muak kal
“Capek gak, sayang?” Tanya Salsa saat menyambut kepulangan sang suami dari kantor. Tadi sebelum Nathan pulang dia juga sudah memberi kabar pada istrinya bahwa pertemuan hari ini dengan klien bisnisnya berjalan dengan lancar, bahkan kerjasama jangka panjang itu sudah mereka tanda tangan. Mendengar rezeki suaminya yang tiada henti membuat Salsa terus bersyukur dan berharap suaminya selalu diberi kesehatan. Mendengar pertanyaan dari istrinya Nathan memicingkan mata menatap ke arah istrinya, mereka sudah tiba di kamar. “Tumben tanya-tanya capek, sayang? Mau berapa ronde lagi?” bisiknya.BugSalsa memukul gemas lengan suaminya membuat pria itu terkekeh. Dia membantu Nathan membuka jas kerjanya, lalu mengambilkan air putih untuk sang suami. Mereka duduk di sofa yang ada di kamar itu sembari Nathan membuka sepatunya.“Jangan lupa utamakan kesehatan ya, sayang. Aku nggak mau kamu mati-matian kerja kalau ujung-ujungnya nanti malah ngedrop,” ucap Salsa sambil menatap bola mata abu milik sang s
Salsa berjalan mondar-mandir di depan ruang ICU, lalu bersandar lemas ke dinding ruang tunggu. Tatapan matanya terus-terusan tertuju pada pintu kaca buram di depannya. Pikiran Salsa sudah kacau sejak mendapat kabar kalau ayahnya kritis dan mengalami pendarahan hebat di otak akibat kecelakaan maut ya
Nathan menatap tubuh Salsa dari atas hingga bawah, sementara gadis itu hanya bisa meneteskan air mata sampai akhirnya suara Nathan membuatnya buru-buru mengusap air mata yang membasahi kedua sudut matanya.“Jangan buat nafsuku hilang. Kau disini wajib melayani nafsuku dan membuatku puas,” ujar pria
“Ta–tapi saya gak mau pakai baju ini, Om,” cicit Salsa, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya yang sudah hampir habis ditelan ketakutan setiap kali bertemu dengan Nathan.Nathan yang sejak tadi sibuk di depan MacBook seketika berhenti mengetik. Dia menoleh ke sumber suara, menatap Salsa dengan r
Ting. Satu pesan baru masuk lagi dari Nathan. Pria itu mengirimkan sebuah titik lokasi vila yang menjadi tempat pertemuan mereka besok siang. Belum sempat Salsa mencerna semuanya, satu pesan beruntun kembali masuk. “Jangan bilang apa pun pada Alea tentang perjanjian panas ini. Paham!” Hati Salsa







