แชร์

Lingerie

ผู้เขียน: Atieckha
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-29 11:35:21

Nathan menatap tubuh Salsa dari atas hingga bawah, menyapu setiap inci paras dan lekuk gadis di depannya dengan tatapan penuh minat. Menyadari itu, Salsa buru-buru mengusap jejak air mata di sudut matanya, menahan napas yang terasa berat.

“Aku tidak suka melihat ada orang menangis di depanku,” ujar Nathan datar. Suara baritonnya begitu tenang, namun berhasil membuat Salsa tak berani membantah. “Kamu di sini karena kesepakatan kita, Salsa.”

Salsa mengangguk patuh. Hatinya bergejolak ingin menolak. Ada rasa bersalah, malu, dan takut yang bercampur jadi satu di hatinya. Ini pertama kalinya dia menyerahkan diri pada seorang pria—dan pria itu adalah ayah dari sahabatnya sendiri. Pikirannya seketika meragukan akan masa depannya, tetapi ingatan akan wajah sang ayah di ruang ICU memaksa Salsa untuk bertahan.

Tanpa memutuskan kontak mata, Nathan mengikis jarak. Tangan kekarnya merengkuh pinggang Salsa, menarik tubuh mungil itu mendekat hingga tak ada celah di antara mereka. Nathan melumat bibir Salsa dengan dalam dan menuntut, membimbing langkah gadis itu menuju ranjang tanpa memutuskan ciuman panas mereka. Begitu bagian belakang lutut Salsa menyentuh tepi kasur, Nathan mendorong tubuh mungil itu hingga terbaring di atas ranjang.

Nathan melepas pakaiannya sendiri. Jemari pria itu kemudian terulur membuka kancing dan meluruhkan gaun tidur berbahan brokat mahal yang dikenakan Salsa, membiarkannya terjatuh di lantai.  Pandangan Nathan kian berkabut nafsu. Kulit mulus dan keindahan tubuh Salsa yang terpapar utuh di depannya membuat napas pria matang itu mengatup berat.

Salsa memalingkan wajah ke samping, enggan menatap tatapan tajam pria yang kini berada di atas tubuhnya. Namun, sentuhan Nathan tidak bisa ia hindari. Pria itu menyusuri leher Salsa dengan ciuman-ciuman hangat dan turun lalu berhenti di atas dadanya, meninggalkan jejak kepemilikan dan ruam kemerahan di kulit mulusnya.

Desahan kecil lolos dari bibir Salsa saat bibir dan jemari Nathan mulai menjelajahi bagian paling sensitif tubuhnya. Tubuh Salsa menegang. Akalnya terus berteriak bahwa ini adalah transaksi yang salah, tetapi anehnya, sentuhan panas dari pria matang di atasnya ini mengirimkan desiran hangat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Setiap kali Salsa mencoba menggeser tubuhnya karena panik, kurungan tubuh kekar Nathan dengan mudah menahannya.

“Rileks,” bisik Nathan di ceruk leher Salsa. Suaranya serak dan hangat, bertolak belakang dengan aura dingin yang biasa ia tampilkan. Pria itu menengadah sejenak, menatap mata Salsa yang berkaca-kaca. “Kamu tegang sekali... Apa kamu belum pernah melakukan ini sebelumnya?”

Salsa hanya menggeleng, tak sanggup bersuara.

Nathan sempat terdiam sejenak. Dalam dunia bisnis dan pergaulannya, sulit mempercayai ada gadis dewasa yang benar-benar belum tersentuh, apalagi Salsa langsung menyetujui tawaran transaksional ini demi uang satu miliar. Pria itu mengira Salsa hanya bersikap pura-pura polos. Namun, ada sesuatu dari getaran tubuh Salsa yang membuat Nathan tergerak untuk membuktikannya sendiri.

Sebagai pria yang terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan, Nathan menyusuri setiap jengkal tubuh Salsa, menuntun gadis itu masuk lebih dalam ke dalam pusaran gairah yang makin sulit dikendalikan.

“Lebarkan kakimu, Salsa,” perintah Nathan dengan suara parau.

Salsa yang dirayapi rasa malu justru makin merapatkan kedua pahanya. Ketakutan dan kepasrahan saling bertolak belakang di dalam dirinya. Namun, Nathan bukanlah pria yang bisa ditolak. Dengan usapan yang lembut di pangkal pahanya, Nathan memisahkannya, memamerkan milik Salsa yang paling rahasia di hadapannya.

Wajah Salsa memerah padam. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa seperti tersengat aliran listrik tegangan tinggi. Saat matanya tak sengaja menangkap milik Nathan, rasa panik mulai menyergapnya—apakah benda besar dan panjang itu bisa masuk ke lubang sempitnya?

Nathan memosisikan dirinya dan mulai melakukan penyatuan. Penyatuan pertama terasa tertahan. Rasa sempit dan hambatan yang nyata membuat Nathan kesulitan menerobos gawang itu. Pria itu menyadari gawang ini belum pernah tersentuh. Namun, nafsu yang sudah mulai memuncak membuat Nathan mendorong lebih dalam hingga gawang itu bobol juga.

Pekikan tertahan dan isakan perih lolos dari tenggorokan Salsa saat sensasi yang sangat menyakitkan seolah merobek kesadarannya. Salsa memejamkan mata, jemarinya secara refleks mencengkeram kuat bahu kokoh Nathan, menyalurkan rasa sakit yang tak tertahankan.

Nathan menghentikan gerakannya sejenak, membiarkan Salsa beradaptasi dengan rasa baru itu. Matanya menangkap noda merah segar yang mulai menghiasi sprei putih di bawah tubuh mereka. Rasa terkejut sekaligus kepuasan seketika menjalar di hati Nathan. Gadis ini benar-benar masih suci.

Senyum tipis yang sarat akan dominasi terbit di sudut bibir Nathan. “Ternyata kamu masih perawan...” gumamnya parau.

Tanpa membuang waktu lagi, Nathan melanjutkan kegiatan panas mereka. Jeritan kecil dan rintihan Salsa perlahan bercampur dengan desahan pasrah saat sentuhan Nathan tak hanya membawa rasa perih, tetapi juga gejolak nikmat yang mengkhianati penolakan batinnya. Hari ini, Nathan benar-benar menuntaskan nafsunya hingga mencapai puncaknya surga dunia, bahkan meminta Salsa melayaninya kembali.

Beberapa saat kemudian, Salsa tampak merintih saat mencoba turun dari tempat tidur. Tubuhnya terasa pegal dan sakit. Berbeda dari dugaan Salsa bahwa pria itu akan meninggalkannya begitu saja, Nathan justru menunjukkan kesabaran yang tak terduga. Pria itu menunggu Salsa membersihkan diri hingga memakai kembali pakaiannya, karena dia sendiri yang akan mengantarkan Salsa kembali ke rumah sakit.

Sebelum Salsa melangkah keluar dari vila menuju mobil, Nathan merogoh dompetnya dan menyodorkan setumpuk uang kertas bernilai nominal tinggi di atas meja.

“Ambil ini untuk membeli pakaian baru dan parfum mahal,” ucap Nathan, matanya menatap tenang ke arah Salsa.

Mata Salsa menatap sendu tumpukan uang pecahan seratus ribu di hadapannya. Perasaan kerdil kembali menghujam hatinya. Apakah ini harga dari kehormatan yang baru saja ia serahkan pada pria ini? batinnya pilu.

“Ambil, Salsa,” ulang Nathan karena pria itu tidak menerima penolakan.

Tak ingin memicu kemarahan pria itu, Salsa meraih uang tersebut dengan tangan gemetar. “Bolehkah uang ini Salsa pakai untuk mengangsur utang satu miliar itu, Om?” tanya Salsa.

Nathan hanya mendecak pelan, tak memberi jawaban pasti atas pertanyaan lugu itu, membuat Salsa refleks menunduk canggung.

“Terima kasih, Om... Kalau boleh, sebagian uangnya mau Salsa pakai untuk melunasi tunggakan uang kuliah,” bisik Salsa lagi, berharap pencerahan.

“Hmm,” sahut Nathan singkat dengan deheman berat yang memberi sinyal persetujuan.

Salsa segera memasukkan uang tersebut ke dalam tasnya. Mereka kemudian berjalan menuju mobil mewah Nathan. Hari itu, Nathan sendiri yang mengambil alih kemudi karena sopir pribadinya sedang menyelesaikan urusan lain.

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, suasana di dalam kabin mobil diselimuti keheningan. Kesunyian itu membuat Salsa merasa canggung dan tak tenang, memandangi pepohonan di luar jendela untuk mengalihkan rasa tegangnya.

Hingga akhirnya, mobil mewah itu berhenti di area drop-off lobi rumah sakit. Sebelum Salsa meraih gagang pintu untuk turun, suara berat Nathan kembali terdengar. “Masih terasa sakit?”

Pipi Salsa seketika merona merah mendengar pertanyaan jujur dari pria di sampingnya. “Ma–masih sedikit, Om,” jawabnya terbata.

Nathan menatapnya sejenak dengan pandangan yang sulit diartikan. “Nanti kalau sudah terbiasa, rasa sakitnya akan berganti nikmat.”

Kalimat itu makin membuat wajah Salsa memanas, Salsa pun berpamitan, “Salsa turun dulu, Om.”

Ia segera membuka pintu dan turun dari mobil mewah tersebut. Namun, baru satu langkah kakinya menepaki anak tangga lobi rumah sakit, tubuh Salsa mendadak tak bisa bergerak. Matanya terbelalak menatap sosok yang berdiri tak jauh di depannya—sosok yang menatapnya dengan penuh amarah seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.

Bibir Salsa bergetar ingin menyapa, tetapi lidahnya kelu. Keringat dingin seketika bercucuran membasahi punggungnya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Chapter 255

    “Ini gak mungkin terjadi. Aku yakin banget Kak Nathan bukanlah penyuka sesama jenis. Siapa saja yang melihat cara dia menatap wanita itu terlihat jelas kalau dia sangat mencintainya. Kamu ini ngawur kalau kasih pemberitaan,” ucap salah satu netizen yang membalas postingan milik keponakan HRD di kantor Nathan.“Kalau bukan penyuka sesama jenis, apa dong namanya? Masa nyari sekretaris saja harus berjenis kelamin laki-laki?” balas wanita yang ditolak mentah-mentah oleh Nathan sebelum melakukan tes.Netizen lain membalas, bukan bermaksud membela Nathan, “Bukan berarti sekretaris laki-laki itu sudah pasti karena bosnya penyuka sesama jenis. Terkadang ada perusahaan besar yang lebih gampang berkomunikasi dengan sekretaris laki-laki. Kamu terlalu berburuk sangka, jangan-jangan kamu menyukai Pak Nathan, ya?” balas akun lainnya.Obrolan di sana sudah menyebar, namun tak ada satu orang pun yang percaya kalau Nathan penyuka sesama jenis sesuai dengan postingan itu.Di sisi lain, setelah menyeles

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Chapter 254

    Saat Raka sedang berada di luar kantor untuk mengurus sendiri pendaftaran pernikahan Nathan dengan Salsa, tiba-tiba saja ponselnya di dalam saku jas kembali bergetar nyaring. Raka merogoh kantongnya, lalu melihat nama Nathan Abimanyu tertera jelas di layar. Tanpa membuang waktu, dia langsung menggeser tombol hijau dan menempelkan benda tipis itu ke telinganya."Halo, Pak," sapa Raka membuka percakapan. Dia tahu kalau bosnya menghubungi berarti ada sesuatu yang penting yang harus segera diselesaikan."Oh ya, Raka, aku lupa bilang," suara Nathan terdengar dari seberang telepon, diiringi helaan napas pendek. "Salsa itu kan visanya terblokir seumur hidup. Katanya dia nggak boleh keluar negeri gara-gara dulu sempat jadi tenaga kerja ilegal waktu di Singapura. Kalau bisa, tolong kamu lakukan sesuatu agar blokirnya itu dibuka. Bayar berapapun yang mereka minta, nggak masalah, yang penting nama Salsa bersih dan dia bisa diajak ke luar negeri. Lagian dia bukan penjahat yang kabur tapi dia terp

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Chapter 253

    “Bikin kaget saja,” ujar Nyonya Abimanyu disetujui oleh lainnya yang berada di ruang perawat inap si kembar. “Maaf, Nyonya, Tuan,” jawabnya. Alea yang sudah merindukan kekasihnya karena beberapa hari tidak bertemu. Sang kekasih diberi tugas penting oleh Papanya sehingga membuat mereka kesulitan membagi waktu untuk berduaan saja. Dia langsung memeluk Raka dengan erat. Bahkan nyaris mencium bibir Raka di depan keluarganya kalau saja suara sang Papa tidak menggelegar menghentikan tindakannya. “Al!” Tegurnya.Alea langsung menjauhi Raka. “Alea bahkan udah tua loh, Pa. Udah mau 31 tahun,” protesnya.“Tapi di mata Papa kamu masih usia 12 tahun, sayang,” jawab Nathan tanpa dosa. Sang anak memutar bola mata malas. “Salsa aja udah mau punya tiga anak dari papa. Masa Alea gini-gini terus,” omelnya lagi. “Nanti kalian boleh nikah setelah pesta pernikahan Papa dan Salsa,” ujar Nyonya Abimanyu pada cucunya yang sudah beranjak dewasa. “Mom,” giliran Nathan yang protes dari ranjang pasien Ken

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Chapter 252

    “Pa, bantuin dong. Kok anaknya diginiin malah diem aja,” omel Alea karena sang papa tak berbuat apa-apa saat dirinya dicubit dan dipukul oleh Salsa, hanya gara-gara ucapannya yang menuduh Salsa ngidam bohongan terkait dengan bau badan sang papa. “Untuk yang satu ini Papa juga takut,” jawab Nathan berhasil membuat sang anak melotot ke arah Nathan. “Berisik jadi gak bisa tidur kan? Keluar sana,” usir Kenzi. Rambutnya kayak singa dan dia duduk di atas ranjang pasien milik kakak kembarnya.“Kamu tuh berisik juga Bobonya. Aku sampai mau jatuh Bobonya,” balas Kenzo karena sang adik kembar tidurnya sedikit gelisah.Para orang dewasa lantas terdiam, Nathan yang berjalan mendekati ranjang pasien lalu merengkuh tubuh gadis kecilnya agar tidak mengganggu tidur anak sulungnya yang memang butuh istirahat. “Ayo, Kenzi bobo sama Papa. Kasihan kakak tuh harus istirahat biar cepat sembuh,” bujuk Nathan. “Biarin aja Kenzi di sini katanya, Pa. Gak akan berisik kok,” dia sendiri yang menjawab seolah-

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Chapter 251

    “Oke, aku mau,” jawabnya. “Langsung transfer sekarang juga,” jawab mantan wartawan itu setelah nominalnya disetujui tanpa ditawar sedikitpun. Ting Satu pesan masuk di ponselnya bahwa ada uang dengan nominal fantastis masuk ke dalam rekeningnya. “Thanks ya,” ucapnya setelah memastikan uang itu sudah masuk di rekeningnya. “Sama-sama.” Wartawan itu menerima foto dan video yang akan segera membuat jagat Maya dihebohkan oleh pemberitaan miring tentang Nathan Abimanyu. Kabar miring mengenai pangeran bisnis dari keluarga Abimanyu seketika viral dan beritanya menjadi pemberitaan yang trending 1 di berbagai portal media hiburan dan akun gosip daring. Sebuah rekaman gambar beresolusi tinggi yang memperlihatkan sosok Nathan sedang merangkul dengan penuh cinta bahu seorang wanita berparas jelita beredar luas tanpa kendali dalam hitungan jam. Bahkan wajah keduanya tidak ditutup stiker. Publik yang selama ini mengenali Nathan sebagai sosok pria mapan yang setia dan tenang dibuat t

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Chapter 250

    “Aku sama sekali gak tahu kalau dia bakal manjat dan sampai menggeser meja itu. Kalau aku tahu bakal kayak gini kejadiannya, ya mana mungkin aku biarkan cucuku naik ke sana!” ucap Tuan Abimanyu membela diri. Suaranya terdengar makin pasrah, menghadapi istrinya yang sejak tadi tidak berhenti mencecar dengan berbagai macam pertanyaan yang diulang-ulang terkait musibah yang menimpa Kenzo.Gara-gara kejadian di meja dekat kolam ikan koi itu, dahi Kenzo mengalami luka sobek yang cukup serius sampai harus dilarikan ke UGD dan dirawat inap. Sekarang, pasangan suami istri paruh baya itu sedang berada di dalam mobil yang dikendarai sopir pribadi mereka, melaju menyusul ke rumah sakit sambil mengajak Kenzi yang terus menangis ingin melihat keadaan Kenzo. Awalnya Mereka menolak, tapi setelah mendapat persetujuan dari Nathan mengajak gadis kecilnya ke sana, akhirnya mereka pun langsung berangkat ke rumah sakit. Jujur saja, di hati kecil Tuan Abimanyu benar-benar merasa bersalah atas kejadian ini

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Satu Miliar

    Salsa berjalan mondar-mandir di depan ruang ICU, lalu bersandar lemas ke dinding ruang tunggu. Tatapan matanya terus-terusan tertuju pada pintu kaca buram di depannya. Pikiran Salsa sudah kacau sejak mendapat kabar kalau ayahnya kritis dan mengalami pendarahan hebat di otak akibat kecelakaan maut ya

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Ternyata Masih Perawan

    Nathan menatap tubuh Salsa dari atas hingga bawah, sementara gadis itu hanya bisa meneteskan air mata sampai akhirnya suara Nathan membuatnya buru-buru mengusap air mata yang membasahi kedua sudut matanya.“Jangan buat nafsuku hilang. Kau disini wajib melayani nafsuku dan membuatku puas,” ujar pria

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Ternyata Besar

    “Ta–tapi saya gak mau pakai baju ini, Om,” cicit Salsa, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya yang sudah hampir habis ditelan ketakutan setiap kali bertemu dengan Nathan.Nathan yang sejak tadi sibuk di depan MacBook seketika berhenti mengetik. Dia menoleh ke sumber suara, menatap Salsa dengan r

  • Ranjang Panas Ayah Sahabatku   Suara Desahan

    Ting. Satu pesan baru masuk lagi dari Nathan. Pria itu mengirimkan sebuah titik lokasi vila yang menjadi tempat pertemuan mereka besok siang. Belum sempat Salsa mencerna semuanya, satu pesan beruntun kembali masuk. “Jangan bilang apa pun pada Alea tentang perjanjian panas ini. Paham!” Hati Salsa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status