Se connecterMalam itu, Gaga memutuskan untuk pulang lebih awal ke rumah. Dia sudah tidak tahan lagi dengan kebohongan Elena. Sepanjang perjalanan dari kantor, pikirannya dipenuhi dengan foto yang ditunjukkan Beryl—Elena dan Farhan duduk berduaan di cafe, tangan mereka saling bersentuhan, wajah mereka penuh keakraban.
Sesampainya di rumah, Gaga melihat Elena sudah berada di ruang tamu. Wanita itu mengenakan daster tipis berwarna krem, rambutnya terurai panjang, dan dia tampak sedang menikmati secangkir teh sambil bermain ponsel. Ketika melihat Gaga masuk, Elena tersenyum manis.
"Kamu pulang, Sayang," sapa Elena dengan nada lembut.
Gaga tidak membalas senyum itu. Dia melepas jasnya dan melemparkannya ke sofa, lalu menatap Elena dengan tatapan tajam.
"Kita perlu bicara," kata Gaga dengan nada dingin.
Elena mengangkat alisnya, "Tentu, ada apa?"
"Di kamar," perintah Gaga, "Sekarang."
Elena terkejut dengan sikap Gaga yang tiba-tiba dingin dan tegas. Dengan perasaan was-was, wanita itu mengikuti Gaga ke dalam kamar. Begitu pintu tertutup, Gaga langsung berbalik dan menatap Elena dengan tatapan menusuk.
"Kemarin kamu bilang keluar kota untuk pemotretan tiga hari," kata Gaga, "Tapi ternyata kamu masih di Jakarta. Bahkan kamu sempat nongkrong di cafe."
Wajah Elena pucat. "A-apa maksudmu?"
"Aku tidak suka dibohongi, Elena," kata Gaga dengan suara rendah tapi penuh ancaman, "Aku tahu kamu bertemu seseorang di cafe. Pria itu siapa?"
Elena terdiam sejenak. Dia berusaha menyusun kata-kata, mencari alasan yang masuk akal. "Aku... ketemu teman lama. Cuma ngobrol sebentar. Tidak ada yang spesial."
"Teman lama?" Gaga tertawa sinis, "Teman lama yang tangan kalian saling bersentuhan di atas meja? Itu tidak terlihat seperti teman lama, Elena."
Elena menunduk. Dia tahu tidak ada gunanya berbohong lagi. "Baiklah, aku mengaku. Aku bertemu seseorang. Tapi itu bukan urusanmu, Gaga. Kita sudah sepakat tidak ikut campur urusan masing-masing."
"Sepakat?" Gaga mendekat, "Kamu benar. Kita sepakat tidak ikut campur urusan pribadi masing-masing. Tapi itu sebelum kamu berbohong padaku dan membawa nama baik keluarga Dirgantara ke dalam masalah. Aku tidak peduli kamu punya hubungan dengan siapa pun, Elena. Tapi jangan sampai ketahuan publik. Itu perjanjian kita."
Elena mengangguk pelan, "Aku minta maaf. Itu tidak akan terjadi lagi."
Gaga menghela napas panjang. Dia berjalan ke jendela dan memandang ke luar. Malam Jakarta terlihat gemerlap, tapi pikirannya kacau. Ada satu hal lagi yang harus dia sampaikan pada Elena malam ini.
"Ada satu hal lagi yang ingin aku bicarakan," kata Gaga tanpa menoleh.
"Apa?" tanya Elena.
"Aku ingin menikah lagi."
Elena terkejut. Matanya membelalak. "Apa maksudmu?"
Gaga berbalik menghadap Elena, "Aku ingin menikahi Beryl. Sebagai istri kedua. Aku sudah memikirkannya cukup lama."
Elena terdiam beberapa saat. Dalam hati, wanita itu tersenyum puas. Ini lebih mudah dari yang dia bayangkan. Jika Gaga menikahi Beryl, maka statusnya sebagai istri pertama akan semakin kuat. Dia akan memiliki lebih banyak akses ke aset Gaga. Dan dengan Farhan yang sudah mulai memalsukan dokumen, ini adalah berkah tersembunyi.
"Tentu, aku setuju," kata Elena dengan nada datar, "Pernikahan kita hanya di atas kertas, Gaga. Kamu bebas menikah dengan siapa pun."
Gaga sedikit terkejut dengan jawaban Elena yang begitu cepat. "Kamu tidak keberatan?"
"Kenapa harus keberatan?" Elena tersenyum tipis, "Aku tidak pernah mencintaimu, dan kamu tidak pernah mencintaiku. Ini pernikahan kontrak. Kalau kamu mau menikah lagi, itu urusanmu."
"Aku akan memastikan semua kebutuhanmu tetap terpenuhi," kata Gaga, "Kamu tetap akan mendapatkan nafkah yang sama."
"Bagus," jawab Elena, "Lalu kapan pernikahan itu?"
"Belum tahu. Aku masih harus bicara dengan Mommy," kata Gaga.
Elena mengangguk. "Aku akan mendukungmu di depan Mommy. Kita bisa berpura-pura ini adalah keputusan bersama."
Gaga menatap Elena dengan tatapan aneh. Wanita ini terlalu setuju. Terlalu cepat. Terlalu mudah. Ada sesuatu yang tidak beres, tapi Gaga tidak bisa menebaknya. Untuk saat ini, yang penting dia sudah menyampaikan niatnya.
"Aku akan tidur di ruang tamu malam ini," kata Gaga, "Aku butuh waktu sendiri."
Elena hanya mengangguk. Dia melihat Gaga keluar dari kamar dan menutup pintu dengan pelan. Ketika pintu tertutup, Elena tersenyum lebar. Ini adalah kesempatan emas.
Wanita itu segera meraih ponselnya dan mengetik pesan untuk Farhan.
[Farhan, suamiku mau menikah lagi. Dengan Beryl. Ini rencana kita semakin mudah.]
Tak lama kemudian, Farhan membalas.
[Bagus. Aku bisa mempercepat pemalsuan dokumen. Kamu harus tetap di sisinya. Jaga agar dia tidak curiga.]
[Tenang, sayang. Aku akan bersikap manis di depannya.]
[Kapan kita bisa bertemu?]
[Besok malam. Di apartemen.]
[Bagus. Aku merindukanmu.]
[Aku juga merindukanmu, sayang.]
Elena meletakkan ponselnya dan berbaring di ranjang. Pikirannya melayang ke Farhan, ke rencana mereka, dan ke kehidupan mewah yang akan mereka jalani setelah semua ini selesai. Dia tidak peduli dengan Gaga. Dia tidak peduli dengan Beryl. Yang dia pedulikan hanyalah uang dan kebebasan.
Sementara itu, di ruang tamu, Gaga duduk di sofa sambil memegang ponselnya. Dia tidak bisa tidur. Pikirannya melayang ke Beryl, ke wanita yang sangat dicintainya. Tanpa berpikir panjang, dia menelepon Beryl.
"Sayang, kamu belum tidur?" tanya Gaga dengan suara lembut.
"Belum, Sayang. Ada apa? Suaramu terdengar lelah," balas Beryl dari ujung telepon.
"Aku baru saja bilang ke Elena tentang rencana pernikahan kita."
"Bagaimana reaksinya?"
"Terlalu setuju. Aku merasa ada yang aneh," kata Gaga, "Tapi aku tidak bisa menebaknya."
"Aku juga curiga padanya, Sayang. Tapi kita akan mencari tahu," kata Beryl, "Kamu mau ke apartemen sekarang?"
"Aku tidak bisa, Mommy masih di rumah. Tapi aku sangat merindukanmu," kata Gaga.
"Aku juga merindukanmu, Sayang. Besok di kantor, aku akan menunggumu."
"I love you, Beryl."
"I love you too, Gaga."
Mereka mengakhiri telepon, tapi Gaga masih gelisah. Dia memutuskan untuk pergi ke apartemen Beryl. Dengan hati-hati, dia keluar dari rumah tanpa memberitahu siapa pun.
Di apartemen Beryl, Gaga disambut dengan pelukan hangat. Wanita itu sudah menunggu dengan setelan lingerie hitam yang membuat Gaga langsung kehilangan kendali.
"Aku sangat merindukanmu," bisik Gaga sambil mencium leher Beryl.
"Tunjukkan padaku," jawab Beryl.
Tanpa banyak bicara, Gaga mengangkat Beryl dan membawanya ke ranjang. Pakaian mereka terlepas dengan cepat. Tubuh Beryl terhampar di bawah Gaga, siap untuk dinikmati.
"Aku butuh kamu malam ini," bisik Gaga.
"Ambil aku," jawab Beryl.
Gaga mulai bergerak dengan ritme cepat. Hentakannya dalam dan kasar, mengekspresikan semua frustrasi yang dia pendam. Beryl menerima setiap gerakannya dengan desahan dan erangan nikmat.
"Ah, Gaga! Ya!" teriak Beryl.
"Kamu milikku, Beryl! Hanya milikku!" kata Gaga sambil terus menghentak.
"Aku milikmu! Aku hanya milikmu!" balas Beryl.
Mereka terus bergerak bersama, mencapai puncak kenikmatan secara bersamaan. Tubuh mereka basah oleh keringat, napas mereka tersengal-sengal.
Setelah selesai, Gaga memeluk Beryl erat. "Maafkan aku jika terlalu kasar."
"Tidak apa-apa. Aku suka," kata Beryl, "Kamu butuh pelampiasan."
Di saat yang sama, di apartemen Elena, wanita itu juga tengah bergulat dengan Farhan. Berbeda dengan Gaga dan Beryl yang penuh cinta, Elena dan Farhan bercinta dengan intensitas penuh dendam dan ambisi.
"Katakan padaku, sayang," bisik Farhan sambil menyesap puncak pink di dada Elena, "Kapan kita bisa memiliki semua yang kita inginkan?"
"Sebentar lagi," jawab Elena sambil menggerakkan pinggulnya di atas Farhan, "Setelah Gaga menikahi Beryl, perhatiannya akan terbagi. Aku akan semakin mudah mengambil asetnya."
"Kamu wanita yang sangat cerdas," kata Farhan sambil membalik posisi mereka.
Pria itu berada di atas Elena, menghunjamkan tongkat beruratnya dengan gerakan cepat. Elena menjerit nikmat.
"Ah! Farhan! Lebih cepat!" teriak Elena.
"Kamu suka, sayang?" tanya Farhan.
"Ya! Aku suka! Jangan berhenti!"
Mereka berdua mencapai klimaks bersamaan. Cairan hangat memenuhi palung lembah Elena, membuat wanita itu mengerang panjang.
Setelah selesai, mereka berbaring di ranjang dengan pelukan erat. Farhan mencium puncak kepala Elena.
"Kita pasti berhasil, sayang," kata Farhan.
"Aku tahu," jawab Elena, "Tapi aku harus memulai 'cara konvensional' besok. Aku harus mulai bersikap manis pada Gaga di depan ibu mertuaku."
"Aku tidak suka kamu mendekatinya," kata Farhan dengan nada cemburu.
"Tenang, sayang. Aku tidak akan pernah tidur dengannya. Aku hanya akan berpura-pura," jawab Elena, "Hanya untuk mendapatkan tanda tangannya."
Farhan menghela napas. "Baiklah. Aku percaya padamu. Tapi jangan pernah melanggar janjimu."
"Aku tidak akan pernah," kata Elena sambil tersenyum.
Keesokan paginya, Elena kembali ke rumah Gaga dengan senyum paling manis. Dia memasak sarapan untuk Gaga dan Cecilia. Bahkan ketika Gaga terlihat dingin dan acuh, Elena tetap bersikap ramah dan penuh perhatian.
"Mommy, makan dulu," kata Elena sambil menyiapkan piring untuk Cecilia, "Aku buat omelet kesukaan Mommy."
Cecilia tersenyum bangga. "Kamu memang menantu yang baik, Elena."
Gaga hanya diam dan memperhatikan semua ini. Dia tahu Elena sedang berpura-pura. Tapi dia belum tahu apa motifnya. Yang dia tahu, Elena mulai memainkan permainannya sendiri.
Gaga menatap Elena dengan tatapan tajam. Wanita itu tersenyum padanya, dan untuk pertama kalinya, Gaga merasa ada yang sangat salah.
"Aku tidak percaya ini benar-benar terjadi," kata Beryl sambil menatap cincin di jari manisnya. Cahaya matahari pagi menyinari berlian itu, membuatnya berkilauan indah."Aku juga tidak percaya," jawab Gaga sambil duduk di sampingnya, "Tapi ini nyata. Kita akan menikah."Beryl tersenyum, "Aku sudah memilih gaun pengantin. Warnanya putih, dengan renda di bagian lengan. Aku sudah mencobanya kemarin.""Aku ingin melihatmu memakainya," kata Gaga, "Tapi aku juga ingin itu menjadi kejutan di hari pernikahan kita.""Kau akan melihatnya nanti, sayang," kata Beryl sambil mencium pipi Gaga, "Aku ingin membuatmu terkesima."Dari ruang tamu, terdengar suara Cecilia yang semakin bersemangat. Wanita tua itu sudah dipulangkan dari rumah sakit dua minggu lalu. Kondisinya membaik drastis setelah mendengar kabar pertunangan Gaga dan Beryl. Wajahnya yang dulu pucat kini mulai berseri lagi."Brenda! Tolong ambilkan katalog bunga di meja!" seru Cecilia dari ruang tamu, "Aku harus memilih bunga terbaik untu
"Kita harus memenangkan kasus ini, Pak Gaga. Bukan hanya untuk reputasi Bapak, tapi juga untuk Nyonya Cecilia."Pengacara baru Gaga, seorang pria bernama Handoko yang terkenal sebagai pengacara korporasi terbaik di Indonesia, duduk di hadapan Gaga dan Beryl di ruang kerja apartemen. Wajahnya serius, membawa setumpuk dokumen yang sudah dia pelajari selama tiga hari terakhir."Apa yang harus aku lakukan?" tanya Gaga."Kami akan menghadirkan Beryl sebagai saksi kunci," kata Handoko, "Dengan semua bukti digital yang dia kumpulkan tentang perselingkuhan Elena dan rencana jahatnya dengan Farhan, kita bisa membalikkan keadaan.""Aku siap," kata Beryl dengan tegas, "Aku akan melakukan apa pun untuk membantumu, sayang."Gaga meraih tangan Beryl dan menggenggamnya erat. "Terima kasih, sayang. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan tanpamu.""Kau tidak perlu memikirkannya," jawab Beryl.Handoko melanjutkan, "Tapi ada satu hal yang perlu kita perhatikan. Elena akan menggunakan tuduhan KDRT seba
"Apa kau yakin ini adalah langkah yang tepat, Nyonya Elena?"Seorang pria paruh baya dengan jas rapi dan kacamata tebal duduk di hadapan Elena di sebuah cafe mewah di kawasan Menteng. Pria itu bernama Andre Wijaya—pengacara nakal yang terkenal karena kemampuannya memenangkan kasus-kasus kotor dengan cara-cara yang tidak etis."Seratus persen yakin," jawab Elena sambil menyesap kopinya, "Aku ingin menghancurkan Gaga dan Beryl. Aku ingin mereka merasakan apa yang aku rasakan."Andre tersenyum tipis. "Klien saya selalu datang dengan dendam yang membara. Tapi saya suka itu. Itu membuat pekerjaan saya lebih menarik.""Apa yang harus aku lakukan?" tanya Elena."Kami akan menggugat Gaga dengan tuduhan KDRT dan perselingkuhan," kata Andre, "Kamu akan menjadi korban yang malang. Media akan memakan cerita ini mentah-mentah.""Apakah kita punya cukup bukti?" tanya Elena."Kamu adalah istrinya secara sah," kata Andre, "Kata-kata kamu sudah cukup untuk memulai. Dan dengan hubungan Gaga dengan Bery
"Sayang, kamu kenapa? Akhir-akhir ini kamu sering mual-mual."Suara Gaga terdengar cemas dari balik pintu kamar mandi. Beryl sedang duduk di lantai kamar mandi, kepalanya pusing, perutnya terasa mual. Ini sudah hari ketiga dia merasa seperti ini—bangun pagi dengan rasa mual yang luar biasa."Aku baik-baik saja," jawab Beryl dengan suara lemah, "Mungkin hanya makanan yang tidak cocok.""Kamu yakin?" tanya Gaga dari luar, "Aku khawatir, sayang.""Iya, sayang. Aku akan segera keluar."Beryl berdiri perlahan dan menatap cermin. Wajahnya pucat, ada lingkaran hitam di bawah matanya. Tapi ada sesuatu yang membuatnya berpikir—dia sudah telat datang bulan hampir dua minggu."Jangan-jangan..." bisik Beryl, tangan otomatis bergerak ke perutnya yang masih rata.Dengan perasaan campur aduk, Beryl keluar dari kamar mandi dan menemui Gaga di ruang tamu. Pria itu langsung berdiri dan mendekatinya."Kamu benar-benar pucat," kata Gaga sambil meraba kening Beryl, "Aku antar ke dokter sekarang.""Tidak u
"Kamu yakin ini akan berhasil, sayang?"Suara Beryl terdengar dari balik laptop yang terbuka di hadapannya. Wanita itu duduk di ruang tamu apartemen Gaga, jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard. Matahari baru saja terbit, menyinari ruangan dengan cahaya keemasan."Aku yakin," jawab Gaga sambil berdiri di belakang Beryl, "Aku sudah menghubungi semua koneksiku di kepolisian dan imigrasi. Farhan tidak akan bisa kabur.""Tapi dia sudah menghilang selama tiga hari," kata Beryl, "Dia mungkin sudah meninggalkan Jakarta.""Justru itu," kata Gaga, "Jika dia mencoba kabur ke luar negeri, dia harus melewati pelabuhan atau bandara. Dan aku sudah memasang orang di semua jalur."Beryl mengangguk, "Aku juga sedang melacak laptop yang dia curi. Aku memasang GPS tersembunyi di dalamnya—sebagai cadangan."Gaga tersenyum bangga, "Kamu memang selalu selangkah lebih maju, sayang.""Aku belajar dari yang terbaik," jawab Beryl sambil tersenyum, "Dari kamu."Mereka berdua tertawa kecil. Suasana di apar
Malam itu, Beryl baru saja selesai mandi dan sedang duduk di ruang tamu apartemennya. Rambutnya masih basah, terbungkus handuk putih. Wanita itu menikmati secangkir teh hangat sambil memegang ponselnya, membaca pesan-pesan dari Gaga yang baru saja pulang ke rumah.[Sayang, aku sudah sampai rumah. Mommy sudah tidur. Aku merindukanmu.]Beryl tersenyum dan membalas.[Aku juga merindukanmu, sayang. Istirahatlah. Besok kita bertemu di kantor.][I love you, Beryl.][I love you too, Gaga.]Beryl meletakkan ponselnya dan mengambil tehnya kembali. Hari ini adalah hari yang melelahkan—rapat keluarga, perceraian Elena, dan semua drama yang menyertainya. Tapi dia merasa lega. Akhirnya, semua masalah mulai teratasi.Tiba-tiba, lampu di ruang tamu padam.Beryl terkejut. "Apa?"Dia berdiri dan berjalan menuju saklar lampu. Tapi sebelum dia mencapai saklar itu, sebuah tangan kasar menutup mulutnya dari belakang."Jangan berteriak," bisik suara yang dikenalnya dengan baik.Beryl berusaha melepaskan di







