登入Agnira berbaring di atas ranjang pasien, dadanya berdebar saat dokter di sisinya mulai meraba perut. Dia terus menarik napas, berusaha rileks, walaupun kenyataannya tetap tidak bisa."Kita mulai USG-nya yah," ucap Maya sambil mulai menyiapkan alat-alatnya. "Ibu Agnira bisa mengangkat baju sampai bagian perut." Alis Sambara mengernyit saat perintah itu terdengar. "Kenapa istri saya harus membuka baju?" Tangan Maya yang hendak membantu Agnira menarik baju terhenti seketika, dia memandang Sambara dan tersenyum samar. Benar kata dokter Surya, jika Sambara adalah tipe pria protektif terhadap istrinya."Karena benda ini harus menempel dikulit, Pak," ucap Maya sambil menunjukkan benda di tangannya, "dan, jel ini juga harus saya balurkan di atas perut, Ibu Agnira." Dokter itu tersenyum hangat, namun tidak untuk Sambara, pria itu jelas menunjukkan rasa enggan. Namun, tidak berani menyela."Anda sebaiknya keluar dulu, dok," usir Sambara para Surya yang masih betah berdiam diri di sana.Surya
Sambara benar-benar berakhir di pinggir trotoar bersama istri dan ketiga anak buahnya. Masing-masing memegang sebungkus tahu bulat hangat yang baru dibeli. Pakaian formal yang dikenakan Sambara beserta ketiga anak buahnya menciptakan kontras yang mencolok dengan suasana kaki lima. Membuat mereka, terutama Agnira yang berada di tengah-tengah mereka, menjadi pusat perhatian orang-orang yang melintas."Aku mau lagi. Pakai bubuk cabai yang banyak," pinta Agnira sambil menunjuk wadah berisi bubuk cabai merah yang tampak begitu menggugah selera.Sambara menoleh sekilas ke arah Agnira. Sudut bibirnya terangkat tipis melihat mata sang istri berbinar seperti anak kecil yang menemukan jajanan favoritnya."Jangan banyak-banyak," tegur Sambara dingin.Agnira mengangguk cepat. "Iya. Jangan terlalu pedas, Pak." Penjual tahu bulat terkekeh pelan. "Siap, Bu."Bungkusan tahu bulat yang baru saja selesai dibumbui langsung diserahkan kepada Agnira. Tanpa menunggu dingin, wanita itu meniup pelan sepoto
"Kalian mau ke mana?" tanya Agnira sambil memijat pelipisnya saat melihat Nayara, Kenan, dan Robi sudah berdiri berderet rapi di teras rumah."Kami akan mengawal Tuan dan Nyonya ke rumah sakit," jawab Nayara tegas, seolah itu adalah hal yang paling wajar di dunia.Agnira mengembuskan napas panjang. Tatapannya bergeser kepada Sambara yang duduk tenang di kursi roda dengan ekspresi datar, seolah tidak melihat ada yang aneh dengan situasi itu."Kau yang menyuruh mereka?" tanya Agnira curiga.Sambara mengangkat bahu santai. "Saya hanya memastikan keselamatan istri dan anak saya."Agnira mendesah lelah, "aku hanya akan USG, bukan perang melawan penjajah. Cukup di temani Nayara saja.""Saya hanya menjalankan tugas sebagai suami siaga, hanya itu saja. Memang salah?" Sambara menatap istrinya heran. Dia bahkan sudah membaca semua tutorial suami siaga di media sosial.Agnira memijat pelipisnya pelan, lalu berjalan tanpa kata masuk ke dalam mobil. Tanpa menghiraukan Sambara, ataupun ke tiga asis
Ketukan pelan di pintu kamar mandi membuyarkan lamunan Agnira."Bu Agnira?" panggil Dokter Surya dari luar dengan nada tenang. "Sudah selesai?"Agnira mengembuskan napas panjang. Dengan tangan yang masih gemetar, ia menyeka air mata di pipinya, lalu membasuh wajahnya hingga bekas tangis itu sedikit memudar. Setelah merasa lebih tenang, ia menggenggam erat alat tes kehamilan di tangannya sebelum akhirnya membuka pintu.Begitu keluar, seluruh tatapan di dalam ruangan langsung tertuju kepadanya. Tidak ada yang bersuara. Bahkan Nana yang biasanya paling cerewet pun memilih diam."Bagaimana hasilnya?" tanya Sambara, suaranya terdengar jauh lebih pelan daripada biasanya, pria itu berusaha mendekat, dan menggenggam tangan istrinya.Agnira tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Sambara beberapa detik. Bibirnya bergetar, sementara matanya kembali dipenuhi air mata. Melihat itu, wajah Sambara perlahan memucat."Negatif?" bisik pria itu, lirih. "Tidak apa-apa kalau negatif, kita bisa mencoba
Dokter sudah hadir bersamaan dengan kedatangan Robi. Pria itu terlihat mengeryit heran saat melihat raut tegang yang tercetak di wajah masing-masing orang yang berada di dalam ruangan."Ada apa ini?" bisik Robi yang kini berada tepat di belakang Nana."Kakak ipar terkena guna-guna," jawab Nana tanpa beban."Hah, ... Apa?" Robi mengalihkan pandangannya pada Nayara yang berdiri di ujung lain. "Lalu, kenapa memanggil dokter, bukankah seharusnya dukun." "Setannya gaul," celetuk Nana dengan wajah lempengnya.Sementara itu, dokter mulai mendekat pada Agnira. Dia mengangguk samar pada Sambara sebagai sapaan sopannya. "Kenapa dokternya lelaki?" tanya Sambara, menatap tajam pada Nayara.Nayara meringis kecil, ia mengusap tengkuknya yang terasa dingin. "Tapi, Tuan. Dia adalah dokter keluarga ini." Sambara masih menatap dokter itu dengan wajah datar. "Memangnya tidak ada dokter perempuan?" Dokter terkekeh pelan mendengar pertanyaan itu. "Pak Sambara, saya sudah menjadi dokter keluarga Lakesw
"Sambara, jangan berteriak seperti itu, kau berisik sekali," ujar Agnira menatap sinis pada suaminya."Berisik? Saya ini khawatir," ucap pria itu tidak percaya, rasa khawatirnya di anggap sebuah kebisingan."Apapun itu, jangan berteriak seperti itu," peringat Agnira sekali lagi.Di tengah kepanikan itu, Nana datang membawa segelas teh hangat, minuman yang biasa Agnira seduh setiap pagi.Namun, baru saja aroma teh itu tercium, wajah Agnira kembali berubah. Ia buru-buru menutup mulutnya dengan telapak tangan. Perutnya kembali bergejolak hebat, sementara rasa mual yang sempat mereda perlahan menyeruak lagi, bahkan lebih kuat dari sebelumnya."Bau busuk apa ini?" tanya Agnira, matanya menatap sekitar guna mencari sumber baunya.Semua orang saling pandang, mereka tidak mencium bau apapun. Hanya ada aroma wangi dari teh chamomile yang memenuhi ruangan, dan itu terasa menenangkan pikiran. "Tidak ada bau apapun, justru ini san
Tangan itu terbuka lebar dengan wajah ceria yang tidak memudar. Namun alih-alih pelukannya tersambut mesra, Sambara justru menghindar begitu saja. Wanita itu akhirnya hanya mendekap angin pagi yang berhembus pelan, membelai wajah cantiknya.Dia mengerjap singkat, lalu berbalik pelan deng
Sinar senja meredup perlahan, terbenam bersama kehangatan yang mulai memudar. Kaki jenjang itu melangkah pelan, menyusuri taman sepi yang tidak pernah terinjak orang. Hanya di sini Agnira bisa meluapkan segalanya.Tubuhnya mulai luruh perlahan, duduk diam dikursi kayu yang berada di tengah-tengah t
Ruang konferensi pers itu dipenuhi cahaya putih yang menyilaukan. Lampu-lampu sorot menggantung di setiap sudut, memantul pada lantai mengilap dan meja panjang di depan ruangan. Deretan kamera sudah bersiap, lensa-lensanya mengarah ke satu titik, menunggu momen yang akan menjadi berita besar.
Tatapan Sambara tidak lepas dari istrinya, dia berjalan mendekat, suara sepatunya menghantam lantai marmer dan meninggalkan kesan sesak tertahan bagi semua orang.Beberapa karyawan yang berada di sekitar Agnira mundur perlahan, memberi ruang bagi Sambara. Mereka saling dorong, dan mencoba menghinda







