LOGIN"Minumlah dulu." Sambara memberikan satu botol air putih pada istrinya.Kini, mereka duduk diam di depan rumah sakit jiwa. Termenung dan memikirkan satu nama–Nana. Helaan napas berat terdengar dari mulut Agnira, dari semua yang terjadi, Agnira terlihat paling tertekan."Sampai kapan kau akan menutupi ini semua?" tanya Agnira, melirik kecil pada Sambara."Saya sudah mengatakan sejak awal, tidak akan ada yang bisa merubah keputusan saya." Sambara berucap dingin, ia meraih kembali air minum Agnira dan membuka penutup botolnya.Perhatian kecil yang membuat perasaan Agnira menghangat. Pria di depannya ini tidaklah jahat, selama tiga tahun ia tinggal bersama, tidak pernah sekalipun Sambara memperlakukannya buruk. Ia hanya diabaikan tanpa pernah benar-benar dianggap ada, hanya itu dan selebihnya tidak ada lagi.Mungkin karena memang permintaan Agnira sejak awal seperti itu. Mereka menjalani hidup simbiosis mutualisme, saling menguntungkan. Agnir
Mobil Agnira berhenti tepat di depan sebuah gedung rumah sakit jiwa. Bangunan itu menjulang pucat, catnya kusam seolah telah lama menyerah pada waktu. Jendela-jendelanya tertutup jeruji, sebagian tirainya tergerai setengah, memperlihatkan bayangan samar di baliknya. Agnira melangkah masuk lebih dalam. Kenan begitu setia mengikuti dari belakang, selalu bersiaga menjaga atasannya itu.Agnira berhenti melangkahkan, matanya melirik kecil ke arah taman yang berada di tengah-tengah rumah sakit ini. Di sana terduduk seseorang yang ia kenal, gadis muda yang dulu ia sempat tolong."Kau tunggu di sini, jangan memperlihatkan diri padanya," peringat Agnira tegas.Kenan hanya mengangguk patuh, lalu bergerak menjauh dari jangkauan mata. Agnira menarik napas dalam sebelum kakinya melangkah, dia bergerak ceria dan berhenti tepat di depan gadis itu."Selamat sore, Nana," sapa Agnira lembut, bibirnya melengkung indah, sampai membuat matanya menyipit.
Nayara mendekat, jelas perintah Sambara adalah tugas baginya. Sedangkan Sambara berjalan keluar dengan langkah santai, mulai mengeluarkan satu batang rokok dan menyelipkan di antara bibirnya. Asap mengepul, terbawa angin, meninggalkan aroma nikotin yang pekat.Jerit tangis terdengar dari dalam rumah, Sambara hanya melirik sekilas dan tersenyum miring, lalu melempar sisa rokoknya ke lantai dan menginjaknya kuat. Pria itu bersenandung pelan dan kembali masuk ke dalam rumah.Nayara sudah menyelesaikan tugasnya, darah menetes dari kaki Kirana, bau anyir tercium menusuk hidung. Dini, wanita paruh baya itu berdiri susah payah, berjalan tertatih ke arah Sambara."Kenapa kamu jahat seperti ini, Sambara?" tanya Dini di sela isak tangisnya.Sambara tidak bergeming, pria itu terlihat berwajah datar dan dingin. Tangannya menghentak lengan Dini yang memegangnya, ia benar-benar sudah tidak sudi disentuh wanita itu."Sambara, aku ibumu," ucap Dini kehab
"Siapa Agnira?" tanya Sambara mulai geram, "jawab pertanyaanku." Agnira merapatkan kedua kakinya, dia menunduk, bersembunyi di balik rambut yang terurai menutupi wajah. Isak terdengar dari bibir tipis itu."Aku hanya keseleo saja," jawab Agnira pelan, namun gestur tubuhnya jelas menunjukkan hal yang tidak beres.Sambara tidak yakin dengan ucapan sang istri, ia lalu berdiri dan berlalu keluar dari dalam kamar. Hanya satu orang yang bisa ia mintai jawaban–Kenan, pria itu pasti tahu segalanya.Agnira mendongak pelan dan menyugar rambutnya perlahan. Senyum miring terlihat di wajah manisnya, senyum itu berubah menjadi kekehan ringan, memecah suasana sunyi kamar."Lihat, aku sudah berhasil mengendalikannya." Agnira berdiri dari duduknya, dan melangkah ke arah jendela, tangannya membuka tirai tipis yang menutupinya.Ia memiringkan kepala saat melihat mobil Sambara keluar dari halaman rumah. Agnira semakin melebarkan senyumnya, kemudian
"Apa maksud gadis aneh itu?" gumam Kenan merasa heran.Sementara Agnira hanya mampu terdiam, pandangannya terus tertuju ke arah Kirana menghilang. Rasa sakit si pergelangan kakinya berganti dengan rasa tidak enak dalam hati, apa yang akan Kirana lakukan padanya? "Bu, Anda baik-baik saja?" tanya Kenan berulang kali.Agnira menarik napas lelah, lalu mengangguk pelan. Akan tetapi, hatinya merasa risau, ancaman Kirana pasti tidak hanya terucap di bibir saja, gadis itu terlalu licik.Serpihan kaca sudah di bersihkan, semua kembali terlihat normal saat Sambara pulang. Tidak ada jejak keributan di rumahnya, hanya kehadiran Kenan yang membuat ia merasa sedikit tidak nyaman.Terlebih asisten pribadi Agnira itu memegang sebuah nampan, yang berisi makanan sisa dari lantai dua. Kenan berhenti melangkah, ia menunduk hormat saat melihat kehadiran Sambara."Selamat sore, Pak," sapa Kenan berusaha terlihat tenang.Tatapan Sambara menaj
"Kamu tuh sama kaya aku, Kakak ipar. Cintanya bertepuk sebelah tangan," bisik Kirana pelan, gadis itu terkekeh ringan dan berjalan ke arah kursi ruang tamu.Duduk di sana dengan pandangan yang terus menyapu sekitar. Tawa Kirana mereda, berganti dengan tatapan tajam, yang langsung menyorot pada foto kecil di sudut meja."Lihat, dia bahkan masih memajang fotonya." Gadis itu kembali berdiri, meraih foto itu dan menatapnya dalam. "Seharusnya aku yang dia pilih, bukan dia ataupun kamu!" Tangan Kirana menunjuk ke arah Agnira, sorot matanya jelas menunjukkan kekesalan. Namun, Agnira masih diam, tidak banyak berkomentar ataupun menyela, dia hanya ingin tahu sejauh mana Kirana meluapkan segalanya."Kalian wanita sampah! kalian hanya benalu dalam hubungan kami, karena kalian kami tidak dapat bersama!" teriak Kirana membabi buta.Gadis itu melempar foto itu tanpa ragu. Kacanya pecah seketika, serpihannya berhamburan ke lantai, sebagian bahkan menge







