分享

Bab 19

作者: D.N.A
last update publish date: 2026-04-23 10:05:59

Ruang konferensi pers itu dipenuhi cahaya putih yang menyilaukan. Lampu-lampu sorot menggantung di setiap sudut, memantul pada lantai mengilap dan meja panjang di depan ruangan. Deretan kamera sudah bersiap, lensa-lensanya mengarah ke satu titik, menunggu momen yang akan menjadi berita besar.

Suara bisik-bisik memenuhi udara, para jurnalis saling bertukar spekulasi, menyebut nama Sambara dengan nada penuh rasa ingin tahu, bahkan kecurigaan. Tidak biasanya pria seperti itu mengadakan
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 265

    Cahaya matahari pagi perlahan menembus tirai kaca kamar Presidential Suite, membiaskan kehangatan lembut yang menyapu sisa-sisa teror semalam. Ruangan itu kini beraroma lili segar berpadu dengan wangi khas minyak telon dan susu bayi.​Agnira duduk bersandar pada tumpukan bantal empuk, wajahnya tampak jauh lebih segar walau lingkaran samar di bawah matanya masih menyisakan jejak kelelahan. Di samping ranjang, Nana berdiri jinjit dengan kedua tangan terkatup di depan dada, matanya berbinar menatap keponakan barunya yang baru saja selesai disusui.​"Kak, boleh aku gendong Kalandra sekarang?" bisik Nana nyaris tanpa suara, takut mengejutkan sang bayi. "Aku sudah mencuci tangan pakai sabun antiseptik tiga kali!"​Agnira tertawa renyah. "Boleh, Sayang. Tapi duduk di sofa, ya. Pelan-pelan sekali, lehernya masih sangat lentur."​Dengan bimbingan hati-hati dari Agnira dan Nayara, tubuh mungil berbalut selimut katun biru itu berpindah ke pangkuan Nana. Gadis itu menahan napas haru saat jari mu

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 264

    Langkah kaki Sambara menggema di koridor lantai VIP Rumah Sakit Medika. Bau anyir darah dan karat yang sempat melekat di indra penciumannya perlahan sirna, digantikan aroma khas antiseptik yang menenangkan. ​Di depan pintu kamar rawat inap berlabel Presidential Suite, Leonard, Arsen dan Nayara berdiri tegak. Begitu melihat kedatangan Sambara, Nayara langsung menundukkan kepala penuh hormat. ​"Semua aman, Tuan. Tidak ada pergerakan mencurigakan di sekitar rumah sakit," lapor Nayara dengan suara rendah. ​Sambara mengangguk pelan. Sebelum menyentuh gagang pintu, ia memeriksa pakaiannya dan membersihkan tangannya menggunakan cairan pembersih steril di dinding. Semua aura kegelapan dan kekejaman yang baru saja ia tumpahkan di bunker timur seolah ia tanggalkan di luar ambang pintu. ​Pintu dibuka perlahan tanpa menimbulkan suara. ​Ruangan itu temaram, hanya diterangi lampu tidur bernuansa hangat di sudut ranjang. Di atas tempat t

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 263

    Bunker timur terletak jauh di bawah tanah bekas pabrik pengolahan baja di pinggiran kota. Udara di ruangan itu dingin, lembap, dan berbau karat bercampur anyir darah.​Satu-satunya sumber penerangan berasal dari sebuah lampu gantung tungsten yang berayun pelan, menyorot langsung ke tubuh Arman yang terikat rantai besi pada kursi beton di tengah ruangan.​Wajah Arman babak belur. Salah satu matanya membengkak ungu pekat, dan napasnya berbunyi serak tiap kali ia bernapas. Namun ketika derap langkah sepatu kulit terdengar menuruni tangga beton, kepala pria tua itu perlahan terangkat.​Pintu besi bunker berderit terbuka. ​Sambara masuk tanpa pengawalan di sampingnya. Pria itu telah mengganti kemejanya yang berlumur darah dengan kemeja hitam polos, mantel panjangnya dibiarkan terbuka. Tatapan matanya tidak lagi memancarkan amarah yang meledak-ledak, melainkan ketenangan mutlak yang jauh lebih mematikan.​Di belakangnya, Robi dan dua anak buah bersenjat

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 262

    ​Konvoi mobil medis dan pengawalan bersenjata menerobos gerbang Rumah Sakit dengan kecepatan tinggi. Pintu otomatis lobi gawat darurat terbuka lebar, menyambut kedatangan rombongan darurat tersebut.​Tim dokter dan perawat berseragam steril telah bersiaga penuh dengan brankar dorong.​"Buka jalan!" seru Arsen lantang begitu turun dari mobil. Jas dokternya langsung ia kenakan seraya mengambil alih komando medis. "Pasien wanita, primigravida, kehamilan aterm dengan riwayat trauma tumpul, stres akut, ketuban pecah dini, dan tanda-tanda solusio plasenta! Siapkan Ruang Operasi Satu sekarang juga!"​Sambara keluar dari ambulans seraya menggendong Agnira di dadanya. Pria itu menolak brankar dorong dan memilih melangkah sendiri menerobos koridor rumah sakit, membawa beban istrinya dengan langkah lebar dan kokoh.​"Mas, sakit," rintih Agnira lemah. Jemarinya yang berlumuran keringat dingin tak sedetik pun melepaskan kerah kemeja Sambara.​"Saya ada di sini, Agnira. Tatap mata saya," bisik Sam

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 261

    Napas Nayara memburu. Sebelum menarik Agnira berdiri, tangannya bergerak cepat menggeledah rompi taktis mayat pria di bawah kakinya.Jari-jarinya menyentuh benda keras di saku samping, sebuah kartu akses berpelat baja dengan logo khusus sistem keamanan terpusat dan sebuah pistol Glock berperedam.​"Kartu bypass," desis Nayara lega. Ia menyisipkan pistol itu ke balik pinggangnya dan langsung merengkuh tubuh Agnira.​"Nay, sakit sekali," rintih Agnira. Tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin membasahi seluruh lehernya. Tangannya meremas perut yang kini mengeras akibat kontraksi yang kian rapat.​"Tahan, Nyonya. Tarik napas panjang. Kita keluar sekarang lewat pintu darurat belakang," bisik Nayara seraya menopang sebagian besar bobot tubuh majikannya.​Tepat saat mereka melangkah menuju lorong belakang, suara rintihan samar terdengar dari balik pintu ruang cuci di dekat dapur.​"Mmpphh...!"​Mata Nayara menyipit waspada. Sambil tetap memapah Agnira, ia menendang pintu kayu itu hingga terb

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 260

    ​"Mari kita akhiri semua ini," desis Sambara seraya kembali menerjang.​Arman berusaha bangkit dari lantai dengan napas tersengal, satu tangannya menekan rusuk yang nyeri akibat benturan. Namun Sambara tidak memberinya celah sedikit pun. Dalam sekejap, Sambara menahan ayunan pukulan Arman hanya dengan satu tangan.​"Kau sudah terlalu tua untuk permainan ini, Arman," seringai Sambara dingin. "Dan kau belum belajar kapan harus berhenti."​Sambara memelintir lengan Arman dan menghantam bahunya hingga pria tua itu terjerembap. Saat Arman mencoba meraih senjata yang terlempar di lantai, kaki Sambara langsung menginjak remuk pergelangan tangannya.​"Argh!" Arman melolong tertahan.​"Sudah saya peringatkan sejak awal. Sekali kau menyentuh batasan saya, kau akan saya musnahkan detik itu juga."​Di luar dugaan, Arman justru tertawa serak. "Kau pikir ... ini benar-benar berakhir?"​Sambara menyipitkan mata. "Apa maksudmu?"​"Kalau aku jatuh malam ini, kau akan membayar harga yang jauh lebih mah

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 02

    Agnira terdiam, memproses segalanya dengan cepat. Ia kembali melirik Sambara, lalu berdiri perlahan dari duduknya."Hanya tiga puluh hari, 'kan?" tanya Agnira, singkat.Sambara yang sudah kembali duduk santai hanya mengangguk. "Iya.""Baiklah. Jika itu maumu, akan aku lakukan," putus Agnira tanpa

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 05

    "Buka matamu, Agnira. Tatap saya," perintah Sambara rendah.Agnira membuka mata perlahan dan satu-satunya objek yang ia lihat adalah suaminya. Orang yang selama tiga tahun ini membersamai dirinya dalam hening, orang yang bahkan selalu tampak acuh dan tidak perduli akan hadirnya.Tangan Agnira menge

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 03

    Keesokan paginya. Ruang makan yang selalu di isi keheningan mendadak terasa lebih berat dari sebelumnya. Agnira terus menerus melirik kecil pada Sambara yang berjarak cukup jauh dengannya, sudah biasa dan memang itu aturan awalnya.Wangi aroma masakan menguar. Namun di antara mereka belum ada yang

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 01

    "Batas waktu kita berakhir lusa. Saya sudah menyiapkan dokumen perceraian,"Agnira menatapnya sekali di tengah memotong daging saat pria itu meraih gelas air. Tarikan napas berat terdengar, membuat suasana ruang makan yang sunyi terasa semakin menekan. "Taruh saja di atas meja kerja. Nanti saya b

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status