Beranda / Romansa / Ranjang kedua dr. Jonathan / 69. Makan malam dingin

Share

69. Makan malam dingin

Penulis: Riri riyanti
last update Tanggal publikasi: 2026-10-11 20:52:54

Ruang makan itu hanya diisi oleh dua kepala. Sepasang manusia berbeda jenis kelamin itu duduk menghadap meja yang sama, meja yang di atasnya sudah tersaji beberapa macam jenis makanan menggugah selera, yang ditutupi sebuah tudung saji besar berbahan rotan berkualitas tinggi. Makanan yang seakan hanya dijadikan objek penglihatan semata. Tidak tersentuh sama sekali.

"Sudah pukul delapan lebih, sebaiknya kau makan dulu, Diandra." Pria berwajah oriental itu pada akhirnya kembali mencoba memecah su
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   72. Tumpangan pagi

    Di balik kemudi itu Jonathan tampak tenang berkendara. Jalanan pagi ini tidak terlalu padat, mungkin karena masih terlalu pagi. Setelah mengantarkan sang istri ke Bandara, ia berencana untuk langsung menuju rumah sakit untuk bekerja. Sejujurnya ia sedang merasa aneh pada hatinya. Biasanya ia akan merasa begitu berat melepaskan kepergian Diandra, namun kali ini ia merasa biasa saja. Dadanya tidak sesak. Tidak ada rasa takut kehilangan. Perasaannya berubah pelan-pelan, entah karena apa. Apakah karena cintanya yang perlahan mati akibat rasa kecewa? Ataukah ... karena hadirnya wanita lain bernama Lily? Seakan alam mengerti apa yang sedang ia pikirkan, seseorang itu muncul di hadapannya, baru saja keluar rumahnya menuju jalan raya. Rambut hitam nan panjang itu terkuncir tinggi, dengan seragam biru khas pegawai Minimarket. Ah, Jonathan baru sadar jika jalan yang ia lalui akan melewati rumah kekasih gelapnya. Tak ingin buang waktu, ia segera membunyikan klakson dua kali, lalu menepikan

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   71. Perpisahan di Bandara

    Genggaman tangan Diandra tak pernah terlepas dari tangan besar Jonathan semenjak keduanya menuruni mobil. Kini pasangan suami-istri itu telah berdiri di depan pintu keamanan bersama Manajer dan Asisten pribadi Diandra, menyatu dengan hiruk pikuk Bandara pagi ini. Udara bandara dingin dan ramai. Pengumuman penerbangan bersahut-sahutan. Tapi bagi Diandra, dunia hanya menyempit pada pria di depannya. Kali ini Diandra diantar oleh sang suami, hal yang sangat jarang pria itu lakukan selama ini. Bukan karena tidak mau, hanya saja istrinya itu selalu saja menolak niat baiknya. Wanita itu terlalu mandiri. Tidak ingin merepotkan katanya. Bahkan hingga membuat Jonathan sering kali merasa menjadi suami yang tidak berguna. Namun, kali ini berbeda, sebab Diandra sendirilah yang meminta Jonathan untuk mengantarnya ke Bandara. Entah kenapa hatinya gelisah sejak semalam. Dan demi menghemat waktu serta transportasi, Laras selaku Manajer beserta Javier Sutanto selaku Asisten pribadi turut menumpang

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   70. Malam yang tidak disentuh

    "Kau tidak perlu repot-repot menyambutku di luar, Diandra. Masuklah." Ucapan Jonathan sukses membuat Diandra mengendurkan pelukannya. "Kita masuk bersama, ya?" Diandra mendongak demi mempertemukan mata, namun tetap tak melepas dekapannya. "Aku benar-benar merindukanmu, makanya aku tidak sabar untuk langsung menemuimu saat mendengar mesin mobilmu." Wanita itu beralih menarik lengan sang suami, mengajaknya memasuki rumah mereka. "Ah, kau sudah mandi? Apa perlu kusiapkan air hangat untukmu?" lanjutnya. Berusaha memberikan perhatian. "Aku sudah mandi di Klinik." Sedangkan Jonathan menjawab singkat, apa adanya. "Ah, baiklah. Kalau begitu, kita makan malam bersama, ya?" Diandra berhenti melangkah, mendongak menatap suaminya. Ia memasang senyum, berusaha tampak ceria. "Aku sengaja menahan lapar agar bisa makan bersamamu. Aku sudah memesan makanan untuk kita. Tapi, maaf ... sepertinya makanannya sudah agak dingin." Di akhir kalimat, suaranya semakin lirih. Senyumannya pun perlahan pu

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   69. Makan malam dingin

    Ruang makan itu hanya diisi oleh dua kepala. Sepasang manusia berbeda jenis kelamin itu duduk menghadap meja yang sama, meja yang di atasnya sudah tersaji beberapa macam jenis makanan menggugah selera, yang ditutupi sebuah tudung saji besar berbahan rotan berkualitas tinggi. Makanan yang seakan hanya dijadikan objek penglihatan semata. Tidak tersentuh sama sekali. "Sudah pukul delapan lebih, sebaiknya kau makan dulu, Diandra." Pria berwajah oriental itu pada akhirnya kembali mencoba memecah sunyi di antara mereka. Namun, yang diajak bicara masih tak mengubah raut wajahnya sama sekali. Ia masih tampak murung, seakan awan hitam tak pernah mau pergi darinya. "Sebentar lagi, Javier. Aku ingin makan bersama suamiku. Kurang dari satu jam lagi pasti dia akan sampai di rumah," ujar Si wanita. Mendengarnya membuat Javier menarik napas panjang, untuk yang ke sekian kalinya. "Satu jam itu lama, Diandra! Cintai dirimu sendiri sebelum mencintai orang lain. Kau belum makan sejak siang tadi, bu

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   68. Makan malam spesial yang gagal

    Jonathan turun dari mobilnya. Langkahnya panjang. Setelah sampai di teras, ia mengetuk pintu kayu itu. Dan tak lama, pintu itu terbuka. Tentu saja Lily yang berada di baliknya. Wanita muda itu memasang senyum cerah nan menawan ketika melihatnya. "Paman, silakan masuk. Aku sudah menunggumu sejak tadi." Suara merdu itu teralun ketika membuka pintunya lebih lebar. "Maaf, aku agak sedikit terlambat." "Tidak apa-apa, aku senang karena kau tetap datang. Padahal aku tahu bahwa kau sangat sibuk." Tanpa banyak basa-basi, Lily menggandeng lengan Jonathan, mengajak pria itu memasuki rumahnya. "Apakah rapatnya berjalan lancar?" "Cukup lancar." Jonathan mengacak rambut wanitanya, merasa senang karena pengertian yang telah Lily berikan untuknya. Ia memang sudah mengirim pesan sebelumnya jika ia akan menghadiri rapat terlebih dahulu. "Apakah ada sesuatu yang spesial hari ini? Kau terlihat ... berbeda." Sejenak Jonathan berhenti, sedikit menjauh agar mampu melihat penampilan Lily lebih teliti. I

  • Ranjang kedua dr. Jonathan   67. Kontrak dan pelukan Javier

    "Aku tidak tahu, Laras. Sepertinya aku benar-benar tidak bisa pergi ke luar kota untuk syuting kali ini." Ucapan bernada lelah itu teralun dari mulut Diandra. Wanita cantik yang hampir selalu tampil modis itu duduk di sofa panjang berwarna marun di tengah ruangan. "Apa yang kau bicarakan, Sayang? Ini adalah proyek besar! Kau harus pergi." Laras, sang manajer membalas persuasif. Ia bangkit dari meja kerja demi menghampiri artisnya. "Aku tahu itu besar, tapi aku baru saja menyelesaikan proyek panjang. Aku butuh istirahat." Embus napas rendah terlepas, Diandra mengusap wajahnya. Ada gurat lelah yang terlihat jelas, meskipun tak mengurangi kecantikan wanita itu. "Istirahat? Kau bisa beristirahat di hotel, 'kan? Bayangkan saja, kau akan mendapatkan uang banyak dan eksposur besar!" wanita baya yang masih tampak cantik itu akhirnya memilih duduk di sisi Diandra, berkata selogis mungkin agar artisnya mau menuruti perintahnya. Sedangkan Diandra justru mengerang frustrasi. "Uang bukan segal

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status