Se connecterSudah beberapa hari berlalu. Seperti biasanya, di pagi hari aku harus berangkat untuk sekolah. Tidak ada yang spesial, bahkan ide tentang Agustusan pun sudah sedikit pudar di dalam kepalaku.
Mungkin aku merasakan perbedaan di pagi ini. Tidak tahu mengapa, jalan yang selalu aku lalui untuk ke sekolah terasa tidak memberatkan. Aku selalu menikmati jalan menuju sekolah, hanya pagi ini terasa berbeda.
Buku yang aku baca terus menerus bergerak karena angin selalu datang, menyejukkan
Satu hari sebelum hari H. Aula sekolah—ruangan terbesar dan paling bersejarah di gedung ini—dipenuhi oleh suara echo mikrofon dan langkah kaki ratusan siswa kelas XII yang sedang gelisah. Panitia Graduation (sebagian besar anak OSIS kelas 1 dan 2) berlarian seperti semut pekerja. Shinta berteriak pada tim dekorasi bunga yang salah warna. Fachri mengatur barisan paduan suara yang menyanyikan lagu sedih dengan nada sumbang. Aku berdiri di balik tirai panggung, di area gelap yang menjadi tempat persembunyian favoritku. Memantau semuanya. Memastikan variabel-variabel berjalan sesuai rencana. Di tengah panggung yang terang benderang, berdiri sosok itu. Kak Clarissa. Dia sedang mencoba jubah wisuda berwarna hitam dengan toga di kepalanya. Dia terlihat... dewasa. Sangat berbeda dengan Clarissa yang biasa memakai seragam ketat dan jas almamater di bahu. Jubah itu membuatnya tampak anggun, tapi juga... jauh. Dia sedang berdiskusi dengan MC tentang tata cara naik panggung. Gerakannya per
Satu hari sebelum hari H.Aula sekolah—ruangan terbesar dan paling bersejarah di gedung ini—dipenuhi oleh suara echo mikrofon dan langkah kaki ratusan siswa kelas XII yang sedang gelisah.Panitia Graduation (sebagian besar anak OSIS kelas 1 dan 2) berlarian seperti semut pekerja. Shinta berteriak pada tim dekorasi bunga yang salah warna. Fachri mengatur barisan paduan suara yang menyanyikan lagu sedih dengan nada sumbang.Aku berdiri di balik tirai panggung, di area gelap yang menjadi tempat persembunyian favoritku. Memantau semuanya. Memastikan variabel-variabel berjalan sesuai rencana.Di tengah panggung yang terang benderang, berdiri sosok itu.Kak Clarissa.Dia sedang mencoba jubah wisuda berwarna hitam dengan toga di kepalanya. Dia terlihat... dewasa. Sangat berbeda dengan Clarissa yang biasa memakai seragam ketat dan jas almamater di bahu. Jubah itu membuatnya tampak anggun, tapi juga... jauh.Dia sedang berdiskusi dengan MC tentang tata cara naik panggung. Gerakannya percaya di
Minggu-minggu menjelang Ujian Nasional (atau asesmen penggantinya) adalah masa-masa tergelap bagi siswa kelas 3, dan masa-masa tersunyi bagi siswa kelas 1 dan 2 karena kakak kelas mereka menghilang ditelan Try Out. Aku menyibukkan diri dengan program kerja baru. Digitalisasi perpustakaan, perbaikan sanitasi toilet (janji kampanye yang paling ditunggu siswa putri), dan restrukturisasi ulang sistem poin pelanggaran. Aku bekerja seperti mesin. Efisien. Cepat. Tanpa ampun. "Raihan, istirahatlah," tegur Shinta suatu sore. "Matamu sudah seperti panda. Kau mau menyaingi rekor begadang mantan ketua OSIS yang dikeluarkan itu?" "Aku baik-baik saja, Shinta. Masih banyak yang harus diurus." "Kau tidak baik-baik saja," Fachri menimpali sambil melempar bola basket ke arahku (yang untungnya berhasil kutangkap, refleksku membaik). "Kau merindukan Kak Clarissa, kan?" "Jangan bicara sembarangan." "Kelihatan jelas, Bung. Kau jadi lebih galak dari biasanya. Kemarin kau memarahi ketua ekskul Paskib
Hukum Kekekalan Energi menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, hanya dapat berubah bentuk.Aku berdiri di tengah lapangan sekolah yang sunyi pada pukul tujuh pagi di hari Minggu. Sampah plastik bekas botol minuman, sisa-sisa konfeti, dan jejak lumpur kering memenuhi aspal yang kemarin malam dipadati ribuan manusia.Energi euforia semalam kini telah berubah bentuk menjadi energi kinetik yang harus kami keluarkan untuk menyapu semua kekacauan ini."Kenapa..." Fachri merengek sambil menyeret kantong sampah hitam besar di belakangnya. "...kenapa bagian terburuk dari pesta selalu jatuh pada panitia inti?""Karena kita adalah pemimpin, Fachri," jawab Shinta yang sedang memungut sampah dengan penjepit besi, lengkap dengan sarung tangan karet dan masker medis (dia terlihat seperti tim forensik CSI). "Pemimpin yang baik tidak meninggalkan kotorannya untuk orang lain.""Teori yang bagus," gumamku sambil melipat terpal bekas stan Pak Wijaya. "Tapi secara praktis, ini nam
Hari H.Kekacauan adalah kata yang terlalu halus. Ini adalah zona perang.Sejak gerbang dibuka pukul 8 pagi, ribuan siswa dan pengunjung umum membanjiri area sekolah. Musik berdentum keras. Stan makanan dipenuhi antrean. Dan stan properti Pak Wijaya?Ramai. Sangat ramai.Strategi booth foto instagramable berhasil total. Tia mendesain backdrop foto yang luar biasa estetik, membuat para siswa rela mengantre demi konten media sosial. Dan syaratnya? Follow akun dan isi data. Staf Pak Wijaya terlihat kewalahan namun tersenyum lebar melihat tumpukan data calon pembeli.Aku berdiri di ruang kontrol (sebenarnya cuma tenda kecil di samping panggung) sambil memegang walkie-talkie."Cek, Raihan. Stok konsumsi panitia menipis. Anak basket makan seperti monster," suara Shinta terdengar di earpiece."Kirim Fachri untuk beli nasi padang di depan. Pakai dana darurat. Jangan biarkan mereka kelaparan atau mereka akan memakan pengunjung," instruksiku."Copy that."Aku menghela napas lega. Sejauh ini, se
Pagi itu, sinar matahari masuk melalui celah ventilasi ruang kesiswaan, menciptakan garis-garis cahaya yang menyinari debu-debu beterbangan. Tapi bagi diriku yang sedang duduk di kursi kayu keras ini, sinar itu terasa seperti lampu interogasi polisi.Di hadapanku duduk Pak Teguh. Pria paruh baya dengan kumis tebal yang menjadi ciri khas kedisiplinannya. Di meja, tergeletak proposal revisi dan fotokopi cek senilai 30 juta rupiah yang baru saja kuserahkan.Di sudut ruangan, duduk Bu Annisa yang sedang pura-pura sibuk membaca koran, namun aku tahu telinganya terpasang tajam. Dan di sampingku—berdiri dengan pose santai seolah ini adalah rumah neneknya—adalah Kak Clarissa."Raihan," suara Pak Teguh berat, menekan setiap suku kata. "Bisa kau jelaskan apa arti dari 'Stan Promosi Eksklusif' dan 'Pengumpulan Data Wali Murid' ini? Sejak kapan sekolah kita menjadi agen pemasaran properti?""Sejak Bapak menantang saya untuk mengadakan acara megah tanpa anggaran sekolah, Pak," jawabku tenang. Seti







