Mag-log inSudah 3 minggu berlalu semenjak tes ulang ujian masuk dari pihak OSIS. Aku sudah mulai terbiasa dengan lingkungan di sekolah. Fachri, sang pelaku kejahatan yang pergi dengan lambaian tangannya dekat denganku.
Tentunya bukan hanya denganku, dengan kepribadian dan wajahnya dengan mudah ia mendapat perhatian dari seluruh kelas terutama para wanita.
Wali kelas yang menangani mata pelajaran matematika juga dekat denganku. Alasannya sudah jelas, karena nilaiku yang selalu bagus di mata pelajarannya membuat aku ‘disayang’.
Sifat Bu Annisa yang sebenarnya mudah bergaul dengan para murid juga menjadikan ia guru yang dikagumi, bukan ditakuti.
Itu terbukti dari bagaimana kedekatan dia dengan para murid kelasnya. Tentu saja dengan sifat yang seperti itu semakin memudahkanku untuk belajar matematika dengannya.
Lalu untuk ketua OSIS itu...
“Jadilah wakil ketua untukku!”
“Ha?”
“Apakah kau tidak menangkap apa yang aku ucapkan tadi?”
“...”
“Jadi intinya kau akan menjadi wakil ketua OSIS, dengan aku sebagai ketuanya selama beberapa bulan ke depan.”
“Yah, tentu aku tahu apa maksudnya. Tapi, he, ha, kenapa?”
“Tentu saja untuk membantu pekerjaanku di OSIS.”
“Tunggu sebentar, di mana wakil ketua kakak?”
“Tidak ada.”
“Eh, ya... Apa maksudnya itu?”
“Tidak ada wakil ketua untukku.”
“Ha?”
“Jadi, apa jawabanmu?”
Apa jawabanku? Tentu saja itu adalah hal yang pasti.
“Aku tolak.”
Dengan begitu aku langsung meninggalkan ruangan tersebut lalu pergi mengambil tas yang ada di kelas dan bergegas pulang.
Semoga aku tidak terlibat dalam hal itu lagi.
Tapi sama halnya seperti harapanku di saat SMP, doa tidak selalu terkabulkan. Selama 3 minggu tersebut, ketua OSIS selalu mendekati diriku.
Istirahat pelajaran, pelajaran olah raga, bahkan jam makan siang, dia selalu menghampiri diriku dan menanyakan hal yang sama setiap harinya.
Dan sekarang jam sekolah sudah berakhir, dan aku berada di cafe untuk melepas lelah dengan posisi tempat duduk di sebelah jendela dengan pemandangan luar cafe, berdua dengan ketua OSIS, terjebak di keadaan yang tidak aku inginkan.
“Pendapat yang kau ucapkan kepadaku sangat tidak masuk akal, Tuan Telmi.”
“Apa maksudmu?”
“Kau sangat tidak paham ya, Tuan Telmi? Sudah berapa kali aku harus kembali mengatakan hal yang sama dua kali? Apa kau tidak kasihan kepadaku?”
“Sudah kubilang bukan seperti itu. Dan juga tolong berhenti bercanda seperti itu, aku juga punya nama, Kak Clarissa.”
“Kalau begitu, jadilah wakil ketua untukku.”
“Aku tolak.”
“Jadi begitu, Tuan Telmi... Apakah aku harus terus menerus mengeluarkan itu dari mulutku hingga tidak ada yang tersisa sedikit pun? hiks.”
“Yang kau maksud adalah tawaran itu, ya kan ya!”
“Pesankan aku kopi.”
“O-oh, sudah mulai haus? Uhm, rekor baru, 15 menit sudah terlewat semenjak kita datang ke sini dan kakak belum memesan apapun. Permisi, kopi latte-nya satu tolong!”
“Baik! Kopi latte satu.” Balas sang waitress dari kejauhan.
“Apa kau baik-baik saja kak, membaringkan kepalamu di meja.”
“Hm?... Ya. Itu akan baik-baik saja saat kau menerima tawaranku.”
“Tidak akan terjadi.”
Sungguh, aku tidak tahu kenapa dia sangat menginginkanku sebagai wakil ketuanya.
Aku tidak ingin berpikir buruk tentang apa yang terjadi kepada semua yang pernah menjadi wakil ketua untuknya.
Maksudku, bukan itu sangat aneh?
Sudah 3 minggu sejak tahun ajaran baru dimulai namun saat aku menanyakan di mana wakil ketuanya, dia selalu menjawab tidak ada dan selalu menghindari hal itu.
“Hey, Kak. Aku masih penasaran, sebenarnya di mana wakil ketua Kakak?”
“Ah~? Kau masih menanyakan hal itu? Apa kau tidak pernah menyimak lawan bicaramu, Tuan Telmi?” dia menjawab pertanyaanku dengan nada yang malas dan tidak membangunkan wajahnya dari meja.
“Aku sungguh tidak paham mengapa kau bersikeras ingin aku menjadi wakilmu? Bukankah itu aneh? Kita baru saja bertemu dan aku tidak pernah melihatmu sebelum aku memasuki SMA ini dan aku yakin Kakak juga sama seperti itu, kan?
Lalu ke mana wakil ketua Kakak? Bukankah seharusnya syarat menjadi ketua adalah mempunyai wakil? Aku sungguh tidak bisa memahaminya, Kak.”
“...”
Dia hanya terdiam dan tidak menjawab, dan kini dia menutupi wajahnya ke meja.
“Maaf telah menunggu, kopi latte pesanan anda-“
“AH SAKIT!”
“Hiii?!”
“Apa yang kau lakukan mendadak menendang kakiku?!”
“Jangan berisik, Raihan. Kita saat ini sedang berada di tempat umum, bukan kamarmu.”
“Jangan memperburuk reputasiku, Kak!”
Aku kembali duduk dan Kak Clarissa memperlihatkan wajahnya kembali.
“Ekhm, jadi apa jawabanmu?”
“Aku harus menjawab yang mana dulu?”
“Ah- Emmm... Kenapa kau sangat bersikeras menjadikanku wakil ketua?”
“Tidak tahu.”
“Ha?”
“Hanya, aku mempunyai firasat kau bisa diandalkan itu saja.”
“Lalu, ada apa dengan wakil ketua yang sebelumnya.”
Kak Clarissa membuang nafasnya lalu meminum kopi yang dipesannya.
“Entahlah, kau bisa mencarinya sendiri.”
“Apakah benar telah terjadi sesuatu?”
“Akan membosankan jika kau mengetahui jawabannya langsung. Aku pulang dulu, masih banyak tugas OSIS dan PR yang harus aku kerjakan. Sebaiknya kau pulang juga, sampai jumpa besok di sekolah.”
Kak Clarissa langsung meninggalkanku sendirian tanpa menengok kembali ke arahku sedikit pun. Lagi.
***
Bel istirahat pertama sudah berbunyi. Aku menatap ke arah jendela dengan warna biru yang menyelimuti langit siangnya.
Menyilaukan.
Firasat kau bisa diandalkan, ya. Apakah memang sesederhana itu? Maksudku bagi seorang ketua OSIS terlebih dia yang hanya mengandalkan firasat terasa aneh bagiku.
Bagaimana cara mencarinya, ya...
“Raihan, kau membawa bekal makan siangmu?”
“Tidak, aku tidak membawanya.”
“Apa telah terjadi sesuatu? Keningmu tidak terlihat seperti biasanya, lho.”
Apakah aku memang terlihat seperti itu?... Ah, benar juga! Mungkin Fachri mengetahui sesuatu.
“Hey, Fachri. Seberapa jauh kau mengetahui sekolah ini?”
“Biasa saja, sepertinya sama seperti murid kebanyakan. Reputasinya, ekstrakurikuler yang diunggulkan, rumor tentang sifat guru-guru yang ada, juga bagaimana suasana ujian di sekolah ini. Kira-kira seperti itu.”
“Apa kau mengetahui sesuatu tentang OSIS?”
“Hmm? Kenapa tiba-tiba?”
“Bisa dibilang aku sedang penasaran terhadap sesuatu.”
“Penasaran dengan OSIS?... Oh, benar juga! Kalau tidak salah kau ini dekat sekali dengan ketua OSIS. Sepertinya dia yang selalu menghampiri dirimu terlebih dahulu, ingin menjadi wakil ketuanya atau semacam itu. Apa telah terjadi sesuatu?”
Apakah itu normal?
“Iya, seperti yang kau katakan. Aku selalu dimintai untuk menjadi wakilnya, maka dari itu apa kau tahu sesuatu?”
“Sayangnya tidak, aku tidak terlalu tertarik dengan OSIS. Terlebih mereka terlihat membosankan bagiku.”
Tidak dapat petunjuk juga, yah.
“Bagaimana kita tanya saja ketua kelas kita?” Tiba-tiba Fachri memberikan saran.
“Kenapa begitu?”
“Mungkin saja dia tahu sesuatu.”
Ketua kelas, yah... Mungkin saja dia bisa membantu, tapi apakah dia ingin membantuku? Setahuku dia adalah orang yang sibuk, meskipun itu adalah risiko menjabat sebagai ketua kelas.
Sejujurnya aku jarang sekali berinteraksi dengan ketua kelas. Alasannya karena aku tidak pernah memperhatikan kelas seutuhnya, hanya tetangga yang di dekatku saja yang aku perhatikan.
Terlebih saat pelajaran dimulai wajahnya selalu tertutup oleh rambut panjang hitamnya yang lurus karena dia selalu duduk di bagian tengah di samping jajaranku.
Titik sempurna ketika kau membenci seseorang dan kau tidak ingin dia melihat wajahmu.
Tapi aku tahu ketua kelas merupakan orang yang baik. Jika tidak, mana mungkin dia dengan senang hati menawarkan diri menjadi ketua kelas.
“Baiklah.”
Aku dan Fachri berjalan menuju tempat duduk dari ketua kelas.
Di tengah perjalanan terlihat dari pandanganku dia seperti sedang membereskan sesuatu, apakah dia ada urusan?
“Halo, Ketua Kelas! Apakah kau ada waktu sekarang?”
“Halo, Ketua Kelas.” Ucapku telat.
“Halo juga Fachri? Dan juga Raihan.”
Suaranya lebih halus dari yang aku kira saat berbicara langsung dengannya.
“Apakah kau ada waktu saat ini?”
“Ada apa? Apakah kalian membutuhkan sesuatu dariku?”
“Kita ingin menanyakan sesuatu, apakah bisa?”
“Tentu, tapi maaf. Saat ini aku harus pergi ke ruang guru, Bu Annisa memanggilku sebelumnya. Tapi jika kalian mau, bisakah kalian untuk menungguku?”
“Ok, dimengerti. Kalau begitu kita tunggu di kantin.”
“Un, kalau begitu sampai jumpa lagi di kantin.”
Kita pun berpisah, dan waktu berlalu. Sementara ketua kelas sedang menyelesaikan urusan jabatannya, aku dan Fachri sedang menunggunya setelah kita berdua mendapatkan makanan siang yang kita inginkan dan duduk bersebelahan.
Aku memesan ayam goreng dengan beberapa sayuran sebagai pelengkap, sedangkan Fachri memesan sup ayam dengan tambahan nasi porsi kecil juga beberapa sayuran.
Meskipun terlihat mahal namun makanan di kantin sebenarnya murah tanpa mengurangi kualitas rasanya.
“Apa kau dekat dengan ketua kelas, Fachri?”
“Tidak juga.”
“Lalu bagaimana kau dapat berbicara dengannya dengan santai?”
“Aku tidak tahu, mungkin sifat alami?”
“Heeh...”
Apakah semua manusia mempunyai sifat alami seperti itu? Apakah itu juga merupakan definisi manusia normal, huh? Aku harap aku juga mempunyai hal itu.
Kami berdua diam dan menikmati makanan masing-masing.
Ini benar-benar canggung.
“Ah! Ketua, kami di sini!”
Tiba-tiba Fachri berteriak sambil melambaikan tangannya, dan setelah melihat kita berdua ketua kelas langsung jalan menuju meja tempat kami makan.
“Maaf telah membuat kalian menunggu, itu tadi sangat lama, bukan?”
“Tidak usah dipikirkan, lagi pula kamilah yang meminta bantuanmu. Oh, jika kau ingin memesan makanan silakan saja.”
“Tidak perlu, aku membawa bekal untuk makan siang, kok.”
Sambil mengatakan itu, ketua kelas memperlihatkan kotak bekalnya kepada kita.
“Ah, maaf karena kita makan terlebih dahulu tanpa menunggumu.”
“Tidak apa-apa, Raihan. Lagi pula makanan yang hangat lebih enak untuk dimakan, bukan? Apakah aku boleh duduk?”
“Ah, ya tentu.”
Setelah mendapat persetujuan dariku, ketua kelas duduk di hadapan kita berdua dan meletakkan kotak bekalnya dengan sepasang sumpit di atas meja lalu menyantapnya.
“Apakah itu bento?”
“Kau tahu itu, Raihan?”
“Aku mengetahuinya saat membaca buku. Apakah kau membuat itu juga sendiri?”
“Iya, aku membuat ini sendiri. Karena aku memiliki kemampuan untuk masak aku pikir kenapa tidak menggunakan kemampuanku dan mencobanya. Meskipun ini sepertinya terlihat sangat mencolok.”
“Kenapa tidak? Aku pikir itu lebih baik daripada menyia-nyiakan bakat, bukan?”
Mendengar itu dariku, ketua kelas tersenyum kecil.
“Terima kasih, Raihan. Lalu bantuan apa yang kalian inginkan?” dia mengganti tatapannya ke arah Fachri.
“O-oh. Sebenarnya bukan aku, tapi itu Raihan. Dia ingin mengetahui tentang OSIS.”
Sekali lagi dia mengganti tatapannya ke arahku.
“OSIS? Apakah kau ingin menjadi anggota OSIS, Raihan?”
“Ah, tidak. Masalahnya jauh dari itu.”
“Masalah?”
“Ya, sebenarnya ini tentang ketua OSIS.”
“Tapi sebagai ketua kelas bukan tugasku untuk menguntit seseorang, kau tahu?”
“Bukan itu!”
Ketua kelas tertawa kecil, “Tenanglah, aku hanya bercanda. Jadi, ada apa dengan ketua OSIS?”
“Sebelum itu, apakah kau tahu bahwa ketua OSIS kita tidak mempunyai wakil saat ini?”
“Ya, tentu. Aku pikir seluruh siswa di sekolah ini tahu. Ada apa?”
“Sebenarnya dia menginginkanku- lebih tepatnya memaksaku sebagai wakilnya. Tentu saja aku tolak.”
“Hmm~ Aku baru mengetahui hal itu.”
“Yah, dia melakukan itu saat ada sedikit orang saja. Namun saat aku menanyakan alasan kenapa harus aku dia selalu menjawab itu dengan asal. Lalu saat aku menanyakan di mana wakil ketuanya dia selalu diam ataupun mengganti topiknya.”
“Jadi begitu. Masalahmu adalah ketua OSIS yang memaksamu menjadi wakil ketuanya... Tapi bukankah aku sudah bilang sejak awal, Raihan? Tugasku bukanlah untuk menguntit seseorang.”
“Yang kuminta adalah informasi kenapa dia tidak mempunyai wakil sampai saat ini? Bukankah itu sangat aneh?”
Dia menatapku dengan diam tanpa ada jawaban selama beberapa detik. Ada apa?
“Itu tidaklah aneh, Raihan. Kita bisa saja berasumsi bahwa ketua OSIS membuat dirinya seperti itu. Tapi jika memang seperti itu, pertanyaanya adalah mengapa ketua OSIS melakukannya.”
“Maka dari itu, aku ingin bertanya padamu. Apakah kau mempunyai informasi tentang hal ini, meskipun hanya sedikit?”
“Meskipun hanya sedikit, ya... Mungkin aku mengetahui sesuatu.”
“Mengetahui sesuatu?”
“Tidak tepat juga, mungkin lebih tepatnya adalah rumor.”
Rumor? Entah mengapa perasaanku tidak menyenangkan mendengar kata itu. Aku yang selalu berada di puncak papan peringkat kelas maupun sekolah juga mendapat hal seperti itu.
Sesuatu seperti “Apakah dia benar seperti itu?”, “Dia orangnya?”, “Bagaimana bisa?” selalu menghampiri diriku.
Itu tidak mengganggu sebenarnya untukku, tapi bagi orang lain itu mungkin bisa saja berbeda terlebih bagi seorang gadis meskipun terdengar menggeneralisasi.
“Apakah itu baik?”
Ketua kelas merespons dengan menggelengkan kepalanya.
“Aku juga tidak tahu sebenarnya ini adalah rumor yang baik atau buruk. Namun isi dari rumor itu adalah “Ketua OSIS digantikan dengan paksa”. Seperti itu kalau aku tidak salah mengingatnya.”
“Oh! Aku juga mendengar rumor itu.”
Fachri yang tadi hanya mendengarkan kini dengan suaranya yang sedikit meninggi masuk ke dalam percakapan.
“Kalau tidak salah aku juga mendengar kalau itu terjadi dengan sangat tiba-tiba. Bahkan itu berpengaruh di dalam struktur inti OSIS, seperti semua yang menjabat di sana diturunkan.”
“Yang benar?”
Fachri mengangguk.
Aku lalu melihat ke arah ketua kelas. Dia menutup matanya sambil mengunyah makanan terakhir bekal siangnya. Dia terlihat menikmatinya.
Meskipun ketua kelas menjawabnya dengan “Aku tidak tahu ini rumor yang buruk atau bukan”, dilihat dari sisi mana pun itu adalah sebuah rumor yang buruk. Tapi tentang “100% rumor belum tentu benar” aku sangat mempercayainya. Jika aku ingin mengetahui kebenaran di balik rumor itu tentu aku harus menemukan sesuatu yang tentunya bisa diterima oleh akal sehat.
Ah ini sangat membingungkan.
“Apakah ada sesuatu lagi, Raihan?”
Aku mendapatkan kembali kesadaranku. Mata ketua kelas sudah terbuka. Astaga, sudah berapa lama dia membuka matanya.
“A-ah tidak. Maaf. Aku hanya memikirkan tentang rumor yang baru saja dibicarakan. Itu sedikit menganggu pikiranku.”
Ketua kelas menutup kotak bento-nya “kau tidak perlu memikirkan hal itu. Terlebih itu adalah pilihanmu sendiri, pilihan menurut yang paling bisa kau yakini. Menjadi wakil atau menolaknya. Juga, Rumor hannyalah sebuah rumor dan itu belum 100% benar. Jika kau terlalu terpaku dengan hal itu kau tidak dapat melajukan langkahmu lagi.”
Dia berdiri dan mengambil kotak bento-nya lalu tersenyum ke arah kita berdua, “sebentat lagi kelas akan dimulai, bagaimana jika kita bergegas lalu kembali ke kelas?”
Setelah dia mengatakan hal itu, bel telah berbunyi dan menandakan kita harus ke kelas secepatnya...
Makananku belum habis.
Satu hari sebelum hari H. Aula sekolah—ruangan terbesar dan paling bersejarah di gedung ini—dipenuhi oleh suara echo mikrofon dan langkah kaki ratusan siswa kelas XII yang sedang gelisah. Panitia Graduation (sebagian besar anak OSIS kelas 1 dan 2) berlarian seperti semut pekerja. Shinta berteriak pada tim dekorasi bunga yang salah warna. Fachri mengatur barisan paduan suara yang menyanyikan lagu sedih dengan nada sumbang. Aku berdiri di balik tirai panggung, di area gelap yang menjadi tempat persembunyian favoritku. Memantau semuanya. Memastikan variabel-variabel berjalan sesuai rencana. Di tengah panggung yang terang benderang, berdiri sosok itu. Kak Clarissa. Dia sedang mencoba jubah wisuda berwarna hitam dengan toga di kepalanya. Dia terlihat... dewasa. Sangat berbeda dengan Clarissa yang biasa memakai seragam ketat dan jas almamater di bahu. Jubah itu membuatnya tampak anggun, tapi juga... jauh. Dia sedang berdiskusi dengan MC tentang tata cara naik panggung. Gerakannya per
Satu hari sebelum hari H.Aula sekolah—ruangan terbesar dan paling bersejarah di gedung ini—dipenuhi oleh suara echo mikrofon dan langkah kaki ratusan siswa kelas XII yang sedang gelisah.Panitia Graduation (sebagian besar anak OSIS kelas 1 dan 2) berlarian seperti semut pekerja. Shinta berteriak pada tim dekorasi bunga yang salah warna. Fachri mengatur barisan paduan suara yang menyanyikan lagu sedih dengan nada sumbang.Aku berdiri di balik tirai panggung, di area gelap yang menjadi tempat persembunyian favoritku. Memantau semuanya. Memastikan variabel-variabel berjalan sesuai rencana.Di tengah panggung yang terang benderang, berdiri sosok itu.Kak Clarissa.Dia sedang mencoba jubah wisuda berwarna hitam dengan toga di kepalanya. Dia terlihat... dewasa. Sangat berbeda dengan Clarissa yang biasa memakai seragam ketat dan jas almamater di bahu. Jubah itu membuatnya tampak anggun, tapi juga... jauh.Dia sedang berdiskusi dengan MC tentang tata cara naik panggung. Gerakannya percaya di
Minggu-minggu menjelang Ujian Nasional (atau asesmen penggantinya) adalah masa-masa tergelap bagi siswa kelas 3, dan masa-masa tersunyi bagi siswa kelas 1 dan 2 karena kakak kelas mereka menghilang ditelan Try Out. Aku menyibukkan diri dengan program kerja baru. Digitalisasi perpustakaan, perbaikan sanitasi toilet (janji kampanye yang paling ditunggu siswa putri), dan restrukturisasi ulang sistem poin pelanggaran. Aku bekerja seperti mesin. Efisien. Cepat. Tanpa ampun. "Raihan, istirahatlah," tegur Shinta suatu sore. "Matamu sudah seperti panda. Kau mau menyaingi rekor begadang mantan ketua OSIS yang dikeluarkan itu?" "Aku baik-baik saja, Shinta. Masih banyak yang harus diurus." "Kau tidak baik-baik saja," Fachri menimpali sambil melempar bola basket ke arahku (yang untungnya berhasil kutangkap, refleksku membaik). "Kau merindukan Kak Clarissa, kan?" "Jangan bicara sembarangan." "Kelihatan jelas, Bung. Kau jadi lebih galak dari biasanya. Kemarin kau memarahi ketua ekskul Paskib
Hukum Kekekalan Energi menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, hanya dapat berubah bentuk.Aku berdiri di tengah lapangan sekolah yang sunyi pada pukul tujuh pagi di hari Minggu. Sampah plastik bekas botol minuman, sisa-sisa konfeti, dan jejak lumpur kering memenuhi aspal yang kemarin malam dipadati ribuan manusia.Energi euforia semalam kini telah berubah bentuk menjadi energi kinetik yang harus kami keluarkan untuk menyapu semua kekacauan ini."Kenapa..." Fachri merengek sambil menyeret kantong sampah hitam besar di belakangnya. "...kenapa bagian terburuk dari pesta selalu jatuh pada panitia inti?""Karena kita adalah pemimpin, Fachri," jawab Shinta yang sedang memungut sampah dengan penjepit besi, lengkap dengan sarung tangan karet dan masker medis (dia terlihat seperti tim forensik CSI). "Pemimpin yang baik tidak meninggalkan kotorannya untuk orang lain.""Teori yang bagus," gumamku sambil melipat terpal bekas stan Pak Wijaya. "Tapi secara praktis, ini nam
Hari H.Kekacauan adalah kata yang terlalu halus. Ini adalah zona perang.Sejak gerbang dibuka pukul 8 pagi, ribuan siswa dan pengunjung umum membanjiri area sekolah. Musik berdentum keras. Stan makanan dipenuhi antrean. Dan stan properti Pak Wijaya?Ramai. Sangat ramai.Strategi booth foto instagramable berhasil total. Tia mendesain backdrop foto yang luar biasa estetik, membuat para siswa rela mengantre demi konten media sosial. Dan syaratnya? Follow akun dan isi data. Staf Pak Wijaya terlihat kewalahan namun tersenyum lebar melihat tumpukan data calon pembeli.Aku berdiri di ruang kontrol (sebenarnya cuma tenda kecil di samping panggung) sambil memegang walkie-talkie."Cek, Raihan. Stok konsumsi panitia menipis. Anak basket makan seperti monster," suara Shinta terdengar di earpiece."Kirim Fachri untuk beli nasi padang di depan. Pakai dana darurat. Jangan biarkan mereka kelaparan atau mereka akan memakan pengunjung," instruksiku."Copy that."Aku menghela napas lega. Sejauh ini, se
Pagi itu, sinar matahari masuk melalui celah ventilasi ruang kesiswaan, menciptakan garis-garis cahaya yang menyinari debu-debu beterbangan. Tapi bagi diriku yang sedang duduk di kursi kayu keras ini, sinar itu terasa seperti lampu interogasi polisi.Di hadapanku duduk Pak Teguh. Pria paruh baya dengan kumis tebal yang menjadi ciri khas kedisiplinannya. Di meja, tergeletak proposal revisi dan fotokopi cek senilai 30 juta rupiah yang baru saja kuserahkan.Di sudut ruangan, duduk Bu Annisa yang sedang pura-pura sibuk membaca koran, namun aku tahu telinganya terpasang tajam. Dan di sampingku—berdiri dengan pose santai seolah ini adalah rumah neneknya—adalah Kak Clarissa."Raihan," suara Pak Teguh berat, menekan setiap suku kata. "Bisa kau jelaskan apa arti dari 'Stan Promosi Eksklusif' dan 'Pengumpulan Data Wali Murid' ini? Sejak kapan sekolah kita menjadi agen pemasaran properti?""Sejak Bapak menantang saya untuk mengadakan acara megah tanpa anggaran sekolah, Pak," jawabku tenang. Seti







