Home / Romansa / Rasa Dari Keremajaan / Waktunya UTS (3)

Share

Waktunya UTS (3)

Author: JayK
last update Last Updated: 2022-01-18 01:02:51

Ketika akhirnya tanggal untuk Ujian Tengah Semester dimulai, seluruh kegiatan ekstrakurikuler diberhentikan untuk sementara..

Seperti pada umumnya, ketika UTS berlangsung, jam pulang sekolah dipercepat dan jam istirahat semakin banyak. Bagi seluruh siswa pastinya ketika dua hal tersebut digabungkan merupakan berita baik, tak terkecuali denganku.

Hanya saja yang menjadi pembeda adalah persiapan yang telah dilakukan untuk menghadapi kondisi tersebut.

Yah, selain ada hal yang spesifik yang dilakukan oleh sekolah, kondisi di mana kau mendapatkan jam pulang lebih cepat dan jam istirahat lebih banyak merupakan sebuah cahaya yang tidak mungkin didapat di dunia nyata.

Pada kenyataannya, ketika kau mendapatkan sesuatu yang khusus seperti itu, sebagai siswa haruslah menukarnya dengan harga yang setimpal.

Ujian.

Atau bagaimana pun kalian mengucapkannya.

Rasanya seperti sedang membuat kontrak dengan iblis.

Sang iblis membuat persya

JayK

Ah, bab kali ini mungkin akan sangat membosankan karena aku tidak dapat berkonsentrasi selama pengerjaan bab ini. Maafkan aku. Namun selanjutnya akan memasuki puncak masalahnya, aku harap aku dapat berkonsentrasi saat mengerjakan bab yang penting itu. Terima kasih!

| Like
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rasa Dari Keremajaan   Kandidat Realist

    Malam itu, kamarku yang biasanya sunyi senyap berubah menjadi markas komando darurat. Di layar laptop, kursor berkedip-kedip di atas halaman kosong Microsoft Word. Di sampingnya, tumpukan kertas berisi draf pidato yang ditulis Shinta tergeletak begitu saja.Isinya bagus. Sangat bagus, malah. Penuh dengan kata-kata mutiara seperti "bersinergi," "inovatif," dan "menjunjung tinggi solidaritas." Masalahnya satu: itu bukan aku. Itu adalah kata-kata yang akan diucapkan oleh Kevin."Jadilah anti-hero yang cerdas."Suara bisikan Clarissa di tangga tadi sore masih terngiang, bersaing dengan suara detak jarum jam dinding.Aku menarik napas panjang, lalu mulai mengetik. Bukan dengan bahasa birokrasi yang kaku, tapi dengan bahasa yang ada di kepalaku. Bahasa kejujuran yang menyakitkan.Keesokan paginya, sekolah gempar.Penyebabnya bukan tawuran atau razia mendadak, melainkan poster-poster kampanye yang ditempel di mading utama.Di sisi kiri, ada poster Kevin. Foto dirinya sedang tersenyum lebar d

  • Rasa Dari Keremajaan   Tim Sukses

    Membentuk tim sukses adalah satu hal. Membuat tim itu bekerja secara kohesif adalah hal lain yang jauh lebih rumit. Rumus matematikanya tidak sesederhana A tambah B sama dengan C. Ada terlalu banyak variabel emosi di sini.Sepulang sekolah, kami membajak salah satu meja bundar di perpustakaan—tempat yang menurutku paling kondusif karena Fachri tidak akan berani berteriak di sini. Penjaga perpustakaan, Bu Rina, sempat melirik curiga melihat komposisi kami, tapi membiarkannya setelah melihat Shinta ada di sana. Kekuatan "murid teladan" memang mengerikan."Jadi," Shinta membuka buku catatannya, mengetukkan pulpen ke meja dengan ritme yang membuatku sedikit gugup. "Langkah pertama adalah branding. Kita harus memutuskan image apa yang ingin kau tampilkan, Raihan.""Image 'korban pemaksaan sistem'?" usulku datar."Ditolak," potong Shinta cepat. "Itu terlalu menyedihkan. Kita butuh sesuatu yang kuat. Cerdas. Revolusioner.""Bagaimana kalau 'Sang Jenius yang Turun Gunung'?" Fachri menyambar d

  • Rasa Dari Keremajaan   Pilihan Dilema

    Keesokan paginya, langit di atas SMA Fortuna Negara terlihat mendung, seolah mendukung suasana hatiku yang sedang kelabu. Batas waktu untuk memberikan jawaban kepada Bu Annisa adalah sore ini.Aku berjalan menyusuri koridor menuju kelas dengan langkah berat, seakan ada pemberat besi yang terikat di pergelangan kakiku. Namun, sebelum aku sempat mencapai tempat perlindunganku (baca: kelas), sebuah tangan halus namun tegas menarik kerah belakang seragamku."Ara, mau kemana terburu-buru begitu, Tuan Telmi?"Suara itu. Suara yang tenang, sedikit serak khas bangun tidur, namun mengandung ketajaman yang bisa mengiris mental seseorang. Aku menoleh perlahan dan mendapati Kak Clarissa berdiri di sana. Rambut hitam panjangnya tergerai indah, kontras dengan tatapan matanya yang sayu namun mengintimidasi."Kak Clarissa? Ini masih pagi, tumben Kakak sudah aktif?""Jangan salah sangka. Nyawaku masih tertinggal setengah di tempat tidur," jawabnya sambil menutup mulut dengan punggung tangan, menahan u

  • Rasa Dari Keremajaan   Tawaran Mendadak

    Pada akhirnya, apa yang aku dapat hari ini setelah mengetahui Tia memiliki banyak teman?Jawabannya mungkin hanya satu: prasangka itu menakutkan. Aku yang selama ini mengira Tia adalah sesama penghuni gua yang hanya berteman dengan tabel periodik dan reaksi kimia, ternyata memiliki kehidupan sosial yang jauh lebih berwarna daripadaku. Bahkan, dia memiliki "pasukan" teman di dunia maya yang nyata adanya.Aku menghela napas panjang, menatap pintu yang baru saja tertutup rapat di depanku. Keheningan kembali menyelimuti ruang tamu rumahku, menggantikan suara tawa Fachri, omelan Shinta, dan isak tangis Tia yang dramatis tadi."Hah... Melelahkan," gumamku pelan sambil memungut bantal sofa yang tadi sempat menjadi senjata Tia.Aku berjalan menuju dapur, mencuci beberapa gelas bekas minum mereka. Suara air keran yang mengalir deras seolah menjadi musik latar untuk pikiranku yang mulai berkelana. Efek The Village Effect yang dibicarakan Shinta dan Fachri tadi... apakah benar-benar bekerja pada

  • Rasa Dari Keremajaan   Mempersiapkan UAS Tapi Kenapa Jadi Galge?

    Siang ini seperti biasa aku mendengar penjelasan dari Bu Annisa dengan mata pelajaran matematikanya. Jika bertanya apakah itu adalah hal yang sulit? Dengan sombong akan aku jawab: tentu saja tidak. Aku dapat mudah mengerti materi yang sedang Bu Annisa utarakan. Baik itu hari ini atau pun di masa depan, memahami pelajaran adalah hal yang mudah bagiku. Terdengar sombong memang. Tapi akan aku katakan sekali lagi, menyombongkan diri dengan kemampuan yang diasah sendiri adalah hal yang bagus. Orang-orang yang berusaha menghindari kewajibannya seperti bolos kelas adalah orang yang tidak mampu mengatasi dirinya sendiri, dan aku sama sekali tidak mengerti cara berpikir orang-orang yang seperti itu. Katakan saja, bukankah seharusnya mereka itu malu menunjukkan betapa ke tidak kompetennya mereka, bukan? Dan seperti yang sudah aku bilang juga sebelumnya, belajar di kelas itu bagaikan auto correct untuk kesalahan yang tidak aku ketahui selama belajar di rumah. Seperti halnya sekarang, deng

  • Rasa Dari Keremajaan   Bukannya Kebalik?

    Kak Clarissa: Apa kau ada di rumah, Raihan? Notifikasi pesan tiba-tiba muncul dari layar ponselku. Itu berasal dari aplikasi berbalas pesan MINE yang sudah tidak asing lagi di telinga. Me: Aku ada di rumah. Apa Kakak memerlukan sesuatu? Kak Clarissa: Apakah aku bisa menemuimu? Seketika aku langsung mendapat balasan secara instan. Jari-jarinya memang tidak bisa diremehkan, dan aku tahu Kak Clarissa tidak akan melakukan trik copy paste. Me: Tentu. Aku pikir tidak ada masalah. Kira-kira ada apa dengan Kak Clarissa? Apakah dia sedang membutuhkan sesuatu? Sangat jarang melihat dia meminta langsung seperti itu. Mengingat tipenya yang menjaga jarak dengan orang lain. Tapi meminta bertemu langsung seharusnya bukan hal yang aneh. Kak Clarissa: Kalau begitu buka pintunya. Aku tarik kembali kata-kataku tadi. Ada apa ini? Mengapa perasaanku langsung menjadi tidak enak, ya? Me: Maaf? Kak Clarissa: ... Kak Clarissa: Karena ini berbentuk tulisan aku tidak perlu mengetik ulang, bukan? Kak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status