Beranda / Fantasi / Rawi, Sang Jejaka Super / Pakdhe Surya dan Pak Salam

Share

Pakdhe Surya dan Pak Salam

Penulis: Dara Karinda
last update Tanggal publikasi: 2026-03-07 21:26:46

Bayangan demi bayangan berlalu dengan cepat. Sekilas dia melihat wajah pakdhe Surya, kemudian dia melihat wajah Pak Salam.

“Hmmm … apa yang terjadi di sana?” pikir Rawi.

Wajah mereka berdua terlihat tegang, dan wajah pak Salam merah menyala. Baju Pak Salam terlihat sangat berantakan, melebihi daripada biasanya.

Wajahnya yang kemarin dulu terlihat sedikit lebih muda juga kini kembali seperti saat Rawi bertemu pertama kali dengannya.

“Wahh … terlihat gawat. Aku harus cepat ke sana,” batin Raw
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Rawi Pamit

    Suasana hingar bingar terlihat di aula kampus Universitas Manunggal. Enam orang berjejer dengan tas punggung berukuran raksasa berada di dekat kaki-kaki mereka. Selain itu, tas kecil mereka terselempang manis di pundak.Beberapa koper terbaring pasrah di sekitar mereka. Banyak mahasiswa memberi selamat, dan berjabat tangan dengan mereka. Beberapa dari teman mahasiswa juga memberi pesan juga meminta oleh-oleh saat mereka pulang.Rawi melihat ke segala arah untuk melihat apakah Kak Brama sudah datang atau belum. Hiruk pikuk membuatnya kadang-kadang kehilangan fokus untuk mencari Kak Brama.Bermenit-menit kemudian, Dia melihat Kak Brama berlari panik ke arah mereka.Dia terengah-engah ketika sampai, dan berusaha mengatur nafas sebelum berbicara denga

  • Rawi, Sang Jejaka Super   H-1

    Keesokan harinya …Semua sudah berkumpul di tempat yang ditentukan. Dahayu sempat terlambat beberapa detik. Pram, Damian, dan Haris datang bersamaan sambil membawa perbekalan.“Kalian bawa apa itu?” teriak Kak Brama.“Cemilan, Bram,” jawab mereka sambil cengar-cengir.Kak Brama yang mendengar itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Pram, Damian, dan Haris segera meletakkan makanan yang dibawanya ke tempat yang aman.“Ayo! Semuanya berkumpul di sumber suara!”Kak Brama memberi instruksi.Rawi, Kinanthi, Dahayu, Pram, Damian, dan Haris segera berlari mendekat ke arah Kak Brama.“Kalian sudah membawa yang kemarin

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Persiapan Dimulai

    Pesan dari Kak Brama.{Sebentar, Kinan. Ada pesan dari Kak Brama. Kita lanjutkan lagi nanti]Rawi membuka pesan dari Kak Brama.{Rawi, apa benar berita yang aku dapat?}{Berita apa, Kak?}{Katanya kamu mau mengundurkan diri dari program pertukaran mahasiswa}Rawi mengambil jeda untuk mengetik balasan pada Kak Brama. Dia merasa harus memberikan jawaban yang bijaksana sehingga Kak Brama tidak salah paham.{Sebenarnya iya, Kak}Kak Brama kini yang lama memberi pesan balasan. Rawi memandang gawainya sampai hampir bosan, tapi balasan itu tak kunjung datang. Dia sampai merebahka

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Bantuan Teman Baik

    Rawi terhenyak. Rawi masih menatap gawainya sambil membaca kembali pesan-pesan yang ada di grup. Dia tidak menyangka akan secepat itu dikeluarkan dari grup. Walaupun juga dia sadar, dia tidak ada kepentingan di grup tersebut. “Sudahlah. Mungkin mereka sudah memahami keadaanku saat ini. Biarkan saja mereka fokus untuk menyiapkan untuk keperluan pelatihan dan pemberangkatan.”Rawi kembali meletakkan gawainya, dan kembali merebahkan diri di atas kasur. Dia merasa lega karena teman-teman bisa menerima situasi dirinya yang memang berbeda dengan mereka. Dia berdehem. Tenggorokannya terasa kering. Dia bangkit dan berjalan menuju ruang tengah untuk mengambil segelas air minum. Dia menuangkan air dan meminumnya perlahan. Bu Krisan keluar juga dari kamarnya. Matanya terlihat lelah. Dia terlihat sedikit terkejut melihat Rawi ada di sana sedang memegang gelas. Hampir saja Rawi tersedak karena kaget. “Bu.” Bu Krisan duduk di kursi yang ada. “Maafkan kami, Rawi. Kami tidak bisa mewujudkan kei

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Grup PPM

    [Lho! Kok mendadak batal begitu saja, Rawi. Harus ada penjelasan untuk hal ini!}{Ya, aku ada alasan tersendiri untuk hal ini. Maaf, memang semua serba mendadak jadi mungkin tidak ada keterangan tambahan}{Tidak bisa, Rawi. Kamu tidak bisa memutuskan sendiri. Kasihan teman-teman yang lain.}{Masih ada kamu, Kinan. Semua pasti teratasi}{Pokoknya keputusan ini belum final ya}{Maaf, dan terima kasih}Rawi masih membalas pesan Kinanthi beberapa kali sebelum dia mengacuhkannya. Matanya tertutup tapi pikirannya mengembara mencari jalan keluar terbaik untuk kondisinya saat ini.Walaupun hatinya tetap tidak rela melepaskan program yang

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Respon Pak Bagaskara dan Bu Krisan

    Rawi menutup mata sebentar, kemudian membuka matanya kembali. Ketika dia membuka mata, dia sudah berada di kamarnya sendiri. Sebuah kamar temapt dia biasanya melepas penat selama kuliah. Tempat tenyaman baginya.Bu Krisan dan Pak Bagaskara segera menuju kamarnya. Entah mengapa mereka melakukan hal itu.“Rawi!” teriak Bu Krisan memastikan keberadaan anaknya.“Ibu! Bapak!”“Kok tiba-tiba sekali pulang ke rumah. Ada apa? Kamu sehat, kan?” Bu Krisan kembali melihat Rawi dengan seksama.Rawi tersenyum.“Aku sehat, Bu.”“Lalu ada apa? tidak biasanya kamu pulang dengan cara yang tidak biasa ini.” Pak Bagaskara mu

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Pertanda Kedua

    Malam ini sesudah makan malam, Pak Bagaskara langsung menuju kamarnya. Kata hatinya mengatakan demikian. Segera dia menutup pintu rapat-rapat. Bu Krisan paham akan tindakan suaminya itu. Ketika waktunya Rawi melihat punggung bapaknya berlalu. Tanpa kata, dia segera masuk ke kamar. Rana hanya mema

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Hati ke Hati

    Pagi dini hari Rawi bersiap. Hatinya tenang dan siap untuk memulai hari. Tak disangka, Pak Bagaskara sudah menunggu di ruang tengah ketika dia hendak melakukan rutinitas lari pagi sepuluh putaran. “Rawi, duduk dulu!”Rawi patuh. Sungguh-sungguh tanpa ada keraguan, tanpa ada pertanyaan. Pak Bagask

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Hal Ajaib dalam Tidur

    Dalam tidurnya, Rawi merasa hati dan tubuhnya merasa ringan. Raganya melayang di udara. Dia seakan di bawa ke pusat semesta. Segalanya hitam. Tak ada cahaya sama sekali. Hati dan jiwanya seperti dicuci bersih dengan segala nyanyian surgawi. Tubuhnya dibalut dengan sulur tanaman abadi yang datang

  • Rawi, Sang Jejaka Super   Remuk Redam

    Rawi bersandar lemas di bus yang mengantarnya kembali ke rumah. Pikirannya melayang. Bayangan demi bayangan melintas di kepalanya. Dari awal mulai perkuliahan sampai saat ini, ada saja kejadian yang menyudutkan dirinya. Bahkan kali ini lebih keras, DO menjadi ancamannya. “Mengapa ini semua terjadi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status