Beranda / Urban / Rayuan Maut Para Tetanggaku / Bab 86. Keputusan besar

Share

Bab 86. Keputusan besar

Penulis: Galaxybimasakti
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-04 00:41:39

“Pagi, Bu. Tentu saja, sudah siap. Hari ini kita fokus latihan kaki,” jawabku profesional, meskipun gestur dan tatapannya sedikit menggangguku.

Kami memulai sesi. Latihan kaki memang berat, dan dia mulai mengeluh.

“Aduh, Mas Bima, berat banget! Enggak kuat…” rintihnya manja, lalu tiba-tiba meletakkan tangannya di lengan bawahku yang sedang tegang menahan beban.

Aku segera menarik lenganku dengan sopan. “Tahan, Bu. Sedikit lagi. Ingat, reps terakhir adalah yang paling berharga.”

Dia kembali fokus, tetapi matanya tidak lepas dari tubuhku. Saat dia beristirahat, dia mulai menggoda lagi.

“Mas Bima ini ya, kalau di kantor arsitek, kan, pakai kemeja. Enggak kelihatan segagah ini. Saya jadi suka salah fokus, nih,” katanya, mengedipkan mata, suaranya dibuat serendah mungkin.

Aku tahu dia hanya bercanda, tetapi aku harus menjaga batas profesionalitas. “Terima kasih atas pujiannya, Bu. Tapi, fokus pada otot kaki yang sedang bekerja. Kalau enggak, latihannya enggak akan maksimal.”

Dia tertawa re
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 178. Kebeneran terungkap

    "Kenapa... kenapa Mbak kasih tahu ini ke saya?" tanyaku dengan suara parau.Mbak Susi menunduk. "Karena Mbak juga punya anak di kampung, Bim. Mbak nggak mau anak Mbak nanti dibohongi kayak gini. Citra itu jahat, Bim. Dia juga yang nyuruh preman buat bakar FitZone biar kamu nggak punya pilihan selain jadi pelayannya dia."Informasi terakhir itu adalah hantaman telak. Citra adalah orang di balik kebakaran FitZone? Tempat yang menjadi sumber penghidupanku, tempat yang kuanggap rumah?"Terima kasih, Mbak. Tolong... kirim rekaman ini ke nomor saya," kataku pelan."Baik, Bim. Akan Mbak kirim sekarang!" katanya, mengirim pesan suara itu padaku.Setelah Mbak Susi pergi, aku menutup pintu dan jatuh terduduk di lantai. Aku memandang amplop-amplop uang dari Citra dan Maya yang berserakan di lantai. Uang ini... uang ini berlumuran darah dan pengkhianatan. Aku teringat wajah Om Adrian tadi malam di pesta. Wajah pucatnya, air matanya yang jatuh saat aku memaki-makinya."Bima... kamu salah paham...

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 177. Aku dimanfaatkan

    Citra tersenyum manis, senyum yang paling palsu yang pernah kulihat. "Halo, Adit. Kenalkan, ini Bima, pelatih pribadiku... dan orang yang sedang sangat dekat denganku belakangan ini. Kalian sudah kenal, kan?"Suasana mendadak menjadi sangat dingin. Sabrina menundukkan kepala, aku bisa melihat tangannya yang menggenggam tas kecil gemetar. Ia pasti merasa dikhianati.Hanya beberapa hari yang lalu kami menghabiskan waktu romantis di Puncak, dan sekarang aku muncul sebagai pasangan saingan bisnis ayahnya."Bima," suara Om Adrian terdengar bergetar. "Apa kabar? Saya tidak menyangka kamu berteman dengan Citra."Aku menatapnya dengan pandangan paling tajam yang bisa kukeluarkan. "Dunia ini sempit, Om. Banyak hal yang tidak Om sangka-sangka bisa terjadi, kan? Seperti... rahasia masa lalu yang tiba-tiba muncul ke permukaan," kataku penuh sindiran.Om Adrian terdiam, ia tampak terpukul. Pak Adit merasa ada ketegangan yang tidak sehat dan mencoba mencairkan suasana. "Ah, iya, Bima memang pelatih

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 176. Maafkan aku Sabrina

    Aku terdiam, mencengkeram stang motor hingga buku jariku memutih. "Nggak ada apa-apa, Sab. Aku cuma sedikit emosi soal masalah pribadi. Maaf kalau membuat Om Adrian nggak nyaman.""Tapi Kakak bilang sesuatu soal 'penjelasan' dan 'ayah'. Apa maksudnya? Kakak tahu sesuatu tentang Om Adrian?" desak Sabrina."Sudahlah, Sab. Kamu nggak perlu tahu urusan orang tua. Fokus saja sama kuliahmu. Aku tutup dulu ya," kataku dingin lalu mematikan sambungan.Aku merasa menjadi orang paling jahat di dunia. Aku mencintai Sabrina, tapi aku membenci darah yang mengalir di tubuhnya—darah Adrian. Setiap kali aku melihat wajah tulus Sabrina, aku melihat bayangan pengkhianatan ayahnya.Tiba di apartemenku pukul sebelas malam, aku berharap bisa langsung tidur. Namun, saat aku baru saja keluar dari lift lantai tujuh, sesosok bayangan menghalangi jalanku.Itu Laras. Ia bersandar di dinding koridor dengan pakaian tidur tipis transparan, memegang sebuah botol minuman. Sepertinya dia sudah menungguku lama."Baru

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 175. Hasrat liar penuh gairah

    Malam itu, apartemenku terasa lebih sempit dari biasanya. Bayangan wajah Om Adrian yang seolah-olah hendak menangis terus menghantuiku. Namun, setiap kali rasa iba itu muncul, aku segera menepisnya dengan mengingat perkataan Laras dan Citra.Sandiwara, batinku. Pria sekaya dia pasti punya seribu wajah untuk menutupi jejak darah dan air mata yang ia tinggalkan di masa lalu.Pesan Citra di ponselku masih menyala, sebuah instruksi yang lebih mirip perintah bagi seorang tawanan daripada jadwal seorang pelatih. Aku harus menemani sahabatnya. Aku tahu "menemani" di kamus Citra bukanlah sekadar menghitung repetisi bench press.Pukul tujuh malam berikutnya, aku sudah berada di depan sebuah pintu unit mewah di kawasan Dharmawangsa. Bukan di apartemenku, melainkan sebuah kompleks kondominium eksklusif yang penjagaannya jauh lebih ketat.Aku mengenakan kemeja hitam yang pas di badan, menonjolkan otot dada dan lenganku yang tetap kencang meski batinku sedang hancur.Pintu terbuka, dan aroma parfu

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 174. Semuanya semakin gila

    Pagi itu, kepalaku terasa seperti akan pecah. Informasi dan fakta terbaru mengenai Om Adrian, aku tidak tahu apa semua itu memang benar. Semua itu bercampur menjadi satu, membentuk racun yang perlahan merusak cara pandangku terhadap orang-orang di sekitarku.Perkataan Laras semalam di unit 705 dan informasi tambahan dari Citra terus berputar di otakku. Keduanya memberikan narasi yang sama: Adrian adalah pria yang kejam, pengkhianat, dan penghancur masa lalu keluargaku.Meski hatiku meragu, amarah yang mereka tanamkan mulai tumbuh. Rasa hormatku pada Om Adrian yang selama ini kupupuk, kini berubah menjadi rasa muak yang menyesakkan dada.Sore harinya, aku tetap berangkat ke rumah Pak Adit untuk sesi latihan rutin. Begitu aku memasuki area gym pribadi mereka, aku melihat pemandangan yang biasanya membuatku merasa hangat, namun kini justru membuat darahku mendidih.Pak Adit sedang tertawa lepas sambil melakukan pemanasan, dan di sampingnya, duduk Om Adrian yang tampak jauh lebih segar d

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 173. Masalah semakin rumit

    Waktu seolah berhenti di villa itu, namun kenyataan memanggil kami kembali ke realitas. Pagi hari di hari kepulangan terasa lebih berat. Kabut yang turun lebih tebal dari kemarin seolah menjadi pertanda bahwa perjalanan pulang ini tidak akan sesederhana biasanya. Sabrina tampak enggan meninggalkan ketenangan puncak, namun jadwal kuliahnya tidak bisa dikompromi."Kak, janji ya kita akan kembali ke sini lagi?" tanya Sabrina saat ia mengunci pintu utama villa.Pak Subagyo berdiri di paviliun belakang, mengangguk sopan sebagai tanda perpisahan rahasia kami."Aku janji, Sab. Terima kasih sudah memberiku ketenangan yang sangat aku butuhkan," jawabku sambil menggenggam tangannya erat.Kami menempuh perjalanan turun dari Puncak dengan sisa-sisa kemesraan yang manis. Selama perjalanan, aku masih mematikan ponselku. Aku ingin menikmati setiap detik sisa waktu privat ini sebelum gelombang masalah kembali menerjang. Namun, begitu kami memasuki batas kota Jakarta dan aku mengaktifkan ponselku, re

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status