Home / Urban / Rayuan Maut Para Tetanggaku / Bab 173. Masalah semakin rumit

Share

Bab 173. Masalah semakin rumit

last update Huling Na-update: 2026-01-01 23:19:59

Waktu seolah berhenti di villa itu, namun kenyataan memanggil kami kembali ke realitas. Pagi hari di hari kepulangan terasa lebih berat. Kabut yang turun lebih tebal dari kemarin seolah menjadi pertanda bahwa perjalanan pulang ini tidak akan sesederhana biasanya. Sabrina tampak enggan meninggalkan ketenangan puncak, namun jadwal kuliahnya tidak bisa dikompromi.

"Kak, janji ya kita akan kembali ke sini lagi?" tanya Sabrina saat ia mengunci pintu utama villa.

Pak Subagyo berdiri di paviliun belakang, mengangguk sopan sebagai tanda perpisahan rahasia kami.

"Aku janji, Sab. Terima kasih sudah memberiku ketenangan yang sangat aku butuhkan," jawabku sambil menggenggam tangannya erat.

Kami menempuh perjalanan turun dari Puncak dengan sisa-sisa kemesraan yang manis. Selama perjalanan, aku masih mematikan ponselku. Aku ingin menikmati setiap detik sisa waktu privat ini sebelum gelombang masalah kembali menerjang.

Namun, begitu kami memasuki batas kota Jakarta dan aku mengaktifkan ponselku, re
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 180. Ingin kembali membaik

    Saat ini aku akan kembali fokus latihan, sebentar lagi saatnya lomba body kontes tiba. Walaupun pikiranku tidak menentu, tapi aku harus tetap semangat.Saat ini aku lebih fokus untuk melakukan siaran live di tok-tok dari pada harus berurusan dengan wanita-wanita di apartemen ini. Sementara itu demi misi ini, aku tidak melatih Om Adit dan Sabrina untuk sementara waktu, sampai situasinya kembali aman.Lantai gym Mas Putra masih terasa dingin saat aku tiba pukul lima pagi. Suara besi yang beradu dan aroma karet dari lantai beban menjadi satu-satunya pelipur lara bagi batinku yang sedang berperang. Esok adalah hari di mana Body Contest tingkat nasional itu digelar ajang yang seharusnya menjadi puncak prestasiku, namun kini terasa seperti sebuah misi penebusan dosa."Fokus, Bim! Jangan biarkan beban di pikiranmu lebih berat dari beban di tanganmu!" seru Mas Putra, suaranya menggelegar di tengah kesunyian pagi.Aku sedang berada di tengah sesi leg day yang brutal. Beban leg press sudah menc

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 179. Permainan baru

    Pak Andri membawaku ke luar, menjauh dari kerumunan orang. Aku berdiri di hadapan Pak Andri, pria yang kini menjadi satu-satunya peganganku untuk mengungkap kebenaran. Amarahku yang tadinya meledak-ledak kini mulai mendingin, berganti dengan perhitungan yang dingin dan tajam."Kalau begitu aku akan segera bertindak, Om. Citra harus segera di hancurkan," kataku penuh amarah."Jangan dulu hancurkan sekarang. Kita tidak bisa menyerang mereka secara langsung, Bima," ucap Pak Andri pelan, suaranya tenang namun sarat akan pengalaman. "Citra bukan wanita sembarangan. Dia memiliki akses ke banyak hal, termasuk orang-orang yang bisa mencelakaimu dalam sekejap. Jika kau menggunakan rekaman itu sekarang, dia bisa berkelit atau bahkan melenyapkan bukti itu sebelum sampai ke tangan hukum."Aku mengepalkan tangan, menatap lantai marmer yang dingin. "Tapi Om, dia sudah menghancurkan hidupku. Dia membakar tempat kerjaku, dia menjebakku dengan uang, dan dia membuatku membenci ayah kandungku sendiri."

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 178. Kebeneran terungkap

    "Kenapa... kenapa Mbak kasih tahu ini ke saya?" tanyaku dengan suara parau.Mbak Susi menunduk. "Karena Mbak juga punya anak di kampung, Bim. Mbak nggak mau anak Mbak nanti dibohongi kayak gini. Citra itu jahat, Bim. Dia juga yang nyuruh preman buat bakar FitZone biar kamu nggak punya pilihan selain jadi pelayannya dia."Informasi terakhir itu adalah hantaman telak. Citra adalah orang di balik kebakaran FitZone? Tempat yang menjadi sumber penghidupanku, tempat yang kuanggap rumah?"Terima kasih, Mbak. Tolong... kirim rekaman ini ke nomor saya," kataku pelan."Baik, Bim. Akan Mbak kirim sekarang!" katanya, mengirim pesan suara itu padaku.Setelah Mbak Susi pergi, aku menutup pintu dan jatuh terduduk di lantai. Aku memandang amplop-amplop uang dari Citra dan Maya yang berserakan di lantai. Uang ini... uang ini berlumuran darah dan pengkhianatan. Aku teringat wajah Om Adrian tadi malam di pesta. Wajah pucatnya, air matanya yang jatuh saat aku memaki-makinya."Bima... kamu salah paham...

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 177. Aku dimanfaatkan

    Citra tersenyum manis, senyum yang paling palsu yang pernah kulihat. "Halo, Adit. Kenalkan, ini Bima, pelatih pribadiku... dan orang yang sedang sangat dekat denganku belakangan ini. Kalian sudah kenal, kan?"Suasana mendadak menjadi sangat dingin. Sabrina menundukkan kepala, aku bisa melihat tangannya yang menggenggam tas kecil gemetar. Ia pasti merasa dikhianati.Hanya beberapa hari yang lalu kami menghabiskan waktu romantis di Puncak, dan sekarang aku muncul sebagai pasangan saingan bisnis ayahnya."Bima," suara Om Adrian terdengar bergetar. "Apa kabar? Saya tidak menyangka kamu berteman dengan Citra."Aku menatapnya dengan pandangan paling tajam yang bisa kukeluarkan. "Dunia ini sempit, Om. Banyak hal yang tidak Om sangka-sangka bisa terjadi, kan? Seperti... rahasia masa lalu yang tiba-tiba muncul ke permukaan," kataku penuh sindiran.Om Adrian terdiam, ia tampak terpukul. Pak Adit merasa ada ketegangan yang tidak sehat dan mencoba mencairkan suasana. "Ah, iya, Bima memang pelatih

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 176. Maafkan aku Sabrina

    Aku terdiam, mencengkeram stang motor hingga buku jariku memutih. "Nggak ada apa-apa, Sab. Aku cuma sedikit emosi soal masalah pribadi. Maaf kalau membuat Om Adrian nggak nyaman.""Tapi Kakak bilang sesuatu soal 'penjelasan' dan 'ayah'. Apa maksudnya? Kakak tahu sesuatu tentang Om Adrian?" desak Sabrina."Sudahlah, Sab. Kamu nggak perlu tahu urusan orang tua. Fokus saja sama kuliahmu. Aku tutup dulu ya," kataku dingin lalu mematikan sambungan.Aku merasa menjadi orang paling jahat di dunia. Aku mencintai Sabrina, tapi aku membenci darah yang mengalir di tubuhnya—darah Adrian. Setiap kali aku melihat wajah tulus Sabrina, aku melihat bayangan pengkhianatan ayahnya.Tiba di apartemenku pukul sebelas malam, aku berharap bisa langsung tidur. Namun, saat aku baru saja keluar dari lift lantai tujuh, sesosok bayangan menghalangi jalanku.Itu Laras. Ia bersandar di dinding koridor dengan pakaian tidur tipis transparan, memegang sebuah botol minuman. Sepertinya dia sudah menungguku lama."Baru

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 175. Hasrat liar penuh gairah

    Malam itu, apartemenku terasa lebih sempit dari biasanya. Bayangan wajah Om Adrian yang seolah-olah hendak menangis terus menghantuiku. Namun, setiap kali rasa iba itu muncul, aku segera menepisnya dengan mengingat perkataan Laras dan Citra.Sandiwara, batinku. Pria sekaya dia pasti punya seribu wajah untuk menutupi jejak darah dan air mata yang ia tinggalkan di masa lalu.Pesan Citra di ponselku masih menyala, sebuah instruksi yang lebih mirip perintah bagi seorang tawanan daripada jadwal seorang pelatih. Aku harus menemani sahabatnya. Aku tahu "menemani" di kamus Citra bukanlah sekadar menghitung repetisi bench press.Pukul tujuh malam berikutnya, aku sudah berada di depan sebuah pintu unit mewah di kawasan Dharmawangsa. Bukan di apartemenku, melainkan sebuah kompleks kondominium eksklusif yang penjagaannya jauh lebih ketat.Aku mengenakan kemeja hitam yang pas di badan, menonjolkan otot dada dan lenganku yang tetap kencang meski batinku sedang hancur.Pintu terbuka, dan aroma parfu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status