Chapter: Bab 268. Kembali mencari penghasilanPapa menatapku dengan tatapan protektif. "Jangan nak, jangan kamu yang bergerak sendiri. Biar Papa saja yang mengatur semuanya. Masalah Adit, biar dia masuk ke dalam lubang yang dia gali sendiri.""Tapi Pa, Sabrina di sana sendirian. Dia pasti menderita," potongku dengan nada cemas.Adrian menggeleng pelan. "Sabrina sedang kuliah, Bima. Tidak mungkin kita menjemputnya begitu saja tanpa rencana matang, itu malah akan membuat Adit curiga dan bisa membahayakan kalian berdua. Biarkan dia di sana dulu sementara Papa memutus semua 'napas' bisnis ayahnya. Mengenai identitasmu, biarkan Adit tahu dengan sendirinya. Papa ingin melihat wajahnya saat dia sadar bahwa orang yang dia rendahkan adalah anak kandung dari pria yang selama ini menghidupi perusahaannya."Aku menghela napas panjang, mencoba menekan ego dan amarahku. "Baiklah kalau begitu, Pa. Tapi aku rindu Ibu dan Alisa. Aku ingin menemui mereka, tapi aku bingung caranya agar tetap aman.""Untuk saat ini, sabar dulu. Ini semua demi kebaik
Terakhir Diperbarui: 2026-02-25
Chapter: Bab 267. Benang merah yang mulai terungkapUdara malam mulai terasa dingin saat aku melangkah gontai meninggalkan villa Eliana. Eliana, Rani, dan Maya sudah bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta Pusat, sementara Clarissa juga harus pulang.Tadi, Clarissa sempat merengek, memintaku ikut menginap di apartemennya, namun aku menolak dengan tegas."Ada urusan mendesak, Cla. Lain kali saja," kataku pendek. Aku sengaja tidak ingin dia tahu di mana aku tinggal sekarang. Bagiku, apartemen pemberian Papa Adrian adalah benteng pertahanan terakhirku.Aku tiba di apartemen saat langit benar-benar gelap. Tubuhku terasa lengket dan kotor, bukan hanya oleh keringat setelah melayani empat wanita sekaligus, tapi juga oleh rasa bersalah yang menyesakkan dada. Aku segera masuk ke kamar mandi, membiarkan guyuran air dingin membasuh raga ini, mencoba menghapus bayangan tangis Sabrina aku tahu ini semua adalah tangis pengorbanan.Selesai mandi, aku hanya melilitkan handuk di pinggang. Baru saja aku hendak mengambil pakaian, bel pintu berbunyi. Aku
Terakhir Diperbarui: 2026-02-24
Chapter: Bab 266. Semakin liarAku menepuk pundaknya dengan lembut namun bertenaga."Tante," bisikku tepat di telinganya.Tante Diana tersentak, wajahnya memucat melihatku. "B-Bima? Kamu.... "Sebelum dia sempat berteriak atau melarikan diri, aku menatap matanya dengan dalam. Aku menyalurkan energi batin melalui tatapan mata, sebuah teknik hipnotis tingkat tinggi yang kupelajari di desa untuk menenangkan pikiran."Ikuti saya ke mobil, Tante. Kita perlu bicara tenang," perintahku.Tante Diana seperti kehilangan kesadarannya sendiri. Matanya kosong, dia mengangguk dan kembali masuk ke dalam mobilnya. Aku duduk di kursi kemudi, memastikan jendela tertutup rapat."Ceritakan tentang Sabrina. Bagaimana keadaannya di Melbourne?" tanyaku langsung."Dia... dia baik-baik saja," jawabnya kaku karena pengaruh hipnotis."Jangan bohong. Apakah dia bahagia dengan Mark? Apakah mereka akan bertunangan?"Tante Diana terdiam sejenak, bibirnya bergetar. "Maunya Mas Adit begitu... tapi...""Tante, ceritakan semuanya! Rahasia apa yang k
Terakhir Diperbarui: 2026-02-23
Chapter: Bab 265. Kebenaran yang terungkap"Aku ingin kalian semua menemaniku malam ini," bisikku dengan suara berat penuh otoritas.Maya dan Rani sempat saling lirik, namun melihat kejantananku yang sudah menonjol sangat keras di balik celana pendek, mereka tak kuasa menolak.Aura kejantananku yang dominan seolah menghipnotis mereka semua.Aku menarik Clarissa dan Eliana sekaligus, melumat bibir mereka bergantian dengan rakus. Tanganku dengan liar meremas buah dada mereka yang kenyal.Clarissa mengerang, tangannya langsung merobek singlet yang kukenakan hingga tubuh berototku terpampang nyata."Ahhh Mas Bima... gede banget badannya..." desah Maya yang mulai mendekat, tangannya mulai berani meraba pangkal pahaku.Aku sudah tidak bisa menahan diri. Aku lepaskan celana pendekku, membiarkan benda pusakaku yang sudah merah meradang dan berdenyut hebat terpampang di depan mata mereka berempat.Mereka semua terkesiap, mata mereka membelalak melihat ukuran yang tidak masuk akal itu."Siapa dulu yang mau merasakan 'berkah' hari ini?"
Terakhir Diperbarui: 2026-02-23
Chapter: Bab 264. Rencana nakalAku hanya tersenyum tipis dan mengangguk, lalu bergegas kembali ke apartemenku. Sesampainya di sana, aku segera mengganti pakaianku dengan celana pendek dan singlet hitam.Tubuhku terasa ringan, namun rasa kantuk yang sangat berat segera menyerang. Aku pun tertidur pulas karena hari sudah sangat larut.Kegelapan menyelimuti pandanganku, hingga perlahan muncul sebuah taman yang sangat indah.Di sana, aku melihat Sabrina. Dia berdiri membelakangiku, bahunya berguncang hebat. Dia sedang menangis."Sabrina?" panggilku pelan.Dia berbalik, wajahnya sembab dan matanya merah. Begitu melihatku, dia langsung berlari dan memelukku erat. "Bima... tolong aku, Bima... aku terpaksa," isaknya pilu.Hatiku sempat luluh. Aku ingin memeluknya kembali, melindunginya seperti dulu.Namun, tiba-tiba bayangan dia bersama pria lain muncul di kepalaku.Aku teringat pengkhianatannya.Dengan perlahan namun tegas, aku melepaskan pelukannya."Kamu sudah punya hidup baru, Sabrina. Kamu sudah memilih dia," kataku d
Terakhir Diperbarui: 2026-02-22
Chapter: Bab 263. Gairah bule cantikAku mengedit video itu dengan teliti, menambahkan musik yang sedang tren dan efek yang menonjolkan bentuk otot tubuhku yang kini semakin tebal dan padat. Setelah selesai, aku langsung mengunggahnya.Selesai dengan urusan konten, aku mencoba semua alat gym di sana. Rasanya luar biasa bisa kembali mengangkat beban berat dengan gizi dan suplemen yang terpenuhi.Waktu berjalan cepat hingga sore hari.Perutku mulai lapar.Aku memasak steak wagyu dan sayuran yang tadi dibawakan, makanan berprotein tinggi untuk menjaga massa ototku.Sambil makan, aku mengirim pesan pada Ardi.[Di, sudah pulang kantor?][Belum, Bim. Masih ada urusan sebentar lagi, paling sebentar lagi sampai rumah. Kenapa?] balas Ardi.[Gue kirim makanan ya buat lu. Lu tunggu saja di rumah.]Aku segera menghubungi orang kepercayaan Papa untuk mengirimkan paket makanan dan bahan makanan mentah untuk stok Ardi di rumah. Tak lama, bel pintu apartemenku berbunyi.Dua orang pria anak buah Papa berdiri di sana. Aku menyerahkan bun
Terakhir Diperbarui: 2026-02-21
Chapter: Bab 443. SELESAI (end)Akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba, kami semua kelurga Dupont akan berlibur ke Swiss. Kami sudah mempersiapkan semuanya, kami berjalan menuju bandara. Nayla tampak terlihat bahagia, aku senang melihatnya tersenyum dan ceria seperti dulu.Setelah beberapa kali transit, akhirnya kami tiba di Swiss. Dinginnya udara Alpen menyentuh wajahku, namun hangat yang menjalar di hatiku jauh lebih kuat. Aku berdiri di balkon sebuah chalet mewah di kawasan Zermatt, Swiss.Di depanku, Gunung Matterhorn berdiri kokoh dengan puncak bersalju yang berkilau tertimpa cahaya matahari pagi. Ini adalah destinasi impian Nayla, dan hari ini, aku mewujudkannya sebagai hadiah atas segala ketegaran yang telah ia tunjukkan."Papa! Lihat! Louis lucu sekali pakai baju astronot salju!" teriak Nayla dari halaman bawah yang tertutup salju putih bersih.Aku menunduk dan tertawa. Di bawah sana, Nayla sedang membantu Louis yang kini berusia hampir satu tahun untuk berdiri di atas salju. Louis tampak bulat dengan baju musim
Terakhir Diperbarui: 2026-01-05
Chapter: Bab 442. Perjamuan Cinta dan TahtaMalam ini, kediaman baruku di kawasan elit Menteng berubah menjadi pusat perhatian Jakarta. Cahaya lampu kristal yang menggantung di langit-langit aula utama memantulkan kemilau kemewahan yang tak tertandingi.Ribuan bunga lili putih dan mawar merah segar diimpor langsung dari Belanda, menghiasi setiap sudut ruangan, menciptakan aroma wangi yang menenangkan sekaligus elegan.Aku berdiri di dekat tangga besar, mengenakan setelan jas custom-made dari penjahit terbaik di Paris. Di sampingku, Siska tampak sangat memukau dengan gaun malam berwarna champagne yang senada dengan dasiku.Ia menggendong Louis yang tampak menggemaskan dengan tuksedo mungilnya. Sementara itu, Nayla dan Lila berada di ruang atas, bersiap untuk momen yang akan mengubah hidup mereka selamanya.Malam ini bukan sekadar acara lamaran biasa. Ini adalah pernyataan kepada dunia bahwa keluarga Dupont telah kembali, lebih kuat dan lebih solid dari sebelumnya."Raka, lihat siapa yang datang," bisik Siska sambil menyenggol le
Terakhir Diperbarui: 2026-01-05
Chapter: POV RakaAku berdiri di balkon lantai dua rumah baruku, menghirup dalam-dalam udara pagi Jakarta yang entah mengapa terasa jauh lebih segar dari biasanya. Di pelukanku, Louis, putra kecilku, menggeliat pelan dalam tidurnya. Berat tubuhnya yang hangat di dadaku adalah jangkar yang membuatku tetap membumi, pengingat paling nyata bahwa badai dahsyat itu benar-benar telah berlalu. Melihat wajah tenang Louis, ingatanku tiba-tiba melayang jauh ke belakang. Sangat jauh, ke masa-masa di mana kata "bahagia" terasa seperti kemewahan yang mustahil kuraih. Aku masih ingat dinginnya lantai panti asuhan tempatku tumbuh. Aku adalah bocah tanpa nama belakang, tanpa asal-usul, yang hanya punya tekad untuk bertahan hidup. Aku berjuang sendiri, bekerja serabutan demi membayar biaya sekolah, hingga akhirnya aku bisa menggenggam ijazah sarjana. Masa-masa awal bekerja di kantor desain iklan terasa seperti mimpi yang jadi kenyataan, meski saat itu gajiku hanya cukup untuk makan dan membayar kos yang sempit. Di ka
Terakhir Diperbarui: 2026-01-05
Chapter: Bab 440. Berkahir bahagiaNayla dan Lila kini berada dalam kondisi koma medis yang sengaja dilakukan untuk menyelamatkan otak mereka dari kerusakan lebih lanjut. Tom dan Liam dipisahkan dan dimasukkan ke dalam ruang sterilisasi kimia."Semuanya sudah berakhir, Bu," bisik Henri pada istrinya yang menangis di sampingnya. "Kita mungkin bisa menyelamatkan tubuh mereka, tapi kita telah kehilangan jiwa mereka selamanya."Lyon yang dingin tidak memberikan kehangatan bagi keluarga yang hancur ini. Hanya ada suara mesin medis yang berbunyi teratur, dan tangisan bayi prematur yang baru saja lahir dari rahim Siska.Waktu seolah melambat di Château de la Guérison. Musim dingin yang keras perlahan-lahan berganti menjadi musim semi yang hangat, membawa harapan baru bagi para penghuninya. Berbulan-bulan setelah insiden kelam yang mengguncang fondasi keluarga Dupont, mukjizat medis yang didanai oleh kekayaan dan cinta Mr. Henri akhirnya membuahkan hasil.Nayla dan Lila, dua jiwa yang sempat terperangkap dalam badai hormonal d
Terakhir Diperbarui: 2026-01-04
Chapter: Bab 439. Gairah di Tengah PemulihanKeluarga Dupont kini benar-benar sedang melakukan eksodus besar-besaran. Mereka meninggalkan Jakarta, kota yang telah memberikan kekayaan sekaligus kehancuran bagi mental mereka. Di atas ketinggian 35.000 kaki, Mr. Henri menatap ke luar jendela pesawat, melihat kegelapan malam.Ia sadar, meski mereka bisa melarikan diri dari Jakarta, rahasia tentang apa yang telah terjadi tentang hubungan intim yang terlarang, penularan nafsu yang gila, dan kehormatan yang tercoreng akan selalu mengikuti mereka seperti bayangan yang tak pernah hilang."Kesembuhan membutuhkan pengorbanan," bisik Henri pelan, menutup matanya dan bersiap menghadapi pertempuran medis terakhir di Lyon.Pesawat jet medis keluarga Dupont membelah awan kelabu di atas langit Prancis Timur, mendarat dengan keheningan yang mencekam di bandara privat dekat Lyon. Suasana di sini sangat berbeda dengan Jakarta yang panas dan bising.Udara musim dingin yang menusuk tulang menyambut rombongan "pasien" kelas atas ini. Mr. Henri turun p
Terakhir Diperbarui: 2026-01-04
Chapter: Bab 438. Gairah tak tahanSuasana di lantai dasar apartemen Dupont berubah menjadi pangkalan militer medis. Tiga unit jet ambulans telah disiagakan di bandara, sementara iring-iringan mobil van medis berjejer di area parkir bawah tanah yang telah dikosongkan.Mr. Henri berdiri di ruang pantau, mengawasi setiap pergerakan melalui layar CCTV. Wajahnya yang kaku menunjukkan bahwa ia tidak akan mentoleransi kegagalan sekecil apa pun."Beni, pastikan semua rute menuju bandara telah dibersihkan oleh tim intelijen. Aku tidak ingin ada satu pun kamera jurnalis atau warga yang menangkap momen kepindahan ini," perintah Henri dingin."Siap, Monsieur. Semua sudah terkendali," jawab Beni.Namun, di tengah keseriusan itu, Mr. Henri tahu bahwa pengobatan "cuci darah" hormonal yang diberikan kepada para pria belum sepenuhnya menghapus sisa-sisa gairah yang telah mendarah daging.Justru, sebelum obat-obatan penetralisir mencapai puncaknya, terjadi lonjakan gairah terakhir yang sering disebut oleh para dokter sebagai the final
Terakhir Diperbarui: 2026-01-03
Chapter: Bab 23. Adegan panasSetelah menyantap nasi goreng buatan Bi Inah yang gurih, aku, Dani, dan Joni duduk bersila di teras belakang yang masih berupa tanah galian.Sebatang rokok kretek kunyalakan, membiarkan asapnya menari di udara pagi yang mulai menghangat.Dani memperhatikanku dengan dahi berkerut, lalu menyikut Joni. "Eh, Jon, lihat si Aris. Asa beda nya?"Joni mengangguk mantap sambil mengembuskan asap rokoknya. "Enya, bener. Wajahna mani seger kitu, potongan rambutna ge jadi gaya. Maneh tas ti mana bieu peuting, Ris? Meuni rapih kieu."Aku terkekeh, berusaha menutupi kegugupanku. "Ah, biasa weh, hayang ganti suasana. Masa kuli pelabuhan kucel terus.""Tapi beneran, Ris. Gagah euy, moal aya nu nyangka maneh teh kuli. Geus jiga bos muda," tambah Dani dalam bahasa Sunda yang kental.Tak lama kemudian, kesunyian rumah kembali pecah. Suara mesin mobil terdengar dari depan. Nikita, Vira, dan Tasya mulai bersiap pergi dengan urusan mereka masing-masing.Hanya Bi Inah yang tertinggal di rumah, sibuk dengan t
Terakhir Diperbarui: 2026-02-25
Chapter: Bab 22. Gairah liar"Ahhh Aris, puaskan Ibu malam ini!" rintihnya, tangannya meremas kejantananku yang sudah mengeras.Gairah yang tersulut di kamar vila itu meledak tanpa kendali. Sebelum permainan dimulai, Nikita sempat merogoh tasnya dan memberikan sebuah pil kecil berwarna biru kepadaku."Telan ini, Aris. Aku ingin malam ini kita habiskan dengan bersenang-senang. Kamu yang pegang kendali malam ini, bikin aku lemas!" bisiknya dengan mata yang berkilat nakal.Aku menelan pil itu tanpa banyak tanya.Efeknya bekerja sangat cepat.Seluruh saraf di tubuhku terasa bergetar, dan kejantananku menegang dengan kekuatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.Aku menarik tubuh Nikita, membenamkan wanita itu ke atas kasur empuk dengan kasar. Antara nafsu yang memuncak dan rasa amarah yang terpendam, aku tidak memberikan ampun sedikit pun.Aku membuka kakinya lebar-lebar, bagian intinya walaupun sudah terlihat longgar tetap membuatku bernafsu.Aku mulai mengambil ancang-ancang, benda pusakaku sangat keras seperti
Terakhir Diperbarui: 2026-02-24
Chapter: Bab 21. Make overAku melangkah masuk ke kamar dengan pikiran yang masih menerawang. Setelah keringat di tubuhku kering, aku segera mengguyur tubuhku dengan air dingin.Aku tidak tahu rencana gila apa lagi yang ada di kepala Nikita, atau ke mana dia akan membawaku pergi.Selesai mandi, aku memilih kaos polo pemberian Nikita yang pas di tubuhku dan celana jeans panjang.Saat aku melangkah keluar kamar menuju koridor, aku berpapasan dengan Tasya yang juga hendak turun.Seperti biasa, dia hanya melirikku sekilas tanpa bicara, lalu berjalan mendahuluiku menuruni tangga."Aris!"Suara Nikita memanggil dari arah kamarnya.Langkahku terhenti.Pintu kamar utama terbuka, dan Nikita muncul dengan penampilan yang sangat mencolok. Dia mengenakan dress mini ketat yang menonjolkan lekuk tubuh rampingnya.Riasan wajahnya tampak lebih tebal dari biasanya, rambutnya diikat tinggi memberikan kesan elegan sekaligus nakal.Tanpa ragu, dia mendekat dan langsung merangkul lenganku. Jantungku berdesir, bukan karena apa, tapi
Terakhir Diperbarui: 2026-02-23
Chapter: Bab 20. Mulai renovasiBayangan Vira yang sedang berlutut dan melayani pria misterius itu terus berputar-putar di kepalaku seakan tidak ingin pergi.Aku mendengus kesal, berusaha memejamkan mata tapi percuma. Rasa penasaran bercampur gairah yang muncul tadi membuat sekujur tubuhku panas."Sial, kalau begini terus aku nggak bakal bisa tidur," gumamku.Aku bangkit dari kasur dan memastikan pintu kamar sudah terkunci rapat. Aku tidak mau kejadian memalukan dengan Vira atau Nikita terulang lagi.Aku mengambil botol minyak zaitun dari dalam tas, lalu duduk di tepi ranjang. Aku membuka ponselku, mencari file tersembunyi yang berisi koleksi video biru favoritku.Pikiranku berkecamuk, lebih baik aku memuaskan diriku sendiri malam ini daripada harus berurusan dengan Nikita.Wanita itu memang sangat seksi dan menggoda, tapi kelicikannya membuatku muak.Aku memutar video paling panas.Suara erangan wanita di layar ponsel mulai memenuhi ruangan. Aku melumuri si Gatot yang sudah menegang keras dengan minyak zaitun.Sens
Terakhir Diperbarui: 2026-02-22
Chapter: Bab 19. Siapa pria di kamar Vira?Aku memacu motorku dengan perasaan yang sulit digambarkan.Malam ini, Aku akan pergi berkencan untuk yang pertama kalinya. Aku merasa gugup sekaligus senang, setelah sekian lama akhirnya aku bisa mengajaknya jalan.Aku berhenti tepat di depan warung kopi, tempat di mana Risma sudah menungguku.Begitu mataku menangkap sosoknya, aku terpukau. Risma terlihat begitu cantik dan segar malam ini. Dia mengenakan blus berwarna pastel yang dipadukan dengan celana jeans yang pas di tubuhnya, sangat sopan namun tetap memperlihatkan aura cantiknya.Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan tergerai indah, sesekali tertiup angin malam. Dia benar-benar bunga desa yang diidamkan banyak pria, dan malam ini, dia menungguku."Sudah lama, Ris?" sapaku sambil mematikan mesin motor.Risma menoleh dan tersenyum malu-malu. "Baru sebentar, A. Aa... rapi sekali malam ini.""Tentu dong, kan malam ini spesial. Ayo, aku ajak kamu makan malam," ajakku.Dengan uang pemberian Nikita yang cukup di dompet, aku membawanya
Terakhir Diperbarui: 2026-02-21
Chapter: Bab 18. Perhatian Nikita"JANGAN MIMPI... Aku gak sudi punya kakak gembel seperti kamu. Lihat aja nanti, kau akan menyesal!" ucapnya membentakku sambil memalingkan wajah yang sedikit memerah, lalu dia berjalan cepat melewatiku.Aku mengabaikan gerutuan Vira di lorong tadi. Biarkan saja dia besar kepala sekarang, karena cepat atau lambat, kesombongannya itu akan runtuh juga di hadapanku.Setelah semua barang-barangku dipindahkan ke kamar baru, aku segera merebahkan diri di atas kasur yang empuk.Rasanya luar biasa.Dulu, kamarku memang seperti ini sebelum nenek sihir itu datang dan mengusirku. Kini, aku kembali ke tempat yang seharusnya, meski dengan status yang memuakkan sebagai "pemuas" ibu tiriku.Sambil menatap langit-langit kamar, aku memutar otak.Nikita belum tahu kalau rencananya mencelakai Ayah di rumah sakit tadi gagal total.Aku harus tetap waspada.Bukti rekaman percobaan pembunuhan memang sudah di tanganku, tapi Nikita itu licik. Dia punya Gunawan dan kekuasaan untuk memutarbalikkan fakta.Aku but
Terakhir Diperbarui: 2026-02-20
Chapter: Suasana semakin tegang Malam itu, aku duduk di dalam mobil Om Martin, jari-jariku bermain di ujung gaun yang kukenakan. Hawa dingin dari AC menyelimuti tubuhku, tapi pikiranku justru terasa panas, berputar-putar memikirkan semua yang telah terjadi hari ini."Kamu capek?" suara Om Martin terdengar lembut, membuyarkan lamunanku. Aku menoleh dan melihatnya tersenyum, tatapan matanya yang teduh membuat dadaku berdesir.Aku menggeleng pelan. "Nggak, aku cuma... banyak mikir aja."Dia mengangguk seakan mengerti. "Kalau ada yang ingin diceritakan, aku siap mendengar."Aku menghela napas, mencoba menyusun kata-kata. "Aku cuma merasa aneh. Rasanya... terlalu nyaman berada di dekat Om. Seperti ada sesuatu yang mengisi ruang kosong di hatiku. Tapi di sisi lain, aku takut kalau ini hanya perasaan sesaat."Om Martin terdiam sejenak sebelum menjawab, "Aku juga merasakannya, Laura. Aku tahu aku bukan ayahmu, dan aku tidak akan pernah bisa menggantikannya. Tapi kalau keberadaanku bisa membuatmu merasa lebih baik, aku berse
Terakhir Diperbarui: 2025-04-05
Chapter: Semakin rumit Laura menatap sosok di hadapannya dengan napas tertahan. Jantungnya berdebar kencang saat dia mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Orang itu berdiri di ambang pintu, matanya menatap Laura dengan campuran perasaan yang sulit dijelaskan."Kamu... kenapa bisa ada di sini?" suara Laura bergetar.Pria itu tersenyum kecil, langkahnya mendekat. "Aku selalu ada di sekitarmu, hanya saja kau tidak pernah menyadarinya."Reno yang berdiri di samping Laura menatap pria itu dengan sorot tajam. "Siapa dia, Laura?"Laura menggeleng, seakan mencoba mengusir kebingungan di kepalanya. "Aku... aku tidak tahu. Aku pernah mengenalnya, tapi aku tidak mengerti kenapa dia muncul sekarang."Pria itu tertawa kecil, suara rendahnya penuh misteri. "Laura, aku tidak muncul tiba-tiba. Aku datang karena waktunya sudah tepat. Ada sesuatu yang harus kamu ketahui."Ketegangan semakin meningkat. Reno maju selangkah, posisinya protektif di depan Laura. "Aku tidak peduli siapa kamu. Kalau niatmu buruk, sebaiknya p
Terakhir Diperbarui: 2025-04-04
Chapter: Malam yang menegangkan Malam itu, hujan turun deras, menciptakan suasana tegang di dalam ruangan yang dipenuhi oleh ketegangan yang menggantung. Laura menatap pria di depannya, napasnya tercekat saat kata-kata yang baru saja diucapkan pria itu menggema di kepalanya."Aku sudah tahu semuanya, Laura," kata pria itu dengan suara berat dan tajam.Jantung Laura berdebar kencang. "Maksudmu apa?" tanyanya, mencoba tetap tenang.Pria itu mengeluarkan sebuah amplop coklat dan meletakkannya di atas meja. Dengan tangan gemetar, Laura mengambilnya dan membuka isinya. Matanya melebar saat melihat foto-foto di dalamnya. Itu adalah foto dirinya bersama seseorang dari masa lalunya—seseorang yang seharusnya sudah tidak ada dalam hidupnya."Bagaimana kau mendapatkan ini?" suaranya bergetar, campuran antara marah dan ketakutan.Pria itu tersenyum tipis. "Aku punya sumberku sendiri. Dan aku yakin, kau tahu bahwa seseorang sedang mengincarmu."Laura menelan ludah. Dia tahu persis siapa yang dimaksud pria itu. Sosok yang seharus
Terakhir Diperbarui: 2025-04-03
Chapter: Konflik Memuncak dan Kejutan yang Tak TerdugaLaura merasa jantungnya berdetak kencang saat melihat seseorang dari masa lalunya muncul tiba-tiba di depan pintu apartemennya. Pria itu berdiri dengan wajah serius, seolah membawa kabar buruk yang akan mengubah segalanya. "Kita perlu bicara," katanya dengan nada mendesak.Sementara itu, di tempat lain, Arya dan Reza sedang mencoba menghubungi Laura setelah menyadari ada sesuatu yang aneh dengan pesan yang dikirimkannya sebelumnya. Liam yang biasanya ceria juga terlihat lebih serius. "Aku nggak suka firasat ini," gumamnya sambil menggenggam ponselnya erat.Di dalam apartemen, Laura menatap pria itu dengan perasaan campur aduk. "Kenapa kamu di sini? Aku pikir kita sudah selesai bertahun-tahun lalu," katanya dengan suara bergetar.Pria itu, yang ternyata adalah mantan kekasih Laura yang menghilang tanpa jejak, menghela napas panjang. "Aku tahu aku banyak salah, tapi aku kembali karena ada sesuatu yang harus kau tahu. Ini tentang keluargamu… tentang ayahmu."Kata-katanya langsung membuat
Terakhir Diperbarui: 2025-04-02
Chapter: BAYANGAN MASA LALUMalam semakin larut, tetapi suasana justru semakin tegang. Napasku memburu, pikiranku berputar cepat. Aku tidak pernah menyangka akan bertemu dengannya lagi—seseorang yang seharusnya sudah lama menghilang dari kehidupanku.Dia berdiri di sana, bersandar santai di pintu belakang ruangan ini, seakan kedatangannya adalah hal yang wajar. Senyumnya tipis, nyaris seperti ejekan.“Lama tidak bertemu, Laura,” suaranya tenang, tapi dingin.Aku menelan ludah. “Kenapa kau di sini?”Dia tidak langsung menjawab. Malah, dia melangkah maju dengan perlahan, membuat jantungku berdebar lebih kencang. Reno dan Arya sudah bersiap siaga di sampingku, siap melakukan apa pun jika keadaan memburuk.“Kau tahu, aku selalu tertarik melihat bagaimana kau berkembang setelah semua yang terjadi,” katanya sambil menatapku tajam. “Aku hanya ingin melihat sendiri apakah kau masih sekuat dulu… atau justru lebih lemah.”Aku mengepalkan tangan. “Aku tidak punya waktu untuk permainanmu.”Dia tertawa kecil. “Permainan? Ah,
Terakhir Diperbarui: 2025-04-01
Chapter: Konflik baru Malam itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Langit hitam pekat tanpa bintang, seakan menyembunyikan sesuatu yang tak ingin terlihat. Di dalam ruangan yang remang, suasana penuh ketegangan.Laura menatap seseorang di depannya dengan napas memburu. Sosok itu tersenyum samar, tatapannya sulit ditebak."Kau pasti tak menyangka akan bertemu denganku di sini, bukan?" suara baritonnya terdengar begitu akrab, tapi ada sesuatu yang janggal di baliknya.Laura menelan ludah. "Kenapa kau ada di sini? Apa maumu?"Sosok itu hanya menghela napas, lalu berjalan mendekat dengan langkah perlahan. Setiap langkahnya bergema di ruangan yang sepi.Di saat bersamaan, di tempat lain, Reno berlari menerobos lorong sempit, mencoba mencari Laura. Ada firasat buruk yang mengusiknya sejak tadi. Jantungnya berdebar kencang, dan tanpa sadar, tangannya mengepal erat.Sementara itu, di dalam ruangan, Laura berusaha tetap tenang meskipun pikirannya berkecamuk. Sosok itu kini berdiri di hadapannya, menyodorkan
Terakhir Diperbarui: 2025-03-31