Chapter: Bab 179. Pengaruh alkoholAku melumat bibirnya dengan ciuman agresif yang menuntut, saling bertukar lidah dan air liur dengan rakus tanpa memberikan jeda untuk napasnya. Pengaruh alkohol mengubahku jadi mesin predator yang bergerak tanpa batas kendali. Aku melorotkan singlet dan celanaku sendiri, membebaskan si Gatot yang sudah menjulang tegap sempurna, menghitam keras sekeras baja, dan berurat menonjol menantang langit kamar.Tanpa menggunakan pelicin apa pun selain cairan alaminya yang mulai membanjiri bagian intinya, aku membuka kedua paha wanita itu lebar-lebar di atas kasur, dan dengan satu hentakan kuat yang bertenaga, aku menghujamkan si Gatot masuk sampai mentok amblas seluruhnya menembus liang surgawinya yang sempit."AGHHH! Kak... pelan-pelan... gede banget ahhhh!" teriak wanita itu histeris menahan sodokan raksasaku yang memenuhi rahimnya.Tapi aku tidak memedulikan rintihan sakitnya sedikit pun; ritme pinggulku bergerak memacu dengan kecepatan penuh yang sangat kasar, brutal, dan penuh dominasi a
Last Updated: 2026-05-29
Chapter: Bab 178. Gairah di bar"Masa kamu kalah hanya karna gara-gara ada cctv begitu, Ris!" potong Pak Yanto terdengar kecewa. "Kamu harus segera membawa dokumen itu secepatnya, Ris. Jika tidak, nanti Nikita akan berhasil menguasai semua bisnis dan aset milik Ayahmu secara mutlak!""Iya, Pak. Nanti akan aku usahakan cari celah amannya," jawabku hambar, sekedar meredakan desakannya."Usahakan secepatnya ya, Ris. Oh ya, kamu harus memperhatikan Ayahmu juga, lindungi dia. Takutnya Nikita akan kembali melakukan aksinya untuk menyingkirkan Ayahmu pakai racun saraf itu. Pokoknya kalau bisa kamu harus selalu di dekatnya, kita tidak pernah tahu apa rencana Nikita selanjutnya di belakang kita."Setelah telepon berakhir, aku menurunkan ponsel dan meletakkannya kembali di meja. Tatapan mataku berubah jadi dingin.Sekarang aku mulai berpikir, apakah Pak Yanto sebenarnya tidak tahu Ayah itu orangnya seperti apa di belakang publik? Pak Yanto dan Pak Andri sudah lama berteman dengan Ayah. Seingatku, sebelum Ayah menikah dengan
Last Updated: 2026-05-29
Chapter: Bab 177. Siapa yang harus aku percaya?Aku langsung menjatuhkan diriku terlentang di atas kasur yang empuk, menatap kosong ke arah langit-langit plafon kamar dengan hati yang remuk. Air mata kekecewaan kembali meleleh perlahan di sudut mataku. Sepertinya... malam ini aku memutuskan untuk bermalam dan tidur di ruangan gym ini saja.Aku benar-benar sangat malas, muak, dan tidak ingin pulang ke rumah itu hanya untuk bertatap muka langsung dengan Ayah kandungku sendiri. Aku sangat takut, jika malam ini aku nekat pulang dan melihat wajah munafiknya di meja makan, aku tidak akan bisa lagi menahan ledakan amarah hebat di dalam dadaku yang bisa membuat sandiwara ini hancur berantakan.Sembari menatap kosong, sebuah ingatan mendadak melintas di kepalaku mengenai sosok Bagas, pemuda mahasiswa teknik yang waktu itu hampir saja aku tabrak di jalan raya kota. Untaian kalimat misterius yang meluncur dari bibir dingin Bagas waktu itu mendadak terngiang-ngiang kembali membelah isi kepalaku.'Sebaiknya kakak lebih mengenal lagi orang y
Last Updated: 2026-05-28
Chapter: Bab 176. PengkhianatAku tidak menjawab pertanyaan Bang Rico. Aku hanya melempar senyum kaku yang hambar, seolah isyarat bahwa aku sedang tidak ingin diganggu atau diajak bicara lebih jauh. Aku kembali membalikkan tubuhku menghadap ke arah cermin besar, meraih sepasang dumbbell berbobot berat yang terletak di atas rak besi, lalu melanjutkan sesi latihan otot dada yang sempat tertunda tadi.Melihat reaksiku yang dingin dan enggan membuka suara, Bang Rico yang sangat paham akan watakku memilih untuk tidak mendesak lagi. Ia berdeham pelan, lalu berbalik melangkah pergi kembali untuk melatih member pria yang sejak tadi sudah menunggunya di sudut area smith machine.Aku meluapkan seluruh sisa tenaga terpendam dalam tubuhku habis-habisan. Gerakan incline dumbbell press dan dumbbell fly kulakukan dengan tempo yang cepat, sangat bersemangat dan kasar. Setiap kali bayangan tangan Risma yang menggandeng mesra jemari Ayah di depan lobby hotel melintas di benakku, detik itu juga otot-otot dadaku serasa mendapatka
Last Updated: 2026-05-28
Chapter: Bab 175. Patah hati"Kamar bapak dan ibu sudah siap di lantai empat, nomor kamar 152 ya, Pak. Silakan menuju lift pribadi di sebelah kanan koridor utama," kata petugas hotel itu dengan ramah.Mendengar nomor kamar dan lantai ruangan tujuan mereka disebut, jantungku berdetak kencang menahan hantaman amarah yang luar biasa di dalam dada. Aku merekam momen itu dengan kamera ponselku sebelum akhirnya Ayah dan Risma membalikkan tubuh bersama berjalan melangkah mesra menuju ke arah lift pribadi hotel.Aku melangkah cepat memutar arah menuju ke barisan lift umum lain yang terletak di sudut berlawanan koridor hotel ini demi menghindari paparan wajah secara langsung dengan mereka jika berada di dalam satu lift yang sama.Aku menekan tombol lantai empat di dalam kabin lift umum yang dilapisi cermin kaca mengkilap. Begitu pintu lift terbuka kembali di lantai empat koridor hotel yang sunyi, suasananya terasa sangat mewah dengan hamparan karpet merah tebal yang meredam total suara langkah kaki sandal rumah. Aku mel
Last Updated: 2026-05-27
Chapter: Bab 174. Kenapa kamu tega, RismaMereka berdua melangkah naik masuk ke dalam kabin mobil Ayah, lalu perlahan kendaraan itu melaju pergi membelah aspal jalan protokol.Di tengah gejolak rasa sakit, hancur, dan emosi yang berkecamuk hebat membakar seluruh dadaku, aku merogoh saku celana meraih ponselku dengan jemari yang gemetar menahan amarah. Aku mencari nama kontak Risma, lalu menekan tombol panggil hijau di layarnya. Aku ingin menguji sampai di mana batas kelicikan dan kebohongan yang bisa dilakukan oleh wanita yang selama ini aku puja sebagai sosok gadis paling polos, lugu, dan berhati murni di desa ini.Nada sambung berdering beberapa kali di telingaku, terasa sangat lama dan menyiksa syaraf kepalaku, hingga akhirnya setelah panggilan hampir terputus, suara lembut Risma dari seberang telepon akhirnya menjawab membuka suara."Halo, Aa... ada apa?" tanya Risma dari seberang sana dengan nada suara yang diusahakan terdengar biasa saja, namun terdengar ada sedikit deru napas yang tertahan gugup di sana.Aku mencengke
Last Updated: 2026-05-27
Chapter: Bab 443. SELESAI (end)Akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba, kami semua kelurga Dupont akan berlibur ke Swiss. Kami sudah mempersiapkan semuanya, kami berjalan menuju bandara. Nayla tampak terlihat bahagia, aku senang melihatnya tersenyum dan ceria seperti dulu.Setelah beberapa kali transit, akhirnya kami tiba di Swiss. Dinginnya udara Alpen menyentuh wajahku, namun hangat yang menjalar di hatiku jauh lebih kuat. Aku berdiri di balkon sebuah chalet mewah di kawasan Zermatt, Swiss.Di depanku, Gunung Matterhorn berdiri kokoh dengan puncak bersalju yang berkilau tertimpa cahaya matahari pagi. Ini adalah destinasi impian Nayla, dan hari ini, aku mewujudkannya sebagai hadiah atas segala ketegaran yang telah ia tunjukkan."Papa! Lihat! Louis lucu sekali pakai baju astronot salju!" teriak Nayla dari halaman bawah yang tertutup salju putih bersih.Aku menunduk dan tertawa. Di bawah sana, Nayla sedang membantu Louis yang kini berusia hampir satu tahun untuk berdiri di atas salju. Louis tampak bulat dengan baju musim
Last Updated: 2026-01-05
Chapter: Bab 442. Perjamuan Cinta dan TahtaMalam ini, kediaman baruku di kawasan elit Menteng berubah menjadi pusat perhatian Jakarta. Cahaya lampu kristal yang menggantung di langit-langit aula utama memantulkan kemilau kemewahan yang tak tertandingi.Ribuan bunga lili putih dan mawar merah segar diimpor langsung dari Belanda, menghiasi setiap sudut ruangan, menciptakan aroma wangi yang menenangkan sekaligus elegan.Aku berdiri di dekat tangga besar, mengenakan setelan jas custom-made dari penjahit terbaik di Paris. Di sampingku, Siska tampak sangat memukau dengan gaun malam berwarna champagne yang senada dengan dasiku.Ia menggendong Louis yang tampak menggemaskan dengan tuksedo mungilnya. Sementara itu, Nayla dan Lila berada di ruang atas, bersiap untuk momen yang akan mengubah hidup mereka selamanya.Malam ini bukan sekadar acara lamaran biasa. Ini adalah pernyataan kepada dunia bahwa keluarga Dupont telah kembali, lebih kuat dan lebih solid dari sebelumnya."Raka, lihat siapa yang datang," bisik Siska sambil menyenggol le
Last Updated: 2026-01-05
Chapter: POV RakaAku berdiri di balkon lantai dua rumah baruku, menghirup dalam-dalam udara pagi Jakarta yang entah mengapa terasa jauh lebih segar dari biasanya. Di pelukanku, Louis, putra kecilku, menggeliat pelan dalam tidurnya. Berat tubuhnya yang hangat di dadaku adalah jangkar yang membuatku tetap membumi, pengingat paling nyata bahwa badai dahsyat itu benar-benar telah berlalu. Melihat wajah tenang Louis, ingatanku tiba-tiba melayang jauh ke belakang. Sangat jauh, ke masa-masa di mana kata "bahagia" terasa seperti kemewahan yang mustahil kuraih. Aku masih ingat dinginnya lantai panti asuhan tempatku tumbuh. Aku adalah bocah tanpa nama belakang, tanpa asal-usul, yang hanya punya tekad untuk bertahan hidup. Aku berjuang sendiri, bekerja serabutan demi membayar biaya sekolah, hingga akhirnya aku bisa menggenggam ijazah sarjana. Masa-masa awal bekerja di kantor desain iklan terasa seperti mimpi yang jadi kenyataan, meski saat itu gajiku hanya cukup untuk makan dan membayar kos yang sempit. Di ka
Last Updated: 2026-01-05
Chapter: Bab 440. Berkahir bahagiaNayla dan Lila kini berada dalam kondisi koma medis yang sengaja dilakukan untuk menyelamatkan otak mereka dari kerusakan lebih lanjut. Tom dan Liam dipisahkan dan dimasukkan ke dalam ruang sterilisasi kimia."Semuanya sudah berakhir, Bu," bisik Henri pada istrinya yang menangis di sampingnya. "Kita mungkin bisa menyelamatkan tubuh mereka, tapi kita telah kehilangan jiwa mereka selamanya."Lyon yang dingin tidak memberikan kehangatan bagi keluarga yang hancur ini. Hanya ada suara mesin medis yang berbunyi teratur, dan tangisan bayi prematur yang baru saja lahir dari rahim Siska.Waktu seolah melambat di Château de la Guérison. Musim dingin yang keras perlahan-lahan berganti menjadi musim semi yang hangat, membawa harapan baru bagi para penghuninya. Berbulan-bulan setelah insiden kelam yang mengguncang fondasi keluarga Dupont, mukjizat medis yang didanai oleh kekayaan dan cinta Mr. Henri akhirnya membuahkan hasil.Nayla dan Lila, dua jiwa yang sempat terperangkap dalam badai hormonal d
Last Updated: 2026-01-04
Chapter: Bab 439. Gairah di Tengah PemulihanKeluarga Dupont kini benar-benar sedang melakukan eksodus besar-besaran. Mereka meninggalkan Jakarta, kota yang telah memberikan kekayaan sekaligus kehancuran bagi mental mereka. Di atas ketinggian 35.000 kaki, Mr. Henri menatap ke luar jendela pesawat, melihat kegelapan malam.Ia sadar, meski mereka bisa melarikan diri dari Jakarta, rahasia tentang apa yang telah terjadi tentang hubungan intim yang terlarang, penularan nafsu yang gila, dan kehormatan yang tercoreng akan selalu mengikuti mereka seperti bayangan yang tak pernah hilang."Kesembuhan membutuhkan pengorbanan," bisik Henri pelan, menutup matanya dan bersiap menghadapi pertempuran medis terakhir di Lyon.Pesawat jet medis keluarga Dupont membelah awan kelabu di atas langit Prancis Timur, mendarat dengan keheningan yang mencekam di bandara privat dekat Lyon. Suasana di sini sangat berbeda dengan Jakarta yang panas dan bising.Udara musim dingin yang menusuk tulang menyambut rombongan "pasien" kelas atas ini. Mr. Henri turun p
Last Updated: 2026-01-04
Chapter: Bab 438. Gairah tak tahanSuasana di lantai dasar apartemen Dupont berubah menjadi pangkalan militer medis. Tiga unit jet ambulans telah disiagakan di bandara, sementara iring-iringan mobil van medis berjejer di area parkir bawah tanah yang telah dikosongkan.Mr. Henri berdiri di ruang pantau, mengawasi setiap pergerakan melalui layar CCTV. Wajahnya yang kaku menunjukkan bahwa ia tidak akan mentoleransi kegagalan sekecil apa pun."Beni, pastikan semua rute menuju bandara telah dibersihkan oleh tim intelijen. Aku tidak ingin ada satu pun kamera jurnalis atau warga yang menangkap momen kepindahan ini," perintah Henri dingin."Siap, Monsieur. Semua sudah terkendali," jawab Beni.Namun, di tengah keseriusan itu, Mr. Henri tahu bahwa pengobatan "cuci darah" hormonal yang diberikan kepada para pria belum sepenuhnya menghapus sisa-sisa gairah yang telah mendarah daging.Justru, sebelum obat-obatan penetralisir mencapai puncaknya, terjadi lonjakan gairah terakhir yang sering disebut oleh para dokter sebagai the final
Last Updated: 2026-01-03
Chapter: Bab 349. Benih Baru di Tanah Harapan (end)Pagi pertama sebagai kepala keluarga di unit apartemen kami sendiri terasa begitu tenang.Tidak ada deru helikopter, tidak ada instruksi taktis dari Riko lewat earpiece, dan tidak ada denyut panas dari zat kimia yang dulu sering menyiksa kesadaranku. Aku terbangun karena aroma kopi yang baru diseduh dan suara denting spatula yang beradu dengan teflon di dapur.Aku melangkah keluar kamar, hanya mengenakan celana pendek santai. Sinar matahari Jakarta yang masuk melalui jendela besar menyinari punggung Sabrina yang sedang sibuk menyiapkan sarapan. Ia mengenakan daster rumahan tipis, rambutnya dicepol asal-asalan, namun di mataku, ia tampak jauh lebih cantik daripada saat mengenakan kebaya pengantin senilai ratusan juta semalam."Mas, sudah bangun? Sini sarapan dulu, aku buatkan omelet sayur kesukaanmu," sapanya tanpa menoleh, namun nada suaranya terdengar begitu ceria.Aku menghampirinya, melingkarkan lenganku di pinggangnya dan mengecup pundaknya yang hangat. "Harum sekali. Kamu bela
Last Updated: 2026-04-08
Chapter: Bab 348. Langkah Pertama di Gerbang BaruPagi ini, meja bundar besar di sudut ruangan yang cukup privat itu diisi oleh orang-orang yang paling berarti dalam hidupku. Papa Adrian duduk tegap di sisi kananku, sesekali berbincang akrab dengan Ibu yang duduk di hadapannya. Di sebelah Ibu, Alisa sibuk menunjukkan foto-foto dokumentasi acara semalam dari kamera profesionalnya kepada Tante Sarah.Aku melirik Sabrina yang duduk di sampingku. Ia mengenakan terusan dress selutut berwarna krem yang sangat sederhana namun tetap memancarkan aura keanggunan seorang istri. Wajahnya tampak segar, sisa-sisa kelelahan dari resepsi megah semalam seolah menguap berganti dengan rona bahagia yang tulus."Bima, makan yang banyak. Hari ini kamu harus antar Ibu dan Alisa kembali ke Bandung, kan?" ucap Ibu sambil menyodorkan sepotong roti gandum panggang ke piringku. "Ibu sudah titip pesan ke Mang Ujang di toko, katanya stok beras Cianjur yang baru sudah masuk. Jadi Ibu harus segera sampai sana sebelum asar.""Tenang saja, Bu. Mobil sudah disiapka
Last Updated: 2026-04-08
Chapter: Bab 347. Malam Pertama dan Fajar KeutuhanPintu Presidential Suite tertutup dengan bunyi klik yang halus, mengunci seluruh hiruk-pikuk pesta, denting gelas sampanye, dan jepretan kamera wartawan di luar sana. Seketika, keheningan yang mewah menyelimuti kami. Hanya terdengar suara pendingin ruangan yang berdesir pelan dan detak jantungku sendiri yang kini terasa jauh lebih tenang dibandingkan saat berdiri di pelaminan tadi.Aku melepaskan blangkon dan meletakkannya di atas meja marmer, merasakan aliran udara dingin menyentuh kulit kepalaku. Sabrina berdiri di dekat jendela besar yang menyajikan panorama Jakarta dari ketinggian lantai tiga puluh. Gaun kebaya beludru hitamnya yang megah tampak berkilau terkena pantulan lampu kota Sudirman. Ia perlahan melepas satu demi satu perhiasan yang melekat di tubuhnya—anting, kalung, hingga bros besar yang menghiasi dadanya."Mas... rasanya masih seperti mimpi," bisiknya tanpa menoleh, jemarinya menyentuh kaca jendela yang dingin. "Tadi aku melihat Ibu Dewi tertawa bersama Tante Sarah
Last Updated: 2026-04-08
Chapter: Bab 346. Resepsi di Belantara BetonAroma bunga melati sisa siraman masih tercium samar dari kulitnya. Keheningan malam di apartemen ini seolah menjadi saksi betapa kuatnya ikatan yang telah kami bangun. Gairah yang tulus dan mendalam perlahan bangkit, bukan sebagai ledakan emosi liar, melainkan sebagai bentuk pengabdian terakhir sebelum kami sah menjadi suami istri di mata hukum dan Tuhan.Aku membimbingnya menuju kamar utama. Di bawah temaram lampu yang temaram, aku menanggalkan pakaianku dan membantu melepaskan jubah mandinya. Keindahan tubuh Sabrina selalu berhasil membuatku terpaku, namun malam ini ada aura kesucian yang berbeda.Aku membaringkannya di atas sprei sutra yang dingin. Aku masuk ke dalam dekapannya dengan penuh kelembutan. Kami bergerak dalam irama yang sangat pelan, seolah ingin merekam setiap detak jantung dan hembusan napas masing-masing.Aku membisikkan janji-janji setia di telinganya saat kami menyatu dalam kehangatan yang mendalam. Penyatuan malam ini terasa sangat sakral, menjadi penutup d
Last Updated: 2026-04-07
Chapter: Bab 345. Siraman dan Air Mata RestuKami menghabiskan hampir dua jam di sana, memastikan setiap detail mulai dari urutan musik hingga posisi meja Ibu Dewi dan Alisa yang aku minta diletakkan di tempat paling nyaman, tidak terlalu dekat dengan speaker namun memiliki pandangan jelas ke panggung.Saat kami berjalan menuju parkiran hotel, hujan gerimis mulai membasahi Jakarta. Suasana menjadi lebih sejuk. Aku membukakan pintu mobil untuk Sabrina, lalu masuk ke kursi kemudi."Mas," panggil Sabrina saat aku baru saja hendak menghidupkan mesin."Ya, Sab?""Tadi saat berdiri di panggung itu... aku tiba-tiba merasa sangat takut," ucapnya pelan, jemarinya bertautan gelisah."Takut kenapa?" tanyaku sambil menggenggam tangannya."Takut kalau ini semua hanya mimpi. Takut kalau tiba-tiba aku bangun dan kita masih di apartemen lama, dikejar-kejar oleh orang-orang jahat itu lagi. Segalanya terasa terlalu indah untuk jadi kenyataan."Aku menariknya ke dalam pelukanku, membiarkan wajahnya tersembunyi di dadaku. "Ini nyata, Sabrina. Semua
Last Updated: 2026-04-07
Chapter: Bab 344. Gemuruh Persiapan dan Restu MentengKami duduk dan mulai membicarakan bisnis. Ternyata, ini bukan soal zat kimia atau penelitian ilegal. Beliau ingin mengajak perusahaanku bekerja sama dalam proyek pembangunan kawasan hunian hijau di dekat Ibu Kota Nusantara yang baru. Ini adalah proyek legal, besar, dan memiliki visi jangka panjang untuk negara."Kami butuh mitra yang punya integritas. Saya sudah dengar bagaimana kamu menangani sisa-sisa jaringan Hans dulu tanpa membuat kegaduhan publik. Kamu punya ketenangan yang jarang dimiliki anak muda zaman sekarang," lanjut Sang Jenderal.Percakapan malam itu berlangsung sangat produktif. Papa tampak sangat bangga padaku karena aku bisa mengimbangi pembicaraan teknis tingkat tinggi tersebut. Di satu sisi, aku merasa terhormat, namun di sisi lain, aku tetap menjaga hatiku agar tidak dikuasai oleh ambisi yang buta. Pelajaran dari Ibu di Bandung tadi pagi tetap bergema di kepalaku: jangan terlalu rakus.Menjelang pukul sepuluh, aku pamit pulang. Papa mengantarku sampai ke teras.
Last Updated: 2026-04-07
Cinta Tuan Muda
Alya, seorang gadis desa yang polos dan sederhana, tiba-tiba harus bekerja di kota besar demi melunasi hutang keluarganya. Nasib mempertemukannya dengan Arkan Mahendra, CEO muda yang arogan dan dingin, pewaris utama Mahendra Group.
Tanpa disangka, Arkan ternyata adalah pria yang pernah Alya tolong bertahun-tahun lalu saat ia mengalami kecelakaan di desanya. Kini, pria itu berdiri di hadapannya, tetapi tak lagi seperti dulu—sikapnya berubah dingin dan penuh amarah.
Namun, sekeras apa pun Arkan berusaha mengabaikan Alya, ada sesuatu dalam diri gadis itu yang terus menariknya. Saat sebuah kesepakatan gila membuat mereka harus terikat dalam pernikahan kontrak, perasaan yang dulu terkubur perlahan kembali.
Akankah Alya bisa meluluhkan hati Arkan yang membatu? Ataukah ia hanya akan menjadi boneka dalam permainan pria itu?
Read
Chapter: Suasana semakin tegang Malam itu, aku duduk di dalam mobil Om Martin, jari-jariku bermain di ujung gaun yang kukenakan. Hawa dingin dari AC menyelimuti tubuhku, tapi pikiranku justru terasa panas, berputar-putar memikirkan semua yang telah terjadi hari ini."Kamu capek?" suara Om Martin terdengar lembut, membuyarkan lamunanku. Aku menoleh dan melihatnya tersenyum, tatapan matanya yang teduh membuat dadaku berdesir.Aku menggeleng pelan. "Nggak, aku cuma... banyak mikir aja."Dia mengangguk seakan mengerti. "Kalau ada yang ingin diceritakan, aku siap mendengar."Aku menghela napas, mencoba menyusun kata-kata. "Aku cuma merasa aneh. Rasanya... terlalu nyaman berada di dekat Om. Seperti ada sesuatu yang mengisi ruang kosong di hatiku. Tapi di sisi lain, aku takut kalau ini hanya perasaan sesaat."Om Martin terdiam sejenak sebelum menjawab, "Aku juga merasakannya, Laura. Aku tahu aku bukan ayahmu, dan aku tidak akan pernah bisa menggantikannya. Tapi kalau keberadaanku bisa membuatmu merasa lebih baik, aku berse
Last Updated: 2025-04-05
Chapter: Semakin rumit Laura menatap sosok di hadapannya dengan napas tertahan. Jantungnya berdebar kencang saat dia mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Orang itu berdiri di ambang pintu, matanya menatap Laura dengan campuran perasaan yang sulit dijelaskan."Kamu... kenapa bisa ada di sini?" suara Laura bergetar.Pria itu tersenyum kecil, langkahnya mendekat. "Aku selalu ada di sekitarmu, hanya saja kau tidak pernah menyadarinya."Reno yang berdiri di samping Laura menatap pria itu dengan sorot tajam. "Siapa dia, Laura?"Laura menggeleng, seakan mencoba mengusir kebingungan di kepalanya. "Aku... aku tidak tahu. Aku pernah mengenalnya, tapi aku tidak mengerti kenapa dia muncul sekarang."Pria itu tertawa kecil, suara rendahnya penuh misteri. "Laura, aku tidak muncul tiba-tiba. Aku datang karena waktunya sudah tepat. Ada sesuatu yang harus kamu ketahui."Ketegangan semakin meningkat. Reno maju selangkah, posisinya protektif di depan Laura. "Aku tidak peduli siapa kamu. Kalau niatmu buruk, sebaiknya p
Last Updated: 2025-04-04
Chapter: Malam yang menegangkan Malam itu, hujan turun deras, menciptakan suasana tegang di dalam ruangan yang dipenuhi oleh ketegangan yang menggantung. Laura menatap pria di depannya, napasnya tercekat saat kata-kata yang baru saja diucapkan pria itu menggema di kepalanya."Aku sudah tahu semuanya, Laura," kata pria itu dengan suara berat dan tajam.Jantung Laura berdebar kencang. "Maksudmu apa?" tanyanya, mencoba tetap tenang.Pria itu mengeluarkan sebuah amplop coklat dan meletakkannya di atas meja. Dengan tangan gemetar, Laura mengambilnya dan membuka isinya. Matanya melebar saat melihat foto-foto di dalamnya. Itu adalah foto dirinya bersama seseorang dari masa lalunya—seseorang yang seharusnya sudah tidak ada dalam hidupnya."Bagaimana kau mendapatkan ini?" suaranya bergetar, campuran antara marah dan ketakutan.Pria itu tersenyum tipis. "Aku punya sumberku sendiri. Dan aku yakin, kau tahu bahwa seseorang sedang mengincarmu."Laura menelan ludah. Dia tahu persis siapa yang dimaksud pria itu. Sosok yang seharus
Last Updated: 2025-04-03
Chapter: Konflik Memuncak dan Kejutan yang Tak TerdugaLaura merasa jantungnya berdetak kencang saat melihat seseorang dari masa lalunya muncul tiba-tiba di depan pintu apartemennya. Pria itu berdiri dengan wajah serius, seolah membawa kabar buruk yang akan mengubah segalanya. "Kita perlu bicara," katanya dengan nada mendesak.Sementara itu, di tempat lain, Arya dan Reza sedang mencoba menghubungi Laura setelah menyadari ada sesuatu yang aneh dengan pesan yang dikirimkannya sebelumnya. Liam yang biasanya ceria juga terlihat lebih serius. "Aku nggak suka firasat ini," gumamnya sambil menggenggam ponselnya erat.Di dalam apartemen, Laura menatap pria itu dengan perasaan campur aduk. "Kenapa kamu di sini? Aku pikir kita sudah selesai bertahun-tahun lalu," katanya dengan suara bergetar.Pria itu, yang ternyata adalah mantan kekasih Laura yang menghilang tanpa jejak, menghela napas panjang. "Aku tahu aku banyak salah, tapi aku kembali karena ada sesuatu yang harus kau tahu. Ini tentang keluargamu… tentang ayahmu."Kata-katanya langsung membuat
Last Updated: 2025-04-02
Chapter: BAYANGAN MASA LALUMalam semakin larut, tetapi suasana justru semakin tegang. Napasku memburu, pikiranku berputar cepat. Aku tidak pernah menyangka akan bertemu dengannya lagi—seseorang yang seharusnya sudah lama menghilang dari kehidupanku.Dia berdiri di sana, bersandar santai di pintu belakang ruangan ini, seakan kedatangannya adalah hal yang wajar. Senyumnya tipis, nyaris seperti ejekan.“Lama tidak bertemu, Laura,” suaranya tenang, tapi dingin.Aku menelan ludah. “Kenapa kau di sini?”Dia tidak langsung menjawab. Malah, dia melangkah maju dengan perlahan, membuat jantungku berdebar lebih kencang. Reno dan Arya sudah bersiap siaga di sampingku, siap melakukan apa pun jika keadaan memburuk.“Kau tahu, aku selalu tertarik melihat bagaimana kau berkembang setelah semua yang terjadi,” katanya sambil menatapku tajam. “Aku hanya ingin melihat sendiri apakah kau masih sekuat dulu… atau justru lebih lemah.”Aku mengepalkan tangan. “Aku tidak punya waktu untuk permainanmu.”Dia tertawa kecil. “Permainan? Ah,
Last Updated: 2025-04-01
Chapter: Konflik baru Malam itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Langit hitam pekat tanpa bintang, seakan menyembunyikan sesuatu yang tak ingin terlihat. Di dalam ruangan yang remang, suasana penuh ketegangan.Laura menatap seseorang di depannya dengan napas memburu. Sosok itu tersenyum samar, tatapannya sulit ditebak."Kau pasti tak menyangka akan bertemu denganku di sini, bukan?" suara baritonnya terdengar begitu akrab, tapi ada sesuatu yang janggal di baliknya.Laura menelan ludah. "Kenapa kau ada di sini? Apa maumu?"Sosok itu hanya menghela napas, lalu berjalan mendekat dengan langkah perlahan. Setiap langkahnya bergema di ruangan yang sepi.Di saat bersamaan, di tempat lain, Reno berlari menerobos lorong sempit, mencoba mencari Laura. Ada firasat buruk yang mengusiknya sejak tadi. Jantungnya berdebar kencang, dan tanpa sadar, tangannya mengepal erat.Sementara itu, di dalam ruangan, Laura berusaha tetap tenang meskipun pikirannya berkecamuk. Sosok itu kini berdiri di hadapannya, menyodorkan
Last Updated: 2025-03-31