Chapter: Bab 443. SELESAI (end)Akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba, kami semua kelurga Dupont akan berlibur ke Swiss. Kami sudah mempersiapkan semuanya, kami berjalan menuju bandara. Nayla tampak terlihat bahagia, aku senang melihatnya tersenyum dan ceria seperti dulu.Setelah beberapa kali transit, akhirnya kami tiba di Swiss. Dinginnya udara Alpen menyentuh wajahku, namun hangat yang menjalar di hatiku jauh lebih kuat. Aku berdiri di balkon sebuah chalet mewah di kawasan Zermatt, Swiss.Di depanku, Gunung Matterhorn berdiri kokoh dengan puncak bersalju yang berkilau tertimpa cahaya matahari pagi. Ini adalah destinasi impian Nayla, dan hari ini, aku mewujudkannya sebagai hadiah atas segala ketegaran yang telah ia tunjukkan."Papa! Lihat! Louis lucu sekali pakai baju astronot salju!" teriak Nayla dari halaman bawah yang tertutup salju putih bersih.Aku menunduk dan tertawa. Di bawah sana, Nayla sedang membantu Louis yang kini berusia hampir satu tahun untuk berdiri di atas salju. Louis tampak bulat dengan baju musim
Last Updated: 2026-01-05
Chapter: Bab 442. Perjamuan Cinta dan TahtaMalam ini, kediaman baruku di kawasan elit Menteng berubah menjadi pusat perhatian Jakarta. Cahaya lampu kristal yang menggantung di langit-langit aula utama memantulkan kemilau kemewahan yang tak tertandingi.Ribuan bunga lili putih dan mawar merah segar diimpor langsung dari Belanda, menghiasi setiap sudut ruangan, menciptakan aroma wangi yang menenangkan sekaligus elegan.Aku berdiri di dekat tangga besar, mengenakan setelan jas custom-made dari penjahit terbaik di Paris. Di sampingku, Siska tampak sangat memukau dengan gaun malam berwarna champagne yang senada dengan dasiku.Ia menggendong Louis yang tampak menggemaskan dengan tuksedo mungilnya. Sementara itu, Nayla dan Lila berada di ruang atas, bersiap untuk momen yang akan mengubah hidup mereka selamanya.Malam ini bukan sekadar acara lamaran biasa. Ini adalah pernyataan kepada dunia bahwa keluarga Dupont telah kembali, lebih kuat dan lebih solid dari sebelumnya."Raka, lihat siapa yang datang," bisik Siska sambil menyenggol le
Last Updated: 2026-01-05
Chapter: POV RakaAku berdiri di balkon lantai dua rumah baruku, menghirup dalam-dalam udara pagi Jakarta yang entah mengapa terasa jauh lebih segar dari biasanya. Di pelukanku, Louis, putra kecilku, menggeliat pelan dalam tidurnya. Berat tubuhnya yang hangat di dadaku adalah jangkar yang membuatku tetap membumi, pengingat paling nyata bahwa badai dahsyat itu benar-benar telah berlalu. Melihat wajah tenang Louis, ingatanku tiba-tiba melayang jauh ke belakang. Sangat jauh, ke masa-masa di mana kata "bahagia" terasa seperti kemewahan yang mustahil kuraih. Aku masih ingat dinginnya lantai panti asuhan tempatku tumbuh. Aku adalah bocah tanpa nama belakang, tanpa asal-usul, yang hanya punya tekad untuk bertahan hidup. Aku berjuang sendiri, bekerja serabutan demi membayar biaya sekolah, hingga akhirnya aku bisa menggenggam ijazah sarjana. Masa-masa awal bekerja di kantor desain iklan terasa seperti mimpi yang jadi kenyataan, meski saat itu gajiku hanya cukup untuk makan dan membayar kos yang sempit. Di ka
Last Updated: 2026-01-05
Chapter: Bab 440. Berkahir bahagiaNayla dan Lila kini berada dalam kondisi koma medis yang sengaja dilakukan untuk menyelamatkan otak mereka dari kerusakan lebih lanjut. Tom dan Liam dipisahkan dan dimasukkan ke dalam ruang sterilisasi kimia."Semuanya sudah berakhir, Bu," bisik Henri pada istrinya yang menangis di sampingnya. "Kita mungkin bisa menyelamatkan tubuh mereka, tapi kita telah kehilangan jiwa mereka selamanya."Lyon yang dingin tidak memberikan kehangatan bagi keluarga yang hancur ini. Hanya ada suara mesin medis yang berbunyi teratur, dan tangisan bayi prematur yang baru saja lahir dari rahim Siska.Waktu seolah melambat di Château de la Guérison. Musim dingin yang keras perlahan-lahan berganti menjadi musim semi yang hangat, membawa harapan baru bagi para penghuninya. Berbulan-bulan setelah insiden kelam yang mengguncang fondasi keluarga Dupont, mukjizat medis yang didanai oleh kekayaan dan cinta Mr. Henri akhirnya membuahkan hasil.Nayla dan Lila, dua jiwa yang sempat terperangkap dalam badai hormonal d
Last Updated: 2026-01-04
Chapter: Bab 439. Gairah di Tengah PemulihanKeluarga Dupont kini benar-benar sedang melakukan eksodus besar-besaran. Mereka meninggalkan Jakarta, kota yang telah memberikan kekayaan sekaligus kehancuran bagi mental mereka. Di atas ketinggian 35.000 kaki, Mr. Henri menatap ke luar jendela pesawat, melihat kegelapan malam.Ia sadar, meski mereka bisa melarikan diri dari Jakarta, rahasia tentang apa yang telah terjadi tentang hubungan intim yang terlarang, penularan nafsu yang gila, dan kehormatan yang tercoreng akan selalu mengikuti mereka seperti bayangan yang tak pernah hilang."Kesembuhan membutuhkan pengorbanan," bisik Henri pelan, menutup matanya dan bersiap menghadapi pertempuran medis terakhir di Lyon.Pesawat jet medis keluarga Dupont membelah awan kelabu di atas langit Prancis Timur, mendarat dengan keheningan yang mencekam di bandara privat dekat Lyon. Suasana di sini sangat berbeda dengan Jakarta yang panas dan bising.Udara musim dingin yang menusuk tulang menyambut rombongan "pasien" kelas atas ini. Mr. Henri turun p
Last Updated: 2026-01-04
Chapter: Bab 438. Gairah tak tahanSuasana di lantai dasar apartemen Dupont berubah menjadi pangkalan militer medis. Tiga unit jet ambulans telah disiagakan di bandara, sementara iring-iringan mobil van medis berjejer di area parkir bawah tanah yang telah dikosongkan.Mr. Henri berdiri di ruang pantau, mengawasi setiap pergerakan melalui layar CCTV. Wajahnya yang kaku menunjukkan bahwa ia tidak akan mentoleransi kegagalan sekecil apa pun."Beni, pastikan semua rute menuju bandara telah dibersihkan oleh tim intelijen. Aku tidak ingin ada satu pun kamera jurnalis atau warga yang menangkap momen kepindahan ini," perintah Henri dingin."Siap, Monsieur. Semua sudah terkendali," jawab Beni.Namun, di tengah keseriusan itu, Mr. Henri tahu bahwa pengobatan "cuci darah" hormonal yang diberikan kepada para pria belum sepenuhnya menghapus sisa-sisa gairah yang telah mendarah daging.Justru, sebelum obat-obatan penetralisir mencapai puncaknya, terjadi lonjakan gairah terakhir yang sering disebut oleh para dokter sebagai the final
Last Updated: 2026-01-03
Chapter: Bab 102. Ronde keduaAku dekap tubuhnya yang ramping, meremas buah dadanya yang kenyal dari balik kain tipis itu."Tapi jangan di sini, nanti ada yang lihat." kataku dengan suara serak."Nggak apa-apa, lagian pasti Mama sudah tidur karna kecapean, Tasya juga pasti sudah tidur. Nggak ada yang lihat, Kak," sahutnya menantang.Vira menarik tanganku dan dia letakan di gundukan bukit kembarnya.Dia menatapku dengan tatapan penuh nafsu dan lapar. Adik tiriku ini kembali membangkitkan gairahku, malam ini dia begitu sangat cantik dan menggoda."Aku sudah lama menantikan ini, aku ngidap pisang ambon Kakak dan susu kenalnya," bisinya sambil berjongkok.Vira benar-benar nekat, di tengah koridor yang sunyi ini, ia melorotkan celanaku sampai si Gatot menyembul keluar, yang ternyata sudah kembali mengeras dan menantang. Tanpa menunggu lama, ia langsung memegang kejantanku dengan kedua tangannya dan mulai menghisapnya dengan sangat bernafsu. "Ssshh... pelan-pelan, Vir... ahhh," aku mendesah, menyandarkan kepalaku ke t
Last Updated: 2026-04-13
Chapter: Bab 101. Membuatnya lemas"Cepat masuk, Aris!" bisiknya sambil menarik tanganku masuk. Ia segera mengunci pintu rapat-rapat.Nikita berjalan menuju meja kecilnya, di sana sudah ada sebuah cangkir berisi cairan kecokelatan yang masih mengepul. "Ini Mama buatkan jamu agar kamu semakin cepat pulih. Bukan hanya itu, ini bikin kamu jauh lebih perkasa di ranjang malam ini."Aku menatap cangkir itu dengan curiga. Jangan-jangan dia memasukkan cairan perangsang itu lagi ke dalam jamu ini."Kenapa kamu ragu? Kamu pikir Mama memasukkan vitamin lagi? Tenang saja, ini nggak ada apa-apanya, hanya jamu tradisional biasa. Kalau kamu nggak percaya, biar Mama minum duluan," ucapnya seolah bisa membaca pikiranku. Ia mengambil sendok, lalu meminum sedikit jamu itu dengan ekspresi santai.Namun, sebelum aku sempat menyentuh cangkir itu, hasrat di dalam tubuhku kembali meledak. Ini aneh sekali, padahal aku sudah meminum penawar dari Pak Yanto. Si Gatot terasa berdenyut-denyut hebat, menegang keras menekan celana kainku. Napasku mu
Last Updated: 2026-04-13
Chapter: Bab 100. Di balik jamu perkasaAku bena-benar ceroboh. Aku tadi terburu-buru keluar dari gudang belakang karena mendengar suara mobil Tasya, sampai lupa merapikan kembali tumpukan barang bekas yang kugeser untuk mencari celah pintu rahasia itu. Jika Gunawan atau Nikita masuk dan melihat posisi barang-barang itu berubah, mereka pasti akan langsung curiga bahwa aku sedang menyelidiki rahasia mereka.Aku melirik situasi lewat celah pintu kamar. Tasya sudah masuk ke kamarnya di lantai atas, sementara Bi Inah terdengar sedang berada di toilet dapur. Ini kesempatanku. Dengan gerakan cepat, aku kembali menyelinap ke halaman belakang dan masuk ke dalam gudang pengap itu. Dengan sisa tenaga yang terasa berlipat ganda, aku mengembalikan posisi lemari tua dan kardus-kardus berat itu ke posisi semula, menutupi kembali tanda-tanda adanya pintu rahasia di balik dinding. Setelah memastikan tidak ada jejak kaki atau debu yang tersapu secara mencolok, aku segera kembali ke kamar sebelum Tasya sempat keluar lagi.Begitu sampai
Last Updated: 2026-04-12
Chapter: Bab 99. Rahasia gudang belakangTapi jujur, aku merasa hidup seperti di dalam sangkar. Aku lebih suka hidup di pelabuhan dulu, penuh keringat tapi bebas. Di sini, aku merasa bosan dan tidak punya teman bicara yang tulus.Aku keluar dari kolam, mengeringkan tubuh dengan handuk. Ajaibnya, air kolam yang mengandung kaporit ini sama sekali tidak terasa perih di kulitku. Aku berdiri di depan cermin besar setelah masuk ke kamar. Aku memperhatikan bekas luka legam dan jahitan di tubuhku. Secara ajaib, luka-luka itu mulai memudar dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Kulitku kembali halus dan kencang, seolah musibah malam itu hanyalah mimpi buruk yang tidak pernah terjadi.Aku memakai celana pendek dan kaos yang agak longgar. Aku berdiri di balkon sambil merokok, menatap ke arah gerbang. Tiba-tiba, sebuah pemandangan menarik perhatianku. Agus, Ujang, dan Dedi pemuda-pemuda desa yang kemarin ikut menyergap begal. berdiri di depan pagar. Karena Gunawan sedang pergi bersama Nikita, aku segera turun untuk membukakan gerba
Last Updated: 2026-04-12
Chapter: Bab 98. Hari yang bosan"Nggak apa-apa," jawabku singkat.Nikita merendahkan suaranya, matanya menatapku dengan tatapan lapar yang tidak bisa ia sembunyikan. "Nanti malam kamu sudah kuat, kan? Mama takut keduluan Vira. Usahakan setelah makan malam kamu langsung ke kamar Mama, dan pastikan Tasya tidak mengetahuinya."Aku menatapnya dengan tatapan dingin. "Aku akan menuruti kemauan Ibu dan Vira yang gila ini. Tapi Ibu juga harus menuruti keinginanku."Nikita sedikit terkejut, namun kemudian tersenyum manja. "Apa yang kamu mau, Sayang?""Aku bukan boneka yang bisa kalian gunakan secara terus-menerus. Aku juga punya kebutuhan lain. Sementara di sini aku hanya diam tanpa menghasilkan apa-apa. Aku butuh kebebasan finansial," ucapku tegas.Nikita manggut-manggut, seolah sudah menduga permintaanku. Ia membuka tas mahalnya dan mengeluarkan sebuah kartu kredit tambahan. "Mama ngerti. Jika kamu ingin membeli sesuatu, gunakan ini. Terserah kamu mau beli apa saja.""Tapi aku juga butuh uang cash. Ibu tahu sendiri warga d
Last Updated: 2026-04-12
Chapter: Bab 97. Akhirnya terbongkarTangannya yang tadi memegang salep kini beralih meraba dadaku, turun perlahan ke perutku, dan akhirnya meremas si Gatot dengan sangat berani.Aku memejamkan mata, gairah yang dipicu obat di tubuhku mulai bereaksi. Namun, tiba-tiba...BRAKK!Pintu kamar terbuka dengan sentakan keras. "Mama lagi di dalam ya? Ma..."Suara itu adalah milik Vira. Kami berdua tersentak hebat. Nikita langsung menarik tangannya dengan gugup, sementara aku membeku dalam kondisi nyaris telanjang. Vira berdiri di ambang pintu dengan mata melotot, menatap pemandangan di depannya dengan wajah yang berubah pucat sekaligus marah. Suasana mendadak menjadi sangat mencekam."Vir, ini... Mama habis bantu olesin salep di badannya Aris. Biar lukanya cepat sembuh," ucap Nikita dengan suara yang diusahakan tetap datar, meski getaran di nadanya tidak bisa berbohong.Aku tidak menunggu instruksi kedua. Dengan gerakan secepat kilat, aku menyambar kaos dan celana panjangku, memakainya kembali tanpa memedulikan rasa perih ya
Last Updated: 2026-04-12
Chapter: Bab 349. Benih Baru di Tanah Harapan (end)Pagi pertama sebagai kepala keluarga di unit apartemen kami sendiri terasa begitu tenang.Tidak ada deru helikopter, tidak ada instruksi taktis dari Riko lewat earpiece, dan tidak ada denyut panas dari zat kimia yang dulu sering menyiksa kesadaranku. Aku terbangun karena aroma kopi yang baru diseduh dan suara denting spatula yang beradu dengan teflon di dapur.Aku melangkah keluar kamar, hanya mengenakan celana pendek santai. Sinar matahari Jakarta yang masuk melalui jendela besar menyinari punggung Sabrina yang sedang sibuk menyiapkan sarapan. Ia mengenakan daster rumahan tipis, rambutnya dicepol asal-asalan, namun di mataku, ia tampak jauh lebih cantik daripada saat mengenakan kebaya pengantin senilai ratusan juta semalam."Mas, sudah bangun? Sini sarapan dulu, aku buatkan omelet sayur kesukaanmu," sapanya tanpa menoleh, namun nada suaranya terdengar begitu ceria.Aku menghampirinya, melingkarkan lenganku di pinggangnya dan mengecup pundaknya yang hangat. "Harum sekali. Kamu bela
Last Updated: 2026-04-08
Chapter: Bab 348. Langkah Pertama di Gerbang BaruPagi ini, meja bundar besar di sudut ruangan yang cukup privat itu diisi oleh orang-orang yang paling berarti dalam hidupku. Papa Adrian duduk tegap di sisi kananku, sesekali berbincang akrab dengan Ibu yang duduk di hadapannya. Di sebelah Ibu, Alisa sibuk menunjukkan foto-foto dokumentasi acara semalam dari kamera profesionalnya kepada Tante Sarah.Aku melirik Sabrina yang duduk di sampingku. Ia mengenakan terusan dress selutut berwarna krem yang sangat sederhana namun tetap memancarkan aura keanggunan seorang istri. Wajahnya tampak segar, sisa-sisa kelelahan dari resepsi megah semalam seolah menguap berganti dengan rona bahagia yang tulus."Bima, makan yang banyak. Hari ini kamu harus antar Ibu dan Alisa kembali ke Bandung, kan?" ucap Ibu sambil menyodorkan sepotong roti gandum panggang ke piringku. "Ibu sudah titip pesan ke Mang Ujang di toko, katanya stok beras Cianjur yang baru sudah masuk. Jadi Ibu harus segera sampai sana sebelum asar.""Tenang saja, Bu. Mobil sudah disiapka
Last Updated: 2026-04-08
Chapter: Bab 347. Malam Pertama dan Fajar KeutuhanPintu Presidential Suite tertutup dengan bunyi klik yang halus, mengunci seluruh hiruk-pikuk pesta, denting gelas sampanye, dan jepretan kamera wartawan di luar sana. Seketika, keheningan yang mewah menyelimuti kami. Hanya terdengar suara pendingin ruangan yang berdesir pelan dan detak jantungku sendiri yang kini terasa jauh lebih tenang dibandingkan saat berdiri di pelaminan tadi.Aku melepaskan blangkon dan meletakkannya di atas meja marmer, merasakan aliran udara dingin menyentuh kulit kepalaku. Sabrina berdiri di dekat jendela besar yang menyajikan panorama Jakarta dari ketinggian lantai tiga puluh. Gaun kebaya beludru hitamnya yang megah tampak berkilau terkena pantulan lampu kota Sudirman. Ia perlahan melepas satu demi satu perhiasan yang melekat di tubuhnya—anting, kalung, hingga bros besar yang menghiasi dadanya."Mas... rasanya masih seperti mimpi," bisiknya tanpa menoleh, jemarinya menyentuh kaca jendela yang dingin. "Tadi aku melihat Ibu Dewi tertawa bersama Tante Sarah
Last Updated: 2026-04-08
Chapter: Bab 346. Resepsi di Belantara BetonAroma bunga melati sisa siraman masih tercium samar dari kulitnya. Keheningan malam di apartemen ini seolah menjadi saksi betapa kuatnya ikatan yang telah kami bangun. Gairah yang tulus dan mendalam perlahan bangkit, bukan sebagai ledakan emosi liar, melainkan sebagai bentuk pengabdian terakhir sebelum kami sah menjadi suami istri di mata hukum dan Tuhan.Aku membimbingnya menuju kamar utama. Di bawah temaram lampu yang temaram, aku menanggalkan pakaianku dan membantu melepaskan jubah mandinya. Keindahan tubuh Sabrina selalu berhasil membuatku terpaku, namun malam ini ada aura kesucian yang berbeda.Aku membaringkannya di atas sprei sutra yang dingin. Aku masuk ke dalam dekapannya dengan penuh kelembutan. Kami bergerak dalam irama yang sangat pelan, seolah ingin merekam setiap detak jantung dan hembusan napas masing-masing.Aku membisikkan janji-janji setia di telinganya saat kami menyatu dalam kehangatan yang mendalam. Penyatuan malam ini terasa sangat sakral, menjadi penutup d
Last Updated: 2026-04-07
Chapter: Bab 345. Siraman dan Air Mata RestuKami menghabiskan hampir dua jam di sana, memastikan setiap detail mulai dari urutan musik hingga posisi meja Ibu Dewi dan Alisa yang aku minta diletakkan di tempat paling nyaman, tidak terlalu dekat dengan speaker namun memiliki pandangan jelas ke panggung.Saat kami berjalan menuju parkiran hotel, hujan gerimis mulai membasahi Jakarta. Suasana menjadi lebih sejuk. Aku membukakan pintu mobil untuk Sabrina, lalu masuk ke kursi kemudi."Mas," panggil Sabrina saat aku baru saja hendak menghidupkan mesin."Ya, Sab?""Tadi saat berdiri di panggung itu... aku tiba-tiba merasa sangat takut," ucapnya pelan, jemarinya bertautan gelisah."Takut kenapa?" tanyaku sambil menggenggam tangannya."Takut kalau ini semua hanya mimpi. Takut kalau tiba-tiba aku bangun dan kita masih di apartemen lama, dikejar-kejar oleh orang-orang jahat itu lagi. Segalanya terasa terlalu indah untuk jadi kenyataan."Aku menariknya ke dalam pelukanku, membiarkan wajahnya tersembunyi di dadaku. "Ini nyata, Sabrina. Semua
Last Updated: 2026-04-07
Chapter: Bab 344. Gemuruh Persiapan dan Restu MentengKami duduk dan mulai membicarakan bisnis. Ternyata, ini bukan soal zat kimia atau penelitian ilegal. Beliau ingin mengajak perusahaanku bekerja sama dalam proyek pembangunan kawasan hunian hijau di dekat Ibu Kota Nusantara yang baru. Ini adalah proyek legal, besar, dan memiliki visi jangka panjang untuk negara."Kami butuh mitra yang punya integritas. Saya sudah dengar bagaimana kamu menangani sisa-sisa jaringan Hans dulu tanpa membuat kegaduhan publik. Kamu punya ketenangan yang jarang dimiliki anak muda zaman sekarang," lanjut Sang Jenderal.Percakapan malam itu berlangsung sangat produktif. Papa tampak sangat bangga padaku karena aku bisa mengimbangi pembicaraan teknis tingkat tinggi tersebut. Di satu sisi, aku merasa terhormat, namun di sisi lain, aku tetap menjaga hatiku agar tidak dikuasai oleh ambisi yang buta. Pelajaran dari Ibu di Bandung tadi pagi tetap bergema di kepalaku: jangan terlalu rakus.Menjelang pukul sepuluh, aku pamit pulang. Papa mengantarku sampai ke teras.
Last Updated: 2026-04-07
Cinta Tuan Muda
Alya, seorang gadis desa yang polos dan sederhana, tiba-tiba harus bekerja di kota besar demi melunasi hutang keluarganya. Nasib mempertemukannya dengan Arkan Mahendra, CEO muda yang arogan dan dingin, pewaris utama Mahendra Group.
Tanpa disangka, Arkan ternyata adalah pria yang pernah Alya tolong bertahun-tahun lalu saat ia mengalami kecelakaan di desanya. Kini, pria itu berdiri di hadapannya, tetapi tak lagi seperti dulu—sikapnya berubah dingin dan penuh amarah.
Namun, sekeras apa pun Arkan berusaha mengabaikan Alya, ada sesuatu dalam diri gadis itu yang terus menariknya. Saat sebuah kesepakatan gila membuat mereka harus terikat dalam pernikahan kontrak, perasaan yang dulu terkubur perlahan kembali.
Akankah Alya bisa meluluhkan hati Arkan yang membatu? Ataukah ia hanya akan menjadi boneka dalam permainan pria itu?
Read
Chapter: Suasana semakin tegang Malam itu, aku duduk di dalam mobil Om Martin, jari-jariku bermain di ujung gaun yang kukenakan. Hawa dingin dari AC menyelimuti tubuhku, tapi pikiranku justru terasa panas, berputar-putar memikirkan semua yang telah terjadi hari ini."Kamu capek?" suara Om Martin terdengar lembut, membuyarkan lamunanku. Aku menoleh dan melihatnya tersenyum, tatapan matanya yang teduh membuat dadaku berdesir.Aku menggeleng pelan. "Nggak, aku cuma... banyak mikir aja."Dia mengangguk seakan mengerti. "Kalau ada yang ingin diceritakan, aku siap mendengar."Aku menghela napas, mencoba menyusun kata-kata. "Aku cuma merasa aneh. Rasanya... terlalu nyaman berada di dekat Om. Seperti ada sesuatu yang mengisi ruang kosong di hatiku. Tapi di sisi lain, aku takut kalau ini hanya perasaan sesaat."Om Martin terdiam sejenak sebelum menjawab, "Aku juga merasakannya, Laura. Aku tahu aku bukan ayahmu, dan aku tidak akan pernah bisa menggantikannya. Tapi kalau keberadaanku bisa membuatmu merasa lebih baik, aku berse
Last Updated: 2025-04-05
Chapter: Semakin rumit Laura menatap sosok di hadapannya dengan napas tertahan. Jantungnya berdebar kencang saat dia mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Orang itu berdiri di ambang pintu, matanya menatap Laura dengan campuran perasaan yang sulit dijelaskan."Kamu... kenapa bisa ada di sini?" suara Laura bergetar.Pria itu tersenyum kecil, langkahnya mendekat. "Aku selalu ada di sekitarmu, hanya saja kau tidak pernah menyadarinya."Reno yang berdiri di samping Laura menatap pria itu dengan sorot tajam. "Siapa dia, Laura?"Laura menggeleng, seakan mencoba mengusir kebingungan di kepalanya. "Aku... aku tidak tahu. Aku pernah mengenalnya, tapi aku tidak mengerti kenapa dia muncul sekarang."Pria itu tertawa kecil, suara rendahnya penuh misteri. "Laura, aku tidak muncul tiba-tiba. Aku datang karena waktunya sudah tepat. Ada sesuatu yang harus kamu ketahui."Ketegangan semakin meningkat. Reno maju selangkah, posisinya protektif di depan Laura. "Aku tidak peduli siapa kamu. Kalau niatmu buruk, sebaiknya p
Last Updated: 2025-04-04
Chapter: Malam yang menegangkan Malam itu, hujan turun deras, menciptakan suasana tegang di dalam ruangan yang dipenuhi oleh ketegangan yang menggantung. Laura menatap pria di depannya, napasnya tercekat saat kata-kata yang baru saja diucapkan pria itu menggema di kepalanya."Aku sudah tahu semuanya, Laura," kata pria itu dengan suara berat dan tajam.Jantung Laura berdebar kencang. "Maksudmu apa?" tanyanya, mencoba tetap tenang.Pria itu mengeluarkan sebuah amplop coklat dan meletakkannya di atas meja. Dengan tangan gemetar, Laura mengambilnya dan membuka isinya. Matanya melebar saat melihat foto-foto di dalamnya. Itu adalah foto dirinya bersama seseorang dari masa lalunya—seseorang yang seharusnya sudah tidak ada dalam hidupnya."Bagaimana kau mendapatkan ini?" suaranya bergetar, campuran antara marah dan ketakutan.Pria itu tersenyum tipis. "Aku punya sumberku sendiri. Dan aku yakin, kau tahu bahwa seseorang sedang mengincarmu."Laura menelan ludah. Dia tahu persis siapa yang dimaksud pria itu. Sosok yang seharus
Last Updated: 2025-04-03
Chapter: Konflik Memuncak dan Kejutan yang Tak TerdugaLaura merasa jantungnya berdetak kencang saat melihat seseorang dari masa lalunya muncul tiba-tiba di depan pintu apartemennya. Pria itu berdiri dengan wajah serius, seolah membawa kabar buruk yang akan mengubah segalanya. "Kita perlu bicara," katanya dengan nada mendesak.Sementara itu, di tempat lain, Arya dan Reza sedang mencoba menghubungi Laura setelah menyadari ada sesuatu yang aneh dengan pesan yang dikirimkannya sebelumnya. Liam yang biasanya ceria juga terlihat lebih serius. "Aku nggak suka firasat ini," gumamnya sambil menggenggam ponselnya erat.Di dalam apartemen, Laura menatap pria itu dengan perasaan campur aduk. "Kenapa kamu di sini? Aku pikir kita sudah selesai bertahun-tahun lalu," katanya dengan suara bergetar.Pria itu, yang ternyata adalah mantan kekasih Laura yang menghilang tanpa jejak, menghela napas panjang. "Aku tahu aku banyak salah, tapi aku kembali karena ada sesuatu yang harus kau tahu. Ini tentang keluargamu… tentang ayahmu."Kata-katanya langsung membuat
Last Updated: 2025-04-02
Chapter: BAYANGAN MASA LALUMalam semakin larut, tetapi suasana justru semakin tegang. Napasku memburu, pikiranku berputar cepat. Aku tidak pernah menyangka akan bertemu dengannya lagi—seseorang yang seharusnya sudah lama menghilang dari kehidupanku.Dia berdiri di sana, bersandar santai di pintu belakang ruangan ini, seakan kedatangannya adalah hal yang wajar. Senyumnya tipis, nyaris seperti ejekan.“Lama tidak bertemu, Laura,” suaranya tenang, tapi dingin.Aku menelan ludah. “Kenapa kau di sini?”Dia tidak langsung menjawab. Malah, dia melangkah maju dengan perlahan, membuat jantungku berdebar lebih kencang. Reno dan Arya sudah bersiap siaga di sampingku, siap melakukan apa pun jika keadaan memburuk.“Kau tahu, aku selalu tertarik melihat bagaimana kau berkembang setelah semua yang terjadi,” katanya sambil menatapku tajam. “Aku hanya ingin melihat sendiri apakah kau masih sekuat dulu… atau justru lebih lemah.”Aku mengepalkan tangan. “Aku tidak punya waktu untuk permainanmu.”Dia tertawa kecil. “Permainan? Ah,
Last Updated: 2025-04-01
Chapter: Konflik baru Malam itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Langit hitam pekat tanpa bintang, seakan menyembunyikan sesuatu yang tak ingin terlihat. Di dalam ruangan yang remang, suasana penuh ketegangan.Laura menatap seseorang di depannya dengan napas memburu. Sosok itu tersenyum samar, tatapannya sulit ditebak."Kau pasti tak menyangka akan bertemu denganku di sini, bukan?" suara baritonnya terdengar begitu akrab, tapi ada sesuatu yang janggal di baliknya.Laura menelan ludah. "Kenapa kau ada di sini? Apa maumu?"Sosok itu hanya menghela napas, lalu berjalan mendekat dengan langkah perlahan. Setiap langkahnya bergema di ruangan yang sepi.Di saat bersamaan, di tempat lain, Reno berlari menerobos lorong sempit, mencoba mencari Laura. Ada firasat buruk yang mengusiknya sejak tadi. Jantungnya berdebar kencang, dan tanpa sadar, tangannya mengepal erat.Sementara itu, di dalam ruangan, Laura berusaha tetap tenang meskipun pikirannya berkecamuk. Sosok itu kini berdiri di hadapannya, menyodorkan
Last Updated: 2025-03-31