ANMELDENAku terdiam, tenggorokanku terasa tersumbat. "Aku masih bingung, Om... maksudku, Ayah. Semua ini terlalu cepat.""Aku tahu. Kita punya banyak waktu untuk bicara nanti. Sekarang, ada seseorang yang menunggumu di bawah," ucap Om Adrian sambil tersenyum tipis.Aku turun ke lobi dengan perasaan yang campur aduk. Di sana, di dekat pintu keluar, berdiri Sabrina. Ia tidak lagi mengenakan masker atau topi. Ia berdiri dengan anggun, matanya berbinar saat melihatku."Kak Bima!" ia berlari dan memelukku di tengah keramaian lobi gedung. Kali ini, ia tidak perlu berpura-pura marah. Ia tidak perlu sembunyi."Semua sudah berakhir, Sab," bisikku di telinganya."Terima kasih sudah berjuang, Kak. Aku tahu Kakak orang baik," sahutnya sambil melepaskan pelukan dan menatapku dengan penuh cinta.Setelah badai di kantor notaris mereda dan Citra serta Laras digelandang oleh pihak kepolisian, suasana Jakarta terasa berbeda bagiku. Ketegangan yang selama ini mengikat pundakku perlahan mengendur, namun digantik
Pagi hari tiba dengan begitu cepat. Aku hanya tidur sekitar dua jam setelah keluar dari unit Laras. Tubuhku terasa berat, bukan karena kelelahan pasca-kontes, melainkan karena beban rahasia yang kini kusimpan di dalam tas ranselku yaitu map biru berisi dokumen asli milik Om Adrian.Tepat pukul tujuh pagi, sebuah kegaduhan terdengar dari koridor. Aku menempelkan telinga ke pintu."Bima! Bima, buka pintunya!" suara Laras terdengar melengking, penuh dengan nada panik yang tak terbendung. Gedoran di pintuku semakin keras.Aku menarik napas panjang, memasang wajah tanpa dosa, lalu membuka pintu. Laras berdiri di sana dengan rambut berantakan dan wajah pucat pasi. Ia masih mengenakan gaun tidur yang kulihat semalam, hanya ditutupi oleh outer tipis."Ada apa, Ras? Pagi-pagi sudah teriak," kataku dengan suara serak yang dibuat-buat."Dokumen itu... Map biru di lemariku... Kamu lihat, kan? Kamu yang mengambilnya, kan?!" Laras merangsek masuk, matanya liar mencari ke seluruh sudut ruang tamu ap
Pintu unit Laras tertutup dengan bunyi klik yang halus, namun bagiku suara itu terdengar seperti gerendel penjara. Aroma pengharum ruangan beraroma musk dan cendana langsung menyambutku, menciptakan atmosfer yang berat dan sensual.Laras tidak membuang waktu; ia segera berbalik dan menyandarkan tubuhnya pada pintu, menatapku dengan mata yang sayu namun penuh gairah."Suamiku baru saja mengabari, urusannya di luar kota memakan waktu lebih lama. Mungkin seminggu lagi baru pulang," bisik Laras dengan suara serak. "Jadi, malam ini hanya ada aku, kamu, dan piala kemenanganmu itu, Bima."Aku meletakkan tas olahragaku di lantai. "Kamu tampak sudah sangat siap, Ras," kataku, berusaha menjaga nada suaraku tetap tenang meski jantungku berdegup kencang karena harus bersandiwara dalam situasi sedekat ini.Laras melangkah mendekat. Ia mengenakan lingerie sutra tipis yang nyaris tidak menyembunyikan lekuk tubuhnya. Tangannya yang lentur mulai menjalar ke dadaku, menelusuri garis otot pectoral yang
Akhirnya tiba saatnya, hari yang di tunggu-tunggu selama ini akhirnya tiba. Aku merasa gugup karena ini pertama kalinya aku mengikuti body kontes. Aku tidak berharap bisa menang, aku hanya mencari pengalaman.Gedung pertunjukan pusat kota itu sudah dipenuhi oleh riuh rendah penonton dan dentuman musik house yang membakar semangat. Aroma tanning cream dan minyak otot menyengat di area belakang panggung, tempat puluhan pria bertubuh atletis sedang melakukan persiapan terakhir.Di tengah hiruk-pikuk itu, aku berdiri diam, memejamkan mata sambil memompa otot bahuku menggunakan resistance band."Rileks, Bim. Ototmu sudah 'pecah' semua definisinya. Tinggal jaga mentalmu tetap tajam di atas panggung," Mas Putra berbisik sambil membantuku mengoleskan lapisan terakhir minyak agar otot-ototku tampak lebih tegas di bawah lampu sorot.Aku menarik napas panjang. Di balik tirai sana, aku tahu ada dua kelompok orang yang menungguku. Kelompok pertama adalah para "ular" yang ingin merayakan kemenangan
Saat ini aku akan kembali fokus latihan, sebentar lagi saatnya lomba body kontes tiba. Walaupun pikiranku tidak menentu, tapi aku harus tetap semangat.Saat ini aku lebih fokus untuk melakukan siaran live di tok-tok dari pada harus berurusan dengan wanita-wanita di apartemen ini. Sementara itu demi misi ini, aku tidak melatih Om Adit dan Sabrina untuk sementara waktu, sampai situasinya kembali aman.Lantai gym Mas Putra masih terasa dingin saat aku tiba pukul lima pagi. Suara besi yang beradu dan aroma karet dari lantai beban menjadi satu-satunya pelipur lara bagi batinku yang sedang berperang. Esok adalah hari di mana Body Contest tingkat nasional itu digelar ajang yang seharusnya menjadi puncak prestasiku, namun kini terasa seperti sebuah misi penebusan dosa."Fokus, Bim! Jangan biarkan beban di pikiranmu lebih berat dari beban di tanganmu!" seru Mas Putra, suaranya menggelegar di tengah kesunyian pagi.Aku sedang berada di tengah sesi leg day yang brutal. Beban leg press sudah menc
Pak Andri membawaku ke luar, menjauh dari kerumunan orang. Aku berdiri di hadapan Pak Andri, pria yang kini menjadi satu-satunya peganganku untuk mengungkap kebenaran. Amarahku yang tadinya meledak-ledak kini mulai mendingin, berganti dengan perhitungan yang dingin dan tajam."Kalau begitu aku akan segera bertindak, Om. Citra harus segera di hancurkan," kataku penuh amarah."Jangan dulu hancurkan sekarang. Kita tidak bisa menyerang mereka secara langsung, Bima," ucap Pak Andri pelan, suaranya tenang namun sarat akan pengalaman. "Citra bukan wanita sembarangan. Dia memiliki akses ke banyak hal, termasuk orang-orang yang bisa mencelakaimu dalam sekejap. Jika kau menggunakan rekaman itu sekarang, dia bisa berkelit atau bahkan melenyapkan bukti itu sebelum sampai ke tangan hukum."Aku mengepalkan tangan, menatap lantai marmer yang dingin. "Tapi Om, dia sudah menghancurkan hidupku. Dia membakar tempat kerjaku, dia menjebakku dengan uang, dan dia membuatku membenci ayah kandungku sendiri."







