Mag-log in“You must be fooling yourself if you think I would accept being mated to a filthy, wolfless omega like you. Let’s cut to the chase and get to it. I, Xavier, future Alpha of Crystal Pack, reject you as my mate.” Xavier said and threw me to the ground. “Pathetic!” With one last disgusted glance, he left the room. *********** Abused and disregarded by the entire pack members, her adoptive parents, and her twin sister, who loathes her. Ariana endured all of this, hoping for a better life when she finally meets her mate. But when she is rejected by the one person she has waited for all her life, Ariana is heartbroken and plots to escape and start a new life of freedom, but fate has other plans for her. When Alpha Arthur comes to trade for omegas, and Ariana is brought forward as the last omega, she discovers she has been given a second chance mate. Arthur, the ruthless Alpha King who doesn’t believe in love but sees it as a weakness to his legacy, and a fragile, wolfless omega who happens to be his mate and maid. Can these two ignore the pull that keeps drawing them closer? Can Ariana break through the cold-iced heart of Arthur and bring warmth into it? Arthur is related to Ariana’s painful past. Will she claim her rightful place as his Luna at Shadow Howl Pack or let the consequences of their past destroy her forever?
view more“Tu-Tuan Muda? Ke-kenapa Tuan Muda ada di kamar saya?” tanya Nina dengan takut-takut. Hawa malam itu sangat mencekam. Ruangan sempit yang awalnya adalah gudang, disulap sedemikian rupa menjadi sebuah kamar. Ya, kamar untuk Nina sebagai asisten rumah tangga yang baru saja bekerja di rumah itu semingguan lebih.
Pria yang bernama Bryan Lawrence itu sedang berdiri di depan pintu kamar Nina yang tadinya tertutup. Bryan adalah anak tunggal dari majikan Nina, pemilik rumah tersebut. Penampilan Bryan amat berantakan karena ia baru saja pulang dari klub malam, tetapi Bryan masih terlihat tampan. Walaupun bau alkohol tercium jelas di tubuhnya.
“Berikan aku makanan! Aku lapar!” titah Bryan.
Nina yang tadinya baru saja ingin beristirahat kemudian bangkit dari kasurnya. Nina sempat bergerutu dalam hati sebab ia menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari dan anak majikannya itu tiba-tiba memasuki kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan meminta makan. Namun, Nina juga bernapas lega karena prasangka buruk yang sempat ia pikirkan ternyata tidak benar.
“Baik, Tuan Muda. Saya siapkan dulu,” jawab Nina tanpa merasa curiga.
Bryan akhirnya keluar dari kamar diikuti oleh Nina menuju dapur. Nina dengan cekatan mengolah semua bumbu serta bahan yang tersedia menjadi sebuah masakan yang lezat. Satu jam berlalu, akhirnya kerjaan gadis itu telah selesai. Dan saatnya ia memanggil sang majikan yang sudah menunggunya dari tadi.
TOK TOK TOK
“Permisi, Tuan Muda. Makanannya sudah siap,” ucap Nina dengan suara lantangnya.
“Masuk!” teriak Bryan dari dalam kamar.
Nina kemudian membuka pintu lalu berjalan perlahan. Ia masuk ke dalam kamar besar nan megah dengan pencahayaan yang minim. Ia melangkah sembari menundukkan kepala. Terlihat Bryan sedang meneguk segelas alkohol. Dada bidangnya sudah terekspos jelas alias pria itu sedang tidak mengenakan bajunya.
“Tuan Muda, makanannya sudah siap,” ujar Nina lagi, dengan nada yang amat sopan. Ini hari pertamanya ia bertemu dengan Bryan, anak dari pemilik rumah mewah tempatnya bekerja. Sebab dari seminggu yang lalu ia bekerja, pekerja yang lain mengatakan bahwa Bryan sedang berada di Singapura, menuntut ilmu S-2 nya. Dan sekarang Bryan tengah libur kuliah selama 3 bulan, maka dari itu ia kembali ke Jakarta, ke rumah orangtuanya.
“Kenapa lama sekali?” tanya Bryan sembari melemparkan tatapan dingin pada Nina.
“Ma-maaf, Tuan Muda. Sa-saya tadi harus merebus ayam terlebih dahu—”
“Aku tidak meminta makanan yang itu,” potong Bryan cepat. Ia menatap gadis lugu di hadapannya itu. Ditatapnya penuh gairah sembari ia berjalan mendekati Nina.
“Tu-Tuan Bryan, Tu-Tuan mau ngapain?” tanya Nina tergugup.
“Ssstt! Santai saja! Jangan tegang! Yang berhak tegang di sini cuman burungku. Heheh.” Bryan masih sempat terkekeh saat Nina benar-benar ketakutan. Nina terus berjalan mundur ketika Bryan terus mendekatinya hingga tubuh Nina mentok di dinding kamar.
Nina menatap wajah tampan tuan mudanya yang saat ini sangat dekat dengan wajahnya. “Tuan?”
“Kamu cantik sekali, Nina,” goda Bryan sebelum menempelkan bibirnya ke bibir gadis itu. “Boleh aku menciummu, Nina?” Mata Bryan terus tertuju pada bibir merah Nina, gadis itu menjawab pertanyaannya dengan sebuah gelengan kecil, namun Bryan tidak peduli dengan tolakan tersebut. Bryan langsung menempelkan bibirnya pada bibir Nina.
Nina tersentak kaget dan langsung menjauhkan bibirnya dari Bryan. “Tuan Muda, apa Tuan sedang mabuk?” tanyanya dengan napas yang tersengal saking gugupnya.
Bryan mengangguk. “Yes, baby. Aku mabuk karenamu.” Bryan langsung menempelkan kembali bibirnya dan melumat lembut milik Nina. Bryan menahan tengkuk Nina agar gadis itu tidak melepaskan ciuman mereka lagi.
Satu tangan Bryan mulai mengusap dan meraba punggung Nina. Bryan mulai nakal menyelinap masuk ke dalam baju Nina kemudian membuka pengait bra gadis itu. Bryan lalu menenggelamkan wajahnya, menghirup aroma wangi di leher mulus Nina.
“T-Tuan Bryan, jangan lakukan ini. Saya mohon… H-hentikan ini, Tuan. Lepaskan saya!!” teriak gadis itu. Ia terus melawan, namun percuma saja, tenaganya tidak sebanding dengan pria itu. Kini Bryan telah berhasil melucuti pakaian gadis itu.
Bryan mendekap mulut Nina agar gadis itu mau diam. “Ssstt. Jangan teriak Nina, nanti yang lain terbangun. Kalau kamu teriak sekali lagi, aku bakal suruh Papa untuk mecat kamu!”
Nina hanya mengangguk lemah setelah Bryan mengancamnya.
Bryan tersenyum penuh kemenangan. “Aku beruntung sekali, baru pulang tadi pagi langsung disambut dengan seorang ART baru seperti kamu. Cantik dan tentunya masih muda,” bisiknya. Pria itu kemudian membawa Nina dan melemparkan tubuh Nina ke atas ranjang. Dengan sigap, Bryan merangkak naik ke atas tubuh Nina, menguasai sepenuhnya tubuh indah sang asisten rumahnya.
“Ngghh… aahhh… Tu-Tuan Bryan… Hentikan ini, Tuan,” pinta Nina dengan wajah memelas. Sesekali ia mendesah. Entah apa yang dirasakannya saat ini.
“Why, Nina? Do you like it?” tanya pria itu dengan sikap genitnya. Gerakan tangan Bryan semakin liar. Tangan yang kokoh itu sedang sibuk meremas-remas kedua tumpukan daging kenyal yang menjadi aset sang gadis. Bibir Bryan tak kalah lincahnya kini menciumi leher Nina yang lembut.
“Hmmpss… ahh….” Nina tak lagi memberontak. Gadis itu terbuai dengan sentuhan-sentuhan yang diberikan oleh majikannya. Nina yang awalnya meronta meminta agar Bryan berhenti, kini ia pasrah dan justru tubuhnya merespon seolah-olah meminta lebih.
Tidak dapat menahan lebih lama, Bryan membuka celananya sendiri. Nina menggelengkan kepalanya kala melihat tuan mudanya kini mengeluarkan senjata yang berurat maksimal. Nina berniat merapatkan kedua kakinya, namun Bryan menahannya.
“Ja-jangan lakukan ini, Tuan. Saya tidak mau. Hentikan ini, Tuan,” pinta Nina ketakutan.
Bryan berpura-pura tidak mendengarnya. Pria bajingan itu justru memasukkan anaconda besarnya ke milik Nina.
“Mmmmpph… ahh… Tuan… sa… sakit… Tuan Bryan, tolong…” Nina meremas seprai kasur Bryan hingga berantakan. Nina terus-terusan menjerit kesakitan kala Bryan memompa kejantanannya hingga masuk ke tempat yang paling dalam milik Nina. Sakitnya sungguh berasa hingga tak sadar membuat Nina meneteskan air mata.
Bryan melihat tangis kesakitan di mata Nina. Pembantunya itu kemudian berhenti meremas seprai dan beralih mencakar punggungnya hingga berdarah.
Bryan mengecup ujung mata sang gadis dan berbisik, “Apa terlalu sakit, Nina? Bawa enjoy aja. Nanti lama-lama enak kok.”
“Ahh… ahh… h-hentikan….” Tubuh Nina mengejang karena kenikmatan yang baru pertama kali dia rasakan. “Hentikan, saya mo—”
Belum selesai sang asistennya berbicara, Bryan kembali melahap bibir Nina dengan brutal. Lidahnya menerobos masuk dengan ciuman yang berkembang semakin liar. Ciuman penuh gairah dan brutal diterima Nina, sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, gadis itu pun pasrah.
Nina tidak kuat lagi menerima rangsangan bertubi-tubi dari Bryan. Kemaluannya yang diserang dengan barang kokoh milik majikannya, ditambah lagi bibirnya yang tiada henti dicium oleh pria berusia 23 tahun itu.
Beberapa menit berlalu, permainan mereka hampir berada di ujung jalan. Nina tidak sanggup lagi menahan aliran deras hangat yang keluar dari miliknya. Sedangkan Bryan masih terus memompa batangnya hingga dirinya pun mengalami klimaks.
“Ohh, shit! Kamu sangat enak. Bikin nagih.” Begitulah perkataan pria bajingan yang selalu bermain wanita di luaran sana. Ini bukan pertama kalinya Bryan meniduri perempuan. Diberkahi wajah tampan dan harta berlimpah dari orangtuanya membuat siapa saja bertekuk lutut di hadapan Bryan. Gadis mana yang mampu menolak seorang Bryan? Bahkan tak jarang seorang gadis yang masih suci bersedia melepas mahkotanya kepada sosok bad guy itu.
Bryan pun mengerang kenikmatan saat dirinya menyembur cairan cinta ke rahim gadis malang itu. Seiring dengan datangnya rasa nikmat itu, pria berwajah tegas itu langsung lemas dan ambruk di atas tubuh Nina.
Nina kini menangis tanpa suara. Dari raut wajahnya saja bisa dinilai bahwa gadis itu sungguh syok berat atas kejadian ini. Nina menyingkirkan tuan mudanya yang kini terlelap di atas tubuhnya.
“Hiks. Hiks.” Nina menyeka air matanya. Ia melihat ke arah Bryan yang saat ini sudah tertidur pulas di sampingnya. ‘Apa yang harus aku lakukan sekarang?’ lirihnya dalam hati.
Dengan sisa tenaga yang masih ada, Nina beranjak pergi dari ranjang itu. Tempat di mana ia melepaskan kehormatannya secara paksa dengan dibanjiri air mata. Nina mengambil pakaian miliknya yang tergeletak di atas lantai lalu memakainya kembali. Ia menghela napas panjang diiringi deraian air mata yang tak kunjung reda, gadis itu pun keluar dari kamar dan meninggalkan sang majikan seorang diri.
“I’m so sorry, Jasmine.” I really was. “The idea of people knowing made me want to keep it a secret.”“From even me?” She muttered, pained.“I’m so sorry, Jasmine. I shouldn’t have hidden it from you or dragged you into this mess with me.” I looked at her using my puppy eyes. Jasmine had been there for me through all of this. She didn’t deserve such an attitude. “Okay, fine… It’s hard to stay angry at you when you do your eyes like that anyway.” She smiled. “I forgive you… but no more secrets.” “Pinky swear,” I replied, smiling. The way to the eastern border was longer than I thought. We walked for hours through the woods. It was already getting to dusk. After a while, we finally saw the river and fetched the kegs, dragging them all the way to the packhouse. By the time we dropped them, we were both exhausted and weak. “Who would have thought you girls could make it? Seeing as you decided to sleep and party there.” Melissa sneered in a rude and disdainful tone. “You sent us to t
We reached the prison, and Luke dragged the unconscious bastard inside. The guards poured boiling water over his skin.“Argh!!” His scream split the air as he bolted upright, clutching at his blistering arms. His wild eyes darted around until they found me. The moment they did, his legs buckled. He dropped to his knees, trembling like a leaf.“Alpha… please… have mercy. I swear it was a mistake. I’m sorry. Spare me.”His pitiful begging almost made me laugh. Fear poured off him in waves, and it should have been enough. But no man who dared lay his filthy hands on any woman in my pack deserved freedom.I tilted my head, studying him like my prey. “You think it was a mistake?” My voice came out low, dangerous. “Touching any female in this pack is never a mistake. It’s a death sentence.”“Please… Alpha…” His words turned into a sob.I sat down on a wooden stool, folding my arms. “Don’t worry. I’ll make sure you never get the chance to repeat it.” My jaw clenched. “Luke… his fingers. Sta
Arthur’s POV “Have you killed the rogue?” My voice thundered through the mindlink, sharp as a blade. The guards at the prison stammered back, “Y-Yes, Alpha.” “Good. Hang the body on the wall of the southern border. Let the others see what trespassing costs.” The silence that followed was satisfying and thick with fear. Knock, knock, The door creaked open, and Luke entered with a large scroll in his hands. “Alpha,” he bowed low. “Morning, Luke,” I replied flatly. He laid the scroll on the table like they were cursed. “The financial reports, Alpha. Each pack’s account, sealed, signed, and submitted by the Alphas this afternoon at the council.” I pinned my gaze on him. “And if there are any mistakes and fraudulent traces?” My voice was low and dangerous. He swallowed hard. “Then they’ve signed their death warrants.” I leaned back, satisfied with his reply. He knew me too well. “Drop them and leave.” He turned to leave, but I stopped him. “Luke.” “Yes, Alpha,” “What’
Anna opened the door and rushed towards the bed, pulling Denis into her arms. Her mouth was wide open like she couldn’t believe her eyes. She began crying again, pulling Denis towards her. Tears of joy washed her face. Denis looked at me, doubting whether it was safe for her to speak. I smiled and nodded to her. “Stop crying, Mummy.” She mumbled, her voice low and sweet. Anna turned her face abruptly. “My baby can speak…” Her voice cracked as she cried. She hugged Denis tightly and turned to me, “Thank you, Ariana.” I smiled and walked out of the room to give them space to bond. I felt proud of myself. Mission accomplished. After a few minutes, Anna came out wearing the biggest smile. “Thank you for helping my baby.” She began, getting teary again. “W-What healers couldn’t do. We’ve done so many rituals under the full moon, no results. But within a few minutes, you have helped my daughter become herself once again.” “You are welcome, Anna. Glad I could help. I wish her a safe re
“No! No! No!” I screamed out until my eyes opened. I panted heavily, sweat covered my face, and the hairs on my skin rose. It was the same nightmare. A revisit to my ugly past. A past that had been haunting me for so long. It was the night it all crumbled. The night I lost my biological parents a
Arthur’s POVI forced my wolf back in, and my eyes were back to their normal gray. I looked at the girl in my arms. Her beautiful emerald eyes held mine, wide open with too many emotions running through them all at once, fear, confusion, and something deeper: a silent cry for help.As if I was in a
Ariana’s POV “How could I ever forget? Although it’s been over fifteen years now, the pain and memory are still fresh, like it was yesterday, and remember, Ariel, I wasn’t the reason we were attacked, so stop blaming it on me,” I screamed, my heart hurting more than it could take. “You are more p
Ariana’s POV “Why is that good-for-nothing girl still sleeping?” Grace, my adopted mother, shouted, her voice echoing through the hallway with rage.Fear of the daily lash made me jump and open the door. Immediately, she gave me a resounding slap across my cheek, and the sting burned my skin. I he












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.