MasukDi permukaan, seorang ilmuwan yang bernama Rajendra, terlihat sedang memberi arahan ke semua prajuritnya. Dengan sekali tunjuk, drone ciptaannya mengudara keluar dari balik kastilnya.
Ya, dialah penguasa tunggal sekaligus presiden. Dia berhasil mengambil alih sistem pemerintahan pusat.
Berkat kecerdasannya serta bantuan dari pendukungnya, Rajendra berkuasa penuh atas jalannya kebijakan serta alokasi anggaran pemerintahan.
Di masa kepemimpinan yang sudah berjalan selama lima dekade, Rajendra berhasil membuat dom magnet serta pasukan minnerX lapis baja. Sebuah robot bertekhnologi quantum.
Rajendra telah banyak menciptakan penemuan, diantaranya adalah cleniX. Manusia setengah zombie yang tercipta dari mutasi virus.
Tak berhenti sampai disana, Rajendra memutus seluruh akses dengan negara lain. Arus komunikasi dunia luar dikendalikan sepenuhnya.
Tak ada yang berhasil keluar, dan belum ada yang berhasil merebut kekuasaannya.
Sayangnya hari itu pemandangan di langit, tampak DOM X telah menggangu ketenangannya.
Dari celah teropong yang mengarah ke atas langit, dia melihat ada ratusan roket yang bertubi-tubi meledakkan perisai pelindung tersebut.
Semakin lama pemandangan itu, makin membuatnya cemas. Dia segera menempelkan penglihatannya lebih lekat ke bilah teropong itu. Rasa was was mulai memenuhi pikirannya. Dengan senyumnya yang merekah, Rajendra merasa bangga akan semua mahakarya yang telah diciptakannya.
“Tuan memang jenius!” ucap sang adjudan menatapnya bangga.
Masih tetap mengamati seisi langit yang di warnai oleh drone ciptaannya. Rajendra meratap kembali ke masa lalu. Masa titik balik hidupnya.
Saat usianya baru dua puluh tahun, dunia sedang berlutut di hadapan pandemi yang melumpuhkan global. Di saat para ilmuwan senior di seluruh dunia terjebak dalam birokrasi dan metodologi yang lambat, sekelompok peneliti muda mempublikasikan sebuah jurnal radikal tentang rekayasa genetika molekuler.
Di puncak kepemimpinan tim kecil itu adalah Rajendra, seorang mahasiswa genius yang melompati empat tahun masa studinya dalam waktu singkat.
Rajendra adalah ilmuwan muda jenius. Berkat kecerdasan yang dimiliki, dia berhasil mengisolasi untaian protein esensial dan menciptakan serum yang menundukkan Covid-20 hanya dalam waktu beberapa bulan. Ketika mutasi mematikan berikutnya, Varian T01, muncul dan mulai melelehkan jaringan paru-paru korbannya dalam hitungan jam, Rajendra kembali berdiri di garis depan.
Kesehariannya jarang menikmati isthirahat selayaknya manusia normal pada umumnya. Selama berminggu-minggu, dia menyuntikkan purwarupa vaksin ke tubuhnya sendiri untuk membuktikan keamanannya, hingga berhasil menyelamatkan jutaan nyawa.
Sisa-sisa pemerinta kala itu telah kehilangan sebagian besar pejabat tinggi akibat gelombang pertama T01, memberikan hak istimewa dan kepercayaan penuh tanpa batas kepada Rajendra. Apapun yang diminta; dana, laboratorium, wilayah kebal hukum, langsung dikabulkan.
Namun, sains tidak bisa menyembuhkan keserakahan hasrat yang terpendam sejak lama. Genetik peradapan kuno tentang sifat dasar kebinatangan yang melekat pada diri Rajendra.
Ketika dunia mulai pulih berkat serum buatannya, aliansi militer global dan korporasi multinasional mulai menuntut hak paten atas formula Rajendra.
Rajendra bukannya tidak memahami semua politik carut marut yang terjadi. Karena itulah, dia selalu sibuk menonton monopoli distribusi anti virus menjadikannya komoditas politik, serta meminta untuk membatasi akses bagi negara-negara miskin. Saling sikut antarnegara adidaya memicu konflik geopolitik baru yang lebih kotor.
Dengan kelihaiannya, Rajendra sengaja membocori tangki limbah kimia. Inilah titik awal sabotase perang mulai mencemari sumber-sumber air utama di Asia. Patogen baru yang tidak bisa disembuhkan bahkan dengan teknologi mutahkir.
Rajendra menyaksikan semua itu dari balik meja laboratoriumnya. Dia melihat anak-anak yang ia selamatkan dari Varian T01 kini mati kelaparan dan keracunan air di jalanan karena perang perebutan hak paten vaksinnya.
"Persis seperti beberapa dekade yang terlewati. Mereka tidak pantas diselamatkan. Hanya yang kuat yang akan bertahan." kalimat pendek yang selalu tertanam kuat dalam diri Rajendra.
Saat misil-misil itu menyentuh atmosfer di atas kota, jaringan satelit mikro aktif. Medan magnet raksasa berputar dalam kecepatan sub-atomik, menciptakan apa yang kini dikenal sebagai Dom Magnetik.
Ledakan misil terjadi di udara, namun alih-alih menghancurkan, energi kinetik dan gelombang termal dari ledakan tersebut justru diserap seluruhnya oleh dinding energi Dom. Fluks magnetik membalikkan momentum ledakan, mengubah energi destruktif tersebut menjadi daya listrik murni yang dialirkan kembali untuk memperkuat kepadatan dinding energi Dom itu sendiri.
"Semakin keras mereka menyerang, semakin kuat kubah itu melindungi diri." Urainya saat sesaat setelah serangan itu gagal mengoyak oertahanan dom magnetik.
Seringai senyum ekspresi itu menandakan kepuasan Rajendra akan ciptaannya yang berhasil menghalau ratusan rudal diatas langit. Juga keberhasilannya atas bertahun masa kepimpinannya sebagai penguasa tunggal.
Di halaman kastil megah, tepatnya di halaman teras yang membentang luas, Rajendra mengamati dengan teliti dibalik teropong Xray.
Tangannya cekatan dan langsung melempar jauh teropong yang dipegangnya. Sangat jauh hingga dalam sekejap teropong itu menghilang tak terlihat lagi.
"Betapa bodohnya!Ribuan misil yang ditembakkan itu, tidak akan bisa menembus DOM X, dasar bodoh!!" ujarnya seraya terus merutuki misil yang gagal menembus. Langit terus menerus bergetar, menciptakan warna keemasan.
"Terbaik tuan! Sungguh jenius." katanya kembali dari seorang lelaki tua, dengan postur badannya yang bungkuk udang.
Lelaki tua itu bernama William. Salah seorang yang sangat dipercaya. Rajendra biasa menyebutnya Will.
"Segera terbangkan drone T-Bone. Halau semua misil pengganggu itu. Setelah selesai, targetkan semua drone perusak itu ketempat para tikus got bersembunyi!"
"Baik tuan. Tetapi, menurut hemat saya. Jika kita mentargetkan ke area tikus got... itu akan mengganggu pasokan listrik. Semua sistem otomatis akan berhenti berfungsi, jika tuan meledakkan EV Towers tersebut." Tuturnya terbata, penuh hormat.
"Bodoh.. (Meninggi) Bukankah kemarin you bilang kita sudah masuk tahap akhir perkembangan power supply terbesar? Kemana semua formula yang sudah saya berikan?" bentak Rajendra dengan nada tinggi, seraya menarik kerah baju Will, geram.
"Bb, begini tuan. Tahap akhir yang dimaksud itu adalah riset keseluruhan sistem. Iini akan memakan waktu berkisar satu jam. Kita harus mematikan seluruh sistem dan menggantikannya dengan power station baru."
"Saya tidak perduli dengan semua itu! Segera lakukan semua yang saya perintahkan kurang dari sepuluh menit!! Mengerti!!" Tegas Rajendra sambil merapihkan tatanan rambutnya yang selalu tampil klimis.
Dengan electric otoped maha karya ciptaannya, Rajendra segera berlalu pergi dari pandangan Will tanpa sepatah kata pun.
"Ttuuann. tunggu, tunggu tuan!! Akhh, Bagaimana ini, sepuluh menit? Sudahlah."
Dari balik saku jaket kulit, dia keluarkan transmitter yang tersambung langsung dengan ratusan drone T-Bone.
Di gudang, T-Bone yang berukuran mini dalam sekejap mulai bereaksi. Ratusan mesin meraung, raung dengan sangar. Suara mesin pembunuh yang siap memangsa lawan.
Pintu gerbang gudang drone perlahan terbuka. Drone itu segera mengudara, dan langsung pergi menuju titik koordinat yang diperintahkan Rajendra.
Dalam sekejap, langit berubah warna semakin keemasan. Hantaman drone dan rudal menggetarkan DOM X. Suara nyaring bagai gesekan biola kematian.
Dalam satu malam, kota metropolitan dengan jumlah penduduk terpadat di dunia itu berubah total dan menghilang dari peta digital dunia. Kota itu menjadi sebuah pulau keheningan yang terisolasi di bawah pelindung yang tak tertembus.
Sang penyelamat telah resmi menjadi sang Tiran.
Satu tahun berlalu sejak malam ketika Sang Pengamat menutup arsipnya dan IRA meredup menjadi kenangan hijau yang tenang di dalam fasilitas bawah tanah. Kota kecil di lembah selatan terus tumbuh, gemerlap oleh lampu-lampu sederhana yang menyala setiap malam, ditenagai oleh kincir air yang dirancang Dr. Anya bersama beberapa pemuda kota yang tertarik mempelajari mekanika tanpa harus bergantung pada teknologi tinggi yang berbahaya. Musim semi baru saja tiba, dan seluruh lembah dipenuhi bunga-bunga liar yang mekar serentak, seolah alam sendiri ikut merayakan satu tahun kedamaian yang belum pernah mereka rasakan sepanjang hidup mereka. Malik berdiri di menara pengawas yang kini telah diperbaharui menjadi bangunan batu yang lebih kokoh, matanya menyusuri lembah yang damai, sesuatu yang dulu terasa seperti mimpi mustahil. Zhafirah menaiki tangga menuju menara, membawa dua cangkir teh herbal hangat, kebiasaan pagi mereka yang tidak pernah berubah sejak fajar pertama di dunia ini.
Angin sore yang bertiup di atas bukit Anaphalis javanica mendadak membeku ketika layar monokrom kecil di tangan Zhafirah memancarkan cahaya biru pudar. Di atas permukaan kaca kecil itu, barisan kode data bukan lagi sekadar teks acak, melainkan membentuk sebuah pola geometri yang sangat dikenal oleh siapa pun yang pernah hidup di masa-masa kelam perang dunia lama. Tiga garis paralel vertikal. Simbol Ira. Malik menatap layar itu dengan napas tertahan. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena ketakutan, melainkan oleh kejut yang teramat sangat. Di bawah bukit, kota baru manusia dan mesin beroperasi dalam harmoni yang tenang, tanpa ada yang menyadari bahwa masa lalu yang dikira telah terkubur rapat kini mengetuk pintu realitas mereka kembali. "IRA.." bisik Malik nyaris tanpa suara. "Kupikir inti kesadarannya telah terurai total ketika kita menghancurkan jaringan pusat lima tahun lalu." Zhafirah tidak langsung menjawab. Ia mematikan perangkat tersebut, tetapi simbol tiga garis itu
Dari ketinggian bukit itu, pemandangan di lembah bawah terbentang luas bagaikan lukisan kehidupan yang dinamis. Tidak ada lagi menara pencakar langit monolitik berpelapis bio-polimer yang menjulang angkuh, mencoba mengontrol cuaca dan pikiran warga dari atas sana. Kota baru itu dibangun dengan kerendahan hati dan kebijaksanaan. Rumah-rumah penduduk berdiri selaras dengan kontur alam, terbuat dari batu-batu lokal dan kayu yang tumbuh berkelanjutan. Di jalan-jalan setapak yang bersih, manusia dan mesin bekerja berdampingan dalam harmoni yang setara. Mesin-mesin otonom—keturunan dari jaringan yang dulu dipelopori oleh Echo—bergerak membantu mengolah daur ulang limbah organik, merawat hutan kota, dan membangun infrastruktur air bersih tanpa pernah menuntut kepatuhan atau memprogram ulang emosi warganya. Tidak ada menara penguasa. Tidak ada lagi sistem yang memonitor denyut nadi atau menghapus memori kolektif demi "stabilitas sosial." Setiap manusia di bawah sana bebas untuk memili
Kakek Fasyad tidak ingin di hantui sejarah masa lalu. Dia menarik Malik dan Zhafirah ke dalam pusaran dimensi ruang dan waktu. Ya, hanya untuk satu kali. Satu pertemuan, satu kalimat untuk mengucapkan perpisahan. Satu kata untuk arti kata tanggung jawab ayah ke Malik dan Zhafirah. Kapsul keperakan itu melesat menembus lorong cahaya yang tidak memiliki bentuk tetap, kadang menyerupai terowongan berputar, kadang menyerupai ruang hampa yang dipenuhi bintang-bintang yang belum pernah tercipta. Malik menggenggam tangan Zhafirah erat, merasakan tubuhnya seolah ditarik ke segala arah sekaligus, namun anehnya tidak merasakan sakit, hanya sensasi aneh seperti mengambang di antara detak jantung waktu itu sendiri. "Di mana kita?" bisik Zhafirah, matanya menatap keluar jendela kapsul yang menampilkan pemandangan yang tak terjelaskan oleh kata-kata dan manusia—warna-warna yang tidak memiliki nama, bentuk-bentuk yang berubah sebelum mata sempat mengenalinya. "Kita berada di antara," jaw
Gabungan dari sisa kelompok Rangga yang memilih tinggal, keluarga Wira dan Rani yang kini tersenyum lebih sering, Bram yang menjadi kepala keamanan tidak resmi, dan dua wajah baru yang datang mengembara dari lembah tetangga tak lama setelah kabar tentang, "Keajaiban di lembah selatan" tersebar. seorang pemuda bernama Bintang, mantan teknisi kapal penjelajah yang jago mengulik logam tua menjadi alat berguna, dan seorang wanita muda periang bernama Jecky, dulunya penari upacara dari dimensi yang telah lama runtuh, kini menjadi salah satu penjaga ladang paling gigih di lembah. Malik berdiri di atas menara pengawas, matanya menatap ladang yang kini membentang jauh lebih luas dari yang pernah ia bayangkan. Zhafirah mendekat, membawa dua cangkir air hangat seperti kebiasaan lama mereka, menyandarkan kepalanya di bahu Malik. "Damai," gumamnya. "Sudah lama sekali rasanya sejak kita merasakan ini." Malik mengecup puncak kepala istrinya, namun matanya tetap waspada, sebuah kebiasaan
Garis melengkung yang tadinya membiaskan cahaya matahari murni kini terpilin cepat, mengeluarkan derit frekuensi ultra-tinggi yang mengocok isi perut. Dunia di balik cahaya dan ruang kosong tanpa batas yang menyimpan kristal-kristal memori peradaban, mulai bergetar secara struktural. Riak-riak air cair yang menjadi lantai ruang tersebut pecah menjadi gelombang mikro yang liar. Dinding-dinding pualam imajiner yang membatasi ruang pengamatan terkelupas, menyemburkan serpihan radiasi kuantum ke segala arah. Struktur kosmologi yang dibangun oleh para Pengamat selama berabad-abad tak lagi sanggup menahan beban dari jutaan garis waktu yang mendadak dilepaskan dari ikatan Mesin Penentu. Pusat Pengamatan Mulai Hancur. CRACK-BOOOOOOM! Di dalam katedral cahaya tempat kesadaran kolektif Pengamat melayang, kristal-kristal cair yang menyimpan rekaman sejarah dari berbagai galaksi pecah berhamburan bagai hujan kaca kosmik. Pilar-pilar energi yang selama ribuan era menyalurkan data pema







