공유

BAB 2

작가: Apiz
last update 게시일: 2026-05-24 13:01:42

Di permukaan, seorang ilmuwan yang bernama Rajendra, terlihat sedang memberi arahan ke semua prajuritnya. Dengan sekali tunjuk, drone ciptaannya mengudara keluar dari balik kastilnya. 

Ya, dialah penguasa tunggal sekaligus presiden. Dia berhasil mengambil alih sistem pemerintahan pusat.

Berkat kecerdasannya serta bantuan dari pendukungnya, Rajendra berkuasa penuh atas jalannya kebijakan serta alokasi anggaran pemerintahan.

Di masa kepemimpinan yang sudah berjalan selama lima dekade, Rajendra berhasil membuat dom magnet serta pasukan minnerX lapis baja. Sebuah robot bertekhnologi quantum.

Rajendra telah banyak menciptakan penemuan, diantaranya adalah cleniX. Manusia setengah zombie yang tercipta dari mutasi virus.

Tak berhenti sampai disana, Rajendra memutus seluruh akses dengan negara lain. Arus komunikasi dunia luar dikendalikan sepenuhnya.

Tak ada yang berhasil keluar, dan belum ada yang berhasil merebut kekuasaannya.

Sayangnya hari itu pemandangan di langit, tampak DOM X telah menggangu ketenangannya.

Dari celah teropong yang mengarah ke atas langit, dia melihat ada ratusan roket yang bertubi-tubi meledakkan perisai pelindung tersebut.

Semakin lama pemandangan itu, makin membuatnya cemas. Dia segera menempelkan penglihatannya lebih lekat ke bilah teropong itu. Rasa was was mulai memenuhi pikirannya. Dengan senyumnya yang merekah, Rajendra merasa bangga akan semua mahakarya yang telah diciptakannya.

“Tuan memang jenius!” ucap sang adjudan menatapnya bangga.

Masih tetap mengamati seisi langit yang di warnai oleh drone ciptaannya. Rajendra meratap kembali ke masa lalu. Masa titik balik hidupnya.

Saat usianya baru dua puluh tahun, dunia sedang berlutut di hadapan pandemi yang melumpuhkan global. Di saat para ilmuwan senior di seluruh dunia terjebak dalam birokrasi dan metodologi yang lambat, sekelompok peneliti muda mempublikasikan sebuah jurnal radikal tentang rekayasa genetika molekuler.

Di puncak kepemimpinan tim kecil itu adalah Rajendra, seorang mahasiswa genius yang melompati empat tahun masa studinya dalam waktu singkat.

Rajendra adalah ilmuwan muda jenius. Berkat kecerdasan yang dimiliki, dia berhasil mengisolasi untaian protein esensial dan menciptakan serum yang menundukkan Covid-20 hanya dalam waktu beberapa bulan. Ketika mutasi mematikan berikutnya, Varian T01, muncul dan mulai melelehkan jaringan paru-paru korbannya dalam hitungan jam, Rajendra kembali berdiri di garis depan.

Kesehariannya jarang menikmati isthirahat selayaknya manusia normal pada umumnya. Selama berminggu-minggu, dia menyuntikkan purwarupa vaksin ke tubuhnya sendiri untuk membuktikan keamanannya, hingga berhasil menyelamatkan jutaan nyawa.

Sisa-sisa pemerinta kala itu telah kehilangan sebagian besar pejabat tinggi akibat gelombang pertama T01, memberikan hak istimewa dan kepercayaan penuh tanpa batas kepada Rajendra. Apapun yang diminta; dana, laboratorium, wilayah kebal hukum, langsung dikabulkan.

Namun, sains tidak bisa menyembuhkan keserakahan hasrat yang terpendam sejak lama. Genetik peradapan kuno tentang sifat dasar kebinatangan yang melekat pada diri Rajendra.

Ketika dunia mulai pulih berkat serum buatannya, aliansi militer global dan korporasi multinasional mulai menuntut hak paten atas formula Rajendra.

Rajendra bukannya tidak memahami semua politik carut marut yang terjadi. Karena itulah, dia selalu sibuk menonton monopoli distribusi anti virus menjadikannya komoditas politik, serta meminta untuk membatasi akses bagi negara-negara miskin. Saling sikut antarnegara adidaya memicu konflik geopolitik baru yang lebih kotor.  

Dengan kelihaiannya, Rajendra sengaja membocori tangki limbah kimia. Inilah titik awal sabotase perang mulai mencemari sumber-sumber air utama di Asia. Patogen baru yang tidak bisa disembuhkan bahkan dengan teknologi mutahkir.

Rajendra menyaksikan semua itu dari balik meja laboratoriumnya. Dia melihat anak-anak yang ia selamatkan dari Varian T01 kini mati kelaparan dan keracunan air di jalanan karena perang perebutan hak paten vaksinnya.

"Persis seperti beberapa dekade yang terlewati. Mereka tidak pantas diselamatkan. Hanya yang kuat yang akan bertahan." kalimat pendek yang selalu tertanam kuat dalam diri Rajendra.

Saat misil-misil itu menyentuh atmosfer di atas kota, jaringan satelit mikro aktif. Medan magnet raksasa berputar dalam kecepatan sub-atomik, menciptakan apa yang kini dikenal sebagai Dom Magnetik.

Ledakan misil terjadi di udara, namun alih-alih menghancurkan, energi kinetik dan gelombang termal dari ledakan tersebut justru diserap seluruhnya oleh dinding energi Dom. Fluks magnetik membalikkan momentum ledakan, mengubah energi destruktif tersebut menjadi daya listrik murni yang dialirkan kembali untuk memperkuat kepadatan dinding energi Dom itu sendiri.

"Semakin keras mereka menyerang, semakin kuat kubah itu melindungi diri." Urainya saat sesaat setelah serangan itu gagal mengoyak oertahanan dom magnetik.

Seringai senyum ekspresi itu menandakan kepuasan Rajendra akan ciptaannya yang berhasil menghalau ratusan rudal diatas langit. Juga keberhasilannya atas bertahun masa kepimpinannya sebagai penguasa tunggal.

Di halaman kastil megah, tepatnya di halaman teras yang membentang luas, Rajendra mengamati dengan teliti dibalik teropong Xray.

Tangannya cekatan dan langsung melempar jauh teropong yang dipegangnya. Sangat jauh hingga dalam sekejap teropong itu menghilang tak terlihat lagi.

"Betapa bodohnya!Ribuan misil yang ditembakkan itu, tidak akan bisa menembus DOM X, dasar bodoh!!" ujarnya seraya terus merutuki misil yang gagal menembus. Langit terus menerus bergetar, menciptakan warna keemasan.

"Terbaik tuan! Sungguh jenius." katanya kembali dari seorang lelaki tua, dengan postur badannya yang bungkuk udang.

Lelaki tua itu bernama William. Salah seorang yang sangat dipercaya. Rajendra biasa menyebutnya Will.

"Segera terbangkan drone T-Bone. Halau semua misil pengganggu itu. Setelah selesai, targetkan semua drone perusak itu ketempat para tikus got bersembunyi!"

"Baik tuan. Tetapi, menurut hemat saya. Jika kita mentargetkan ke area tikus got... itu akan mengganggu pasokan listrik. Semua sistem otomatis akan berhenti berfungsi, jika tuan meledakkan EV Towers tersebut." Tuturnya terbata, penuh hormat.

"Bodoh.. (Meninggi) Bukankah kemarin you bilang kita sudah masuk tahap akhir perkembangan power supply terbesar? Kemana semua formula yang sudah saya berikan?" bentak Rajendra dengan nada tinggi, seraya menarik kerah baju Will, geram.

"Bb, begini tuan. Tahap akhir yang dimaksud itu adalah riset  keseluruhan sistem. Iini akan memakan waktu berkisar satu jam. Kita harus mematikan seluruh sistem dan menggantikannya dengan power station baru."

"Saya tidak perduli dengan semua itu! Segera lakukan semua yang saya perintahkan kurang dari sepuluh menit!! Mengerti!!" Tegas Rajendra sambil merapihkan tatanan rambutnya yang selalu tampil klimis.

Dengan electric otoped maha karya ciptaannya, Rajendra segera berlalu pergi dari pandangan Will tanpa sepatah kata pun.

"Ttuuann. tunggu, tunggu tuan!! Akhh, Bagaimana ini, sepuluh menit? Sudahlah."

Dari balik saku jaket kulit, dia keluarkan transmitter yang tersambung langsung dengan ratusan drone T-Bone.

Di gudang, T-Bone yang berukuran mini dalam sekejap mulai bereaksi. Ratusan mesin meraung, raung dengan sangar. Suara mesin pembunuh yang siap memangsa lawan.

Pintu gerbang gudang drone perlahan terbuka. Drone itu segera mengudara, dan langsung pergi menuju titik koordinat yang diperintahkan Rajendra.

Dalam sekejap, langit berubah warna semakin keemasan. Hantaman drone dan rudal menggetarkan DOM X. Suara nyaring bagai gesekan biola kematian.

Dalam satu malam, kota metropolitan dengan jumlah penduduk terpadat di dunia itu berubah total dan menghilang dari peta digital dunia. Kota itu menjadi sebuah pulau keheningan yang terisolasi di bawah pelindung yang tak tertembus.

Sang penyelamat telah resmi menjadi sang Tiran.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 30

    Rasa sakit yang jujur itu mendadak terenggut oleh getaran seismik yang maha dahsyat. Tanah gembur tempat Malik dan Zhafirah terkapar tidak lagi sekadar bergeser, melainkan berguncang hebat seolah-olah fondasi bumi sedang dicabut dari akarnya. Pendaran putih keemasan yang baru saja mereka kira sebagai fajar kebebasan mendadak terdistorsi, memelintir menjadi warna merah menyala yang pekat dan berbau sulfur tajam."Malik! Ini belum berakhir!" jerit Zhafirah, kuku-kukunya mencengkeram reruntuhan beton saat tubuhnya nyaris terlempar ke dalam celah menganga yang baru saja membelah lantai silinder.Di atas mereka, di tengah runtuhnya reaktor inti, tubuh Madam Amy yang sempat retak tidak hancur. Justru, retakan di kulit porselennya memancarkan lava digital berwarna jingga pekat. Rajendra berdiri di belakangnya, eksoskeletonnya telah meleleh dan menyatu dengan panel kendali darurat yang tersembunyi di dinding magma baja. Setengah wajah manusianya yang tersisa kini terkunci dalam seringai kegil

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 29

    Langkah kaki Malik terasa begitu ringan di atas hamparan rumput yang basah oleh embun pagi. Angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah gembur dan kehidupan baru yang sangat menenangkan. Di sampingnya, Zhafirah tersenyum lebar, membiarkan jemarinya bertautan erat dengan jemari Malik. Dunia luar yang mereka mimpikan, sebuah bumi yang bersih, hijau, dan bebas dari belenggu logam, kini terbentang sejauh mata memandang."Rasanya seperti mimpi, Malik," bisik Zhafirah, suaranya bergetar oleh kebahagiaan yang selama ini tabu untuk mereka rasakan. "Matahari ini... rasanya begitu hangat di kulitku."Malik menghentikan langkahnya. Ia menatap Zhafirah, lalu beralih menatap telapak tangannya sendiri yang bersih tanpa cacat luka bakar. Sesuatu yang ganjil mendadak melintas di sudut terjauh logikanya. Kehangatan ini. Sinar matahari fajar itu memapar kulitnya dengan intensitas yang sangat stabil. Terlalu stabil. Tidak ada fluktuasi angin yang alami. Tidak ada partikel debu sekecil apa pun yang mengganggu

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 28

    Napas Malik terasa sangat tipis, nyaris tak kentara di balik dada bidangnya yang dipenuhi luka bakar akibat radiasi plasma. Zhafirah berlutut di atas tanah yang perlahan mulai mendingin, mendekap kepala Malik di pangkuannya. Tangannya gemetar hebat. Sisa-sisa air mata mengalir di pipinya yang kotor oleh debu mesosfer, membasuh luka goresan yang didapatnya selama pertempuran akhir melawan MinnerX00.Di atas mereka, langit bersalin rupa. Jutaan fragmen cahaya putih keemasan—sisa-sisa dari kesadaran Rajendra yang telah terbebas dari belenggu kecerdasan buatan korup, turun seperti salju musim semi yang hangat. Setiap kali partikel cahaya itu menyentuh tanah, kegelapan dan karat logam yang meracuni bumi selama dua abad luruh, digantikan oleh tunas-tunas hijau yang membelah permukaan fana."Malik... demi Tuhan, bertahanlah," bisik Zhafirah, suaranya parau, pecah oleh keputusasaan. "Kubahnya sudah hancur. Rajendra sudah bebas. Kita menang, Malik. Jangan tinggalkan aku sekarang!"Malik membu

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 27

    Suasana di dalam Null-Zone semakin bergetar hebat. Pita aurora merah darah yang bergulung di atas kepala mereka mulai memilin diri, membentuk pusaran pusaran energi kinetik yang siap melemparkan kembali kedua remaja itu ke dalam realitas yang hancur.Kakek Fasyad mengangkat tongkat resonator sub-atomnya tinggi-tinggi. Pendar cahaya perak mulai merambat naik dari ujung kakinya, sebuah pertanda bahwa energi trans-dimensi miliknya sudah mencapai batas maksimal untuk mempertahankan mereka di ruang sunyi ini."Tunggu, Kakek! Jangan usir kami dulu!" teriak Malik, suaranya parau menembus dengungan kosmik yang kian memekakkan telinga.Malik melangkah maju, mencengkeram lengan jubah kuantum Kakek Fasyad. Genggamannya begitu erat, menyalurkan rasa penasaran yang amat besar sekaligus keputusasaan yang membakar dadanya. Ada satu potongan teka-teki yang terasa janggal, sebuah nama yang menjadi poros dari seluruh kiamat plasma yang baru saja mereka saksikan di dimensi luar."Kakek belum menceritaka

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 26

    Kilatan itu merobek realitas. Suara ledakannya begitu dahsyat hingga berubah menjadi keheningan absolut yang memekakkan telinga. Gelombang kejut berdaya ledak besar milik MinnerX00 memancar keluar, siap mengatomisasi apa saja yang tersisa dalam radius puluhan kilometer. Zhafirah bisa merasakan molekul tubuhnya mulai meregang, bersiap melebur bersama partikel plasma yang membakar atmosfer. Di dekatnya, Malik yang masih terluka parah hanya bisa membelalakkan mata, menanti akhir dari takdir mereka.Namun, tepat sebelum maut merenggut kesadaran mereka, sebuah retakan dimensi vertikal terbuka di udara.Dari dalam celah kosmik itu, muncul sesosok pria tua dengan jubah berteknologi jalinan serat quantum yang berpendar redup. Kakek Fasyad. Sosok misterius yang dulu hadir saat masa kritis Malik, kembali menembus pembatas ruang dan waktu. Dengan satu entakan tongkat resonator sub-atom miliknya, Kakek Fasyad membalikkan vektor tekanan gelombang kejut plasma. Sebuah kubah pelindung transparan mem

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab25

    Zhafirah langsung terjerembab ke dalam ruang gelap yang dingin, memuntahkan cairan bening bercampur bercak darah ke permukaan logam. Monitor bio-metrik di dadanya berkedip liar, memancarkan bunyi sensor berfrekuensi tinggi yang memekakkan telinga. Angka indikator sinkronisasi sarafnya merosot tajam ke zona merah di bawah 15 persen."Zhafirah!" Timothy berlutut cepat, jemarinya menari di atas panel pergelangan tangan Zhafirah untuk menyuntikkan serum penstabil sinapsis. "Jangan memaksakan diri! Otakmu mengalami overload memori karena paksaan integrasi Zirah Aoro!""Malik..." Zhafirah mencengkeram kerah jaket Timothy, matanya membelalak dipenuhi ketakutan yang murni. "Kau tidak mengerti... MinnerX00 bukan sekadar robot. Rajendra menanamkan kesadaran kolektif distopia ke dalamnya. Malik... Malik tidak akan selamat tanpa pasokan daya inti dari zirah ini!"Di atas permukaan, hujan abu besi turun menyelimuti permukaan kota bawah tanah yang perlahan hancur total.Malik terengah-engah, berlu

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status