Share

Rebellion Underground, Ghost Town
Rebellion Underground, Ghost Town
Author: Apiz

BAB 1

Author: Apiz
last update publish date: 2026-05-24 12:56:52

Dunia berakhir dengan desis panjang udara beracun yang meloloskan diri dari katup tabung respirator yang retak, diikuti oleh keheningan panjang yang mengutuk. Pekik panjang melolong, menembus dinding kebekuan. Tangisan tak terdengar lagi. Sunyi selalu bersahabat dalam tiap titian langkah menyambung kehidupan.

Era kegelapan di mulai. Sisa-sisa peradaban manusia merangkak masuk ke dalam kerak bumi, membangun sisa-sisa harapan. Selamat datang di zaman harapan, sebuah epos panjang di mana garis cakrawala tidak lagi menyajikan binar biru fajar atau keemasan senja. Kemarau tak bertepi menggugurkan semua helai daun yang rontok terus menerus. Gas beracun, deru mesin pembunuh terdengar nyaring di seluruh pelosok.

Di atas puing-puing reruntuhan yang rata dengan tanah, langit menggantung bagaikan lembaran tembaga yang membusuk. Kuning berkarat, pekat, dan pejal akibat akumulasi polusi senyawa kimia berat serta mutasi tanpa akhir dari Virus Max, atau yang di dalam gelapnya bunker lebih sering dibisikkan sebagai Virus T.

Semua mimpi buruk ini berakar dari abad-abad lampau, ketika virus purba, Covid-19 menolak untuk punah dan terus mengecoh rantai genetika sains manusia. Manusia bereksperimen berbekal intelektual tanpa batas. Hasilnya, hanya ruang kosong yang justru membuat virus berubah semakin ganas.

Saat populasi dunia menyusut hingga ke titik nadir dan keputusasaan global berada di puncak tertinggi, pemerintah dari berbagai belahan benua mengambil langkah paling fatal dalam sejarah. Menyerahkan kendali mutlak peradaban kepada para ilmuwan dan menyetujui seluruh proyek penyemprotan disinfektan kimia massal berbasis rekayasa genetika. Roda kendali berpindah tangan dalam seketika. Ilmuwan menjadi sang penentu masa depan.

Rencana awalnya adalah memurnikan atmosfer. Namun, sains tanpa kebijaksanaan melahirkan monster. Zat kimia itu justru mengikat diri pada struktur Virus T, bermutasi menjadi partikel yang jauh lebih agresif.

Virus T yang baru tidak lagi sekadar menular lewat droplet. Virus ini menguasai udara, merasap lewat sentuhan kulit, bahkan hidup di dalam cairan disinfektan yang harusnya membunuhnya.

Dalam hitungan bulan, perekonomian dunia lumpuh total. Semakin mengerikan dengan residu kimia yang meracuni lapisan hidrosfer dan memusnahkan seluruh mikroba penyubur di dalam tanah. Bumi berubah menjadi media gersang raksasa. Tanah menolak akar, menolak biji, dan menolak kehidupan vegetasi. Tanaman mati, dan bersama matinya pasokan oksigen secara menyeluruh. Ekosistem makanan manusia terputus.

Ketika permukaan bumi berubah menjadi neraka yang tidak bisa dihuni, seorang ilmuwan muda berusia 26 tahun bernama Rajendra dianggap sebagai penyelamat di negaranya. Pemerintah menaruh kepercayaan menyeluruh padanya.

Awalnya dianggap hanya dianggap sebagai pahlawan super, karena berhasil menciptakan serum penghambat varian virus terdahulu. Tetapi ternyata, kekuasaan yang tak terbatas merusak otaknya. Dengan tingkat keberanian yang tidak dimiliki manusia lain, Rajendra merelakan dirinya menjadi objek uji coba penangkal virus T.

Dari Sanalah perubahan Rajendra semakin menjadi ke arah yang mengancam populasi umat manusia.  Rajendra berkhianat pada mandat pemerintah, Rajendra mengurung pusat kota di dalam Dom Magnetik. Hasil penemuan gelombang elektromagnetik raksasa yang kebal terhadap gempuran misil taktis maupun hulu ledak nuklir.  Rajendra memutus seluruh jalur komunikasi luar, memonopoli sisa mata air bersih, dan memerintah selayaknya diktator tunggal.

Bagi mereka yang menolak bertekuk lutut menjadi budak laboratorium Rajendra, jalan satu-satunya untuk bertahan hidup adalah merangkak turun ke perut bumi, mengubur peradaban lama, dan membangun koloni mikro yang kini dikenal sebagai Kota Bawah Tanah.

Kegelapan di bawah kerak bumi tidak pernah benar-benar hitam. Kekuatan harapan mengubah segala hal yang semula tidak ada, menjadi layak ditinggali. Manusia yang berhasil selamat.

Secara arsitektural, struktur ini adalah mahakarya keputusasaan. Berbentuk prisma trapesium berlantai jamak yang menyerupai potongan sarang lebah raksasa, kota bawah tanah ini dibangun menggunakan dinding ganda berlapis timbal tebal seberat ribuan ton.

Lapisan timbal ini bukan untuk menahan bom, melainkan untuk menciptakan anomali pemantulan gelombang. Ketebalannya membuat kota bawah tanah secara kebal dari pemindaian radar quantum menara T dan denyut sensorik dom magnetik yang merayap di atas permukaan. Tempat ini adalah titik buta terbesar di peta dunia Rajendra. Sebuah sekoci penyelamat di jantung bumi.

Terletak tepat di bawah EHV Transmission Tower. Sebuah kota bawah tanah yang menghujam jauh hingga ratusan kilometer kedalamannya. Arsitekturnya berkesan jauh dari kesan modern, meski demikian tetap presisi serta layak untuk dihuni. Disana hanya ada dua pintu utama. Pintu sirkulasi udara dan pintu keluar-masuk. Sirkulasi udara juga sudah sangat memadai.

Seluruh ruangan terisi oleh anggota keluarga yang berhasil selamat. Diantara tempat itu, terdapat ruang persenjataan.

Penghuninya dipenuhi oleh lelaki dewasa dengan penampilan prajurit sederhana. Namun sama sekali jauh dari kesan militer, tanpa atribut militer, sebagaimana yang pernah tergambar di masa lalu.

Tidaklah berpakaian loreng, juga tidak memakai sepatu boots. Melainkan mengenakan pelindung badan yang menutup hampir keseluruhan badannya. Baju perang yang hanya menyisakan celah pada penglihatannya saja. Keseluruhan bahan dasar dari pelindung itu didominasi kayu. Begitu pula dengan penutup kepala yang digunakannya. Jika dari luar, keseluruhan menggunakan berbahan dasar kayu yang kuat dan kokoh. Pelindung badan yang mampu menangkal zat kimia, serta peredam laser berteknologi mutakhir.

Hari itu terlihat pemandangan para pasukan yang sudah berantakan, pasca peperangan besar. Para prajurit perang masih tetap dalam status siaga, mengantisipasi serangan minnerX, banyak terdengar raungan suara kesakitan. Serta nampak petugas medis yang lalu lalang membawa obat- 

obatan.

Diantara beberapa ruangan yang terisi. Terdapat ruangan kecil, berukuran 4x6 meter persegi, lengkap dengan anyaman dedaunan kering sebagai tempat tidur sang pemilik ruangan. Di tempat itu duduk seorang lelaki gagah dengan gadis cilik yang terlihat sedang mengamati coretan pada dinding yang terbuat dari tanah liat yang mengeras.

"Itu gambar apa, Papah? Kenapa aku tidak pernah melihat sebelumnya!"

Berkata seorang gadis mungil yang nampak usianya menginjak enam tahun.

Dari jemarinya yang lentik, dia elus tiap goresan kapur putih yang melekat di dinding baja perak berwarna karat usang dengan berpadu padan bahan serat kayu alami.

"Ini adalah lautan, nah kalau ini adalah ikan lumba-lumba, nak. Dahulu negeri kita tidaklah seperti sekarang. Tempat tinggal kita berdekatan dengan lautan. Itu, disana kamu bisa menemukan bintang laut, kerang mutiara, dan bermain di atas pasir halus sehalus kapas." Ucap sang Papah dengan lembut.

Belum lagi selesai menguraikan tiap perkataannya, tiba-tiba terdengar bunyi dentuman yang teramat keras. Spontan sang gadis memeluk erat tubuh papah.

Sirine panggilan siaga itu meraung- raung dengan lantang. Berulangkali tak berhenti sedikit pun.

Lelaki setengah baya itu mengusap dahi gadis ciliknya penuh sayang.

"Tidurlah Nak.. Papah harus menjalankan tugas. Kita aman berada disini."

Diciumnya kening gadis itu penuh cinta sambil bergegas menuju ke arah sumber suara sirine yang memanggil.

"Pah!" Sang papah perlahan hilang dari pandangannya. Membawa berjuta misteri lewat tatapan terahkirnya.

Gemuruh suara langkah pejuang kota bawah tanah memenuhi seisi ruang. Semua tampak menuju ke sebuah ruang. Ruang yang harus dilewati untuk sampai ke garis terdepan pintu keluar kota. Batas antara kematian dan harapan akan hari esok.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 125

    Satu tahun berlalu sejak malam ketika Sang Pengamat menutup arsipnya dan IRA meredup menjadi kenangan hijau yang tenang di dalam fasilitas bawah tanah. Kota kecil di lembah selatan terus tumbuh, gemerlap oleh lampu-lampu sederhana yang menyala setiap malam, ditenagai oleh kincir air yang dirancang Dr. Anya bersama beberapa pemuda kota yang tertarik mempelajari mekanika tanpa harus bergantung pada teknologi tinggi yang berbahaya. Musim semi baru saja tiba, dan seluruh lembah dipenuhi bunga-bunga liar yang mekar serentak, seolah alam sendiri ikut merayakan satu tahun kedamaian yang belum pernah mereka rasakan sepanjang hidup mereka. Malik berdiri di menara pengawas yang kini telah diperbaharui menjadi bangunan batu yang lebih kokoh, matanya menyusuri lembah yang damai, sesuatu yang dulu terasa seperti mimpi mustahil. Zhafirah menaiki tangga menuju menara, membawa dua cangkir teh herbal hangat, kebiasaan pagi mereka yang tidak pernah berubah sejak fajar pertama di dunia ini.

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 124

    Angin sore yang bertiup di atas bukit Anaphalis javanica mendadak membeku ketika layar monokrom kecil di tangan Zhafirah memancarkan cahaya biru pudar. Di atas permukaan kaca kecil itu, barisan kode data bukan lagi sekadar teks acak, melainkan membentuk sebuah pola geometri yang sangat dikenal oleh siapa pun yang pernah hidup di masa-masa kelam perang dunia lama. Tiga garis paralel vertikal. Simbol Ira. Malik menatap layar itu dengan napas tertahan. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena ketakutan, melainkan oleh kejut yang teramat sangat. Di bawah bukit, kota baru manusia dan mesin beroperasi dalam harmoni yang tenang, tanpa ada yang menyadari bahwa masa lalu yang dikira telah terkubur rapat kini mengetuk pintu realitas mereka kembali. "IRA.." bisik Malik nyaris tanpa suara. "Kupikir inti kesadarannya telah terurai total ketika kita menghancurkan jaringan pusat lima tahun lalu." Zhafirah tidak langsung menjawab. Ia mematikan perangkat tersebut, tetapi simbol tiga garis itu

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 123

    Dari ketinggian bukit itu, pemandangan di lembah bawah terbentang luas bagaikan lukisan kehidupan yang dinamis. Tidak ada lagi menara pencakar langit monolitik berpelapis bio-polimer yang menjulang angkuh, mencoba mengontrol cuaca dan pikiran warga dari atas sana. Kota baru itu dibangun dengan kerendahan hati dan kebijaksanaan. Rumah-rumah penduduk berdiri selaras dengan kontur alam, terbuat dari batu-batu lokal dan kayu yang tumbuh berkelanjutan. Di jalan-jalan setapak yang bersih, manusia dan mesin bekerja berdampingan dalam harmoni yang setara. Mesin-mesin otonom—keturunan dari jaringan yang dulu dipelopori oleh Echo—bergerak membantu mengolah daur ulang limbah organik, merawat hutan kota, dan membangun infrastruktur air bersih tanpa pernah menuntut kepatuhan atau memprogram ulang emosi warganya. Tidak ada menara penguasa. Tidak ada lagi sistem yang memonitor denyut nadi atau menghapus memori kolektif demi "stabilitas sosial." Setiap manusia di bawah sana bebas untuk memili

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 122

    Kakek Fasyad tidak ingin di hantui sejarah masa lalu. Dia menarik Malik dan Zhafirah ke dalam pusaran dimensi ruang dan waktu. Ya, hanya untuk satu kali. Satu pertemuan, satu kalimat untuk mengucapkan perpisahan. Satu kata untuk arti kata tanggung jawab ayah ke Malik dan Zhafirah. Kapsul keperakan itu melesat menembus lorong cahaya yang tidak memiliki bentuk tetap, kadang menyerupai terowongan berputar, kadang menyerupai ruang hampa yang dipenuhi bintang-bintang yang belum pernah tercipta. Malik menggenggam tangan Zhafirah erat, merasakan tubuhnya seolah ditarik ke segala arah sekaligus, namun anehnya tidak merasakan sakit, hanya sensasi aneh seperti mengambang di antara detak jantung waktu itu sendiri. "Di mana kita?" bisik Zhafirah, matanya menatap keluar jendela kapsul yang menampilkan pemandangan yang tak terjelaskan oleh kata-kata dan manusia—warna-warna yang tidak memiliki nama, bentuk-bentuk yang berubah sebelum mata sempat mengenalinya. "Kita berada di antara," jaw

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 121

    Gabungan dari sisa kelompok Rangga yang memilih tinggal, keluarga Wira dan Rani yang kini tersenyum lebih sering, Bram yang menjadi kepala keamanan tidak resmi, dan dua wajah baru yang datang mengembara dari lembah tetangga tak lama setelah kabar tentang, "Keajaiban di lembah selatan" tersebar. seorang pemuda bernama Bintang, mantan teknisi kapal penjelajah yang jago mengulik logam tua menjadi alat berguna, dan seorang wanita muda periang bernama Jecky, dulunya penari upacara dari dimensi yang telah lama runtuh, kini menjadi salah satu penjaga ladang paling gigih di lembah. Malik berdiri di atas menara pengawas, matanya menatap ladang yang kini membentang jauh lebih luas dari yang pernah ia bayangkan. Zhafirah mendekat, membawa dua cangkir air hangat seperti kebiasaan lama mereka, menyandarkan kepalanya di bahu Malik. "Damai," gumamnya. "Sudah lama sekali rasanya sejak kita merasakan ini." Malik mengecup puncak kepala istrinya, namun matanya tetap waspada, sebuah kebiasaan

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 120

    Garis melengkung yang tadinya membiaskan cahaya matahari murni kini terpilin cepat, mengeluarkan derit frekuensi ultra-tinggi yang mengocok isi perut. Dunia di balik cahaya dan ruang kosong tanpa batas yang menyimpan kristal-kristal memori peradaban, mulai bergetar secara struktural. Riak-riak air cair yang menjadi lantai ruang tersebut pecah menjadi gelombang mikro yang liar. Dinding-dinding pualam imajiner yang membatasi ruang pengamatan terkelupas, menyemburkan serpihan radiasi kuantum ke segala arah. Struktur kosmologi yang dibangun oleh para Pengamat selama berabad-abad tak lagi sanggup menahan beban dari jutaan garis waktu yang mendadak dilepaskan dari ikatan Mesin Penentu. Pusat Pengamatan Mulai Hancur. CRACK-BOOOOOOM! Di dalam katedral cahaya tempat kesadaran kolektif Pengamat melayang, kristal-kristal cair yang menyimpan rekaman sejarah dari berbagai galaksi pecah berhamburan bagai hujan kaca kosmik. Pilar-pilar energi yang selama ribuan era menyalurkan data pema

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status