Compartilhar

Bab 3

Autor: Apiz
last update Data de publicação: 2026-05-24 13:30:52

Suara derap kaki para pejuang mulai memenuhi seisi kota bawah tanah. Langkah itu mulai berhenti, manakala sudah berada disebuah ruang persenjataan, berbentuk persegi.

Senjata yang ada disana bukan senjata modern biasa, tapi keseluruhan senjata yang sudah di custom sedemikian rupa. Terhindar dari radar infraX. Diantaranya seperti busur panah, tombak, senapan tiup, perisai kayu dan puluhan bilah pedang cakra serta lentera badai.

Dalam kurang dari satu menit, para pejuang berkumpul dengan teratur. Mereka semua siap siaga menerima arahan dari jendral perang, sekaligus pemimpin kota bawah tanah.

Ya, dialah Malik, seorang pemimpin muda di kota bawah tanah. Berpostur tubuh atletis, dengan paras wajahnya yang teduh namun tidak menghilangkan wibawa selayaknya pemimpin sejati. Begitu pula dengan tutur katanya lembut saat menyampaikan instruksi ke semua pasukan.

Bersamaan dengan suara dentuman rudal yang kian menjadi, Malik berusaha tetap fokus memberi arahan dengan cepat, detail dan akurat.

"Saya lihat sudah lengkap semua disini!"

Beberapa pasukan nampak mengangguk seraya menengok ke kanan-kiri. Memastikan semua pasukan sudah lengkap.

"Jika ada yang ingin dikatakan. Silahkan!"

"Begini, Malik! Saya sebagai perwakilan dari para tetua ingin menyampaikan beberapa informasi penting." tutur Tara, seorang pejuang yang selalu melindungi Malik dalam setiap pertempuran.

"Teruskan.. Kita sudah sepakat untuk berjuang atas dasar kesepakatan bersama."

"Tak lama setelah kita memenangkan pertempuran sengit melawan MinnerX. Saya mendapati seseorang lelaki yang seumuran. Tak jauh dari medan pertempuran. Lelaki itu menyampaikan keinginan untuk segera bergabung?!"

"Maksudnya, ada kehidupan selain di kota bawah tanah? Ini kabar baik." balas Malik dengan terkejut mendengarnya.

"Ya, sepertinya memang demikian. Jadi kita harus segera menelusuri kebenaran yang disampaikan lelaki tersebut."

"Itu tepat sekali.." belum selesai bicara, pasukan lainnya menimpali.

"Tapi kita tidak bisa membiarkan rudal sialan itu terus-menerus meledakkan area kota bawah tanah ini!"

"Tentu saja itu juga yang harus kita lakukan. Rudal itu tidak boleh terus menerus meledak di area pemukiman. Begini saja, kita bagi menjadi dua bagian. Saya bersama beberapa pasukan akan memimpin serangan balasan. Sementara tetua Raya akan menunjuk beberapa orang yang akan menyusuri kebenaran perkataan lelaki itu!"

"Itu ide bagus. Kalau begitu saya akan pilih lima orang yang akan menemani saya. Sedangkan yang lainnya, saya minta agar membantu Malik melawan serangan rudal-rudal tersebut. Untuk penyamaran, kita akan keluar melewati pintu sirkulasi udara."

"Jika tidak ada hal lain, segera kita lakukan misi ini. Bawa semua kebutuhan senjata yang diperlukan. Dan yang terpenting, tetap fokus jaga diri baik-baik. Kita harus tetap pulang hari ini."

Tak lama berselang, terdengar suara ledakkan besar dari sebuah rudal yang menghantam sisi atas ruangan tersebut.

"Ayo cepat! Kita lakukan serangan kali ini dengan tetap menggunakan perangkap lalu hancurkan!" ucap Malik tegas seraya berlalu keluar dari ruangan diikuti beberapa pukuh pasukan.

Dalam sekejap semua pejuang yang di pimpin Malik mulai keluar dari kota bawah tanah melalui satu pintu utama.

Malik memecahnya dengan dua bagian. Ada yang bergerak ke sisi sebelah kanan, lalu sisanya perlahan mengendap, seirama mengikuti aba-aba yang diberikan Malik.

Malik melangkah lambat keluar dari kota bawah tanah, lantas segera melintasi hamparan gurun aspal yang terbelah-belah menyerupai urat-urat hitam yang mati.

Di balik lapisan kaca tebal helmINX yang membungkus seluruh kepalanya, suara napasnya sendiri terdengar begitu dekat dan mekanis,

"Hshhh... Kuuuh... Hshhh."

Di atas permukaan, setiap desah napas adalah sebuah perjudian hidup dan mati. Udara di luar setelan pelindungnya adalah gas korosif murni yang mampu melelehkan dinding paru-paru dalam beberapa kali hirupan.

Malik memfokuskan pandangannya pada monitor kecil yang terproyeksi di sudut kiri matanya, memantau fluktuasi kadar oksigen sintetisnya yang tersisa tiga puluh persen.

Setelan hazmat polimer miliknya terasa berat, menekan pundaknya dengan beban ratusan kilogram tekanan atmosfer yang terkontaminasi.

Tanah di bawah sepatu bot titaniumnya berderit, hancur menjadi serpihan debu kering yang tak lagi mengandung air.

Malik tahu, di bawah lapisan aspal mati ini, beberapa kilometer ke dalam kegelapan batuan basalt, orang-orang klannya sedang menanti. Bertaruh untuk kemenangan, membawa pulang beberapa blok filter udara bekas atau komponen memori Quantum.

Langkah kaki Malik terhenti seketika ketika telinganya menangkap suara desis tajam dari arah kanannya, di balik reruntuhan beton yang dahulunya mungkin merupakan gedung kementerian.

Seorang pria paruh baya, seorang penjelajah liar, dilihat dari setelan hazmatnya yang penuh tambalan kasar, terlihat kehilangan keseimbangan. Pria itu tersandung tiang pancang yang mencuat dan jatuh terjerembab. Malapetaka terjadi dalam sepersekian detik, pelipis helmINX pria itu menghantam sudut tajam besi berkarat. Pria kekar berotot itu tak lain adalah Porta.

Krek.

Sebuah retakan kecil berbentuk jaring laba-laba menjalar cepat di permukaan kaca helmnya. Desis udara luar yang merembes masuk terdengar begitu nyata melalui frekuensi radio darurat yang terpasang otomatis pada setiap setelan pelindung.

"T-tolong! Katupku pecah, siapapun, tolong suplay oksigen!!" Suaranya merayap masuk ke dalam interkom helm Malik, parau, penuh kepanikan, dan gemetar karena teror.

Malik menegang. Otot-otot kakinya secara insting bergerak untuk mendekat, tetapi logikanya yang telah ditempa oleh tahun-tahun kematian segera mencengkeram kesadarannya. Jangan bergerak. Tetap diam.

Kepanikan ekstrem yang dialami adalah vonis mati seketika. Ketika detak jantungnya melonjak, metabolisme tubuhnya memaksa suhu internalnya naik.

Di era ini, radiasi panas tubuh manusia yang melonjak di tengah suhu udara permukaan yang dingin adalah suar suar yang menyala terang bagi predator mekanis yang menguasai kota mati.

Dari balik kegelapan lorong bawah tanah gedung yang runtuh, terdengar suara dengungan motor penggerak hidrolik yang berputar pada rotasi tertinggi. Suaranya mendecit, memotong kesunyian aspal bagai gergaji mesin.

“MinerX!”

Robot pemburu setinggi dua setengah meter itu meluncur keluar dari bayang-bayang menggunakan tiga roda penggerak titaniumnya. Kepalanya yang berbentuk modular berputar penuh 360 derajat tanpa henti, memindai lingkungan sekitar dengan sensor termal inframerah dan mikrofon akustik frekuensi tinggi.

Begitu sensornya menangkap lonjakan panas tubuh dan frekuensi kepanikan jantung dari pria yang terbaring di tanah, lensa kamera sentral MinerX berkedip, berubah warna dari biru hambar menjadi merah darah yang berpendar.

Tanpa ada jeda peringatan, MinerX melesat maju. Lengan mekanisnya yang berupa capit hidrolik seberat setengah ton menghantam dada pria itu dengan presisi yang mengerikan. Suara tulang rusuk yang patah berderak melalui interkom, disusul oleh erangan pendek yang langsung tersedak oleh darahnya sendiri.

Robot itu tidak memiliki rasa benci, tidak memiliki dendam; ia hanya seonggok program dingin yang disetel oleh Rajendra untuk membersihkan permukaan bumi dari manusia-manusia, "Tidak resmi sebagai mesin pembunuh." dianggap sebagai parasit pengonsumsi oksigen.

Bau besi dari darah segar yang merembes ke aspal segera memicu pergerakan di sudut gelap yang lain. Tanah di dekat reruntuhan tampak bergerak, dan dari celah-celah drainase kuno yang kering, beberapa makhluk merangkak keluar dengan gerakan patah-patah yang ganjil.

Mereka adalah Clenix. Manusia-manusia malang yang dahulunya tertangkap oleh pasukan Rajendra dan dijadikan subjek uji coba rekayasa genetika yang gagal.

Kulit mereka telah berubah menjadi lapisan keratin abu-abu yang melepuh, mata mereka buta karena terbakar radiasi Dom, dan rahang alami mereka telah dibongkar, digantikan dengan susunan gigi gergaji baja laboratorium yang bergerak maju-mundur secara mekanis. Makhluk-makhluk zombie hibrida ini mengeluarkan suara geraman parau, langsung berkerumun mengelilingi jasad yang baru saja dieksekusi oleh MinerX, mengais sisa daging dan komponen logam dengan rakus.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 30

    Rasa sakit yang jujur itu mendadak terenggut oleh getaran seismik yang maha dahsyat. Tanah gembur tempat Malik dan Zhafirah terkapar tidak lagi sekadar bergeser, melainkan berguncang hebat seolah-olah fondasi bumi sedang dicabut dari akarnya. Pendaran putih keemasan yang baru saja mereka kira sebagai fajar kebebasan mendadak terdistorsi, memelintir menjadi warna merah menyala yang pekat dan berbau sulfur tajam."Malik! Ini belum berakhir!" jerit Zhafirah, kuku-kukunya mencengkeram reruntuhan beton saat tubuhnya nyaris terlempar ke dalam celah menganga yang baru saja membelah lantai silinder.Di atas mereka, di tengah runtuhnya reaktor inti, tubuh Madam Amy yang sempat retak tidak hancur. Justru, retakan di kulit porselennya memancarkan lava digital berwarna jingga pekat. Rajendra berdiri di belakangnya, eksoskeletonnya telah meleleh dan menyatu dengan panel kendali darurat yang tersembunyi di dinding magma baja. Setengah wajah manusianya yang tersisa kini terkunci dalam seringai kegil

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 29

    Langkah kaki Malik terasa begitu ringan di atas hamparan rumput yang basah oleh embun pagi. Angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah gembur dan kehidupan baru yang sangat menenangkan. Di sampingnya, Zhafirah tersenyum lebar, membiarkan jemarinya bertautan erat dengan jemari Malik. Dunia luar yang mereka mimpikan, sebuah bumi yang bersih, hijau, dan bebas dari belenggu logam, kini terbentang sejauh mata memandang."Rasanya seperti mimpi, Malik," bisik Zhafirah, suaranya bergetar oleh kebahagiaan yang selama ini tabu untuk mereka rasakan. "Matahari ini... rasanya begitu hangat di kulitku."Malik menghentikan langkahnya. Ia menatap Zhafirah, lalu beralih menatap telapak tangannya sendiri yang bersih tanpa cacat luka bakar. Sesuatu yang ganjil mendadak melintas di sudut terjauh logikanya. Kehangatan ini. Sinar matahari fajar itu memapar kulitnya dengan intensitas yang sangat stabil. Terlalu stabil. Tidak ada fluktuasi angin yang alami. Tidak ada partikel debu sekecil apa pun yang mengganggu

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 28

    Napas Malik terasa sangat tipis, nyaris tak kentara di balik dada bidangnya yang dipenuhi luka bakar akibat radiasi plasma. Zhafirah berlutut di atas tanah yang perlahan mulai mendingin, mendekap kepala Malik di pangkuannya. Tangannya gemetar hebat. Sisa-sisa air mata mengalir di pipinya yang kotor oleh debu mesosfer, membasuh luka goresan yang didapatnya selama pertempuran akhir melawan MinnerX00.Di atas mereka, langit bersalin rupa. Jutaan fragmen cahaya putih keemasan—sisa-sisa dari kesadaran Rajendra yang telah terbebas dari belenggu kecerdasan buatan korup, turun seperti salju musim semi yang hangat. Setiap kali partikel cahaya itu menyentuh tanah, kegelapan dan karat logam yang meracuni bumi selama dua abad luruh, digantikan oleh tunas-tunas hijau yang membelah permukaan fana."Malik... demi Tuhan, bertahanlah," bisik Zhafirah, suaranya parau, pecah oleh keputusasaan. "Kubahnya sudah hancur. Rajendra sudah bebas. Kita menang, Malik. Jangan tinggalkan aku sekarang!"Malik membu

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 27

    Suasana di dalam Null-Zone semakin bergetar hebat. Pita aurora merah darah yang bergulung di atas kepala mereka mulai memilin diri, membentuk pusaran pusaran energi kinetik yang siap melemparkan kembali kedua remaja itu ke dalam realitas yang hancur.Kakek Fasyad mengangkat tongkat resonator sub-atomnya tinggi-tinggi. Pendar cahaya perak mulai merambat naik dari ujung kakinya, sebuah pertanda bahwa energi trans-dimensi miliknya sudah mencapai batas maksimal untuk mempertahankan mereka di ruang sunyi ini."Tunggu, Kakek! Jangan usir kami dulu!" teriak Malik, suaranya parau menembus dengungan kosmik yang kian memekakkan telinga.Malik melangkah maju, mencengkeram lengan jubah kuantum Kakek Fasyad. Genggamannya begitu erat, menyalurkan rasa penasaran yang amat besar sekaligus keputusasaan yang membakar dadanya. Ada satu potongan teka-teki yang terasa janggal, sebuah nama yang menjadi poros dari seluruh kiamat plasma yang baru saja mereka saksikan di dimensi luar."Kakek belum menceritaka

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab 26

    Kilatan itu merobek realitas. Suara ledakannya begitu dahsyat hingga berubah menjadi keheningan absolut yang memekakkan telinga. Gelombang kejut berdaya ledak besar milik MinnerX00 memancar keluar, siap mengatomisasi apa saja yang tersisa dalam radius puluhan kilometer. Zhafirah bisa merasakan molekul tubuhnya mulai meregang, bersiap melebur bersama partikel plasma yang membakar atmosfer. Di dekatnya, Malik yang masih terluka parah hanya bisa membelalakkan mata, menanti akhir dari takdir mereka.Namun, tepat sebelum maut merenggut kesadaran mereka, sebuah retakan dimensi vertikal terbuka di udara.Dari dalam celah kosmik itu, muncul sesosok pria tua dengan jubah berteknologi jalinan serat quantum yang berpendar redup. Kakek Fasyad. Sosok misterius yang dulu hadir saat masa kritis Malik, kembali menembus pembatas ruang dan waktu. Dengan satu entakan tongkat resonator sub-atom miliknya, Kakek Fasyad membalikkan vektor tekanan gelombang kejut plasma. Sebuah kubah pelindung transparan mem

  • Rebellion Underground, Ghost Town   Bab25

    Zhafirah langsung terjerembab ke dalam ruang gelap yang dingin, memuntahkan cairan bening bercampur bercak darah ke permukaan logam. Monitor bio-metrik di dadanya berkedip liar, memancarkan bunyi sensor berfrekuensi tinggi yang memekakkan telinga. Angka indikator sinkronisasi sarafnya merosot tajam ke zona merah di bawah 15 persen."Zhafirah!" Timothy berlutut cepat, jemarinya menari di atas panel pergelangan tangan Zhafirah untuk menyuntikkan serum penstabil sinapsis. "Jangan memaksakan diri! Otakmu mengalami overload memori karena paksaan integrasi Zirah Aoro!""Malik..." Zhafirah mencengkeram kerah jaket Timothy, matanya membelalak dipenuhi ketakutan yang murni. "Kau tidak mengerti... MinnerX00 bukan sekadar robot. Rajendra menanamkan kesadaran kolektif distopia ke dalamnya. Malik... Malik tidak akan selamat tanpa pasokan daya inti dari zirah ini!"Di atas permukaan, hujan abu besi turun menyelimuti permukaan kota bawah tanah yang perlahan hancur total.Malik terengah-engah, berlu

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status