LOGINKillian menjeda kalimatnya, membuat Lily menahan napas dengan harapan terakhir. "Kawal dia ke kamarnya. Segel pintunya. Besok pagi, kirimkan surat kepada Baron von Allen. "Katakan padanya bahwa putrinya telah melakukan pengkhianatan terhadap kedaulatan Eisenhardt. Dia akan diadili sesuai hukum Utara." "Tidak! Killian! Kau tidak bisa melakukan ini padaku!" teriak Lily saat para penjaga menyeretnya pergi. Suaranya melengking di tengah malam yang beku, namun tak ada satu pun orang yang menoleh padanya. "Killian, aku bersumpah! Kau pasti akan menyesal karena memilih perempuan itu ketimbang bangsamu sendiri!" Suara teriakan Lily yang meronta perlahan menjauh. Tenggelam di balik koridor batu yang dingin dan pengap. Menyisakan kesunyian yang mencekam di halaman benteng. Para ksatria masih berdiri mematung, menatap gundukan salju yang kini berwarna ungu kehitaman. Menjadi saksi bisu dari pengkhianatan yang nyaris menghancurkan harapan mereka. Seraphina menatap kepergian Lily de
Keheningan menyelimuti halaman benteng setelah ucapan tajam Seraphina meluncur. Lily, yang tadinya merasa di atas angin, mengerutkan kening. Senyum kemenangan Lady Allen sedikit memudar, digantikan oleh kilat kewaspadaan. "Apa maksudmu?" desis Lily, suaranya nyaris tertelan deru angin malam. Seraphina tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah perlahan kembali ke arah barisan ksatria. Kali ini, ia tidak menatap tangan mereka. Matanya yang ungu, setajam elang yang mengincar mangsa, menyisir bagian bawah jubah dan perlengkapan tambahan para ksatria. "Maxwell," panggil Seraphina lembut, namun nada suaranya membuat ksatria itu kembali menegang. "Ya, Lady?" "Berapa lama kalian beristirahat di kaki bukit sebelum memasuki gerbang utama?" Maxwell tampak berpikir sejenak. "Hanya sekitar lima belas menit, Lady. "Tuan Duke memerintahkan agar kami segera sampai sebelum badai turun." Seraphina mengangguk perlahan. Ia berhenti tepat di depan salah satu ksatria yang berada di barisan pa
Raut muka Lily menegang. Sorot matanya menatap Killian dengan tatapan pengharapan. "Apa maksudmu, Killian? Oakhaven? Aku tidak membawa apa pun dari sana!" Sementara Seraphina menyunggingkan senyum tipis, senyum yang tak pernah mencapai matanya.Perempuan itu melangkah mendekati Lily, hingga ujung gaun mereka bersentuhan di atas salju yang kotor. "Nona Allen, sebenarnya saya tak yakin sebelumnya. Tapi, begitu mendengar ucapan Tuan Duke, saya menyadari bahwa penciuman saya selalu benar," bisik Seraphina, suaranya cukup keras untuk didengar para ksatria. "Zat ini disebut Vitriol Ungu. Hanya diproduksi terbatas di wilayah Barat."Bukankah itu cukup dekat dengan perkebunan keluarga Allen? Dan baunya... sangat khas, seperti mawar yang membusuk." Wajah Lily memucat pasi. Sapu tangannya jatuh ke atas salju yang kini ternoda cairan hitam. "Kalau begitu, kita akan mencari tahu siapa pelakunya segera," lanjut Killian sembari memberi tanda pada para penjaga untuk mengurung area halaman.
Langit di atas Benteng Eisenhardt telah berubah menjadi ungu pekat yang mencekam saat rombongan Grand Duke Killian melintasi gerbang utama. Deru roda kereta yang berat di atas bebatuan kastil terdengar seperti guntur yang teredam. Namun, di balik kelelahan fisik para ksatria, ada ketegangan yang merambat lebih cepat daripada hawa dingin malam itu. Lily von Allen berdiri di teras utama, menggenggam sapu tangan sutranya dengan jemari yang gemetar karena kegembiraan yang meluap. Perempuan itu mengenakan gaun beludru paling megah yang ia miliki. Wajahnya dipulas rona merah yang tampak kontras dengan salju di sekitarnya. "Killian!" Lily berseru.Suaranya melengking riang, seolah perselisihan di balkon tempo hari tak pernah terjadi.Lily berlari kecil mendekati kuda Killian yang masih mendengus mengeluarkan uap panas. Killian turun dari pelana dengan gerakan efisien, namun segera mengangkat tangan untuk memberi jarak saat Lily mencoba mendekat. "Jangan sekarang, Lily. Kami baru saja
Rombongan Grand Duke Killian mulai melambat saat jalur setapak di hutan Pegunungan Kelabu semakin menyempit dan menanjak. Udara yang tipis membawa aroma belerang yang samar. Pertanda bahwa mereka sudah dekat dengan "kuali raksasa" tersembunyi itu. Seraphina memacu kudanya hingga sejajar dengan Killian. Mata ungu miliknya menatap lurus ke arah punggungan es di depan.Tempat di mana beberapa minggu lalu ia nyaris kehilangan nyawa di ujung tombak sang kepala suku. "Kau tampak jauh lebih tenang kali ini, Lady Seraphina," ucap Killian. Suaranya berat namun ada nada hangat yang terselip di sana. Pria itu melirik perempuan di sampingnya yang kini mengenakan jubah bulu serigala pemberian Duchess Sophia—sebuah kontras dari jubah tipis Selatan yang ia kenakan saat pertama kali mendaki gunung ini. "Tentu saja. Saya datang untuk menagih hasil, bukan untuk bernegosiasi dari titik nol, Tuan Duke," sahut Seraphina datar. Ia menepuk saku jubahnya. Tempat di mana bros perak keluarga Astrea yang
Sinar matahari pagi di dataran Utara tidak pernah benar-benar terasa hangat; ia hanya muncul sebagai pendar pucat yang memantul di atas hamparan salju abadi. Di halaman utama Benteng Eisenhardt, kesibukan pecah sejak fajar menyingsing. Puluhan kereta kuda bermuatan gandum, karung-karung umbi-umbian, peti kayu berisi pasokan obat-obatan herbal dan bahkan emas, telah berjajar rapi. Di sudut balkon lantai dua, Lily von Allen berdiri tersembunyi di balik pilar batu yang dingin."Kau boleh bangga dengan nama keluargamu, Lady. Tapi aku pasti akan menemukan celah kekuranganmu," bisik Lily pada dirinya sendiri.Matanya yang sembab menatap tajam ke arah sosok perempuan yang sedang memeriksa daftar logistik di tengah halaman. Seraphina von Astrea tampak begitu mencolok dengan jubah biru tua berhias bulu serigala perak. Tidak ada lagi gaun sutra tipis khas Selatan; ia telah sepenuhnya beradaptasi dengan fungsionalitas Utara. Namun keanggunannya tetap mengintimidasi."Kau mencari lawan yang
Berbeda dengan persiapan di wilayah Utara yang dibalut dalam ketenangan yang disiplin—di mana denting jarum Valeska dan bisikan strategi Killian menyatu dalam simfoni kerja sama yang anggun—hal sebaliknya justru terjadi di jantung ibu kota. Di Kastil Count Astrea, udara tidak membawa aroma kayu pi
Lampu kristal di aula makan Benteng Eisenhardt berpendar redup, memantulkan bayangan panjang di atas meja panjang yang terbuat dari kayu ek hitam. Suasana malam itu seharusnya menjadi momen perayaan—sebuah jamuan resmi untuk menyambut kembalinya rombongan dari Pegunungan Kelabu dengan kemenangan
Seraphina masih merasakan sisa panas di dahi dan lehernya saat Killian menarik diri. Atmosfer di dalam kamar itu mendadak menjadi sangat padat, seolah udara pun segan untuk mengalir di antara mereka. Namun, interupsi Cedric di balik pintu adalah lonceng realitas yang keras. Memutus benang tak kas
"Tuan Duke, ini tidak masuk akal—" "Biarkan dia bekerja, Max. Dia akan membayar harganya jika melakukan kesalahan," potong Killian dengan nada yang tidak menerima bantahan."Terima kasih," ucap Seraphina. Alih-alih takut, perempuan itu justru mengucapkan terima kasih?Duke Killian terpaku. Seraphi