Rebirth of the Wounded Luna

Rebirth of the Wounded Luna

last updateLast Updated : 2023-06-30
By:  victor chukwuCompleted
Language: English
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
124Chapters
4.5Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Aurora sacrificed everything for the love of her life, only to be rejected and left heart broken. Betrayed and alone, she seeks revenge against those who wronged her. But when her mate appears, she rejects him without a second thought. Alpha Damon determine to win her heart, discovers her true identity and vows to help her seek revenge. As they fight side by side, Aurora learns to trust and love again, and together they defeat their enemies and rule as equals. Don't miss out on this epic tale of love, betrayal and second chances.

View More

Chapter 1

Chapter One

Malam itu, hujan mengguyur tanpa henti. Kota tampak sunyi, kecuali suara deras air yang menghantam aspal dan gemericik yang memenuhi trotoar. Lampu jalan yang temaram menciptakan bayangan panjang di jalan-jalan sempit. Di sudut sebuah gang, seorang pria berdiri dengan napas terengah-engah, tubuhnya basah kuyup oleh hujan dan keringat.

Rafael.

Dulu ia adalah salah satu malaikat agung, penjaga cahaya, dengan sayap emas yang bersinar terang. Namun, malam ini, ia hanyalah seorang pria lemah tanpa sayap, berjuang untuk berdiri. Kulitnya terluka, dan di tangannya ia menggenggam sebuah tongkat kayu sederhana yang kini menjadi satu-satunya senjatanya.

"Kenapa aku diturunkan ke dunia ini?" gumam Rafael dengan suara yang nyaris tenggelam dalam suara hujan. Matanya menatap kosong ke arah langit, seolah mencari jawaban dari surga yang telah meninggalkannya. Tapi hanya kegelapan yang menyambut.

Langkah kaki terdengar dari belakangnya. Rafael berbalik dengan cepat, tongkatnya terangkat, bersiap menghadapi ancaman. Dari balik bayangan, muncul tiga pria bertubuh besar dengan senyum licik di wajah mereka.

"Kau tersesat, Tuan?" tanya salah satu dari mereka dengan nada mengejek. la mengayunkan batang besi di tangannya dengan santai.

"Aku tidak mencari masalah," jawab Rafael datar. Matanya tetap mengawasi setiap gerakan mereka.

"Sayangnya, masalah yang menemukanmu," pria itu tertawa, diikuti oleh dua rekannya yang mulai mendekat.

Rafael tahu tubuh manusianya jauh lebih lemah dibanding saat ia menjadi malaikat. Tapi ia juga tahu bahwa menyerah bukanlah pilihan. Ketika salah satu pria menyerangnya dengan tongkat, Rafael bergerak cepat, menangkis dengan tongkat kayunya.

Pukulan berikutnya datang dari belakang. Rafael menahan diri untuk tidak terjatuh, melayangkan tongkatnya ke arah lutut salah satu pria hingga terdengar suara keras. Pria itu jatuh dengan erangan kesakitan. Namun, dua orang lainnya segera menyerang bersama-sama.

Pukulan keras menghantam bahu Rafael, membuatnya terhuyung. Saat ia mencoba mengatur napas, salah satu pria mengayunkan batang besinya, mengarah ke dada Rafael. Tapi sebelum pukulan itu mengenai, tongkat di tangan Rafael tiba-tiba bersinar dengan cahaya redup, menciptakan kilatan yang cukup untuk membuat para pria itu mundur.

"Apa itu?" salah satu pria berteriak, wajahnya penuh ketakutan.

Cahaya itu hanya bertahan beberapa detik, tetapi cukup untuk memberi Rafael kesempatan. la menggunakan tongkatnya untuk melucuti senjata pria itu dan memukul keras di kakinya, membuatnya terjatuh. Dua pria lainnya, yang kini ketakutan, segera kabur ke dalam kegelapan.

****

Rafael berdiri di tengah hujan, tongkatnya menggantung lemah di tangannya. Cahaya yang muncul tadi mulai menghilang, meninggalkan pertanyaan yang menggema di pikirannya. Apa itu? Apa yang terjadi pada tongkat ini?

Langkahnya goyah ketika ia berjalan menyusuri gang yang sepi. Tubuh manusianya terasa sakit, tetapi luka di hatinya lebih menyakitkan. Kehilangan sayapnya, kehilangan surga, dan kini kehilangan kekuatan yang dulu menjadi bagian dari dirinya.

"Kenapa aku, Tuhan?" gumam Rafael pelan. "Kenapa aku yang Kau pilih untuk menjalani ini?"

Langkahnya membawanya ke depan sebuah gereja tua yang hampir runtuh. Pintu kayunya terbuka sedikit, memancarkan cahaya kecil dari lilin di dalamnya. Rafael masuk dengan perlahan, mencari tempat untuk beristirahat.

Di dalam gereja, suasananya sunyi. Bangku-bangku kayu berdebu dan patung-patung suci di dinding tampak seperti saksi bisu dari ribuan doa yang pernah dipanjatkan di tempat itu. Rafael duduk di salah satu bangku, membiarkan tongkatnya jatuh ke lantai.

la menutup matanya, mencoba mencari ketenangan di tengah kekacauan. Tapi bayangan wajah Azariel, musuhnya yang dulu, terus menghantui pikirannya. Rafael tahu bahwa ini bukan hanya soal dirinya - ini adalah tentang dunia yang berada di ambang kehancuran. Dan ia adalah satu - satunya yang bisa menghentikannya.

****

Pintu gereja berderit pelan, membuat Rafael membuka matanya. Seorang wanita muda masuk, membawa tas medis di pundaknya. Rambutnya yang hitam panjang basah karena hujan, dan wajahnya menunjukkan kelelahan. la berhenti ketika melihat Rafael yang duduk di bangku.

"Maaf, aku tidak tahu ada orang di sini," kata wanita itu dengan suara lembut.

Rafael menatapnya, mencoba menilai apakah wanita ini ancaman atau tidak. Tetapi matanya yang penuh kehangatan membuatnya merasa sedikit tenang.

"Kau terluka," kata wanita itu, memperhatikan luka di lengan Rafael. la mendekat dengan hati-hati, membuka tas medisnya. "Boleh aku membantu?"

Rafael ragu-ragu, tetapi akhirnya mengangguk. Wanita itu duduk di sampingnya, membersihkan lukanya dengan perlahan. "Namaku Elena," katanya, mencoba memulai percakapan. "Kau dari mana?"

"Itu... cerita yang panjang," jawab Rafael dengan nada lelah.

"Kalau begitu, kita punya banyak waktu," kata Elena sambil tersenyum kecil.

****

Saat Elena merawat luka-lukanya, Rafael merasa sesuatu yang aneh.

Ada ketenangan yang mulai meresap ke dalam dirinya, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sejak turun ke bumi. Cahaya kecil dari lilin-lilin di gereja tampak lebih terang, seolah memberikan harapan baru.

"Terima kasih," kata Rafael akhirnya.

"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau tidak datang."

Elena menatapnya dengan lembut.

"Kadang-kadang, kita hanya perlu seseorang untuk mengingatkan kita bahwa kita tidak sendirian."

Rafael menatap tongkat kayunya yang tergeletak di lantai. Cahaya itu, pertarungan tadi, dan sekarang pertemuan dengan Elena- semuanya terasa seperti bagian dari sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang ia belum pahami, tetapi tahu bahwa ia harus menerimanya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
124 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status