LOGINJonea lost her parents and twin brother in a significant incident. She was also separated from her mate—Aland Hamilton, who was held captive by the Alpha King. The uncle will sell Jonea to Alpha King, known for hurting his mates. Because Jonea is an unawakened lycan with rare holy blood. According to ancient legends and prophecies, Jonea is believed to be the Red Moon Girl. So many parties want her blood because it can be used to increase their strength. Unfortunately, Jonea didn't have the strength to protect herself and free her mate from the Alpha King's prison. Because the Lycan inside her still couldn't wake up. Finally, Jonea created a contest. She offered herself to anyone who could help her awaken the lycan within her. She will share her sacred blood with the guardian. The contest brings Jonea to the cruel and powerful Lycan King, who wants Jonea to be his wife. Unfortunately, that man is the only one who can awaken the Lycan soul inside Jonea's body. Would Jonea trade her freedom to become the Lycan King's bride? Can Jonea awaken the Lycan within her and get revenge on the Alpha King who tried to frame her? Book 1: Trapped by Four Alphas Book 2: Red Moon Girl: Bride of the Lycan King
View MorePasien rumah sakit jiwa teramat tampan. Para dokter dan perawat langsung jatuh cinta padanya!!
Pemuda yang dinyatakan gila telah kembali dengan puluhan bodyguard dan mobil mewah. Kedatangannya mengejutkan seluruh rakyat San Alexandria Baru. Apa yang sudah terjadi padanya selama tiga tahun menghilang? Dia membawa banyak uang dan akan membeli kota! ________________________ "Lepaskan aku! Aku tidak gila!" Di suatu ruangan dengan pencahayaan yang remang, seorang pria terus berteriak. Kedua tangan dan kakinya dipasangi rantai. Baju yang melekat di tubuh sudah compang-camping. Rambutnya gondrong dan kusut. Bulu-bulu halus tumbuh di sekitar wajah yang tidak terawat. Kotor dan kumal, seperti orang yang tak pernah mandi. Aaron de Fortman, keadaanya sungguh memprihatinkan. "Hei, orang-orang sialan! Cepat lepaskan aku! Bajingan kalian semua!" teriak Aaron lagi. Rantai di tangan dan kakinya turut menimbulkan suara akibat dia berusaha melepaskan diri. "Heh, bisa diam tidak?! Dasar tidak waras!" Terdengar suara seorang pria dari luar penjara di mana dia berada. Aaron hafal suara itu. Marquez de Fortman, mau apa pria licik itu memasuki ruang bawah tanah ini? Apa untuk menyiksanya seperti yang biasa si brengsek itu lakukan saat dia kalah main poker atau mabuk bir? Aaron tidak takut sama sekali. Jika dirinya bebas, maka orang yang pertama akan dia habisi adalah Marquez! "Heh, orang gila! Mengapa kau teriak-teriak terus? Mau aku sengat dengan listrik lagi?!" Marquez sudah berdiri di depan pintu jeruji besi di mana Aaron dikurung. Pria tinggi itu menatap sambil tersenyum remeh melihat kondisi adik tiri yang menyedihkan di dalam sana. Aaron melempar tatapan sinis dengan mata berapi-api. Marquez de Fortman, pria itu adalah anak dari wanita licik yang ayahnya bawa ke rumah dan nikahi tiga tahun yang lalu. Usianya dua tahun lebih tua darinya. Arogan, biadap dan menjijikan! Sungguh tak patut dia memakai nama ayahnya di belakang namanya. Bahkan Marquez bukan anak kandung Tuan Fortman. Dia cuma anak tiri di keluarga ini. Entah siapa ayahnya. Mungkin seorang berandal atau bajingan. Namun sungguh gila! Pria sialan itu telah merebut segalanya yang ia miliki. "Apa lihat-lihat? Kau lapar? Mau makan?" Marquez masih memasang senyum remeh sambil membalas tatapan tajam Aaron. Menyedihkan sekali! Ahli waris keluarga Fortman telah dinyatakan gila oleh dokter kejiwaan. Kemudian Aaron dikurung dalam bangker ini. Di atas sana rumah besar keluarga Fortman, dan di bawah sini Aaron yang malang. Dia bisa makan daging setiap hari dan minum wine paling mahal di kota San Alexandria Baru. Sedang Aaron, setiap hari mereka hanya memberinya nasi basi dan air keran. Kadang pula Marquez memaksanya meminum air seninya juga. Sungguh malang betul nasib pemuda itu. Marquez tersenyum remeh melihat Aaron yang menyedihkan. Dua orang penjaga datang sambil membawa nasi basi dan air keruh untuk Aaron. "Ck!Ck!Ck! Tuan Muda Fortman yang malang ... selamat menikmati makan malam Anda!" Dua orang penjaga tertawa setelah menaruh apa yang dibawanya ke depan Aaron. Melihat lelucon itu, Marquez tertawa paling kencang. Aaron mengepalkan buku-buku jemarinya penuh emosi. Rahangnya menggeretak kuat. Dalam hati dia mengutuk Marquez dan ibunya yang licik. "Aku tak mau makan! Bebaskan aku, Bajingan!" berang Aaron. Ingin rasanya dia menghajar Marquez dan membuat pria itu tak dapat menunjukan senyumnya lagi. Marquez menahan tawanya lantas berkata, "Mau makan atau tidak itu bukan urusanku. Lebih cepat kau mati, itu lebih menguntungkan bagiku." "Bajingan kau Marquez!" Marquez tertawa geli melihat Aaron mengamuk. "Apa yang kau bisa lakukan? Seluruh San Alexandria mengira kau sudah gila setelah Daddy tiada. Kantor besar itu kini milikku. Juga pacarmu yang cantik itu, dia juga sudah tidur denganku. Apa lagi yang kau miliki? Kurasa ... mati jauh lebih baik untukmu, bukan?" "Biadap! Beraninya kau menyentuh Jesica!" Aaron benar-benar murka. Ingin rasanya dia mencabik-cabik tubuh Marquez dan mengambil jantungnya. Dia sungguh tidak terima kakak tiri licik itu telah tidur dengan pacarnya. Jesica adalah satu-satunya gadis yang dia cintai. Mereka nyaris menikah. Namun, kejadian tragis tiga tahun yang lalu telah merenggut cintanya. Juga masa depan dan mimpi mereka. "Wah! Lihatlah, dia sangat marah!" Marquez tertawa bersama para penjaga. Kemudian dia melanjutkan dengan mencondongkan wajahnya ke depan Aaron, "Heh, asal kau tahu saja! Jesica malam itu sangat cantik. Dia mengenakan pakaian tipis yang kau belikan untuk hadiah pernikahan. Aku menelusuri setiap inci tubuhnya tanpa sisa. Apa kau penasaran bagaimana rasanya? Aku bisa ceritakan." "Bajingan kau Marquez! Enyah kau dari sini! Brengsek!" Aaron semakin mengamuk. Amarahnya bisa membakar seluruh kota. Marquez dan para penjaga hanya tergelak tawa melihatnya. "Marquez, ada apa ini? Mengapa berisik sekali?" Suara seorang wanita mengejutkan mereka semua. Marquez dan dua orang penjaga segera menyudahi tawa mereka. Aaron hanya mendengus kesal. Dia tahu betul siapa wanita glamour yang datang. "Malam, Nyonya!" Dua orang penjaga menyapa wanita berpenampilan paripurna di depannya. Marisa Fortman, ibu kandung Marquez. Tak ada ular yang lebih berbisa dari wanita itu. Begitu pandainya dia memutar balikan fakta dan merubah hidup seseorang. Marisa memberi isyarat pada para penjaga untuk segera pergi. Sambil menikmati batang rokoknya, wanita itu mendekati Aaron. Bibir merah itu menyeringai tipis, lantas berbisik, "Andai saja kau tidak menolakku pada malam itu, mungkin saat ini kita sedang berkeringat bersama dalam selimut. Namun kau sungguh munafik, Aaron. Akhirnya kau harus mengalami semua ini. Menyedihkan sekali, bukan?" Aaron mengangkat kedua mata penuh emosi. Ingatannya kembali ke masa tiga tahun yang lalu. Malam itu sedang turun hujan. Markus pergi berpesta dan tak kunjung pulang. Tuan Fortman sedang terbaring sakit di Mega Hospital. Sedang Aaron baru saja tiba di rumah mewah mereka. "Aaron, apa kau sudah pulang? Syukurlah! Cepat ke kamarku sekarang! Ada yang ingin aku bicarakan dengan putraku yang tampan!" Aaron menatap heran pada layar ponselnya. Pesan singkat dari ibu tirinya sungguh aneh. Apa yang ingin Marisa bicarakan? Mengapa dia tidak pergi ke rumah sakit untuk menemani ayahnya? Wanita itu malah enak-enak di rumah! Aaron jadi geram. Dia lantas segera menuju kamar ibu tirinya. Marisa sedang duduk menghadap meja rias. Sehelai lingerie membalut tubuhnya yang ramping. Wanita itu sudah berusia 45 tahun, tapi dia begitu mahir berhias dan menyembunyikan usianya. Siluet tinggi muncul pada cermin lebar di depannya. Marisa segera bangkit dan langsung menoleh ke belakang. Aaron segera membuang pandangan ke lain arah. Sungguh tak pantas dia melihat istri ayahnya dengan pakaian seperti itu. "Apa yang ingin kau bicarakan? Cepatlah bicara, aku tak mau lama-lama di sini," ucap Aaron dingin, lantas memutar tubuhnya membelakangi Marisa yang sedang menuju padanya. Dia sungguh dibuat terejut saat ibu tiri memeluknya dari belakang. Marisa menghirup wangi cologne Aaron yang segar. Lama sudah dia menantikan saat seperti ini. Meski Aaron lebih pantas menjadi anaknya, tapi sungguh pesona pria muda itu membuatnya tak tahan. "Apa yang kau lakukan? Lepaskan!" Aaron yang masih waras berusaha melepaskan kedua tangan Marisa yang melingkar erat di sekitar perutnya. Marisa tersenyum seringai saat mata Aaron berusaha menggapai wajahnya di balik punggung. "Ayo kita lakukan, Aaron. Aku benar-benar tak tahan lagi ..." "Kau sudah gila!" Dengan kasar Aaron melepaskan cengkeraman tangan Marisa. Wanita itu jatuh terjerembab ke atas ranjang karena terdorong. Wajah merah Aaron membuatnya gemas. Marisa langsung menyambar lengan Aaron, lantas menarik paksa pemuda itu padanya. Dan saat Aaron terjatuh ke ranjang, Marisa segera menguasainya. "Aku sangat bernafsu padamu, Aaron. Puaskan aku malam ini, Sayang ..." Dengan wajah yang sudah merah karena birahi, Marisa cepat-cepat membuka kancing kemeja Aaron. Pemuda itu berusaha berontak saat sang ibu tiri memaksanya. Marisa sungguh tak tahu malu. Dia memaksa anak tirinya untuk melakukan hal kotor. Aaron jelas tidak mau. Brak! Marisa jatuh dari atas ranjang setelah Aaron mendorongnya kasar. Wanita itu sedang meringis sambil memegang pinggangnya yang sakit. Aaron tak peduli. Dia segera meninggalkan kamar itu. "Aaron, beraninya kau menolak ku! Aku akan membuat hidupmu menderita!" Ternyata ucapan Marisa malam itu tidak main-main. Lihatlah keadaan Aaron malam ini. Pria 25 tahun itu tak lagi terlihat seperti pewaris keluarga Fortman yang terkenal akan kecerdasan dan parasnya yang tampan. Dia hanya orang gila. Seperti berita yang tersiar selama tiga tahun ini. Lantas, apa yang telah terjadi pada Aaron tiga tahun yang lalu? Kisah ini baru saja dimulai.. Dewa Amour_JONEAI was sitting in what felt like endless darkness. No sound except the echo of my own breath, no movement except the shadow of myself fading on a pitch-black floor like cracked glass. I knew it was just a dream, but it felt so real, like a trap I couldn’t escape.Suddenly, a voice broke the silence—cold and familiar.“Jonea,” it called, echoing through the void. “I know you can hear me.”Luke Draken.My body tensed, but I couldn’t see him. Just his voice, flowing with power and certainty.“Surely you’re starting to understand the dragon blood flowing in your veins,” he continued. “You can’t deny it, Jonea. Our bodies were bound long before the red moon rose.”In the dream, I touched my own body. My hand brushed against something that shouldn’t be there—hard, sharp scales covering half of me. I gasped, choking on a sob. What had happened to me?Luke chuckled softly, mocking. “I will live inside you forever,” he said, his voice drawing closer, as if whispering directly into my ear.
JONEAIt seemed like Luke noticed something off about my body. He grinned widely and tossed Hunter to the ground like a rag doll. Then, in a swift move, he picked me up and laid me down on the marble altar.Why? What’s happening to me? My chest felt tight, my whole body burning. I was so thirsty—desperately craving someone’s touch, someone to soothe me.Without realizing it, I started moaning and gasping at the same time. Luke gently lowered me onto the altar, then climbed over me with a calculated ease.“Union,” he whispered. “You’re breaking the seal. And when the crimson moon reaches its peak, your pure blood will be mine!”I couldn’t control my body or my thoughts anymore. Pain surged through me as I let out a scream. My eyes flew open, my head tilting back to stare at the dome’s opening. The full crimson moon stared back.“Ahhh!” I cried out as sharp fangs pushed out of my mouth, piercing my lips.Luke leaned closer, his eyes glowing bright red—the eyes of a dragon. He kissed me,
HUNTERI turned around to see one of the shadow creatures loyal to me in this secret mission. Its black eyes glinted under the moonlight."The werewolf forces are ready," it said shortly.I nodded. "Make sure no one knows the plan until the very last moment."The creature bowed and disappeared into the shadows.My thoughts drifted back to when everything began to fall apart.We used to be an unbeatable group—Beast Four. Me, Aland, Edison, and Elmar. Together, we protected the Sapphire Blue with strength and unbreakable friendship. But the Red Dragons destroyed everything.One by one, my friends fell. Edison and Elmar vanished into the darkness of the shadow world. Jonea, broken and battered, chose to hide. Aland—he was captured by Luke Draken. Back then, I didn’t understand why Luke targeted Aland specifically, my closest and most different friend.I remember that night vividly. Aland was locked in the dragon’s prison, his body covered in wounds. I knew he hated me for joining the Red
MILLERNever in my life did I think I’d witness something like this—a scene straight out of a legend. Standing before me were humans from the shadow hunter ranks, werewolves, lycans, dragons, and even jeverics, creatures that had been at odds for as long as anyone could remember. And yet, here they were, side by side, united by a single purpose: finding Jonea before it was too late.The sky was gloomy that day, heavy gray clouds mirroring the tension hanging over us. From the hilltop, I watched the valley below where thousands of figures had gathered, awaiting final orders before the search began.“All of this… it’s for Jonea,” I murmured to myself.Arabel stood beside me, her sharp eyes scanning the crowd with her usual vigilance. “They understand what’s at stake, Miller,” she said firmly, her voice calm but resolute. “If Jonea falls into the wrong hands, it’s not just her life that’s at risk. The whole world is.”I nodded, swallowing the fear creeping into my chest.On the human sid
JONEAI froze, my heart pounding erratically as Luke’s words sank in.“The last time we met was at a graveyard, right?” he asked, a faint smirk playing on his lips, making my blood boil. “More accurately, I saw you. You knew I was there, but you chose to ignore me.”My eyes widened. A graveyard? I
JONEAI stared out the hospital room window from my bed for what felt like the hundredth time. The white blanket covering me felt unbearably heavy—not because of its weight, but because of what lay beneath it. Black, cold, hardened scales covered parts of my body. It felt like I was trapped in an u
JONEAOwen stepped forward, his body morphing into a massive, intimidating lycan form. “I’ll try to hold them off. You guys figure out how to break their spell.”Without waiting for a reply, Owen lunged at the first beast, determined to stop it before it could cause more destruction. Meanwhile, Ara
JONEA"Arman?" Daran repeated the name in a low tone, as if double-checking he'd heard me right. His eyes narrowed, looking at me like I’d just broken some unspoken rule.I swallowed hard, doing my best not to flinch under his gaze. "Yes," I said firmly. "He might know something about the missing d






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews