Share

Bab 3

Penulis: Hedgehog
Sepertinya, setelah pergi ke klinik, ibu dan ayah akhirnya memastikan bahwa bayi itu memang anak Selly.

Randy sialan itu pun terbukti ikut membantu proses persalinannya.

Hanya saja, aku tak mengerti. Kenapa mereka begitu terobsesi padaku?

“Ma, bayi itu nggak ada hubungannya sama aku. Lagi pula, bukan aku yang melahirkannya!”

“Sekarang yang paling penting cari ayah bayi itu. Sudah dulu ya, Ma. Aku lagi kerja.”

Aku pun menutup telepon dan kembali menjalani rutinitas kerjaku.

Tepat pada saat itu, Mbak Sarah, teman kantorku, diam-diam mendekat.

“May, kamu sudah punya pacar belum? Mau kukenalin sama cowok?”

Awalnya aku ingin menolak. Namun entah kenapa, aku justru berubah pikiran.

“Boleh, Mbak. Siapa orangnya?”

“Keponakanku. Umurnya tiga tahun lebih tua darimu, mantan tentara. Sekarang dia buka bisnis restoran kecil, gitu.”

“Siang ini makan bareng, gimana?”

Aku mengiyakan.

Mbak Sarah tampak sangat senang, bahkan langsung menelepon keponakannya untuk membuat janji.

Di kehidupan sebelumnya, aku membesarkan seorang anak sendirian. Mbak Sarah sering melihatku kelelahan, lalu mencarikanku pekerjaan sampingan. Dia juga berkali-kali menasihatiku agar segera mencari suami.

Saat itu aku selalu menolak. Aku takut anak itu akan merasa tersisih.

Sekarang kupikir-pikir lagi … aku benar-benar bodoh.

Aku bertemu Galih untuk makan siang. Kesan pertama kami sama-sama cukup baik.

Kami pun bertukar nomor Whatsapp dan sepakat saling mengenal lebih dulu.

Ketika Mbak Sarah kembali dan bertanya bagaimana hasilnya, aku mengangguk kecil.

“Lumayan. Kita coba jalanin dulu.”

Dia tampak senang bukan main.

“Dengarkan aku, ya. Kalau sampai jadi, dia nggak akan memperlakukanmu dengan buruk. Aku melihat dia sejak kecil. Dia pekerja keras.”

Wajahku memerah, sementara Mbak Sarah malah makin bersemangat.

Sejak hari itu, aku mulai menjalin hubungan dengan Galih.

Setengah bulan berlalu. Orang tuaku tak lagi mencariku, dan aku pun tak pulang ke rumah.

Namun, aku sama sekali tak menyangka … ibuku justru mendatangiku ke kantor.

Hari itu aku sedang bekerja ketika satpam tiba-tiba menelepon.

“Maya, cepat turun! Ibumu ninggalin anakmu di pos satpam! Cepat bawa anak itu pergi, berisik sekali!”

Begitu mendengarnya, kepalaku langsung berdengung.

“Anak? Anak yang mana? Aku saja belum nikah! Anak dari mana, coba? Jangan ngawur, ah!”

Aku sengaja meninggikan suaraku, cukup keras hingga seluruh ruangan mendengarnya.

Satpam tampak kehabisan kata-kata.

“Mana kutahu! Pokoknya cepat turun dan lihat sendiri!”

Begitu telepon ditutup, semua mata langsung tertuju padaku.

“Ada apa, May?”

“Nggak tahu, nih. Satpam bilang ada orang yang ngaku ibuku, bawa anak yang katanya anakku.”

Mbak Sarah tampak terkejut.

“Serius ada hal seperti itu? Wah, menarik. Ayo kita lihat sama-sama!”

“Iya, ini mau nipu atau gimana?”

“Maya punya anak? Aku nggak pernah lihat perutnya gede.”

“Bisa saja lahir beberapa tahun lalu, siapa tahu, ya, ‘kan? Anak muda sekarang pergaulannya bebas banget.”

Mendengar itu, Mbak Sarah ikut menatapku dengan curiga.

Aku pura-pura bingung, membuatnya tak melihat kejanggalan apa pun.

Saat kami tiba di pos satpam dan melihat bayi itu, semua orang langsung terdiam.

Mbak Sarah akhirnya menghela napas lega.

“Nggak mungkin ini bayi Maya. Lihat saja, bayinya belum genap sebulan!”

“Iya! Jahat banget orang itu! Kalau bayinya sudah beberapa tahun, nama Maya sudah pasti tercoreng!”

“Ini jelas mau hancurin reputasi orang!”

Dalam hati, aku tertawa sinis.

Satpam tampak makin bingung.

“Orang itu ngaku ibunya Maya. Aku mana tahu!”

Mendengar itu, aku langsung memintanya memutar rekaman CCTV.

Setelah melihat rekaman CCTV, aku semakin yakin tak mengenal orang yang membawa bayi itu.

Saat itu juga aku pun mengambil keputusan.

“Lapor polisi! Dia bukan ibuku, dan aku juga nggak kenal dia.”

Beberapa orang masih tampak ragu, tapi aku mengangkat kedua tanganku.

“Ini jelas pembuangan bayi. Aku kerja di bidang penjualan, kartu namaku tersebar ke mana-mana. Siapa tahu ada orang yang menyamar jadi ibuku. Aku nggak akan membesarkan anak orang lain!”

Semua merasa masuk akal, jadi kami pun melapor ke polisi.

Aku bahkan sempat bertanya mau dibawa ke mana bayi itu.

“Mau ke mana lagi? Kalau orang tuanya nggak ditemukan, ya ke panti asuhan.”

Mendengar jawaban itu, aku menghela napas panjang.

Aku tak akan pernah lagi membesarkan anak yang tak tahu balas budi itu!
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Reinkarnasi: Kali Ini Aku Tak Akan Mengalah   Bab 10

    Di kehidupan sebelumnya, aku mati terperangkap dalam jebakan dan rencana mereka.Di kehidupan ini, aku bersumpah! Aku tak akan pernah jatuh ke lubang yang sama lagi.Setelah kepergianku, ayah dan ibu terus menangis dan meratap.Bi Ijah sesekali mengabariku tentang keadaan rumah.Katanya, Billy keras kepala menolak pergi.Pada akhirnya, ayah dan ibu justru berubah menjadi pengasuh pribadinya.Perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki.Sejak saat itu, mereka semakin tak mungkin lepas darinya.Billy tak jarang meminta uang.Jika tak diberi, dia memukul.Selly pun dipaksa keluar rumah, berjualan di pinggir jalan.Singkatnya, seluruh keluarga itu bekerja mati-matian hanya untuk membiayai satu orang.Keluarga ini hancur bersama-sama.Dan entah kenapa … rasanya puas.Setengah tahun kemudian, aku dan Galih pulang ke kampung halaman untuk mengurus masalah properti.Kami berniat menjual rumah, lalu pindah ke Karuak, menetap bersama putra dan putri kami.Di sana, aku bertemu Selly.Baru ena

  • Reinkarnasi: Kali Ini Aku Tak Akan Mengalah   Bab 9

    Wajah Billy memucat, dipenuhi rasa tak percaya saat menatap mereka.“Nggak mungkin!”“Kalau nggak percaya, coba saja tes DNA. Kamu lihat baju yang dipakai ayah dan ibumu itu? Jelas kelihatan orang berada!” ucapku santai.Mata Billy langsung berbinar. Dia buru-buru menarik perempuan di sampingnya mendekat.“Lihat, mereka orang tua kandungku. Anak di perutmu nanti pasti hidup enak.”“Maaf, maaf … barusan aku nggak mengenali kalian. Aku benar-benar minta maaf,” imbuhnya.Selly justru jijik menatap mereka.“Nggak mungkin. Mana mungkin kamu anakku!”Aku ikut menimpali tanpa ragu, “Jangan begitu, Sel. Belasan tahun kamu nggak pernah pulang. Bukannya sekarang kamu pulang buat cari anak kandungmu? Anakmu jelas-jelas ada di depan mata, tapi kamu malah nggak mau mengakuinya.”Galih ikut menambahkan dengan nada khawatir palsu, “Kamu selalu bilang anakmu itu yang terbaik. Sekarang anakmu sudah berdiri di depanmu. Jangan sampai kata-katamu melukai perasaannya.”Selly dibuat emosi oleh ulah kami ber

  • Reinkarnasi: Kali Ini Aku Tak Akan Mengalah   Bab 8

    Ibuku langsung panik.“Kenapa kamu hitung-hitungan seperti ini? Kita ini satu keluarga! Kondisimu begitu baik, apa salahnya menanggung satu orang lagi?”Ternyata, aku memang seharusnya tak pernah berharap apa pun dari mereka.Aku pun mengibaskan tangannya dengan dingin.“Maaf, aku nggak bisa bantu. Kalau mau, silakan lapor polisi. Pokoknya, urusan ini aku nggak mau ikut campur.”Setelah mendapatkan hasil tes DNA, aku langsung mendatangi polisi.“Hari ini, aku menuntut dia untuk meminta maaf secara terbuka dan memberikan ganti rugi atas kerugian mental.”Pesta kelulusan anakku telah dirusaknya.Aku tak akan membiarkan hal itu berlalu begitu saja.Tak lama kemudian, Galih memanggil pengacara untuk menangani semuanya. Kami pun segera kembali ke acara pesta kelulusan anakku.Dosen dari Universitas Gadjah Madya akhirnya bisa bernapas lega begitu melihat hasil tes DNA.Syukurlah.Setidaknya, masa depan anakku tak hancur.Setelah pesta selesai, kami sekeluarga kembali ke hotel. Galih bahkan s

  • Reinkarnasi: Kali Ini Aku Tak Akan Mengalah   Bab 7

    Aku mengangkat kedua tangan. “Mungkin … di panti asuhan!”Aku sengaja berpura-pura baru tersadar.“Oh iya. Delapan belas tahun lalu, saat aku masih bekerja, memang pernah ada satu hari satpam bilang ada seseorang yang mengaku sebagai ibuku. Katanya ingin menitipkan seorang bayi dan memintaku membawanya pulang.”“Begitu turun, aku langsung cek CCTV. Aku sama sekali nggak kenal orang itu. Jadi aku langsung melapor ke polisi. Bayinya dibawa pihak kepolisian. Besar kemungkinan dibawa ke panti asuhan.”“Rekan kerjaku waktu itu bisa jadi saksi. Kalau masih nggak percaya, silakan cek catatan laporan polisi.”Begitu mendengarnya, Selly menjerit histeris. Dia menerjang ke arahku, hendak memukulku.Namun aku lebih cepat.Plak!Satu tamparan keras mendarat telak di wajahnya.“Kamu berani memukulku?! Maya … kembalikan anakku!”Aku mendengus dingin.“Dasar jalang! Dulu kamu yang melahirkan anak haram, lalu kabur. Membuangnya padaku, berharap aku yang membesarkannya. Sementara kamu bersenang-senang

  • Reinkarnasi: Kali Ini Aku Tak Akan Mengalah   Bab 6

    “Dani adalah anak yang dikandung menantuku selama sembilan bulan penuh. Sejak awal kehamilan sampai melahirkan, semuanya tercatat dengan jelas. Saat persalinan, dia mengalami pendarahan hebat dan hampir kehilangan nyawa. Kami sampai harus membawanya ke rumah sakit di ibu kota dan mengerahkan koneksi dari atas sampai bawah.”“Sekarang kamu berani-beraninya datang dan mengaku cucuku itu anak yang kamu lahirkan? Apa kamu nggak tahu malu?”Ayah mertua ikut maju membela.“Kalau kamu masih berani mengarang cerita, aku akan langsung lapor polisi dan menyeretmu ke kantor!”Bibir Selly bergetar hebat. Wajahnya bengkak kemerahan akibat tamparan barusan. Tubuhnya gemetar ketakutan. Namun tiba-tiba, dia menatapku tajam.Aku hanya mengangkat alis.Saat itulah dia seperti tersadar.“Ini ulahmu, Maya! Kamu yang merekayasa semua ini!”Pria di sampingnya mendengus dingin. Suaranya berat dan kasar.“Bisnis kalian sekarang maju pesat. Dengar-dengar … restoran kalian sudah buka cabang di ibu kota provinsi

  • Reinkarnasi: Kali Ini Aku Tak Akan Mengalah   Bab 5

    Dani melambai ke arahku.Aku merapikan ujung gaunku, bersiap naik ke atas panggung, ketika tiba-tiba terdengar suara teriakan keras.“Dia bukan ibumu! Dia nggak pantas berdiri di sana!”Begitu kalimat itu terlontar, semua mata langsung menoleh ke sumber suara.Alih-alih terkejut, aku justru menghela napas lega.Akhirnya datang juga.Aku menoleh.Benar saja. Itu Selly. Di sampingnya, seorang pria dengan kalung emas tergantung di lehernya.Dia benar-benar datang.Akhirnya … dia muncul.Aku tak bisa menahan ketegangan di dadaku.Setelah belasan tahun tak bertemu, sosok itu masih sama seperti dulu… tapi juga berbeda.Sepuluh tahun lebih itu sepertinya telah membuatnya lelah, sangat berbeda denganku.Di balik riasan tebalnya, garis-garis halus di sudut matanya tak bisa disembunyikan.Selly menggandeng lengan pria itu dan melangkah mendekat.Dani tampak mengerutkan keningnya.“Kamu siapa?”“Dia tantemu, Selly,” sahutku lebih dulu, memperkenalkan identitasnya.Selly tampak emosi.“Jangan semb

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status