LOGINTanpa di duga, beberapa murid klan Nan mengikat Long Chen bersama rombongannya dengan rantai hitam penyegel energi qi ketika berada didepan penginapan. Membuat kultivator yang sedang berjalan kaki, pedagang yang di sekitar penginapan itu bertanya-tanya. Dahi Tang Mingyu mengerut, "Apa maksudnya ini? Bukankah kalian hanya ingin melakukan pemeriksaan terhadap kami. Kenapa malah mengikat kami dengan rantai penyegel qi seperti seorang tawanan?" tanyanya sambil menuntut kejelasan dari murid-murid klan Nan. Nan Bao menatap tajam Tang Mingyu sambil tersenyum sinis, "Kalian semua adalah pelaku yang membunuh murid-murid sekte Haiying semalam. Kami melihat sendiri bahwa kalian membunuh murid-murid sekte itu tanpa ampun, padahal mereka tidak melakukan kesalahan apapun pada kalian. Lebih baik kalian bertanggung jawab atas tindakan kalian. Di kota ini, tidak di perbolehkan adanya pembunuhan, dan kalian telah melanggar peraturan yang telah di tetapkan," jawabnya, ia telah di perintahkan oleh Te
Keesokannya, penduduk, para pedagang, dan para pengembara yang singgah di kota Tianjing dibuat gempar oleh kabar kematian enam murid sekte Haiying. Mereka ditemukan tewas mengenaskan dalam kondisi tidak utuh, kepala terpisah dari tubuhnya. Kabar itu menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru kota, menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Bisik-bisik segera merebak di kedai teh, pasar, restoran penginapan, hingga gerbang kota. "Enam murid sekte Haiying mati dalam satu malam?" "Siapa yang berani melakukan itu di kota Tianjing?" Sebagian wajah tampak pucat, sebagian lain justru menyimpan rasa puas yang tak berani diucapkan. Nama sekte Haiying selama ini di kenal sering melakukan penindasan terhadap kultivator aliran putih, merampok, menculik para gadis, dan tidak segan-segan membunuh pada setiap klan, sekte, keluarga besar ataupun kota yang tidak mau tunduk di bawah perintah sekte itu. Kematian itu seperti batu besar yang dijatuhkan ke permukaan danau—riak ketakutan dan dugaan m
Tak berselang lama, Long Chen dan Jiang Ruyue sampai di depan penginapan. Pelayan yang berjaga menyambut kedatangan mereka dengan hangat. Keduanya hanya mengangguk singkat, mereka terus melangkah menuju lantai empat. Beberapa saat kemudian, mereka masuk kedalam kamar. Begitu pintu kamar tertutup, keheningan turun. Jiang Ruyue melepaskan napas pelan. "Mereka tidak akan berhenti setelah ini." "Memang," jawab Long Chen datar. Ia berjalan ke meja dan duduk. "Itulah sebabnya aku memberi peringatan pada mereka. Jika Tetua kedua klan itu dapat memahami peringatanku itu, mereka tidak akan bertindak bodoh." Jiang Ruyue menoleh. "Klan Nan dan Zhou hanyalah pion." Long Chen mengangguk tipis. "Di balik mereka, pasti ada dorongan dari sekte Haiying atau Wuyin. Mereka tidak berani bergerak sendiri." Ia menutup mata sejenak, seolah menata pikirannya. "Besok," lanjutnya pelan, "kita tidak perlu mencari masalah." Jiang Ruyue tersenyum samar. "Masalah yang akan datang sendiri?" Long
Qing Long Chen dan Jiang Ruyue melangkah keluar dari ruang khusus setelah aula lelang benar-benar. Mereka berjalan menuju tempat pengambilan barang. Setelah berjalan cukup lama melewati lorong yang cukup panjang. Keduanya ahirnya tiba di ruangan itu dan melangkah masuk dengan santai. Kedatangan mereka di sambut hangat oleh Min Lan serta manajer Min Gui. "Tuan Muda Long Chen, Nona Jiang Ruyue, silahkan duduk," ucap manajer Min Gui mempersilahkan Long Chen serta Jiang Ruyue duduk di kursi yang tersedia di ruangan tersebut. "Sungguh luar biasa.... baru kali ini lelang yang di adakan paviliun Bulan Perak semeriah ini, bahkan melebihi lelang sebelumnya. Anda telah membawa keberuntungan pada paviliun kami, Tuan Muda Long, Chen," ujar Manajer Min Gui yang kini lebih menghormati sosok Long Chen. Long Chen hanya tersenyum tipis melihat reaksi Min Gui
Min Lan memandang pedang itu sejenak, lalu suaranya kembali terdengar, tenang namun jelas. "Pedang Angin Senyap," ucapnya. "Senjata spiritual kualitas tinggi. Mengandalkan kecepatan dan ketajaman qi. Cocok untuk kultivator yang menempuh jalur cepat." Aula tetap hening. Keheningan yang berat. Pedang berelemen angin jarang terlihat, apalagi elemen angin murni tanpa campuran apa pun. Banyak kultivator tidak berbicara, namun sorot mata mereka berubah. "Harga awal," lanjut Min Lan, "sepuluh juta kristal spiritual tingkat menengah." Beberapa napas berlalu. "Sebelas juta." "Dua belas juta." "Empat belas juta." Tawaran terdengar lebih jarang, namun setiap angka melonjak mantap. Tidak ada teriakan, tidak ada emosi berlebihan. Mereka yang menawar tahu betul nilai pedang ini. "Enam belas juta," suara dingin terdengar dari ruang khusus nomor satu. Aula kembali sunyi. “Delapan belas juta,” datang dari ruangan khusus nomor sembilan. Di ruang khusus nomor tiga, Jiang R
Saat matahari condong ke barat, para pengunjung mulai memasuki ruangan yang akan mengikuti acara lelang setelah mendapat pemeriksaan ketat dari penjaga. Sementara Ye Tian bersama Jiang Ruyue duduk di ruang yang tersedia di ruang khusus nomer tiga. Manajer berjubah biru bersulam emas naik ke atas panggung. "Tuan-tuan, selamat datang di acara lelang paviliun Bulan Perak. Lelang pada hari ini kami buka dengan tiga sesi. Sesi pertama adalah pelelangan sumber daya kualitas menengah, sesi kedua adalah pelelangan senjata kualitas tinggi, sesi ketiga nanti kalian akan mengetahuinya," ucapnya lalu memanggil seorang gadis untuk memandu acara tersebut. Suara riuh para pengunjung begitu antusias saat mereka mendengar jika ada senjata kualitas tinggi yang akan di lelang. Suasana riuh kembali tenang, saat beberapa gadis memasuki panggung lelang sambil membawa sumber daya berbagai jenis yang akan di lelang dalam sesi tersebut. "Saudara sekalian, Aku Min Lan, akan memandu sesi pertama ini," u







