Masuk"Ah!!!!!" penjaga itu berteriak keras saat terbangun dalam keadaan takut dan bingung. Dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi."DIAM!" bentak Rahul.Penjaga itu ketakutan mendengar suara Rahul. Dia gemetar ketakutan saat mendongak. "B-Bos..." panggilnya dengan lemah sembari bangkit berdiri."B-Bos... Bos, apa yang terjadi?" tanya penjaga itu dengan wajah bingung."Justru aku yang ingin bertanya padamu. Apa yang terjadi di sini? Mengapa semua orang tergeletak tak sadarkan diri? Di mana Paman Qin?" tanya Rahul."A-Aku, aku tidak tahu..." jawab penjaga itu dengan terbata-bata."Bangunkan mereka!" perintah Rahul."Baik, Bos!" penjaga itu mengangguk lalu bergegas membangunkan semua orang. Dia masih bingung dan tidak mengerti situasi tersebut. Dia tidak tahu apa yang terjadi ataupun alasan mengapa semua orang pingsan.Satu per satu, para pelayan dan pengawal mulai sadar kembali. Saat terbangun, reaksi mereka sama seperti penjaga sebelumnya. Mereka semua tampak bingung dan heran, namun se
"Obat macam apa itu, Agus?" tanya Lina."Obat yang akan membuat Windy melupakan segalanya," jelas Kepala Pelayan Qin.Lina menarik napas tajam. Matanya terbelalak kaget saat ia memandang bergantian antara suaminya dan Kepala Pelayan Qin. "Kau ingin putri kita melupakan segalanya?" tanyanya tak percaya.Agus mengangguk pasrah."Mengapa?""Aku hanya ingin dia aman. Aku tidak ingin dia mengingat pernikahannya, Leonard, Rahul, Joya, dan penghinaan hari ini. Aku ingin dia menjalani hidup baru tanpa masalah apa pun," jelas Agus."Tapi... tapi dia akan melupakanmu, Agus," isak Lina."Aku tahu," Agus tersenyum."Apa efek samping obat ini?""Obat itu akan membuatnya sedikit lebih lemah dibandingkan orang normal, tetapi tidak akan membahayakannya sama sekali," kata Kepala Pelayan Qin. "Anda hanya perlu memberinya obat ini selama setahun, dan setelah itu, dia tidak akan pernah mengingat masa lalunya lagi, bahkan jika dia dipicu oleh sesuatu."Lina mengangguk."Maafkan aku, Lina. Aku harus melak
Sepanjang jalan, Kepala Pelayan Qin melihat para pelayan dan pengawal yang terkapar tak sadarkan diri akibat obat bius. Ia terkekeh sembari melangkah cepat menuju ruang bawah tanah. Ia tahu harus bertindak sigap dan cepat demi menyelamatkan temannya.Di dalam ruang bawah tanah, pemandangan yang tersaji terasa familier. Semua penjaga tergeletak tak sadarkan diri di lantai; hal ini sepenuhnya akibat sikap terlalu percaya diri Rahul. Karena rasa percaya diri yang berlebihan itu, Rahul tidak memasang kamera pengawas apa pun di rumahnya.Ia sangat yakin dengan kemampuan para pengawal terlatihnya serta sistem keamanan di sekeliling kediamannya. Tentu ada alasan di balik keyakinan berlebih itu. Rahul sangat disegani sekaligus ditakuti di dunia hitam, yang membuatnya menjadi sosok arogan dan terlalu percaya diri. Ia yakin tak ada seorang pun yang berani mendatangi rumahnya dan berbuat sesuatu tepat di depan hidungnya, sehingga ia tidak terpikir untuk memasang kamera di sana.Kepala Pelayan Qi
"Irwan, apakah mereka tahu bahwa aku putri mereka?" tanya Joya dengan gugup."Tidak, hanya Mochen yang mengetahuinya," jawab Irwan dengan jujur."Oh..."Melihat wajahnya yang murung, pria itu menghela napas. Sambil mengelus punggung Joya, ia menenangkannya, "Joya, jangan sedih. Suatu hari nanti mereka akan tahu tentang dirimu, dan mereka akan sangat bahagia serta bangga memiliki putri sepertimu.""Aku tahu," Joya tersenyum."Lalu, bagaimana kau tahu bahwa aku putri mereka?" tanyanya penasaran." Mochen yang memberitahuku," jawab Irwan terus terang." Mochen?""Ya. Saat kau dan Ibu Mertua terluka dalam kecelakaan itu, Mochen melakukan tes DNA dan hasilnya positif," jelas Irwan."Sebenarnya, aku ingin memberitahumu hal ini tepat pada hari itu juga, tetapi Mochen mencegahku. Dia menyadarkanku akan bahaya yang mengintaimu, dan itulah sebabnya aku tidak memberitahumu," jelasnya.Joya mengangguk, "Aku mengerti."Tiba-tiba sebuah pikiran melintas di benak Joya dan ia menarik lengan Irwan, "I
"Joya, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu..." ujar Irwan dengan gugup.Joya mendongak dan mengangkat alisnya. "Apa?" tanyanya.Irwan menelan ludah sembari melepaskan pelukannya dari tubuh Joya. Ia menatap mata wanita itu yang tampak penasaran dan bingung; ia tidak tahu bagaimana harus memulai atau apa yang harus dikatakan. Ia meraih tangan Joya dan mengusapnya, seolah ingin meredakan rasa takutnya sendiri dan mencari kekuatan dari wanita itu."Ada apa, Irwan? Kau terlihat begitu gugup...""A-aku menyembunyikan sesuatu darimu," aku Irwan dengan cemas."Apa?""Itu... itu... soal... hal itu.""Apa kau berselingkuh?" tanya Joya dengan nada serius. Melihat Irwan begitu gugup, Joya melontarkan candaan untuk membuatnya merasa lebih tenang.Irwan: ".....""Tentu saja tidak!" sergah Irwan cepat. "Kau tahu aku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu.""Aku tahu. Lalu, apa yang membuatmu begitu gugup?" Joya terkekeh."Aku... aku menyembunyikan sesuatu yang sangat besar darimu, dan hal i
"Irwan, bukankah menurutmu ada konspirasi besar yang tersembunyi di balik semua ini?" tanya Joya.Hah?Irwan tersadar dari lamunannya saat mendengar pertanyaan Joya. "Konspirasi apa? Apa maksudmu?" tanyanya."Begini, saat aku mendengar versimu tentang kejadian itu, menurutku ada sesuatu yang janggal," jelas Joya."Janggal? Seperti apa?""Tadi kau bilang bahwa ketiga keluarga itu tidak membunuh ayah Rahul, tapi Rahul mengira kalianlah pelakunya. Mengapa dia berpikir begitu?" tanya Joya.Irwan mengangkat bahu. "Itu karena jika kita melihat dari sudut pandangnya, memang tampak seolah-olah kamilah yang membunuh Paman khan.""Kau benar," kata Joya, "tapi ada satu hal yang terlewat olehmu."Melihat raut wajah Irwan yang bingung, Joya menjelaskan pemikirannya dengan sangat hati-hati. "Saat kejadian itu terjadi, berapa usia Rahul? Dia masih anak kecil. Betapapun cerdasnya dia saat itu, dia hanyalah seorang anak yang tak berdaya."Irwan mengangguk, meski belum sepenuhnya menangkap maksud Joya
Keesokkan harinya, Joya terbangun oleh suara bel pintu yang tiba- tiba berbunyi. “ Siapa yang mengganggu tidurku?” gerutu Joya sambil bangun dari tempat tidurnya dan melihat jam, baru pukul 11 pagi, siapa gerangan ?Joya merenung sambil berjalan menuju pintu. Hari ini dia tidak perlu pergi bekerja
Rahul marah, dia sangat marah. Seolah- olah seseorang menusuk jantungnya lagi dan lagi. Dia lalu lalang di depan TV dan memelototi wanita yang muncul di acara itu.“ Aku membencimu, Joke! Apa kamu dengar itu? Aku membencimu!” Rahul berteriak saat dia meninju layar dengan marah. Pukulan itu begitu p
Dan orang ini tak lain adalah Rahul Khan. Ia sedang berada di kamarnya, melampiaskan semua emosi dan frustasinya pada samsak tinju. Ia membayangkan samsak tinju itu adalah wajah Irwan Lung, dan ia melampiaskan amarahnya pada samsak tinju malang itu.“ BAM!’Satu demi satu, tinjunya mengenai permukaa
Joya tidak marah sambil terus tersenyum, "Aku tidak berbohong padamu. Pemeran utama wanita 'Enchanted' adalah aku. Windy adalah adik perempuanku dan aku berperan sebagai penggantinya di film itu..." Mata Yang Mi membelalak tak percaya. Apa? Apa yang wanita ini bicarakan? Kakak perempuan Windy? Jo







