แชร์

Bab 11

ผู้เขียน: Budi Nanas
"Kamu bilang kamu punya ikan gulama?"

Ardi mengangguk. "Ya, Pak. Aku dengar restoran kalian kekurangan ikan gulama. Semalam aku menangkap 500 kilo lebih. Berapa banyak yang kalian butuhkan?"

Begitu mendengar ucapannya, ekspresi Dayat langsung berubah. Dia menatap Ardi sambil mengerutkan kening. Bahkan dia mulai yakin pendengarannya sedang bermasalah.

Selama bertahun-tahun turun ke pelabuhan untuk membeli hasil laut, dia belum pernah mendengar ada orang yang mampu menangkap lebih dari 500 kilogram ikan gulama sekaligus.

Saat Dayat masih ragu, seorang pria berkulit gelap keluar dari bagian belakang dapur. "Pak, jangan dengarkan omong kosongnya! Orang ini namanya Ardi. Dia berasal dari desa yang sama denganku."

"Dia ini berandalan paling terkenal di Desa Pasirya! Kerjanya cuma berjudi. Dia punya utang di mana-mana dan sering mencuri barang orang lain karena nggak mampu bayar. Ucapan penjudi seperti dia juga Bapak mau percaya?"

Ardi langsung mengenali pria yang berbicara itu.

Namanya Ireng. Usianya kurang lebih sama dengan Ardi.

Di Desa Pasirya, pria itu dahulu mengikuti Badrul setiap hari, mirip anjing peliharaan. Belakangan ini, keluarganya sudah tidak tahan melihat tingkah lakunya, lalu meminta bantuan seseorang untuk mencarikannya pekerjaan di kota.

Tak disangka, mereka bertemu di tempat ini.

Setelah mendengar penjelasan itu, ekspresi Dayat seketika menjadi dingin.

"Sudah kuduga. Mana mungkin ada orang yang bisa nangkap 500 kilo lebih ikan gulama sekaligus! Kalau kamu memang punya kemampuan seperti itu, aku nggak bakal keliling kota dan tetap nggak bisa beli ikan gulama, 'kan?"

Ireng tertawa dan langsung menimpali, "Pak, orang ini memang suka membual. Kemampuan menangkap ikannya bahkan kalah dibandingkan nenek-nenek di desa."

"Dulu pernah ada lomba menangkap ikan di desa. Hasilnya, orang ini cuma membawa pulang sehelai rumput laut. Yang lebih lucu lagi, dia masih ngotot bilang kalau rumput laut juga termasuk hasil laut!"

Setelah kalimat itu diucapkan, salah satu koki yang berdiri di belakang tak mampu menahan diri dan langsung tertawa. Saat ada satu orang yang tertawa, yang lain pun tidak tahan lagi. Mereka semua menutup mulut sambil cekikikan memandang Ardi.

Wajah Dayat langsung menggelap. Dia membentak, "Masih sempat ketawa?"

"Kalau bukan karena kalian para pecundang ini gagal dapat ikan gulama, apa mungkin aku sampai harus berurusan sama penipu seperti dia?"

"Sialan! Makin terdesak, malah makin banyak masalah konyol yang muncul."

"Kenapa kamu masih berdiri di situ? Kebohonganmu sudah terbongkar. Cepat pergi!" Dayat menatap Ardi tajam. Kalau bukan karena banyak orang sedang melihat, dia pasti sudah mengusir paksa pemuda ini sejak tadi.

Ardi tersenyum, lalu mengangguk. "Pak Dayat, sebaiknya kamu pertimbangkan dulu baik-baik. Di seluruh kota ini, cuma aku yang punya ikan gulama."

"Kalau Bapak melewatkan kesempatan ini karena mendengarkan fitnah, karier Bapak juga akan berakhir sampai di sini."

Mendengar ucapannya, Dayat malah tertawa saking marahnya. Dia menatap Ardi sambil menggertakkan gigi. "Oke! Sepertinya kamu benar-benar nggak bakal jera sebelum kena batunya."

"Kamu bilang punya ikan gulama, 'kan? Bawa ke sini! Berapa pun jumlahnya, aku beli semuanya!"

Sudut bibir Ardi sedikit terangkat. Kalimat itulah yang sedang ditunggunya.

"Nggak masalah. Itu ucapan Bapak sendiri. Tunggu saja."

Setelah berkata begitu, dia berbalik dan keluar melalui pintu belakang. Ireng langsung tercengang dan buru-buru menoleh ke arah Dayat. "Pak, jangan sampai Bapak percaya sama dia."

Dayat memelotot ke arahnya. "Apa otakmu kurang beres? Aku malas berdebat dengannya. Aku cuma mau cepat-cepat menyingkirkan dia."

"Kalian tunggu apa lagi? Cepat keluar dan lanjut cari ikan gulama!"

Semua orang segera menjawab serempak. Namun, tepat ketika beberapa orang hendak keluar dari pintu, terdengar suara mesin truk dari luar.

Sesaat kemudian, suara Ardi terdengar. "Pak Dayat, silakan keluar untuk periksa barangnya!"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 50

    Di pelabuhan ....Madya sedang mengisi solar ke kapalnya ketika tiba-tiba mendengar seseorang memanggil dari belakang."Om Madya!""Om Madya!"Dia menoleh dan melihat Badrul berlari cepat menghampirinya.Wajah Madya seketika menjadi muram. Dia masih ingat jelas kejadian tempo hari, saat Badrul datang ke rumahnya dan menagih paksa biaya sewa tambak.Setelah sampai di dekatnya, Badrul langsung berkata, "Om, ada sesuatu yang perlu aku ceritakan! Kinara dan Ardi sudah jadian!"Madya hanya melirik Badrul sekilas, lalu memalingkan wajah dan melanjutkan mengisi bahan bakar ke kapal.Melihat reaksinya, Badrul mengira Madya tidak mendengar. Dia pun mengulanginya lagi, "Om, Kinara sama Ardi betulan sudah jadian!"Madya mengernyit. Bahkan kepalanya pun tidak diangkat. "Ya, aku sudah dengar."Mendengar itu, kedua alis Badrul hampir menyatu. Dengan wajah penuh keheranan, dia berkata, "Om sudah pikun ya? Aku bilang putri Om, Kinara, sudah pacaran sama Ardi si bajingan itu! Kenapa Om sama sekali ngga

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 49

    Ardi memandang Badrul, lalu tersenyum. "Kenapa? Kamu takut?"Badrul mendengus dingin. "Aku? Takut sama kamu?"Ardi mengangkat alis. "Kalau nggak, buat apa sengaja nungguin aku di sini?"Badrul mendengus pelan, sorot matanya penuh penghinaan. "Aku cuma mau ingatkan, jangan ikut campur urusan yang bukan urusanmu.""Dulu orang yang berebut jadi pemasok ikan restoran milik negara jumlahnya bisa antre sampai ujung jalan.""Tapi kenapa pada akhirnya yang dipilih justru keluargaku? Itu karena ayahku kenal sama Bu Rahayu, wakil manajer bagian pengadaan!""Jangan mentang-mentang sekarang dekat sama Pak Dayat, kamu merasa bisa merebut usaha keluarga kami. Selama Bu Rahayu masih ada, kamu nggak akan bisa berbuat apa-apa.""Dan satu lagi, jangan coba-coba nangkap ikan bahaba. Kalau nggak, aku akan kasih tahu Om Madya soal hubunganmu dengan Kinara.""Kita lihat saja nanti, kakimu bakal dibuntungin sama Om Madya nggak!"Mendengar itu, Ardi malah tertawa. Awalnya dia mengira Badrul sengaja mengadang

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 48

    Badrul mengangguk, tetapi dalam hati dia merasa heran. Kenapa tiba-tiba Rahayu menanyakan soal Ardi?Rahayu menatap Badrul. "Coba ceritakan, sebenarnya siapa Ardi itu?"Badrul mengernyit, lalu menjawab, "Bocah itu cuma penjudi kelas kakap. Sejak ayahnya meninggal, dia nggak pernah bekerja serius. Malah setiap hari datang terus ke rumahku, maksa ngajak main kartu.""Dia gila judi, tapi kemampuan mainnya payah. Akhirnya dia kalah sampai hartanya habis. Terus dia terus-terusan minjam uang dari aku. Setelah nggak sanggup bayar, dia mulai mencuri barang milik warga desa.""Pas sudah ketahuan, dia malah nggak mau ngaku. Orangnya juga suka nipu. Setiap hari ada saja kebohongan baru yang dia bikin buat nipu duit orang. Sekarang warga desa langsung menjauh kalau lihat dia."Rahayu sedikit memicingkan mata. Ardi ternyata lebih buruk daripada yang dia sangka. Kemungkinan besar, Dayat sudah ditipu oleh Ardi sampai berani menggantungkan harapannya pada orang semacam itu.Awalnya dia sedikit khawati

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 47

    Rahayu sempat terdiam mendengar sindiran itu, lalu tersenyum sambil mengangguk. Kini, dia sudah paham. Dayat memang sengaja melawannya."Karena kamu juga sudah dapat orang, gimana kalau tugas ini dikasih ke kedua pihak saja? Siapa yang berhasil menangkap ikan yang lebih besar, dialah yang kita pakai."Dayat mengangguk. "Oke, sepakat.""Tapi, rasanya kurang menarik. Gimana kalau kita tambahkan sedikit taruhan?"Rahayu memutar bola matanya dan langsung memahami maksud Dayat. Ini berarti mereka berdua akan bertaruh hasil.Dia tahu kemampuan melaut Badrul dan Imsyaq. Memang kemampuan Badrul biasa saja, tetapi kemampuan Imsyaq termasuk salah satu yang terbaik di Desa Pasirya. Dengan dua orang itu, dia yakin ikan bahaba pasti akan jatuh ke tangannya.Menurutnya, Dayat hanya sedang panik dan asal bertaruh pada seorang mantan penjudi. Kalau orang seperti itu bisa menang, baru aneh."Boleh. Kalau mau main, kita main yang besar sekalian. Kalau kamu kalah, kamu harus menemui manajer utama dan min

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 46

    Saat mereka sedang berbincang, Siddiq mendorong pintu belakang dan keluar.Begitu melihat ikan kerapu di tangan Dayat, dia sempat tertegun sejenak, lalu cepat-cepat mendekat sambil menunduk. "Pak, Bu Rahayu cari Bapak."Dayat langsung mengernyit. "Cari aku untuk apa?"Terhadap Rahayu ini, dia memang sama sekali tidak punya kesan yang baik. Rahayu adalah wakil manajer mereka. Dia bertanggung jawab atas bagian pengadaan di restoran milik negara.Dari sisi wewenang, posisi mereka memang sering berbenturan. Dahulu setiap kali Dayat ingin membeli bahan baku, dia harus mengajukan laporan dan meminta persetujuan Rahayu.Belakangan karena sudah tidak tahan, dia pernah menemui manajer utama. Baru setelah itulah dia mendapatkan hak pembelian sendiri dalam jumlah tertentu. Namun, batasnya hanya 3 juta per bulan. Jika nilai pembeliannya melebihi batas itu, dia tetap harus melapor kepada Rahayu.Kalau hanya soal itu, sebenarnya Dayat tidak terlalu mempermasalahkannya. Yang membuatnya curiga adalah

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 45

    "Tapi, ayahku dulu pernah bilang, kalau mau mengakui seseorang sebagai kakak, nggak bisa cuma asal panggil. Harus ada hadiah perkenalan.""Kamu juga tahu, aku cuma nelayan. Selain ikan, aku nggak punya barang lain yang pantas dijadikan hadiah. Jadi, semoga kamu mau menerima ikan ini."Dayat menatap ikan kerapu besar di hadapannya. Untuk sesaat, dia tidak tahu harus berkata apa. Ikan kerapu ini adalah yang paling besar dan paling bagus di antara seluruh hasil tangkapan tadi. Menurut perkiraannya, berat ikan itu bisa mencapai sekitar 2,5 kilogram.Dengan harga yang baru saja mereka sepakati, yaitu 60 ribu per kilogram, nilainya mencapai sekitar 150 ribu.Bagi seorang teknisi pabrik, 150 ribu setara dengan penghasilan sebulan penuh. Apalagi Ardi hanyalah seorang nelayan desa.Seorang nelayan muda yang memiliki cara berpikir dan keluasan hati seperti ini benar-benar sulit dipahami.Melihat Dayat tidak segera merespons, Ardi juga tidak terburu-buru. Dia yakin Dayat pasti akan menerimanya. K

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status