Home / Romansa / Rengkuhan Hangat Adik Ipar / 𑣲⋆Kerja Bagus, Kakak Ipar

Share

𑣲⋆Kerja Bagus, Kakak Ipar

Author: Aphrodite
last update publish date: 2026-07-17 12:41:49

"Kamu tampak sangat akrab dengan Adrian tadi."

Tristan memutus hening di dalam mobil. Pria itu menyetir dengan kecepatan tinggi, sesekali melirik Alina yang duduk diam di kursi penumpang sampingnya.

Alina tidak berpaling dari jendela. "Aku hanya berbincang sopan. Dia adik tirimu."

"Tapi tatapannya pada kamu tidak biasa!" cetus Tristan dengan suara menajam. "Aku tidak suka cara dia memandangi kamu di pesta tadi."

Alina menoleh pelan sambil menatap samping Tristan. "Kamu cemas karena dia memperhatikanku, atau takut dia tahu apa yang kamu lakukan di koridor?"

Tristan mendesis keras lalu menginjak rem mendadak saat mobil tiba di pekarangan mansion keluarga Donovan. Ban mobil mencicit nyaring di atas lantai semen garage.

"Jaga mulutmu, Alina!" bentak Tristan sambil memutar tubuhnya menghadap Alina. "Aku sudah peringatkan kamu di pesta tadi, jangan pancing emosiku!"

Alina membuka sabuk pengamannya tanpa terburu-buru. "Aku tidak memancing emosimu. Aku hanya mengingatkan posisi kita."

"Posisi kita?" Tristan tertawa sinis. "Posisimu itu istriku. Dan tugasmu adalah menurut!"

Alina keluar dari mobil, dan mengambil tas tangannya, lalu melangkah menuju pintu utama mansion. Tristan menyusul dengan langkah lebar, lalu menarik pergelangan tangan Alina tepat di ruang tamu.

"Lepaskan," tegur Alina datar.

"Kenapa kamu berubah jadi dingin begini, hah?!" bentak Tristan. "Hanya karena aku meminta Rissa mengandung anakku, kamu bertingkah seolah aku ini musuhmu!"

"Kamu memang musuhku sejak kamu mengkhianati pernikahan ini, Tristan," balas Alina jujur. Matanya menatap tepat pada kedua bola mata Tristan.

Tristan menggerakkan rahangnya. "Aku melakukan ini demi penerus keluarga! Kamu tidak bisa memberikanku anak, jadi aku cari cara lain!"

"Lalu kenapa tidak ceraikan aku secara resmi?" tantang Alina. "Kenapa kamu masih menahanku di rumah ini kalau Rissa bisa memberikan semua yang kamu mau?"

Tristan bungkam selama beberapa detik. Cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Alina melembut.

"Aku tidak bisa menceraikanmu sekarang," kata Tristan dengan nada yang perlahan merendah.

"Kenapa?" pancing Alina. "Takut saham perusahaanmu anjlok? Atau takut Tuan Bramanta menarik investasinya kalau tahu rumah tangga anak tirinya berantakan?"

Wajah Tristan mendadak pucat. Dia melepaskan tangan Alina sepenuhnya. "Kamu tidak perlu tahu urusan bisnis."

"Aku tahu lebih banyak dari yang kamu bayangkan, Tristan," ujar Alina sambil merapikan lengan gaunnya. "Termasuk fakta bahwa sebagian besar dokumen aset perusahaanmu masih membutuhkan tanda tangan persetujuanku."

Tristan tersentak. "Kamu mengancamku?"

"Aku tidak mengancam," jawab Alina dingin. "Aku hanya memberitahumu alasan kenapa kamu belum menceraikanku. Kamu masih membutuhkanku untuk menjaga citramu di depan Tuan Bramanta dan publik."

Tristan mengepalkan tangannya di samping paha. "Kamu benar-benar sudah berubah."

"Kamu yang mengubahku," sahut Alina lancar.

Alina berbalik hendak menaiki tangga menuju kamarnya, namun langkahnya terhenti saat melihat ponsel Tristan di atas meja menyala. Nama 'Rissa' kembali muncul di layar.

Tristan dengan cepat mengambil ponsel itu dan mematikannya.

"Selingkuhanmu menunggu di apartemen," kata Alina tanpa emosi. "Pergilah. Bukankah kamu sudah berjanji membelikannya apartemen mewah malam ini?"

Tristan membelalak. "Dari mana kamu tahu soal apartemen?!"

Alina menyunggingkan senyum tipis yang sangat dingin. "Dinding di Hotel Azura tidak sebisu yang kamu kira, Tristan."

Tanpa menunggu jawaban dari Tristan yang mematung di ruang tamu, Alina melangkah naik ke lantai dua. Dia masuk ke kamarnya, mengunci pintu dari dalam, lalu mengambil ponsel pribadinya dari dalam tas.

Alina mengetik satu pesan singkat untuk nomor Adrian.

"Dokumen aset perusahaan Tristan ada di ruang kerjanya di rumah ini. Saya akan kirimkan salinannya besok pagi."

Tidak sampai satu menit, balasan dari Adrian masuk.

"Kerja bagus, Kakak Ipar. Aku tunggu kabel data dan salinannya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆155 (TAMAT)

    "Apakah semua undangan resmi untuk perayaan ulang tahun yayasan sudah disebar, Sayang?" tanya Adrian lembut.Adrian memeriksa beberapa berkas penting di atas meja kerja ruang utama secara cermat. Alina melangkah mendekati suaminya sambil membawa secangkir kopi hitam hangat."Semua undangan sudah dikirimkan kepada para donatur sejak kemarin sore, Mas," jawab Alina jujur."Bagus sekali, kerja kerasmu dalam mengurus yayasan ini sangat luar biasa," puji Adrian bangga.Alina menyunggingkan senyuman lebar mendengar pujian tulus dari sang suami tercinta. Wanita itu meletakkan cangkir kopi di atas meja kerja kayu jati berukuran besar.Pak Bramanta melangkah masuk ke dalam ruang kerja dengan menenteng tongkat kayu andalannya. Pria tua itu menatap anak serta menantunya dengan binar mata penuh kebahagiaan."Apakah persiapan acara puncak perayaan yayasan sudah hampir selesai?" tanya Pak Bramanta ramah."Semua persiapan sudah rampung seratus persen, Pa," jawab Adrian antusias.Pak Bramanta mengang

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆154

    "Apakah Arka sudah tidur pulas di kamar tidurnya, Bi Sumi?" tanya Alina lembut.Alina meletakkan tas tangan kulit di atas meja konsol dekat pintu masuk. Bi Sumi merapikan bantal sofa ruang keluarga dengan gerakan cekatan."Tuan Muda Arka sudah tidur nyenyak sejak setengah jam yang lalu, Nyonya," jawab Bi Sumi ramah."Syukurlah kalau begitu, biar aku dan Mas Adrian yang mengecek ke kamarnya," ucap Alina lega.Adrian merangkul pinggang sang istri lalu melangkah pelan menaiki anak tangga menuju lantai dua. Pak Bramanta duduk di ruang baca lantai atas sambil membolak-balik halaman buku tebal."Kalian baru saja pulang dari yayasan sosial, Adrian?" tanya Pak Bramanta serius."Benar, Pa, kegiatan sosial hari ini berjalan lancar tanpa kendala," jawab Adrian jujur.Adrian mendekati sang ayah lalu menepuk pundak pria paruh baya itu penuh kehangatan. Pak Bramanta tersenyum lebar menatap anak menantunya dengan binar mata bangga."Bagus sekali kalau semuanya berjalan lancar sesuai rencana," puji P

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆153

    "Apakah kamu sudah bersiap untuk menemani kunjungan ke yayasan pagi ini, Sayang?" tanya Adrian lembut.Adrian mengenakan jam tangan mewah di pergelangan tangannya seraya berdiri di dekat jendela kamar. Alina merapikan rambut panjangnya di depan meja rias sambil menyunggingkan senyuman gembira."Aku sudah siap sejak tadi, Mas, mari kita berangkat sekarang," jawab Alina antusias."Bagus sekali, ayo kita sarapan sebentar sebelum berangkat ke kantor," ajak Adrian ramah.Adrian dan Alina melangkah berdampingan keluar dari kamar utama menuju ruang makan lantai bawah. Pak Bramanta sudah duduk di kursi utama meja makan sambil menikmati secangkir kopi hitam.Arka melompat kegirangan di kursi bayinya saat melihat kedatangan kedua orang tuanya. Bocah balita itu merentangkan tangan kecilnya lebar-lebar dengan raut wajah sangat bersemangat."Papa dan Mama mau pergi ke mana pagi ini?" tanya Arka penasaran."Papa dan Mama mau berkunjung ke yayasan sosial sebentar, Sayang," jawab Alina lembut.Bi Sum

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆152

    "Apakah semua dokumen kontrak kerja sama sudah kamu masukkan ke dalam tas kerja, Mas?" tanya Alina cemas.Alina merapikan tumpukan map biru di atas meja kerja kamar utama dengan gerakan cepat. Adrian menatap wajah sang istri dengan binar mata penuh kekaguman dan senyuman hangat."Semua berkas penting itu sudah tersimpan rapi di dalam tas kerja," jawab Adrian jujur."Syukurlah kalau begitu, mari kita turun untuk sarapan bersama Papa," ajak Alina antusias.Adrian merangkul pinggang Alina seraya melangkah keluar kamar menuju anak tangga utama. Pak Bramanta duduk tegap di kursi utama meja makan seraya membaca lembaran surat kabar pagi.Arka melambaikan tangan kecilnya dari kursi khusus anak saat melihat orang tuanya datang. Bocah balita itu memegang gelas susu hangat dengan raut wajah sangat ceria."Selamat malam Papa dan Mama!" teriak Arka gembira."Pagi sayang, ini sudah waktunya sarapan pagi," balas Adrian tertawa.Adrian dan Alina mendudukkan diri di kursi makan berdampingan secara ha

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆151

    "Apakah semua dokumen kontrak kerja sama untuk proyek baru sudah kamu tinjau dengan teliti, Mas?" tanya Alina serius.Alina merapikan lembar demi lembar berkas di atas meja kerja kamar utama dengan gerakan cepat. Adrian menatap wajah sang istri secara lekat seraya menyunggingkan senyuman bangga."Semua berkas kontrak sudah aku periksa secara teliti tadi malam," jawab Adrian jujur."Bagus sekali kalau begitu, mari kita turun untuk sarapan bersama Papa," ajak Alina antusias.Adrian merangkul pinggang Alina seraya melangkah keluar kamar menuju anak tangga utama. Pak Bramanta duduk tegap di kursi utama meja makan seraya membaca lembaran surat kabar pagi.Arka melambaikan tangan kecilnya dari kursi khusus anak saat melihat orang tuanya datang. Bocah balita itu memegang gelas susu hangat dengan raut wajah sangat gembira."Selamat pagi Kakek, Papa, dan Mama!" teriak Arka riang."Pagi juga jagoan kecil Kakek," balas Pak Bramanta ramah.Adrian dan Alina mendudukkan diri di kursi makan berdampi

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆150

    "Apakah kamu sudah menyiapkan seluruh berkas laporan yayasan untuk rapat penting pagi ini, Sayang?" tanya Adrian lembut. Adrian mendudukkan badannya di tepi kasur empuk kamar utama seraya merapikan kemeja kerjanya. Alina membalikkan badannya dari meja rias, lalu menyunggingkan senyuman manis dengan raut wajah sangat tenang. "Semua berkas laporan sudah aku susun rapi di dalam tas kerjamu, Mas," pangkas Alina jujur. "Bagus sekali, kamu memang selalu cekatan dalam membantu pekerjaanku," puji Adrian bangga. Alina melangkah menghampiri suaminya, lalu mendudukkan diri di sisi ranjang seraya merapikan dasi kerja Adrian. Binar kebahagiaan terpancar sangat jelas dari kedua mata cantik wanita tersebut tanpa ada keraguan. Pak Bramanta berjalan melintasi koridor lantai dua seraya menancapkan tongkat kayunya ke lantai marmer. Pria tua itu menghentikan langkah di depan pintu kamar utama yang terbuka sangat lebar. "Apakah kalian sudah siap turun untuk menikmati sarapan pagi bersama?" tany

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status